Oleh: dwaney | Mei 9, 2011

Menejemen ICU dan Personil ICU

MAKALAH
KEGAWATDARURATAN
Tentang
Menejemen di ICU dan Personil di ICU
(Untuk Memenuhi Tugas Kegawatdaruratan dr. Trianto Saudin)

OLEH :
Dani Wijayanto
2009 1440 1018

STIKES BAHRUL ULUM LAB II BATU
KOTA WISATA BATU
2011

KATA PENGANTAR
Atas rahmat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua sahingga penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah “Kegawatdaruratan tentang menejemen di ICU dan Personil yang ada di ICU”.
Terima kasih kami ucapkan kepada Dr. Triyanto Saudin selaku koordinator Pendidikan dan dosen mata kuliah kegawatdaruratan yang telah membimbing penyusun dalam penyelesaian makalah.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, maka saran dan kritik sangat kami nantikan dari para mahasiswa dan pengajar sehingga akan semakin memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami selaku penulis mengucapkan mohon maaf apabila ada kesalahan dan kami nerharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi para mahasiswa Akademik Perawat dan pembaca.

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan msalah 1
1.3 Tujuan……………………………………………………………………….2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi 3
2.2 Pengelola ICU 4
2.3 Falsafah ICU 6
2.4 Perrsonil ICU 8
BAB III PNUTUP
3.1 Kesimpulan 12
3.2 Saran dan Kritik 12
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Salah satu pelayanan yang sentral di rumah sakit adalah pelayanan Intensive Care Unit (ICU). Saat ini pelayanan di ICU tidak terbatas hanya untuk menangani pasien pasca-bedah saja tetapi juga meliputi berbagai jenis pasien dewasa, anak, yang mengalami lebih dari satu disfungsi/gagal organ. Kelompok pasien ini dapat berasal dari Unit Gawat Darurat, Kamar Operasi, Ruang Perawatan, ataupun kiriman dari Rumah Sakit lain. Ilmu yang diaplikasikan dalam pelayanan ICU, pada dekade terakhir ini telah berkembang sedemikian rupa sehingga telah menjadi cabang ilmu kedokteran tersendiri yaitu ”Intensive Care Medicine”. Meskipun pada umumnya ICU hanya terdiri dari beberapa tempat tidur, tetapi sumber daya tenaga (dokter dan perawat terlatih) yang dibutuhkan sangat spesifik dan jumlahnya pada saat ini di Indonesia sangat terbatas. Critical Care Medicine menjadi bagian yang penting dalam sistem kesehatan yang modern. Intensive care mempunyai 2 fungsi utama: yang pertama adalah untuk melakukan perawatan pada pasien-pasien gawat darurat dengan potensi “reversible life thretening organ dysfunction”, yang kedua adalah untuk mendukung organ vital pada pasien-pasien yang akan menjalani operasi yang kompleks elektif atau prosedur intervensi dan risiko tinggi untuk fungsi vital. Critical care medicine adalah multidisiplin ilmu. Ilmu-ilmu yang berkompetensi termasuk bedah, interna, anestesi, neurologi, dan neurosurgery termasuk subspesialis. Peranan perawat juga penting, perawat ICU harus diberikan pelatihan khusus. Di Amerika Utara, profesi seperti terapis respirasi memberikan evolusi terhadap critical care. Profesional ini mempunyai kemampuan manajemen ventilator, penggunaan obat-obatan inhalasi, pengeluaran 3 sekret respirasi. Spesialis lainnya termasuk farmasi, nutrisionis, pekerja sosial, fisioterapis. Untuk dapat memberikan pelayanan prima dan manajemen yang efektif dan efisien, maka ICU harus dikelola sesuai suatu standar yang bukan saja dapat digunakan secara nasional tetapi juga dapat mengikuti perkembangan terakhir dari ”Intensive Care Medicine”. Departemen Kesehatan bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Reanimasi Indonesia (IDSAI) dan Perhimpunan Dokter Intensive Care Indonesia (PERDICI) memandang perlu untuk meninjau ulang standar pelayanan ICU yang telah dibuat pada tahun 1992 yang kemudian dicetak ulang tahun 1995. Tinjau ulang standar ini disesuaikan dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta konsep ICU di masa datang. Beberapa komponen ICU yang spesifik yaitu (1) pasien yang dirawat dalam keadaan kritis, (2) desain ruangan dan sarana yang khusus, (3) peralatan berteknologi tinggi dan mahal, (4) pelayanan dilakukan oleh staf yang profesional dan berpengalaman dan mampu mempergunakan peralatan yang canggih dan mahal.
Intensive Care Unit (ICU) adalah suatu bagian dari rumah sakit yang terpisah, dengan staf khusus dan perlengkapan yang khusus, yang ditujukan untuk observasi, perawatan dan terapi pasien-pasien yang menderita penyakit, cedera atau penyulit-penyulit yang mengancam jiwa atau potensial mengancam jiwa dengan prognosis dubia. ICU menyediakan kemampuan dan sarana, prasarana serta peralatan khusus untuk menunjang fungsifungsi vital dengan menggunakan keterampilan staf medik, perawat dan staf lain yang berpengalaman dalam pengelolaan keadaan-keadaan tersebut.
1.2 Tujuan
Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Kegawatdaruratan tentang konsep dasar ICU dari dr. Triyanto Saudin.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Bawah ini adalah definisi dari kata manajemen :
Pengertian Manajemen Menurut James A.F. Stoner Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumny. Menurut Mary Parker Follet Manajemen adalah suatu seni, karena untuk melakukan suatu pekerjaan melalui orang lain dibutuhkan keterampilan khusus.
Menejemen ICU adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumua sumber daya yang ada pada ruangan ICU untuk mencapai tujuan menyelamatkan jiwa pasien.

2.2 Yang Perlu Diperhatikan dalam ICU
1. Indikasi yang Benar
Pasien yang dirawat di ICU adalah yang memerlukan:
a. Pengelolaan fungsi sistem organ tubuh secara terkoordinasi dan berkelanjutan, sehingga dapat dilakukan pengawasan yang konstan dan terapi titrasi.
b. Pemantauan kontinu terhadap pasien-pasien dalam keadaan kritis yang dapat mengakibatkan terjadinya dekompensasi fisiologis.
c. Intervensi medis segera oleh tim intensive care.

2. Kerja Sama Multidisipliner dalam Masalah Medis Kompleks
Dasar pengelolaan pasien ICU adalah pendekatan multidisiplin dengan
tenaga kesehatan dari beberapa disiplin ilmu terkait yang dapat memberikan
kontribusinya sesuai dengan bidang keahliannya dan bekerja sama dalam
tim, dengan dipimpin dengan seorang intensivist sebagai ketua tim.

3. Kebutuhan Pelayanan Kesehatan Pasien
Kebutuhan pasien ICU adalah tindakan resusitasi yang meliputi dukungan
hidup untuk fungsi-fungsi vital seperti airway (fungsi jalan pernafasan),
breathing (fungsi pernafasan), circulation (fungsi sirkulasi), brain (fungsi otak), dan fungsi organ lain, dilanjutkan dengan diagnosis dan terapi definitif.

4. Peran Koordinasi dan Integrasi dalam Kerja Sama Tim
Dengan mengingat keadaan pasien seperti yang tersebut dalam butir 2 dan 4 di atas, maka pembagian kerja tim multidisiplin adalah sebagai berikut:
a. Dokter yang merawat pasien sebelum masuk ICU melakukan evaluasi pasien sesuai bidangnya dan memberi pandangan atau usulan terapi.
b. Intensivist, selaku ketua tim, melakukan evaluasi menyeluruh, mengambil kesimpulan, memberi instruksi terapi dan tindakan secara tertulis dengan mempertimbangkan usulan anggota tim lainnya.
c. Ketua tim berkonsultasi pada konsultan lain dengan mempertimbangkan usulan-usulan anggota tim.

5. Hak dan Kewajiban Dokter
Setiap dokter dapat memasukkan pasien ke ICU sesuai dengan indikasi masuk ke ICU, karena keterbatasan jumlah tempat tidur ICU maka berlaku asas prioritas dan indikasi masuk.

6. Sistem Manajemen Peningkatan Mutu Terpadu
Demi tercapai koordinasi dan peningkatan mutu pelayanan di ICU, diperlukan tim kendali mutu yang anggotanya terdiri dari beberapa disiplin ilmu, dengan tugas utamanya memberi masukan dan bekerja sama dengan staf struktural untuk selalu meningkatkan mutu pelayanan ICU.

7. Kemitraan Profesi
Kegiatan pelayanan pasien di ICU di samping multidisiplin juga interprofesi, yaitu profesi medik, profesi perawat, dan profesi lain agar dicapai hasil optimal maka perlu ditingkatkan mutu SDM secara berkelanjutan, menyeluruh dan mencakup semua kelompok profesi.

8. Efektivitas, Keselamatan, dan Ekonomis
Unit pelayanan ICU mempunyai ciri biaya tinggi, teknologi tinggi, multi
disiplin dan multi profesi berdasarkan atas efektivitas, keselamatan, dan
ekonomis.

9. Kontinuitas Pelayanan
Untuk efektivitas, keselamatan dan ekonomisnya pelayanan ICU, maka
perlu dikembangkan unit pelayanan tingkat tinggi (High Care Unit = HCU).
HCU fungsi utamanya menjadi unit perawatan-antara bangsal rawat dan
ICU. Di HCU tidak diperlukan peralatan canggih seperti ICU, yang diperlukan utamanya adalah kewaspadaan yang lebih tinggi.

2.3 Pengelola ICU dilakukan oleh intensivist
Seorang intensivist adalah seorang dokter yang memenuhi standar
kompetensi sebagai berikut:
A. Terdidik dan bersertifikat sebagai seorang spesialis intensive care medicine (KIC, Konsultan Intesive Care) melalui program pelatihan danpendidikan yang diakui oleh perhimpunan profesi yang terkait.
B. Menunjang kualitas pelayanan di ICU dan menggunakan sumber daya ICU secara efisien.
C. Mendarmabaktikan lebih dari 50% waktu profesinya dalam pelayanan ICU.
D. Bersedia berpartisipasi dalam suatu unit yang memberikan pelayanan 24 jam/hari, 7 hari/seminggu.
E. Mampu melakukan prosedur critical care biasa, antara lain:
1. Mempertahankan jalan napas termasuk intubasi trakeal dan ventilasi mekanis.
2. Punksi arteri untuk mengambil sampel arteri.
3. Memasang kateter intravaskular dan peralatan monitoring, termasuk:
i. Kateter Arteri
ii. Kateter Vena Perifer
iii. Kateter Vena Sentral (CVP)
iv. Kateter Arteri Pulmonaris
4. Pemasangan kabel pacu jantung transvenous temporer
5. Resusitasi kardipulmoner
6. Pipa torakostomi
F. Melaksanakan dua peran utama:
1. Pengelolaan pasien
Mampu berperan sebagai pemimpin tim dalam memberikan pelayanan di ICU, menggabungkan dan melakukan titrasi layanan pada pasien berpenyakit kompleks atau cedera termasuk gagal organ multi-sistem. Intensivist memberi pelayanan sendiri atau dapat berkolaborasi dengan dokter pasien sebelumnya. Mampu mengelola pasien dalam kondisi yang biasa terdapat pada pasienm sakit kritis seperti:
• Hemodinamik tidak stabil.
• Gangguan atau gagal napas, dengan atau tanp menggunakan tunjangan ventilasi mekanis.
• Gangguan neurologis akut termasuk mengatasi hipertensi intrakranial.
• Gangguan atau gagal ginjal akut.
• Gangguan endokrin dan atau metabolik akut yang mengancam nyawa.
• Kelebihan dosis obat, reaksi obat atau keracunan obat.
• Gangguan koagulasi.
• Infeksi serius.
• Gangguan nutrisi yang memerlukan tunjangan nutrisi.
2. Manajemen unit Intensivist berpartisipasi aktif dalam aktivitas-aktivitas manajemen unit yang diperlukan untuk memberi palayanan-pelayanan ICU yang efisien, tepat waktu dan konsisten pada pasien. Aktivitasaktivitas tersebut meliputi antara lain:
a. Triace, alokasi tempat tidur dan rencana pengeluaran pasien.
b. Supervisi terhadap pelaksanaan kebijakan-kebijakan unit.
c. Partisipasi pada kegiatan-kegiatan perbaikan kualitas yang berkelanjuatan temasuk supervisi koleksi data.
d. Berinteraksi seperlunya dengan bagian-bagian lain untuk
menjamin kelancaran jalannya ICU. Untuk keperluan ini, intensivist secara fisik harus berada di ICU atau rumah sakit dan bebas dari tugas-tugas lainnya.
G. Mempertahankan pendidikan yang berkelanjutan di bidang critical care medicine:
1. Menjaga agar pengetahuannya selalu mutakhir dengan mengikuti perkembangan ilmu dari perpustakaan, membaca literatur, seminar, lokakarya dan sebagainya.
2. Secara berkala mengikuti pendidikan kedokteran berkelanjutan/ pendidikan keperawatan dalam bidang intensive care.
3. Menguasai standar untuk unit critical care dan standard of care, di bidang critical care.
Setiap petugas yang bekerja di ICU harus memiliki kualifikasi tertentu, memahami fungsi ICU, tata kerja dan peralatan yang dipergunakan untuk menjaga mutu pelayanan yang tinggi, mencegah timbulnya penyulit, dan mencegah kerusakan pada alat-alat canggih/mahal. Petugas baru harus mendapat orientasi tentang hal-hal tersebut di atas titik. Petugas lama harus mengikuti penyegaran berkala tentang hal-hal tersebut di atas.
H. Ada dan bersedia untuk berpartisipasi pada kegiatan-kegiatan perbaikan kualitas interdisipliner. Untuk menjamin mutu pelayanan yang efektif, efisien, manusiawi, dan memuaskan diperlukan evaluasi kinerja ICU secara berkala (bulanan dan tahunan). Materi laporan/ evaluasi meliputi:
1. Jumlah pasien yang dirawat.
2. Masa rawat tinggal (average length of stay).
3. Case Fatality Rate untuk penyakit-penyakit tertentu.
4. Skor dari Revisie Trauma Score.
5. Mortalitas (Standardized Mortality Rasio).
6. Nosocomial infection rate.
7. Readmission.
2.4 Klasifikasi atau Stratifikasi Pelayanan ICU
a. Pelayanan ICU Primer (Standar Minimal)
Pelayanan ICU primer mampu memberikan pengelolaan resusitatif segera untuk pasien sakit gawat, tunjangan kardio-respirasi jangka pendek, dan mempunyai peran penting dalam pemantauan dan pencegahan penyulit pada pasien medik dan bedah yang berisiko. Dalam ICU dilakukan ventilasi mekanik dan pemantauan kardiovaskuler sederhana selama beberapa jam. Kekhususan yang harus dimiliki:
1) Ruangan tersendiri; letaknya dekat dengan kamar bedah, ruang darurat dan ruang perawatan lain.
2) Memiliki kebijaksanaan/criteria penderita yang masuk, keluar serta rujukan.
3) Memiliki seorang dokter spesialis anestesiologi sebagai kepala.
4) Ada dokter jaga 24 jam (dua puluh empat jam) dengan kemampuan melakukan resusitasi jantung paru (A, B, C, D, E, F).
5) Konsulen yang membantu harus selalu dapat dihubungi dan dipanggil setiap saat.
6) Memiliki perawat yang cukup dan sebagian besar terlatih.
7) Mampu dengan cepat melayani pemeriksaan laboratorium tertentu (Hb, Hematokrit, elektrolit, gula darah dan trombosit), rontgen, kemudahan diagnostik dan fisioterapi.

b. Pelayanan ICU Sekunder
Pelayanan ICU sekunder memberikan standar ICU umum yang tinggi, yang mendukung peran rumah sakit yang lain yang telah digariskan, misalnya kedokteran umum, bedah, pengelolaan trauma, bedah saraf, bedah vaskular dan lain-lainnya. ICU hendaknya mampu memberikan tunjangan ventilasi mekanis lebih lama dan melakukan dukungan/bantuan hidup lain tetapi tidak terlalu kompleks. Kekhususan yang harus dimiliki:
1) Ruangan tersendiri; letaknya dekat dengan kamar bedah, ruang darurat dan ruang perawatan lain.
2) Memiliki kebijaksanaan/kriteria penderita yang masuk, keluar serta rujukan.
3) Memiliki konsultan yang dapat dihubungi dan datang setiap saat bila diperlukan.
4) Memiliki seorang kepala ICU, seorang dokter intensive care, atau bila tidak tersedia oleh dokter spesialis anestesiologi, yang bertanggung jawab secara keseluruhan dan dokter jaga yang minimal mampu melakukan resusitasi jantung paru (bantuan hidup dasar dan bantuan hidup lanjut).
5) Mampu menyediakan tenaga perawat dengan perbandingan pasien: perawat sama dengan 1:1 untuk pasien dengan ventilator, renal replacement therapy dan 2:1 untuk kasus-kasus lainnya.
6) Memiliki lebih dari 50% perawat bersertifikat terlatih perawat/terapi intensif atau minimal berpengalaman kerja 3 (tiga) tahun di ICU.
7) Mampu memberikan tunjangan ventilasi mekanis beberapa lama dan dalam batas tertentu melakukan pemantauan invasif dan usaha-usaha penunjang hidup.
8) Mampu melayani pemeriksaan laboratorium, rontgen, kemudahan diagnostik dan fisioterapi selama 24 (dua puluh empat) jam.
9) Memiliki ruangan isolasi atau mampu melakukan prosedur isolasi.

c. Pelayanan ICU Tersier (Tertinggi)
Pelayanan ICU tersier merupakan rujukan tertinggi untuk ICU, memberikan pelayanan yang tertinggi termasuk dukungan/bantuan hidup multi-sistem yang kompleks dalam jangka waktu yang tak terbatas. ICU ini melakukan ventilasi mekanis, pelayanan dukungan/bantuan renal ekstrakorporal dan pemantauan kardiovaskular invasif dalam jangka waktu yang terbatas dan mempunyai dukungan pelayanan penunjang medik. Semua pasien yang masuk ke dalam unit harus dirujuk untuk dikelola oleh spesialis intensive care. Kekhususan yang harus dimiliki:
1. Memiliki ruangan khusus tersendiri di dalam rumah sakit.
2. Memiliki kriteria penderita masuk, keluar, dan rujukan.
3. Memiliki dokter spesialis yang dibutuhkan dan dapat dihubungi untuk
datang setiap saat diperlukan.
4. Dikelola oleh seorang ahli anestesiologi konsultan intensive care atau
dokter ahli konsultan intensive care yang lain yang bertanggung
jawab secara keseluruhan dan dokter jaga yang minimal mampu
melakukan resusitasi jantung paru (bantuan hidup dasar dan bantuan
hidup lanjut).
5. Mampu menyediakan tenaga perawat dengan perbandingan pasien 1:1 untuk pasien dengan ventilator, renal replacement therapy dan 2:1 untuk kasus kasus lainnya.
6. Memiliki lebih dari 75% perawat bersertifikat terlatih perawatan/terapi
intensif atau minimal berpengalaman kerja 3 (tiga) tahun di ICU.
7. Mampu melakukan semua bentuk pemantauan dan perawatan/terapi
intensif baik non-invasif maupun invasif.
8. Mampu melayani pemeriksaan laboratorium, rontgen, kemudahan
diagnostik dan fisioterapi selama 24 (dua puluh empat) jam.
9. Memiliki paling sedikit seorang yang mampu dalam mendidik tenaga medik dan paramedik agar dapat memberikan pelayanan yang optimal pada pasien.
10. Memiliki prosedur untuk pelaporan resmi dan pengkajian.
11. Memiliki sifat tambahan yang lain misalnya tenaga administrasi, tenaga rekam medik, tenaga untuk kepentingan ilmiah dan penelitian.
d. Prosedur Pelayanan Perawatan/Terapi ICU
Ruang lingkup pelayanan yang diberikan di ICU:
a. Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit-penyakit akut yang mengancam jiwa dan dapat menimbulkan kematian dalam beberapa menit sampai beberapa hari.
b. Memberi bantuan dan mengambil alih fungsi vital tubuh sekaligus melakukan pelaksanaan terapi spesifik terhadap problema dasar.
c. Pemantauan fungsi vital tubuh dan penatalaksanaan terhadap komplikasi yang ditimbulkan oleh: PenyakitIatrogenik
d. Memberikan bantuan psikologis pada pasien yang nyawanya pada saat itu bergantung pada fungsi alat/mesin dan orang lain.

2.5 Kriteria Prioritas Pasien Masuk ICU
• Pasien Prioritas 1 (Satu)
Kelompok ini merupakan pasien sakit kritis, tidak stabil yang memerlukan terapi intensif seperti dukungan/bantuan ventilasi, infus obat-obat vasoaktif kontinu, dan lain-lainnya. Contoh pasien kelompok ini antara lain pascabedah kardiotoraksik, atau pasien shock septic. Mungkin ada baiknya beberapa institusi membuat kriteria spesifik untuk masuk ICU, seperti derajat hipoksemia, hipotensi di bawah tekanan darah tertentu. Pasien prioritas 1 (satu) umumnya tidak mempunyai batas ditinjau dari macam terapi yang diterimanya.

• Pasien Prioritas 2 (Dua)
Pasien ini memerlukan pelayanan pemantauan canggih dari ICU. Jenis pasien ini berisiko sehingga memerlukan terapi intensif segera, karenanya pemantaun intensif menggunakan metode seperti pulmonary arterial catheter sangat menolong. Contoh jenis pasien ini antara lain mereka yang menderita penyakit dasar jantung, paru, atau ginjal akut dan berat atau yang telah mengalami pembedahan major. Pasien prioritas 2 umumnya tidak terbatas macam terapi yang diterimanya mengingat kondisi mediknya senantiasa berubah.

• Pasien Prioritas 3 (Tiga)
Pasien jenis ini sakit kritis, dan tidak stabil di mana status kesehatan sebelumnya, penyakit yang mendasarinya, atau penyakit akutnya,baik masing-masing atau kombinasinya, sangat mengurangi kemungkinan kesembuhan dan atau mendapat manfaat dari terapi di ICU. Contoh pasien ini antara lain pasien dengan keganasan metastase disertai penyulit infeksi, pericardial tamponade, atau sumbatan jalan napas, atau pasien menderita penyakit jantung atau paru terminal disertai komplikasi penyakit akut berat. Pasien-pasien prioritas 3 (tiga) mungkin mendapat terapi intensif untuk mengatasi penyakit akut, tetapi usaha terapi mungkin tidak sampai melakukan intubasi atau resusitasi kardiopulmoner.

2.6 Personil ICU
1. Dokter ICU
Dokter ICU memiliki sertikat pelatihan dan sertifikat profesional, istimewa dan dipercaya diberbagai rumah sakit, menyediakan pengawasan dan intervensi yang sesuai untuk keselamatan pasien. Beberapa program memperkerjakan dokter secara penuh, namun ada juga yang menggunakan dokter dengan jadwal rotasi. Program ini juga menyediakan dokter spesialis tambahan untuk perawatan maupun teleconference. Dokter disini berperan untuk menyediakan berbagai layanan, misalnya melakukan konsultasi dengan multidisipliner melalui kamera, mendiskusikan intervensi yang tepat dengan terapis pernafasan, mengidentifikasi pasien yang sudah dapat dipindahkan dari ICU, atau memberikan perintah pengobatan. Perangkat lunak tanda kewaspadaan memberikan isyarat visual yang memungkinkan dokter untuk merespon secara proaktif setiap munculnya masalah. Kerjasama tim sangat penting dilakukan untuk meningkatkan keselamatan pasien dan keberhasilan dari program ICU. Direktur medis harus mampu memiliki gaya kepemimpinan yang kuat untuk membangun dan memperkuat hubungan kerja jika ingin mencapai hasil perawatan yang optimal.

2. Perawat ICU
Perawat ICU seringkali memantau pasien ICU 24 jam sehari selama 7 hari seminggu. Banyak pusat ICU memiliki staf dengan pengalaman yang tinggi yaitu memiliki lebih dari 15 tahun pengalaman dalam merawat pasien kritis. Alasan beberapa perawat tertarik pada ICU adalah untuk mengurangi stres fisik dan emosional secara signifikan dalam memenuhi tuntutan untuk berada di dekat pasien secara terus menerus. Alasan lainnya adalah tertarik untuk mencoba tantangan dalam menyediakan perawatan bagi pasien dengan metode baru dan menikmati adanya proses perubahan. Syarat syarat perawat yang dapat menjadi tim ICU adalah minimal memiliki 5 tahun pengalaman dalam perawatan kritis pasien dewasa ( pengalaman disini tidak hanya mencakup perawatan kritis tetapi dapat juga pengalaman dalam perawatan trauma, neurogy/neurosurgical, medical surgical, kardiologi, cardio surgery), memiliki sertifikat CCRN atau CCRN-E, memiliki sertifikat pelatihan basic life support atau cardiac life support, sarjana dibidang ilmu keperawatan sesuai spesialisasi yang dibutuhkan, memiliki keterampilan dalam kepemimpinan, dan kemampuan berkomunikasi massa untuk meningkatklan layanan kepada pengguna jasa.

3. Staf lain pada ICU
Anggota lain tim ICU termasuk sebagai staf pendukung yang sangat berperan dalam memasukkan data, manajemen telepon, dan kualitas pemantauan. Staf pendukung mungkin memiliki berbagai latar belakang, termasuk pengalaman sebelumnya sebagai sekretaris unit, asisten keperawatan, atau mahasiswa keperawatan yang mencari kerja paruh waktu. Seperti pada staf perawat, staf pendukung ini harus memiliki komitmen pada keunggulan dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan untuk mencapai keberhasilan. Sumber daya manusia yang berkompeten dalam melakukan manajemen sistem perangkat lunak komputer dan menunjukkan akurasi dalam memasukkan data dapat digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan klinis secara tepat. Sebuah komponen yang penting untuk keberhasilan program ICU adalah kemitraan antara staf dokter, perawat dan staf pendukung dengan sistem informasi layanan departemen.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Seperti yang sudah diterangkan diatas bahwa ciri pasien di ICU adalah gangguan multi organ yang perlu mendapatkan bantuan. Berarti didalam mengelola pasien pasti melibatkan berbagai disiplin keilmuan dan berbagai profesi (perawat, fisiotherapist, farmasist dlsb). Namun tidak berarti bahwa cara pengelolaannya secara rame rame tidak menentu, artinya setiap profesi dan keahlian memberikan pengobatan sendiri2 dengan tujuannya sendiri2 (artinya berorientasi pada organ yang terpisah). Sistem pengelolaan demikian disebut sebagai MULTIDISCIPLINE MULTIMANAGEMENT yang akan mengakibatkan POLYPHARMASI, dan jelas akan merugikan pasien. Sistem pengelolaan yang benar adalah MULTIDISCIPLINE ONE MANAGEMENT, rtinya secara tim yang mencakup berbagai disiplin keilmuan dan profesi namun dibawah satu komando dari komandan yaitu intensivist. Seorang intensivist bekerja secara terus menerus berdasar data dari hasil pemantauan pasien yang bisa berubah setiap saat. Pedoman lain yang digunakan ialah asupan dari berbagai disiplin dan profesi yang dituangkan dalam bentuk panduan (GUIDELINE), kesepakatan (CONSENSUS) atau standard berbasiskan bukti (evidence base). Dengan demikian akan terhindar dari pengelolaan yang multimanagement. Sebagai seorang komandan dalam tim, intensivist dituntut mengerti benar dasar keilmuannya (INTENSIVE CARE MEDICINE) serta pemimpin yang bisa mengelola anggota tim yang terdiri dari berbagai disiplin dan profesi.

3.2 Saran
Semoga Makalah ni dapat berguna bagi penyusun dan pembaca. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk pengerjaan berikutnya yang lebih baik

DAFTAR PUSTAKA
1. Ernesater, A. et all (2009). Telenurses Experience of Working with Computerized
2. Decision Support : Supporting, Inhibiting, and Quality Improving. Journal of Advance Nursing, 65, 1074-1083.
3. Feied, C.F. et all (2004). Impact of Informatic and New Technologies on emergency Care Environment. Topics in Emergency Medicine, 26, 119-127.
4. Goran, S.F. (2010). A Second Set Of Eyes : An Introduction to Tele-ICU. Critical Care Nurse, 30, 46-55.
5. Jones, C.R. et all (2008). Networking Learning a Relational Approach Weak and Strong Ties. Journal of Computer Assisted Learning, 24, 90-102.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: