Oleh: dwaney | Juli 2, 2010

Apendix dan thipoid

MAKALAH PATOLOGI
APENDIKSITIS AKUT
Dan
TIPHOID ABDOMINALIS

Oleh:
1.Dani Wijayanto
2.Anisaul Munawaroh
3.Afiatul Rajabiyah

AKPER 2009-2010
STIKES BU LAB II KOTA BATU
KATA PENGANTAR

Makalah PATOLOGI mengenai proses inflamasi ini, kami susun untuk mempermudah mempelajari PATOLOGI mengenai inflamasi atau infeksi terutama tentang APENDIKSITIS AKUT dan TIPHOID ABDOMINALIS. Makalah ini juga merupakan hasil kami dalam memenuhi tugas PATOLOGI yang diberikan oleh Dr.Suherlambang.
Makalah ini disusun dengan singkat dan jelas mengenai inflamasi atau infeksi terutama tentang APENDIKSITIS AKUT dan TIPHOID ABDOMINALIS.Hal ini kam maksud agar mudah mempelajari bagian dari ilmu PATOLOGI mengenai inflamasi atau infeksi terutama tentang APENDIKSITIS AKUT dan TIPHOID ABDOMINALIS.
Dengan disusun makalah ini kami mengharap pembaca dapat mengerti tentang APENDIKSITIS AKUT dan TIPHOID ABDOMINALIS . Apabila terdapat kekurangan pada makalah ini kami mohon maaaf dan kami mohon saran pembaca agar kami dapat menyempurnakan makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini dapat dipahami dan bermanfaat.
Pada kesempatan kali ini kami mengucapkan terima kasih karena dapat menyelesaikan makalah ini, kepada
1.Sukron hamdalah kepada Alloh SWT pemilk hidup yang telah memberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya.
2.Dr. Suherlambang yang telah membmbing kami.
3.Orang tua kami yang memberikan dukungan.
4.Teman-teman kami yang member dukungan

Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Batu, 3 april 2010

Tim penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1LATAR BELAKANG
PATOLOGI adalah imu yang mepelajari tentang proses sesuatu penyakit.

Inflamasi atau radang adalah reaksi jaringan hidup terhadap semua bentuk jejas.

Gejala inflamasi; I.lokal a.rubor (merah)
b. kalor (panas)
c. tumor (bengkak)
d. dolor (nyeri)
e. fungsio lensa (g3 gerak)

II. sistemik # febris
# adanya zat pirogen
# adanya leukosit
# permiabilitas meningkat

Jeni-jenis radang; 1. Radang akut
2. radang kronis
3. radang granulomatosa
4. radang histiositik
5. radang interstitial dan perivaskuler

Pemulihan * regenerasi parenkimial
*Jaringan ikat (sel stabil,labil,permanen &./ jaringan granulose)

1.2MAKSUD DAN TUJUAN
Dalam pembuatan makalah ini maksud dan tujuan kami untuk ;
1.Memenuhi tugas patologi yang diberikan Dr. Suherlambang
2.Menambah pengetahuan tentang APENDIKSITIS AKUT dan TIPHOID ABDOMINALIS
3.Memberi pengetahuan pembaca tentang APENDIKSITIS AKUT dan TIPHOID ABDOMINALIS

1.3METODE PENGUMPULAN DATA
Untuk menyelesaian makalah ini penulis menggunakan metode analisis reverensi bacaan yang ada pada media elektronik dan media tulis. Dengan memilah-memilah agar makalah ini dapat dengan mudah dipahami .

DAFTAR ISI

KATA PEGANTAR

DAFTAR ISI

BABI PENDAHULUAN
1.1LATAR BELAKANG
1.2MAKSUD DAN TUJUAN
1.3ETODE PENULISAN

BAB II ISI
1.1APENDIKSITIS
1.1.1definisi
1.1.2etiologi
1.1.3gejala
1.1.4diagnosa
1.1.5pengobatan
1.2TIPHOID ABDOMINALIS
1.2.1definisi
1.2.2etiologi
1.2.3patofisiologi
1.2.4gejala klinis
1.2.5diagnostik penatalaksanaan
1.2.6komplikasi pencegahan
BAB III PENUTUP
1.1KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

BAB II
ISI

1.1APENDIKSITIS

1.1.1DEFINISI

Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun, lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir. (Anonim, Apendisitis, 2007)

Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001).

1.1.2PENYEBAB

Penyebab utama appendiksitis adalah obstuksi penyumbatan yang dapat disebabkan oleh hiperplasia dari polikel lympoid merupakan penyebab terbanyak adanya fekalit dalam lumen appendik.

Adanya benda asing seperti : cacing,striktur karenan fibrosis akibat adanya peradangan sebelumnya. Sebab lain misalnya : keganasan (Karsinoma Karsinoid).
Penyumbatan di dalam usus buntu, bila peradangan berlanjut tanpa pengobatan, usus buntu bisa pecah dan bisa menyebabkan :
masuknya kuman usus ke dalam perut, menyebabkan peritonitis, yang bisa berakibat fatal
terbentuknya abses
pada wanita, indung telur dan salurannya bisa terinfeksi dan menyebabkan penyumbatan pada saluran yang bisa menyebabkan kemandulan
masuknya kuman ke dalam pembuluh darah (septikemia), yang bisa berakibat fatal.

Etiologi
Obstruksi lumen (fekalit, tumor, dan lain-lain)

Mukus yang diproduksi mukosa akan mengalami bendungan

Peningkatan tekanan intra lumen/ dinding apendiks

Aliran darah berkurang

Edema dan ulserasi mukosa Apendiksitis akut fokal

Terputusnya aliran darah Nyeri epigastrium

Obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri menembus dinding

Peradangan peritoneum Apendiksitis supuratif acut

Aliran arteri terganggu Nyeri didaerah kanan bawah

Infark dinding apendiks

Ganggren Apendiksitis ganggrenosa

Dinding apendiks rapuh

Infiltrat perforasi

Infiltrat apendikularis apendiksitis perforasi
KETERANGAN
Obsrtuksi apendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung, makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks oedem serta merangsang tunika serosa dan peritonium viseral. Oleh karena itu persarafan appendiks sama dengan usus yaitu torakal X maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit disekitar umblikus.
Mukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri menjadi nanah, kemudian timbul gangguan aliran vena, sedangkan arteri belum terganggu, peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritomium parietal setempat, sehingga menimbulkan rasa sakit dikanan bawah, keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul alergen dan ini disebut dengan appendisitis gangrenosa. Bila dinding apendiks yang telah akut itu pecah, dinamakan appendisitis perforasi.

Bila omentum usus yang berdekatan dapat mengelilingi apendiks yang meradang atau perforasi akan timbul suatu masa lokal, keadaan ini disebut sebagai appendisitis abses. Pada anak – anak karena omentum masih pendek dan tipis, apendiks yang relatif lebih panjang , dinding apendiks yang lebih tipis dan daya tahan tubuh yang masih kurang, demikian juga pada orang tua karena telah ada gangguan pembuluh darah, maka perforasi terjadi lebih cepat. Bila appendisitis infiltrat ini menyembuh dan kemudian gejalanya hilang timbul dikemudian hari maka terjadi appendisitis kronis (Junaidi ; 1982).

1.1.3GEJALA

Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang terdiri dari mual, muntah dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. Nyeri bisa secara mendadak dimulai di perut sebelah atas atau di sekitar pusar, lalu timbul mual dan muntah. Setelah beberapa jam, rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke perut kanan bagian bawah. Jika dokter menekan daerah ini, penderita merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan, nyeri bisa bertambah tajam. Demam bisa mencapai 37,8-38,8? Celsius.

Pada bayi dan anak-anak, nyerinya bersifat menyeluruh, di semua bagian perut.
Pada orang tua dan wanita hamil, nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa.

Bila usus buntu pecah, nyeri dan demam bisa menjadi berat.
Infeksi yang bertambah buruk bisa menyebabkan syok.

1.1.4DIAGNOSA

Pemeriksaan darah menunjukan jumlah sel darah putih agak meningkat, sebagai respon terhadap infeksi. Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan gejalanya.

1.1.5PENGOBATAN

Pembedahan segera dilakukan, untuk mencegah terjadinya ruptur (peca), terbentuknya abses atau peradangan pada selaput rongga perut (peritonitis).

Pada hampir 15% pembedahan usus buntu, usus buntunya ditemukan normal. Tetapi penundaan pembedahan sampai ditemukan penyebab nyeri perutnya, dapat berakibat fatal. Usus buntu yang terinfeksi bisa pecah dalam waktu kurang dari 24 jam setelah gejalanya timbul. Bahkan meskipun apendisitis bukan penyebabnya, usus buntu tetap diangkat. Lalu dokter bedah akan memeriksa perut dan mencoba menentukan penyebab nyeri yang sebenarnya.

Pembedahan yang segera dilakukan bisa mengurangi angka kematian pada apendisitis. Penderita dapat pulang dari rumah sakit dalam waktu 2-3 hari dan penyembuhan biasanya cepat dan sempurna.

Usus buntu yang pecah, prognosisnya lebih serius. 50 tahun yang lalu, kasus yang ruptur sering berakhir fatal. Dengan pemberian antibiotik, angka kematian mendekati nol.

1.2 TIPHOID ABDOMINALIS
1.2.1 Pengertian
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis, ( Syaifullah Noer, 1998 ).
Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna, gangguan kesadaran, dan lebih banyak menyerang pada anak usia 12 – 13 tahun ( 70% – 80% ), pada usia 30 – 40 tahun ( 10%-20% ) dan diatas usia pada anak 12-13 tahun sebanyak ( 5%-10% ). (Mansjoer, Arif 1999).
1.2.2 Etiologi
a) Salmonella thyposa, basil gram negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak bersepora mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu:
• antigen O (somatic, terdiri darizat komplekliopolisakarida)
• antigen H(flagella)
• antigen V1 dan protein membrane hialin.
b) Salmonella parathypi A
c) salmonella parathypi B
d) Salmonella parathypi C
e) Faces dan Urin dari penderita thypus (Rahmad Juwono, 1996).

1.2.3 Patofisiologi

Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu;
a.Food (makanan)
b.Fingers (jari tangan/kuku)
c.Fomitus (muntah)
d.Fly (lalat)
e.Feses

Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.

Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.

1.2.4 Gejala Klinis

Masa tunas 7-14 (rata-rata 3 – 30) hari, selama inkubasi ditemukan gejala prodromal (gejala awal tumbuhnya penyakit/gejala yang tidak khas) (Mansjoer, Arif 1999).:
Perasaan tidak enak badan
Lesu
Nyeri kepala
Pusing
Diare
Anoreksia
Batuk
Nyeri otot

Menyusul gejala klinis yang lain
1. DEMAM ,demam berlangsung 3 minggu
Minggu I : Demam remiten, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore dan malam hari
Minggu II : Demam terus
Minggu III : Demam mulai turun secara berangsur – angsur
2. GANGGUAN PADA SALURAN PENCERNAAN
Lidah kotor yaitu ditutupi selaput kecoklatan kotor, ujung dan tepi kemerahan, jarang disertai tremor
Hati dan limpa membesar yang nyeri pada perabaan
Terdapat konstipasi, diare
3. GANGGUAN KESADARAN
Kesadaran yaitu apatis – somnolen
Gejala lain “ROSEOLA” (bintik-bintik kemerahan karena emboli hasil dalam kapiler kulit) (Rahmad Juwono, 1996).

1.2.5 Diagnostik
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan darah tepi : dapat ditemukan leukopenia,limfositosis relatif, aneosinofilia, trombositopenia, anemia
Biakan empedu : basil salmonella typhii ditemukan dalam darah penderita biasanya dalam minggu pertama sakit
Pemeriksaan WIDAL – Bila terjadi aglutinasi
– Diperlukan titer anti bodi 4 kali antara masa 1/200 atau peningkatan terhadap antigeno yang bernilai akut dan konvalesene mengarah kepada demam typhoid (Rahmad Juwono, 1996).

1.2.6 Penatalaksanaan
Terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1) Perawatan
a.Tirah baring minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari.
b.Posisi tubuh harus diubah setiap 2 jam untuk mencegah dekubitus.
c. Mobilisasi sesuai kondisi.
2) Diet
a.Makanan diberikan secara bertahap sesuai dengan keadaan penyakitnya (mula-mula air-lunak-makanan biasa)
b. Makanan mengandung cukup cairan, TKTP.
c.Makanan harus menagndung cukup cairan, kalori, dan tinggi protein, tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang maupun menimbulkan banyak gas.
3) Obat
a. Antimikroba
Kloramfenikol
Tiamfenikol
Co-trimoksazol (Kombinasi Trimetoprim dan Sulkametoksazol)
b.Obat Symptomatik
Antipiretik
Kartikosteroid, diberikan pada pasien yang toksik.
Supportif : vitamin-vitamin.
Penenang : diberikan pada pasien dengan gejala neuroprikiatri (Rahmad Juwono, 1996).

1.2.7 Komplikasi

Komplikasi dapat dibagi dalam :
1. Komplikasi intestinal
Perdarahan usus
Perforasi usus
Ileus paralitik
2. Komplikasi ekstra intestinal.
Kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (renjatan sepsis) miokarditis, trombosis, dan tromboflebitie.
Darah : anemia hemolitik, tromboritopenia, sindrom uremia hemolitik
Paru : pneumoni, empiema, pleuritis.
Hepar dan kandung empedu : hipertitis dan kolesistitis.
Ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis.
Tulang : oeteomielitis, periostitis, epondilitis, dan arthritis.
Neuropsikiatrik : delirium, meningiemus, meningitie, polineuritie, perifer, sindrom Guillan-Barre, psikosis dan sindrom katatonia.
Pada anak-anak dengan demam paratifoid, komplikasi lebih jarang terjadi. Komplikasi sering terjadi pada keadaan tokremia berat dan kelemahan umum, terutama bila perawatan pasien kurang sempurna (Rahmad Juwono, 1996).

1.2.8 Pencegahan

1. Usaha terhadap lingkungan hidup :
a) Penyediaan air minum yang memenuhi
b) Pembuangan kotoran manusia (BAK dan BAB) yang hygiene
c) Pemberantasan lalat.
d) Pengawasan terhadap rumah-rumah dan penjual makanan.
2. Usaha terhadap manusia.
a) Imunisasi
b)Pendidikan kesehatan pada masyarakat : hygiene sanitasi personal hygiene. (Mansjoer, Arif 1999).
BAB IV
PENUTUP

1.1KESIMPULAN
Apendisitis
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun, lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir. (Anonim, Apendisitis, 2007)

Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001).

Penyebab utama appendiksitis adalah obstuksi penyumbatan yang dapat disebabkan oleh hiperplasia dari polikel lympoid merupakan penyebab terbanyak adanya fekalit dalam lumen appendik.Adanya benda asing seperti : cacing,striktur karenan fibrosis akibat adanya peradangan sebelumnya. Sebab lain misalnya : keganasan (Karsinoma Karsinoid).

Typhoid
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis, ( Syaifullah Noer, 1998 ).

Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna, gangguan kesadaran, dan lebih banyak menyerang pada anak usia 12 – 13 tahun ( 70% – 80% ), pada usia 30 – 40 tahun ( 10%-20% ) dan diatas usia pada anak 12-13 tahun sebanyak ( 5%-10% ). (Mansjoer, Arif 1999).

Tiphoid disebabkan oleh
a) Salmonella thyposa, basil gram negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak bersepora mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu:
• antigen O (somatic, terdiri darizat komplekliopolisakarida)
• antigen H(flagella)
• antigen V1 dan protein membrane hialin.
b) Salmonella parathypi A
c) salmonella parathypi B
d) Salmonella parathypi C
e) Faces dan Urin dari penderita thypus (Rahmad Juwono, 1996).

DAFTAR PUSTAKA

http://spmb2008unsri.wordpress.com/2008/02/20/ilmu-keperawatan/
http://www.anneahira.com/ilmu/ilmu-kedokteran.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Virus
http://www.ilmukeperawatan.com/asuhan_keperawatan_penyakit_dalam.html
http://askep.blogspot.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Penyakit_dalam
http://www.medistra.com/index.php?
http://id.wikipedia.org/wiki/Onkologi
http://www.pjnhk.go.id/content/view/372/32/
http://pustakakesehatan.blogspot.com/ (free download ebook)
http://askep-bedah.blogspot.com/2008/08/asuhan-keperawatan-klien-dengan.html (glomerulonefritis)
http://www.pdf-search-engine.com/kesehatan-pdf.html (free download ebook)
http://id.wikipedia.org/wiki/Penyakit_menular
hand out kuliah patologi dr suherlambang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: