Oleh: dwaney | Desember 2, 2010

Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Hipertensi Maligna

Deskripsi
Hipertensi maligna jarang terjadi tapi merupakan salah saru jenis tekanan darah tinggi yang serius. Secara resmi, hipertensi maligna didefinisikan sebagai hipertensi berat yang terjadi bersama dengan pendarahan internal retina di kedua mata dan pembengkakan saraf optik di belakang retina. Hipertensi maligna harus diobati dengan cepat untuk menghindari kerusakan organ yang lebih serius dan, mungkin, menyebabkan kematian. Semua sistem organ utama beresiko rusak akibat hipertensi ganas.

Organ yang paling beresiko antara lain ginjal, mata, dan otak. Ginjal sangat sensitif terhadap peningkatan tekanan darah dan kerusakan ginjal permanen adalah komplikasi umum hipertensi ganas yang tidak diobati. Sebagian besar kerusakan organ ini disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah kecil di beberapa tempat, dan itulah sebabnya pendarahan retina (yang memiliki pembuluh darah kecil) termasuk dalam kriteria diagnostik untuk hipertensi ganas.

Seperti tekanan darah tinggi secara umum, penyebab

pasti hipertensi ganas belum sepenuhnya diketahui.

Gejala

Karena hipertensi maligna mempengaruhi sistem organ yang secara langsung sensitif terhadap tekanan darah (ginjal, mata, otak, sistem kardiovaskular), gejala-gejala penyakit

cenderung menjadi orang-orang yang akan mengasosiasikan dengan masalah-masalah dalam sistem organ lain. Sebagai contoh, beberapa gejala termasuk: penglihatan buram, nyeri dada, kejang, urin menurun, kelemahan atau aneh kesemutan / mati rasa di tangan, kaki, atau wajah, sakit kepala, atau sesak napas.

Pengobatan
Orang dengan hipertensi maligna harus selalu dirawat di rumah sakit. Pengobatan tergantung pada seberapa serius masalah dalam pasien tertentu, masuk ke ruang Intensive Care Unit (ICU) mungkin diperlukan. Selama tinggal di rumah sakit, infus obat-obatan adalah fokus utama terapi. Beberapa obat yang biasa digunakan untuk mengurangi tekanan darah dalam situasi ini adalah nitroprusside dan nitrogliserin.

A. Definisi
1. Hipertensi adalah darah tinggi yang bersifat abnormal dan di ukur paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda (corwin J. Elizabeth, 2001)
2. Hipertensi adalah sebagian tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya, mempunyai rentang dari tekanan darah normal tinggi sampai hipertensi maligna (Brunner and Suddarth, 2001)
3. Hipertensi adalah peninggian tekanan darah di atas normal (Andil Basha, 1996)

B. Etiologi
1. Hipertensi primer/ idiopatik/ esensial: masih belum diketahui penyebabnya diantaranya: obesitas, hiperkolesterol, diet stadium tinggi, ras, genetic, DM, stress, riwayat keluarga, kurang aktivitas
2. Peningkatan kecepatan denyut jantung, dapat terjadi ragsangan, abnormal saraf atau hormone pada nodule
3. Peningkatan volume secukupnya yang berlangsung lama dapat terjadi apabila terdapat peningkatan volume plasma yang berkepanjangan akibat gangguan penanganan garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam yang berlebihan
4. Peningkatan resisten ferifer total yang berlangsung lama, dapat terjadi pada peningkatan saraf atau hormone pada arteriol atau responsivitas yang berlebihan dari arteriol terhadap rangsangan hormonal

C. Klasifikasi
Klasifikasi menurut The Joint National Communittes tahun 2003, hipertensi dibagi atas:
Klasifikasi TD TD Sistolik TD Diastolik
Normal Dibawah 130 mmHg Dibawah 85 mmHg
Normal tinggi 130 – 139 mmHg 85 – 89 mmHg
Stadium I (hipertensi ringan) 140 – 159 mmHg 90 – 99 mmHg
Stadium 2 (hipertensi sedang) 160 – 179 mmHg 100 – 109 mmHg
Stadium 3 (hipertensi berat) 180 – 209 mmHg 110 – 119 mmHg
Stadium I (hipertensi maligna) 210 mmHg atau lebih 120 mmHg atau lebih

D. Anatomi Fisiologi
Jantung adalah sebuah organ berotot dengan empat ruang yang terletak di rongga dada, di bawah tulang iga sedikit di sebelah sternum. Jantung terdapat di sebuah kantung longgar berisi cairan yang disebut pericardium. Keempat ruang jantung disebut atrium kiri dan kanan, ventrikel kiri dan kanan. Atrium terletak di atas ventrikel dan saling berdampingan. Atrium dan Ventrikel dipisahkan satu dari yang lain oleh katub satu arah. Sisi kiri dan kanan jantung dipisahkan oleh sebuah dinding jaringan yang disebut septum.
Sirkulasi sistemik
Darah masuk ke atrium kiri dan vena Pulmonalis. Darah Atrium kiri mengalir ke Ventrikel kiri melalui katub Atrio Ventrikel yang terletak di samping Atrium dan Ventrikel. Katub ini disebut katub mitralis. Aliran darah keluar dari ventrikel kiri menuju arteri besar berotot disebut aorta. Vena-vena dari bagian bawah tubuh kembali ke vena cava superior. Kedua vena cava bermuara dari atrium kanan.
Sirkulasi paru
Darah dari atrium kanan mengalir ke ventrikel kanan melalui arteriol ventrikel lainnya, yang disebut katub lunaris. Darah keluar ke ventrikel kanan dan mengalir melalui katub keempat, katup pulunalis ke dalam arteri pulmonalis. Arteri pulmonalis bercabang-cabang menjadi arteri pulmonalis kanan dan kiri yang masing –masing mengalir ke paru kanan dan kiri
Penyesuaian jantung terhadap hipertensi
Jantung harus menyesuaikan diri untuk dapat memompa darah melawan tahanan pembuluh yang meningkat dengan jalan hipertrofi. Tujuan penyesuaian adalah untuk mengurangi renggangan (stress) dinding.
Terdapat beberapa persoalan dengan hipertrofi ini :
1. Penambahan dalam sintesis kolagen sehingga janung mempunyai potensi untuk menjadi alat yang kurang efisien untuk ukurannya.
2. Mempertahankan penyediaan O2 yang cukup. Dengan adanya hipertrofi yang berat perfusi di subendokart dapat berkurang.
3. Hipertensi mempercepat perkapuran pembuluh koronel dan ini dapat mengurangi aliran darah miokardium dan penyediaan O2.

E. Patofisiologi
Cacat diturunkan dalam + masukan Na
Ekskresi Na ginjal > 50 mEq/hari

Retensi Na

Renin volume ekstrasel

Natriuresis berlebihan penghabatan transport Na ( hormone natriuretik)

Transport Na – K

Na intrasel (eritrosit, dsb) ekskresi Na
Veskular otot polos ginjal

Ca intrasel

Reaktivitas veskular

↑ Tekanan Darah (Hipertensi)

F. Manifestasi Klinik
1. Nyeri kepala saat kerja kadang disertai mual muntah akibat peningkatan intra cranium
2. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina kaena hipertensi
3. Ayunan langkah yan tidak mantap akibat kerusakan saraf pusat
4. Nokturia akibat karena peningkatan aliran darah ke ginjal dan filtrasi glomerulus
5. Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler

G. Pemeriksaan penunjang/ Diagnostik dan Laboratorium
1. Pengukuran tekanan darah menggunakan spignomanometer akan memperhatikan tekanan sistolik dan diastolic jauh sebelum gejala penyakit terlihat.
2. Laboratorium fungsi ginjal, urine lengkap, kreatinin, BUN, asam urat, darah lengkap
3. EKG, kemungkinan ada pembesaran left, left atrium, atrimia
4. Echocardiogram tampak penebalan dinding left ventrikel, dilatasi dan gangguan fungsi sistolik dan diastolic
5. Foto rontgen kemungkinan ditemukan pembesaran jantung vaskularis aorta yang menebal

H. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Prinsip pengobatan
a. Menurunkan tekanan darah sampai normal atau sampai lefel yang dapat ditoleransi penderita
b. Mencegah komplikasi dan menormalkan kembali komplikasi yang sudah terjadi
2. Pengobatan Umum
a. Menurunkan berat badan
b. Diet rendah garam
c. Olahraga
d. Berhenti merokok
e. Cukup waktu istirahat dan tidur
f. Kurangi minum alcohol, pertimbangkan kontrasepsi hormonal, dan kurangi minum kopi
3. Pengobatan Khusus
Diuretic (flurosemid, spirolaktron dan daun kumis kucing

I. Komplikasi
1. Retinopati Hipertensi
2. Penyakit jantung dan pembuluh darah
3. Penyakit hipertensi serebrovaskuler
4. Enselopati hipertensi
5. Nefrosklerosis karena hipertensi

J. Pengkajian
1. Aktivitas/ latihan
Gejala: kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup
Tanda :
a. frekuansi bunyi jantung meningkat
b. Perubahan irama jantung

2. Sirkulasi
Gejala: riwayat hipertensi, arteriosklerosis
Tanda : kenaikan tekanan darah

3. Integritas Ego
Gejala:
a. Riwayat perubahan, kepribadian, ansietas, depresi, euphoria atau marah
b. Factor-faktor marah
Tanda :
a. Gelisah, penyempitan, kontinu perhatian
b. Gerak tangan empati, otot muka tegang, gerakan fisik cepat

4. Eliminasi
Gejala: gangguan ginjal pada saat ini atau yang lalu (infeksi, obstruksi, atau riwayat penyakit ginjal masa lalu)

5. Makanan/cairan
Gejala:
a. Makanan yang tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol (seperti makanan yang di goring, keju, telur, gula-gula yang berwarna hitam, kandungan tinggi kolesterol)
b. Mual muntah
c. Gangguan penggunaan diuretika
Tanda : berat badan normal atau obesitas, adanya edema

6. Neurosensori
Gejala:
a. Keluhan pusing
b. Berdenyut, sakit kepala sub oksipital (terjadi saat bangun)
c. Gangguan penglihatan (diplopia, penglihatan kabur)
Tanda :
a. Status mental, orientasi, pola/isi bicara, afek, perubahan proses pikir atau memori
b. Respon motorik penurunan kekakuan genggaman tangan atau reflex tendon dalam
c. Perubahan-perubahan retina optic
7. Nyeri/ ketidaknyamanan
Gejala:
a. Angina
b. Nyeri hilang timbul pada tungkai dan klaudikasi
c. Sakit kepala okspital berat

8. Pernapasan
Gejala:
a. Dispnea yang berkaitan aktivitas/ kerja
b. Takipnea, ortopnea, dispnea, noktula proksimal
c. Batuk dngan atau tanpa sputum
d. Riwayat merokok
Tanda :
a. Distress respirasi/ penggunaan otot akselarasi pernapasan
b. Bunyi napas tambahan

9. Keamanan
Gejala:
a. Gangguan koordinasi/ cara berjalan
b. Episode parestesia anilateral transien
c. Hipotensi postural

K. Diagnose Keperawatan
1. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload
2. Resiko tinggi gangguan pola napas berhubungan dengan suplai oksigen ditandai dengan adanya sesak napas
3. Cemas berhubungan dengan gangguan proses penyakit
4. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kebutuhan metabolic
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum

L. Intervensi
1. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload
Tujuan :
a. Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurnkan TD/ beban kerja jantung
b. Mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapat diterima
c. Memperlihatkan irama dan frekuensi stabil dalam rentang normal pasien
Intervensi
1. pantau TD, ukur pada kedua tangan/ paha untuk evaluasi
RASIONAL : tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap keterlibatan bidang masalah veskuler
2. catat keberadaan, kualitas denyut sentral dan perifer
RASIONAL : denyut karotis, jugularis tunggal menurun mencerminkan efek dari vasokontriksi
3. auskultasi bunyi jantung dan paru
RASIONAL : umum terdengar pada pasien hipertensi berat kerena adanya hipertrifi atrium
4. pantau warna kulit dan suhu serta pengisian kapiler
RASIONAL : adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat mungkin berkaitan dengan vasokontriksi atau penurunan curah jantung
5. catat edema umum dan tertentu
RASIONAL : dapat mengidentifikasi gagal jantung, kerusakan ginjal dan kerusakan vaskuler
6. berikan lingkungan tenang, nyaman dan kurangi aktivitas
RASIONAL : membantu menurunkan rangsangan-rangsangan simpatis
7. pertahankan pembatasan aktivitas
RASIONAL : menurunkan ketegangan dan stress yang menurunkan tekanan darah

2. Resiko tinggi gangguan pola napas berhubungan dengan suplai oksigen ditandai dengan adanya sesak napas
Tujuan : bebas gejala distress pernapasan
Criteria evaluasi :
Pasien menunjukkan pola napas yang afektif dan oksigenasi jaringan adekuat dengan AGD dalam rentang normal
Intervensi Rasional
1. pantau pola napas, kedalaman frekuensi, irama napas 1. pernapasan meningkat akibat nyeri atau sebagai mekanisme kompetensi awal terhadap hilangnya jaringan paru
2. auskultasi paru untuk gerakan udara dan bunyi napas tidak normal 2. konsolidasi dan kurangnya gerakan udara pada sisi yang dioperasi normal pada pasien pnemonotomi
3. beri posisi semi fowler untuk mempermudah pengembangan dinding dada 3. obstruksi jalan napas mempengaruhi ventilasi, mengganggu pertukaran gas
4. dorong/ bantu dengan latihan napas dalam dan napas bibir dengan tepat 4. meningkatkan ventilasi maksimal dan oksigenasi menurunkan atelektasis
Kolaborasi
5. berikan O2 tambahan melalui nasal kanule, maske parisial dengan humidifikasi tinggi sesuai indikasi
5. memaksimalkan sediaan O2, khususnya bila ventilasi menurun depresi ansietas atau nyeri

3. Cemas berhubungan dengan gangguan proses penyakit
Tujuan : ansietas berkurang sampai dengan hilang
Criteria evaluasi :
tampak rileks dan ansietas berkurang pada tingkat yang dapat diatasi
Intervensi Rasional
1. kaji tingkat kecemasan pasien dengan mendengarkan dan mengobservasi serta damping pasien saat cemas 1. dukungan memampukan pasien mulai membuka dan menerima kenyataan
2. berikan kesempatan pada pasien untuk bertanya dan jawaban sejujurnya 2. membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi terhadap informasi
3. catat komentar atau perilaku yang menunjukkan menerima atau menggunakan strategi efektif menerima situasi 3. takut atau ansietas menurun, pasien mulai menerima secara positif dengan kenyataan
4. catat perilaku dari orang terdekat/ keluarga yang meningkatkan peran serta pasien 4. dapat membantu memperbaiki beberapa perasaan kontrol

4. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kebutuhan metabolic
Tujuan :
a. Mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dan kegemukan
b. Menunjukkan perubahan pola makan
c. Melakukan/mempertahankan program olahraga yang tepat
Intervensi Rasional
1. kaji pemahaman pasien hubungan langsung antara hipertensi dan kegemukan
RASIONAL : kegemukan adalah resiko tambahan dalam tekanan darah tinggi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung
2. kurangi masukan kalori dan batasi masukan lemak, garam dan gula
RASIONAL : motivasi untuk menurunkan berat badan dan internal
3. intruksikan dan bantu memilih makanan yang tepat
RASIONAL : menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol

5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
Tujuan :
a. Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan
b. Melaporkan dalam peningkatan aktivitas yang dapat diukur
c. Menunjukkan peurunan dalam tanda-tanda intoleransi fisiologi
Intervensi Rasional
1. kaji respon pasien terhadap aktivitas, perhatikan peningkatan frekuansi nadi lebih dari 100x/menit di atas frekuensi istirahat 1. membantu dalam mengkaji respon fisiologi terhadap stress aktivitas
2. instruksikan pasien tentang teknik penghematan energy 2. mengurangi penghematan energy juga membantu suplai dan kebutuhan suplai oksigen
3. berikan dorongan untuk melakukan aktivitas/ perawatan diri bertahap jika ditoleransi 3. kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba

Daftar Pustaka

1.) Brunner & Suddarth. Buku ajar KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH edisi 8 vol. 2. 2002. Jakarta : Penerbit buku kedokteran ECG.
2.) Donges Merilyn E. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3. 2000. Jakarta : Penerbit buku kedokteran ECG.
3.) Syaifuddin, Drs. H. Anatomi Fisiologi untuk mahasiswa keperawatan edisi 2006. Jakarta : Penerbit buku kedokteran ECG.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: