Oleh: dwaney | Juli 2, 2010

Persepsi sehat sakit menurut lansia

MAKALAH SOSIOLOGI KESEHATAN

membahas tentang

PERSEPSI MASYARAHAT TERHADAP SAKIT
TERUTAMA PADA LANSIA
(Persepsi Klien”S” Tentang Suatu Penyakit Saat MRS di RS PUNTEN)

Oleh:
Dani Wijayanto
Akper Tingkat 1

Stikes Bahrul Ulum Lab II Batu
Kota Wisata Batu
2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah SWT, penyusun menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas pengetahuan tentang sosioilogi kesehstsn yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen Sosiologi H.Abdullah yang telah membimbing dan mengajari materi tentang sosiologi pada penyusun.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini kekurangan. Maka dari itu penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Hormat kami

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1Latar Belakang 1
1.2Rumusan Masalah 1
1.3Tujuan Penelitian 1
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2
2.1Definisi Kesehatan dan Penyakit 2
2.2Topologi Sehat sakit 3
2.3Persepsi masyarakat tentang sehat sakit 3
BAB III ISI 4
BAB IV PENUTUP 6
4.1Kesimpulan 6
4.2Saran 6
DAFTAR PUSTAKA 7

BAB I
PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Sosiologi kesehatan merupakan cabang sosiologi yang relatif baru. Di masa lalu dalam sosiologi telah lama dikenal cabang sosiologi, sosiologi medis, yang merupakan pendahulu sosiologi kesehatan dan terkait erat dengannya.
Konsep kesehatan dengan cakupan luas kita jumpai pula dalam pandangan Blum. Blum mengemukakan bahwa kesehatan manusia terdiri atas tiga unsur, yaitu kesehatan somatik, kesehatan psikis, dan kesehatan sosial. Definisi yang menyerupai definisi WHO kita jumpai dalam UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Menurut definisi Parson seseorang dianggap sehat manakala ia mempunyai kapasitas optimum untuk melaksanakan peran dan tugas yang telah dipelajarinya melalui proses sosialisasi, lepas dari soal apakah secara ilmu kesehatan ia sehat atau tidak. Menurut Parson pula, kesehatan sosiologis seseorang bersifat relatif karena tergantung pada peran yang dijalankannya dalam masyarakat. Persepsi masyarakat tentang sehat/sakit Ini sangatlah dipengaruhi oleh unsur pengalaman masa lalu, di samping unsur sosial budaya. Sebaliknya, petugas kesehatan berusaha sedapat mungkin menerapkan kriteria medis yang obyektif berdasarkan simptom yang tampak guna mendiagnosa kondisi fisik seorang Individu.
1.2Rumusan masalah
Dengan melihat masalah di atas penyusun membahas tentang persepsi sakit menuirut kalangan lansia.

1.3Tujuan penelitian
Untuk mengetahui bagaimanakah persepsi masyarakat terutama lansia tentang suatu penyakit.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kesehatan dan Penyakit

Wolinsky menjelaskan bahwa bagi dokter simtom dan tanda penyakit merupakan bukti gangguan biologis pada tubuh manusia yang memerlukan penanganan medis. Dari sudut pandang medis, kesehatan ialah ketiadaan simtom dan tanda penyakit. Wolinsky selanjutnya mengemukakan beberapa keberatan terhadap definisi kesehatan menurut kalangan medis ini.
Definisi medis ini lebih sempit daripada definisi WHO, yang mencakup baik kesejahteraan fisik, mental maupun sosial dan tidak semata-mata terbatas pada ketiadaan penyakit ataupun kelesuan. Namun, menurut Mechanic definisi WHO ini sulit dioperasionalisasikan untuk membedakan orang sehat dan orang sakit.
Menurut definisi Parson seseorang dianggap sehat manakala ia mempunyai kapasitas optimum untuk melaksanakan peran dan tugas yang telah dipelajarinya melalui proses sosialisasi, lepas dari soal apakah secara ilmu kesehatan ia sehat atau tidak. Menurut Parson pula, kesehatan sosiologis seseorang bersifat relatif karena tergantung pada peran yang dijalankannya dalam masyarakat. Parson memandang masalah kesehatan dari sudut pandang kesinambungan sistem sosial. Dari sudut pandang ini tingkat kesehatan terlalu rendah atau tingkat penyakit terlalu tinggi mengganggu berfungsinya sistem sosial karena gangguan kesehatan menghalangi kemampuan anggota masyarakat untuk dapat melaksanakan peran sosialnya. Selain mengganggu berfungsinya manusia sebagai suatu sistem biologis, penyakit pun mengganggu penyesuaian pribadi dan sosial seseorang.

2.2 Tipologi Sehat dan Perilaku Sakit
Wolinsky membedakan delapan macam keadaan sehat, yaitu (1) sehat secara normal, (2) pesimis, (3) sakit secara sosial, (4) hipokondrik, (5) sakit secara medis, (6) martir, (7) optimis, dan (8) sakit serius.Anggota masyarakat yang merasakan penyakit akan menampilkan perilaku sakit. Menurut Mechanic perilaku sakit merupakan perilaku yang ada kaitannya dengan penyakit. Di bidang sosiologi kesehatan dikenal pula konsep lain yang berkaitan, yaitu perilaku upaya kesehatan.
Tanggapan seseorang terhadap suatu penyakit ditentukan oleh berbagai faktor. Mechanic menyebutkan sepuluh faktor atau variabel yang mempengaruhi tanggapan baik si penderita sakit sendiri maupun orang lain terhadap situasi sakit seseorang. Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
2.3 Persepsi masyarakat tentang sehat sakit
Perbedaan persepsi antara masyarakat dan petugas kesehatan inilah yang sering menimbulkan masalah dalam melaksanakan program kese­hatan. Kadang-kadang orang tidak pergi berobat atau meng-gunakan sarana kesehatan yang tersedia sebab dia tidak merasa mengidap penyakit. Atau jika si individu merasa bahwa penyakitnya itu disebabkan oleh mahluk halus, maka dia akan memilih untuk berobat kepada “orang pandai” yang dianggap mampu mengusir mahluk halus tersebut dart tubuh­nya sehingga penyakitnya itu akan hilang (Jordaan, 1985; Sudarti, 1988).
Selama seseorang masih mampu melaksana­kan fungsinya seperti biasa maka orang itu masih dikatakan sehat. Batasan “sehat” yang diberikan oleh organisasi kese­hatan se dunia (WHO) adalah “a state of complete physical, mental and social wellbeing” (WHO, 1981: 38).
Masalah perilaku sakit ini juga diteropong oleh Such-man (Notoatmodjo & Sarwono, 1986) yang memberikan batas­an perilaku sakit sebagai tindakan untuk menghilangkan rasa tidak enak (discomfort) atau rasa sakit sebagai akibat dari timbulnya gejala tertentu.

BAB III
ISI

Secara ilmiah penyakit (disease) itu diartikan sebagai gangguan fungsi fisiologis dari suatu organisme sebagai akibat dari infeksi atau tekanan dari lingkungan. Jadi penyakit itu bersifat obyektif. Sebaliknya, sakit (illness) adalah penilalan individu terhadap pengalaman menderita suatu penyakit. Fenomena subyektif ini ditandai dengan perasaan tidak enak. Mungkin saja terjadi bahwa secara obyektif individu terserang penyakit dan salah satu organ tubuhnya terganggu fungsinya namun dia tidak merasa sakit dan tetap menjalan-kan tugasnya sehari-hari. Sebaliknya, seseorang mungkin merasa sakit tetapi dari pemeriksaan medis tidak diperoleh bukti bahwa dia sakit. Selama seseorang masih mampu melaksana­kan fungsinya seperti biasa maka orang itu masih dikatakan sehat. Batasan “sehat” yang diberikan oleh organisasi kese­hatan se dunia (WHO) adalah “a state of complete physical, mental and social wellbeing” (WHO, 1981: 38). Dari batasan ini Jelas terlihat bahwa sehat itu tidak hanya menyangkut kondisi fisik, melainkan juga kondisi mental dan social seseorang,
Persepsi tiap-tiap individu berbeda. Perbedaan tersebut terjadi karena beberapa factor. Faktor usia, budaya, kebiasaan, pengalaman, jenis kelamin. Dari segi usia jelas setiap individu mempersepsi suatu penyakit berbeda. Suatu contoh yaitu lansia. Lansia atau lanjut usia terkadang sulit menerima apa yang terjadi dengan dirinya. Suatu contoh :
Nama: Bapak “S”
Alamat : Jln. Bulukerto
Umur: 78 tahun
Saat beliau periksa karena mengeluh perut sakit, tidak enak makan dan muntah saat makan, dokter menyarankan untuk masuk rumah sakit dan dirawat. Pada awalnya klien tidak mau untuk MRS, dan klien membantah kalau klien tidak sakit. Klien masih kuat untuk berjalan dan melakukan aktivitas. Menurut klien, klien hanya memiliki masalah tidak enak makan dan muntah. Sedangkan sakit perutnya bisa untuk ditahan. Jadi klien priksa untuk meminta obat supaya tidak muntah dan kembali bisa enak makan. Bagaimanapun saran dokter adalah yang terbaik. Meskipun klien membantah tidak mau dirawat dirumah sakit, tetapi harus dirawat di rumah sakit. Keluarga berusaha membujuk supaya klien mau dirawat. Keluarga juga sangat berpengaruh dengan kesehatan. Pada akhirnya klien mau, tetapi seperti belum ikhlas karena klien bersikukuh dengan pendirianya.
Karena pada awalnya klien tidak mau untuk dirawat di rumah sakit, hal ini mengakibatkan klien sering berbohong tentang keluhanya. Klien sengaja berbohong supaya dirinya cepat diperbolehkan pulang. Tetapi petugas kesehatan tidak bisa dibohongi. Petugas kesehatan berusaha membujuk dengan komunikasi terpiutik tentang kondisi yang dialami klien. Selama beberapa hari dan lama-kelamaan klien mulai mengerti. Kegiatan tersebut berlangsaung selama 5 hari. Dan pada akhirnya klien sembuh karena klien ikhlas dan percaya pada petugas kesehatan..

BAB IV
PENUTUP

4.1Kesimpulan
Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Persepsi sakit menurut individu berbeda. Sebagian besar selama seseorang masih mampu melaksana­kan fungsinya seperti biasa maka orang itu masih dikatakan sehat.
4.2Saran
Diharapkan makalah ini bisa memerikan masukan bagi perawat untuk mampu berkomunikasi yang terapiutik pada klien yang mempunyai persepsi berbeda tentang sehat atau sakit.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah. 2010. Sosiologi Kesehatan. Malang : Materi kuliah.
Abdullah. 2010. Persepsi Sehat Sakit. Malang : Hand out kuliah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: