Oleh: dwaney | Desember 7, 2010

EMFISEMA

Asuhan Keperawatan Emfisema
Askep Emfisema
Emfisema
A. Pengertian
Emfisema merupakan keadaan dimana alveoli menjadi kaku mengembang dan
terus menerus terisi udara walaupun setelah ekspirasi.(Kus Irianto.2004.216)
Emfisema merupakan morfologik didefisiensi sebagai pembesaran abnormal
ruang-ruang udara distal dari bronkiolus terminal dengan desruksi dindingnya.
(Robbins.1994.253)
Emfisema adalah penyakit obtruktif kronik akibat kurangnya elastisitas paru dan
luas permukaan alveoli.(Corwin.2000.435)
B. Klasifikasi
Terdapat 2 (dua) jenis emfisema utama, yang diklasifikasikan berdasarkan
perubahan yang terjadi dalam paru-paru :
1. Panlobular (panacinar), yaitu terjadi kerusakan bronkus pernapasan,
duktus alveolar, dan alveoli. Semua ruang udara di dalam lobus sedikit
banyak membesar, dengan sedikit penyakit inflamasi. Ciri khasnya yaitu
memiliki dada yang hiperinflasi dan ditandai oleh dispnea saat aktivitas,
dan penurunan berat badan.
2. Sentrilobular (sentroacinar), yaitu perubahan patologi terutama terjadi
pada pusat lobus sekunder, dan perifer dari asinus tetap baik. Seringkali
terjadi kekacauan rasio perfusi-ventilasi, yang menimbulkan hipoksia,
hiperkapnia (peningkatan CO2 dalam darah arteri), polisitemia, dan
episode gagal jantung sebelah kanan. Kondisi mengarah pada sianosis,
edema perifer, dan gagal napas.
C. Etiologi
Beberapa hal yang dapat menyebabkan emfisema paru yaitu :
1. Rokok
Rokok secara patologis dapat menyebabkan gangguan pergerakan silia
pada jalan nafas, menghambat fungsi makrofag alveolar, menyebabkan
hipertrofi dan hiperplasia kelenjar mukus bromkus.
2. Polusi
Polutan industri dan udara juga dapat menyebabkan emfisema. Insiden dan
angka kematian emfisema bisa dikatakan selalu lebih tinggi di daerah yang
padat industrialisasi, polusi udara seperti halnya asap tembakau, dapat
menyebabkan gangguan pada silia menghambat fungsi makrofag alveolar.
3. Infeksi
Infeksi saluran nafas akan menyebabkan kerusakan paru lebih berat.
Penyakit infeksi saluran nafas seperti pneumonia, bronkiolitis akut dan
asma bronkiale, dapat mengarah pada obstruksi jalan nafas, yang pada
akhirnya dapat menyebabkan terjadinya emfisema.
4. Genetik
5. Paparan Debu
D. Manifestasi Klinis
1. Dispnea
2. Pada inspeksi: bentuk dada ‘burrel chest’
3. Pernapasan dada, pernapasan abnormal tidak efektif, dan penggunaan otot-
otot aksesori pernapasan (sternokleidomastoid)
4. Pada perkusi: hiperesonans dan penurunan fremitus pada seluruh bidang
paru.
5. Pada auskultasi: terdengar bunyi napas dengan krekels, ronki, dan
perpanjangan ekspirasi
6. Anoreksia, penurunan berat badan, dan kelemahan umum
7. Distensi vena leher selama ekspirasi.
E. Patofisiologi
Emfisema paru merupakan suatu pengembangan paru disertai perobekan alveolus-
alveolus yang tidak dapat pulih, dapat bersifat menyeluruh atau terlokalisasi,
mengenai sebagian tau seluruhparu.
Pengisian udara berlebihan dengan obstruksi terjadi akibat dari obstrusi sebagian
yang mengenai suatu bronkus atau bronkiolus dimana pengeluaran udara dari
dalam alveolus menjadi lebih sukar dari pemasukannya. Dalam keadaan demikian
terjadi penimbunan udara yang bertambah di sebelah distal dari alveolus.
Pada emfisema terjadi penyempitan saluran nafas, penyempitan ini dapat
mengakibatkan obstruksi jalan nafas dan sesak, penyempitan saluran nafas
disebabkan oleh berkurangnya elastisitas paru-paru.
F. Komplikasi
1. Sering mengalami infeksi pada saluran pernafasan
2. Daya tahan tubuh kurang sempurna
3. Tingkat kerusakan paru semakin parah
4. Proses peradangan yang kronis pada saluran nafas
5. Pneumonia
6. Atelaktasis
7. Pneumothoraks
8. Meningkatkan resiko gagal nafas pada pasien.
G. Pemeriksaan diagnostik

Sinar x dada: dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru; mendatarnya
diafragma; peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda
vaskularisasi/bula (emfisema); peningkatan tanda bronkovaskuler
(bronkitis), hasil normal selama periode remisi (asma).

Tes fungsi paru: dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, untuk
menentukan apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau restriksi, untuk
memperkirakan derajat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek terapi,
mis., bronkodilator.

TLC: peningkatan pada luasnya bronkitis dan kadang-kadang pada asma;
penurunan emfisema

Kapasitas inspirasi: menurun pada emfisema

Volume residu: meningkat pada emfisema, bronkitis kronis, dan asma

FEV1/FVC: rasio volume ekspirasi kuat dengan kapasitas vital kuat
menurun pada bronkitis dan asma

GDA: memperkirakan progresi proses penyakit kronis
h.Bronkogram: dapat menunjukkan dilatasi silindris bronkus pada
inspirasi, kollaps bronkial pada ekspirasi kuat (emfisema); pembesaran
duktus mukosa yang terlihat pada bronkitis

JDL dan diferensial: hemoglobin meningkat (emfisema luas), peningkatan
eosinofil (asma)

Kimia darah: Alfa 1-antitripsin dilakukan untuk meyakinkan defisiensi dan
diagnosa emfisema primer

Sputum: kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi
patogen; pemeriksaan sitolitik untuk mengetahui keganasan atau gangguan
alergi

EKG: deviasi aksis kanan, peninggian gelombang P (asma berat); disritmia
atrial (bronkitis), peninggian gelombang P pada lead II, III, AVF
(bronkitis, emfisema); aksis vertikal QRS (emfisema)

EKG latihan, tes stres: membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru,
mengevaluasi keefektifan terapi bronkodilator, perencanaan/evaluasi
program latihan.
Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Emfisema
Emfisema
A. Pengkajian
1. Aktivitas/Istirahat
Gejala :
o
Keletihan, kelelahan, malaise
o
Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena
sulit bernapas
o
Ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk
tinggi
o
Dispnea pada saat istirahat atau respons terhadap aktivitas atau
latihan
Tanda :
o
Keletihan, gelisah, insomnia
o
Kelemahan umum/kehilangan massa otot
2. Sirkulasi
Gejala :
o
pembengkakan pada ekstremitas bawah
Tanda :
o
Peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi
jantung/takikardia berat, disritmia, distensi vena leher
o
Edema dependen, tidak berhubungan dengan penyakit jantung
o
Bunyi jantung redup (yang berhubungan dengan peningkatan
diameter AP dada)
o
Warna kulit/membran mukosa: normal atau abu-abu/sianosis
o
Pucat dapat menunjukkan anemia
3. Makanan/Cairan
Gejala :
o
Mual/muntah, nafsu makan buruk/anoreksia (emfisema)
o
Ketidakmampuan untuk makan karena distres pernapasan
o
Penurunan berat badan menetap (emfisema), peningkatan berat
badan menunjukkan edema (bronkitis)
Tanda :
o
Turgor kulit buruk, edema dependen
o
Berkeringat, penuruna berat badan, penurunan massa otot/lemak
subkutan (emfisema)
o
Palpitasi abdominal dapat menyebabkan hepatomegali (bronkitis)
4. Hygiene
Gejala :
o
Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan
aktivitas sehari-hari
Tanda :
o
Kebersihan, buruk, bau badan
5. Pernafasan
Gejala :
o
Nafas pendek (timbulnya tersembunyi dengan dispnea sebagai
gejala menonjol pada emfisema) khususnya pada kerja, cuaca atau
episode berulangnya sulit nafas (asma), rasa dada tertekan,
ketidakmampuan untuk bernafas (asma)
o
“Lapar udara” kronis
o
Bentuk menetap dengan produksi sputum setiap hari (terutama
pada saat bangun) selama minimum 3 bulan berturut-turut tiap
tahun sedikitnya 2 tahun. Produksi sputum (hijau, putih dan
kuning) dapat banyak sekali (bronkitis kronis)
o
Episode batuk hilang timbul biasanya tidak produktif pada tahap
dini meskipun dapat terjadi produktif (emfisema)
o
Riwayat pneumonia berulang: terpajan pada polusi kimia/iritan
pernafasan dalam jangka panjang (mis., rokok sigaret) atau
debu/asap (mis., abses, debu atau batu bara, serbuk gergaji)
o
Faktor keluarga dan keturunan, mis., defisiensi alfa-anti tripsin
(emfisema)
o
Penggunaan oksigen pada malam hari atau terus menerus
Tanda :
o
Pernafasan: biasanya cepat, dapat lambat, penggunaan otot bantu
pernapasan
o
Dada: hiperinflasi dengan peninggian diameter AP, gerakan
diafragma minimal
o
Bunyi nafas: mungkin redup dengan ekspirasi mengi (emfisema);
menyebar, lembut atau krekels, ronki, mengi sepanjang area paru.
o
Perkusi: hiperesonan pada area paru
o
Warna: pucat dengan sianosis bibir dan dasar kuku.
6. Keamanan
Gejala :
o
Riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat/faktor lingkungan
o
Adanya/berulangnya infeksi
o
Kemerahan/berkeringat (asma)
7. Seksualitas
Gejala :
o
Penurunan libido
8. Interaksi sosial
Gejala :
o
Hubungan ketergantungan, kurang sistem pendukung, ketidak
mampuan membaik/penyakit lama
Tanda :
o
Ketidakmampuan untuk/membuat mempertahankan suara
pernafasan
o
Keterbatasan mobilitas fisik, kelainan dengan anggota keluarga
lalu.
9. Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala :
o
Penggunaan/penyalahgunaan obat pernapasan, kesulitan
menghentikan merokok, penggunaan alkohol secara teratur,
kegagalan untuk membaik.
Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan abnormalitas ventilasi-
perfusi sekunder terhadap hipoventilasi
2. Kelebihan volume cairan berhubungan edema pulmo
Intervensi
1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan abnormalitas ventilasi-
perfusi sekunder terhadap hipoventilasi
Tujuan :
Setelah diberikan tindakan keperawatan pasien dapat mempertahankan
pertukaran gas yang adekuat
Kriteria Hasil :
Pasien mampu menunjukkan :
o
Bunyi paru bersih
o
Warna kulit normal
o
Gas-gas darah dalam batas normal untuk usia yang diperkirakan
Intervensi :
o
Kaji terhadap tanda dan gejala hipoksia dan hiperkapnia
o
Pantau dan catat pemeriksaan gas darah, kaji adanya
kecenderungan kenaikan dalam PaCO2 atau penurunan dalam
PaO2
o
Bantu dengan pemberian ventilasi mekanik sesuai indikasi, kaji
perlunya CPAP atau PEEP.
o
Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi nafas setiap jam
o
Tinjau kembali pemeriksaan sinar X dada harian, perhatikan
peningkatan atau penyimpangan
o
Pantau irama jantung
o
Berikan cairan parenteral sesuai pesanan
o
Berikan obat-obatan sesuai pesanan : bronkodilator, antibiotik,
steroid.
o
Evaluasi AKS dalam hubungannya dengan penurunan kebutuhan
oksigen.
2. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan edema pulmo
Tujuan :
Setelah diberikan tindakan perawatan pasien tidak terjadi kelebihan
volume cairan
Kriteria Hasil :
Pasien mampu menunjukkan :
o
TTV normal
o
Balance cairan dalam batas normal
o
Tidak terjadi edema
Intervensi :
o
Timbang BB tiap hari
o
Monitor input dan output pasien tiap 1 jam
o
Kaji tanda dan gejala penurunan curah jantung
o
Kaji tanda-tanda kelebihan volume : edema, BB , CVP
o
Monitor parameter hemodinamik
o
Kolaburasi untuk pemberian cairandan elektroli


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: