Oleh: dwaney | Mei 5, 2012

PENGARUH PERMAINAN SIMBOLIK TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA PRASEKOLAH (3-4 Tahun)

PENGARUH PERMAINAN SIMBOLIK TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA PRASEKOLAH (3-4 Tahun) DI PAUD GRIYA

ANANDA DUSUN GONDANG DESA TULUNGREJO

KECAMATAN BUMIAJI

KOTA BATU

 

 

 

 

PROPOSAL

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

DANI WIJAYANTO

NPM: 2009.1440.1018

 

 

 

 

 

 

AKADEMI KEPERAWATAN BAHRUL ‘ULUM

TAMBAK BERAS JOMBANG

2012

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1         Latar Belakang

Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam  struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak.  Keterlambatan bicara adalah keluhan utama yang sering dicemaskan dan dikeluhkan orang tua kepada dokter. Gangguan ini semakin hari tampak semakin meningkat pesat. Beberapa laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5 – 10% pada anak sekolah. 

Gangguan bicara pada usia prasekolah, diperkirakankan 5% dari populasi normal dan 70% dari kasus tersebut ditangani oleh terapis. Hal penting yang menjadi perhatian para klinisi adalah mengenai faktor resiko yang mempengaruhi perkembangan bicara dan bahasa. Berdasarkan pengamatan sesaat dengan menggunakan lembar DDST pada 30 anak usia prasekolah di PAUD Griya Ananda dusun Gondang Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu didapatkan 6 anak dengan hasil meragukan, 1 anak dengan hasil abnormal, dan 23 anak yang hasil DDSTnya normal terutama dalam hal pencapaian perkembangan bahasanya.

Melihat sedemikian besar dampak yang timbul akibat keterlambatan bahasa pada anak usia pra sekolah maka sangatlah penting untuk mengoptimalkan proses perkembangan bahasa pada periode ini. Deteksi dini keterlambatan dan gangguan bicara usia prasekolah adalah tindakan yang terpenting untuk menilai tingkat perkembangan bahasa anak, sehingga dapat meminimalkan kesulitan dalam proses belajar anak tersebut saat memasuki usia sekolah. Beberapa ahli menyimpulkan perkembangan bicara dan bahasa dapat dipakai sebagai indikator perkembangan anak secara keseluruhan, termasuk kemampuan kognisi dan kesuksesan dalam proses belajar di sekolah.

Permainan simbolik atau pura-pura (dramatic play role) Permainan anak ini yang memainkan peran orang lain melalui permainannya. Anak berceloteh sambil berpakaian meniru orang dewasa. Permainan Simbolik merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia 3-4 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura. Dengan permasalahan diatas, maka perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh permainan simbolik terhadap perkembangan bahasa pada anak usia prasekolah di PAUD Griya Ananda dusun Gondang Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu


1.2     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian apakah ada pengaruh Permainan Simbolik Terhadap Perkembangan bahasa Anak prasekolah di PAUD Griya Ananda dusun Gondang Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu”.

 

1.3     Tujuan Penelitian

1.3.1        Tujuan Umum

Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh antara bermain simbolik dengan Perkembangan bahasa Anak Usia prasekolah di PAUD Griya Ananda dusun Gondang Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu

 

1.3.2       Tujuan Khusus

  1. Mengidentifikasi tingkat Perkembangan bahasa Anak Usia prasekolah di PAUD Griya Ananda dusun Gondang Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu
  2. Mengamati permainan simbolik anak usia prasekolah di PAUD Griya Ananda dusun Gondang Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu
  3. Mengamati pengaruh permainan simbolik terhadap Perkembangan bahasa Anak Usia prasekolah di PAUD Griya Ananda dusun Gondang Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu.

 

1.4  Manfaat Penelitian

1.4.1        Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi untuk peneliti sendiri dan untuk peneliti selanjutnya.

1.4.2        Bagi Anak

Anak akan lebih mendapatkan hak-hak perkembangan anak. Selain itu anak akan lebih pintar dan kreatif.

1.4.3        Bagi PAUD

PAD akan lebih memperhatikan tingkat perkembangan dan permainan yang sesuai dengan umur anak.

1.4.4        Bagi Institusi dan Profesi Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat sebagai tambahan ilmu bagi profesi keperawatan terutama keperawatan anak tentang Perkembangan bahasa Anak Usia Pra Sekolah.

1.4.5        Bagi Pengembangan Penelitian Keperawatan

Memberi masukan bagi peningkatan dan pengembangan asuhan keperawatan khususnya bidang kerperawatan anak, dalam hal membantu anak mengatasi stres psikologi maupun gangguan perilaku saat anak sakit.

 

 

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

                                                                                    

2.1  Konsep Pemainan Simbolik

2.1.1        Pengertian

  1. Bermain adalah cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial dan bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain, anak akan berkata-kata, belajar memnyesuaikan diri dgn lingkungan, melakukan apa yang dapat dilakukan, dan mengenal waktu, jarak, serta suara . (Wong, 2003)
  2. Supartini (2004) menyebutkan bahwa bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain anak-anak akan berkata-kata (berkomunikasi), belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan apa yang dapat dilakukannya, mengenal waktu, jarak serta suara.
  3. Bermain menurut Mulyadi (2004), secara umum sering dikaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan secara spontan. Terdapat lima pengertian bermain :
    1. Sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai intrinsik pada anak
    2. Tidak memiliki tujuan ekstrinsik, motivasinya lebih bersifat intrinsik
    3. Bersifat spontan dan sukarela, tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas dipilih oleh anak
      1. Melibatkan peran aktif keikutsertaan anak
      2. Memilikii hubungan sistematik yang khusus dengan seuatu yang bukan bermain, seperti kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial dan sebagainya

2.1.2        Fungsi Bermain

  1. Perkembangan sensori motorik

Aktivitas sensori motorik merupakan komponen utama bermain pada semua tingkat usia anak. Bermain aktif menjadi hal yang penting dalam perkembangan sistem otot dan saraf yang bermanfaat dalam melepaskan kelebihan energi.

  1. Perkembangan kognitif/intelektual

Anak dapat mengeksplorasi dan memanipulasi ukuran, bentuk, tekstur dan warna. Mengenali angka, hubungan yang renggang dan konsep yang abstrak. Bermain memberi kesempatan untuk menghilangkan pengalaman masa lalu untuk memasukkan kedalam persepsi dan persahabatan yang baru. Bermain membantu anak untuk mengintegrasikan dunia dimana mereka tinggal, untuk membedakan antara realitas dan fantasi

  1. Perkembangan moral dan sosial anak

Dalam bermain anak belajar memberi dan menerima. Anak belajar membedakan gender, pola perilaku dan tindakan yang disetujui dan diharapkan masyarakat darinya. Perkembangan nilai moral dan etik sangat berkaitan dengan sosialisasi. Anak belajar membedakan yang benar dari yang salah, norma masyarakat dan memahami tanggung jawab dari tindakannya.

 

  1. Meningkatkan kreativitas

Bermain memberi kesempatan pada anak untuk mengeluarkan ide dan minat kreasi, mengijinkan mereka untuk berfantasi dan berimajinasi serta memberi kesempatan untuk mengembangkan bakat dan minat. Sekali anak merasa puas ketika berhasil melakukan sesuatu hal yang baru maka anak akan memindahkan rasa ketertarikan ini kedalam situasi di luar dunia bermainnya.

  1. Perkembangan kesadaran diri

Bermain memberikan kemampuan untuk membandingkan kemampuan sendiri dengan kemampuan anak lain dan belajar bagaimana pengaruh tingkah laku pribadi terhadap orang lain.

  1. Nilai terapeutik

Dalam bermain anak mampu mencoba dan menguji situasi yang menakutkan dan bisa memahami dan berpura-pura menguasai peran dan posisi yang mereka tidak mampu melakukannya dalam dunia nyata. Anak mengungkapkan banyak tentang dirinya ketika bermain.

2.1.3   Jenis Permainan

Wholey & Wong (2003) menyebutkan bahwa klasifikasi bermain pada anak dapat dilihat dari klasifikasi bermain menurut isinya dan karakter sosial. Klasifikasi bermain menurut isinya dibagi menjadi:

  1. Social affective play/bermain afektif sosial

Inti permainan ini adalah adanya hubungan interpersonal yang menyenangkan antara anak dan orang lain. Misalnya, bayi akan mendapatkan kesenangan dan kepuasan dari hubungan yang menyenangkan dengan orang tuanya dan/atau orang lain. Permainan yang biasa dilakukan adalah “cilukba”, berbicara sambil tersenyum/tertawa, atau sekedar memberikan tangan pada bayi untuk menggenggamnya, tetapi dengan diiringi berbicara sambil tersenyum dan tertawa.

  1. Sense of pleasure play/ bermain untuk senang-senang

Permainan ini menggunakan alat yang bisa menimbulkan rasa senang pada anak dan biasanya mengasyikkan. Misalnya, dengan menggunakan pasir, anak akan membuat gunung-gunungan atau benda-benda apa saja yang dapat dibentuknya dengan pasir. Bisa juga dengan menggunakan air anak akan melakukan bermacam-macam permainan, misalnya memindah-mindahkan air ke botol, bak atau tempat lain.

  1.  Skill play/bermain keterampilan

Sesuai sebutannya, permainan ini akan meningkatkan keterampilan anak, khususnya motorik kasar dan halus. Misalnya, bayi akan terampil memegang benda-benda kecil, memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lain, dan anak akan terampil naik sepeda. Jadi keterampilan tersebut diperoleh melalui pengulangan kegiatan permainan yang dilakukan.

  1. Dramatic play role play/permainan simbolik atau pura-pura

Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura. Pada masa ini anak lebih banyak bertanya dan menjawab pertanyaan, mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka, ruang, kuantitas dan sebagainya . Seringkali anak hanya sekedar bertanya, tidak terlalu memperdulikan jawaban yang diberikan dan walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus. Anak sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi benda lain. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan, sobekan kertas sebagai uang dan lain-lain. Bermain simbolik juga berfungsi untuk mengasimilasikan dan mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak. Setiap hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam kegiatan bermainnya.

Selain keempat jenis permainan di atas Supartini (2004) menyebutkan dua jenis permainan lain yang juga berdasarkan pada isi permainannya yaitu:

  1. Games atau permainan

Games atau permainan adalah jenis permainan dengan alat tertentu yang menggunakan perhitungan dan/atau skor. Permainan ini bisa dilakukan oleh anak sendiri dan/atau dengan temannya. Banyak sekali jenis permainan ini mulai dari yang sifatnya tradisional maupun yang modern. Misalnya, ular tangga, congklak, puzzle, dan lain-lain.

  1. Unoccupied behaviour/ perilaku bermalas-malasan

Pada saat tertentu, anak sering terlihat mondar-mandir, tersenyum, tertawa, jinjit-jinjit, bungkuk-bungkuk, memainkan kursi, meja, atau apa saja yang ada di sekelilingnya. Anak melamun, sibuk dengan bajunya atau benda lain. Jadi sebenarnya anak tidak memainkan alat permainan tertentu, dan situasi atau obyek yang ada di sekelilingnya yang digunakannya sebagai alat permainan. Anak memusatkan perhatian pada segala sesuatu yang menarik perhatiannya. Peran ini berbeda dibandingkan dengan onlooker, dimana anak aktif mengamati aktifitas anak lain.

Adapun bentuk permainan yang sesuai dengan usia awal masa kanak-kanak (todler dan prasekolah)  antara lain:

  1. a.    Anak usia 2-3 tahun

Bermain balok, mainan bersusun, bola, alat permainan yang lembut, mendorong dan menarik alat mainan, mendengarkan cerita, musik, dan puzzle yang sederhana.

  1. Anak usia 3-4 tahun

Bermain puzzle, balon, musik, bercerita, bermain game sederhana, belajar bermain kelompok dengan pengawasan orang dewasa, permainan pura-pura memasak, bermain pura-pura menjadi dokter, perawat, dan lain-lain.

c. Anak usia 4-5 tahun

Bermain game, menyobek kertas, memotong dengan gunting, mewarnai buku-buku bergambar, menggunakan kertas dibuat boneka, topeng dan perahu, mainan alat musik, bermain games dengan bantuan orang dewasa dalam mengikuti aturan permainan.

 

2.2  Konsep Tumbuh Kembang

2.2.1        Pengertian

Dalam kehidupan anak ada dua proses yang berjalan secara kontinyu yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Kedua proses ini berlangsung secara interdependent / saling bergantung satu sama lain.

Pertumbuhan adalah suatu peningkatan ukuran tubuh yang dapat diukur dengan meteratau sentimeter untuk tinggi badan dan kilogram atau gram untuk berat badan, sedang perkembangan adalah suatu peningkatan keterampilan dan kapasitas anak untuk berfungsi secara bertahap dan terus menerus.

Pertumbuhan sebagai suatu peningkatan jumlah dan ukuran, sedangkan perkembangan menitik beratkan pada perubahan yang terjadisecara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi dan kompleks melalui proses maturasi dan pembelajaran. (Whaley & Wong, 2003)

2.2.2   Teori Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak

  1. Teori Psikoseksual (Freud)

Sigmund Freud menganggap penting naluri seksual dalam perkembangan kepribadian. Padasetiap tahapan, bagian – bagian tubuh dianggap sebagai sumber kepuasan psikologis yang signifikan, masing – masing tahapan dianggap membangun dan menggolongkan pencapaian tahapan sebelumnya. Kegagalan untuk mencapai suatu tahapan akan menyebabkan berbagai bentuk patologi, seperti pemuasan / kekurangan oral yang berlebihan dapat menyebabkan fiksasi libidinalyang berperan dalam sifat patologis. Sifat tersebut dapat termasuk optimisme yang berlebihan, narcisisme, pesimisme (sering terlihat pada keadaan depresif) dan sifat menuntut. Karakter oral adalah sering tergantung berlebihan pada benda untuk mempertahankan harga diri mereka. Cemburu dan iri sering berhubungan dengan sifat oral. Berikut ini dijelaskan satu persatu :

  1. Fase Oral (0 – 11 bulan)

1.Selama masa bayi, sumber kesenangan anak terbesar berpusat pada kepuasan oral, sepertimengisap, menggigit, mengunyah, dan mengucap.

  1. Fase Anal (1 – 3 tahun)

Pada fase ini kehidupan anak berpusat pada kesenangan anak, yaitu selama perkembangan otot spingter. Anak senang menahan feses, bahkan bermain – main dengan fesesnya sesuaidengan keinginannya.

  1. Fase Falik (3 – 6 tahun)

Selama fase ini, genetalia menjadi area yang menarik dan area tubuh yang sensitif. Anak mulai mempelajari adanya perbedaan jenis kelamin perempuan dan laki – laki dengan mengetahui adanya perbedaan alat kelamin.

  1. Fase Laten (6 – 12 tahun)

Selama periode laten, anak menggunakan energi fisik dan psikologis yang merupakan media untuk mengeksplorasi pengetahuan dan pengalamannya melalui aktivitas fisik maupun sosial. Anak perempuan lebih menyukai teman yang sejenis, begitupula sebaliknya.

  1. Fase Genital (12 – 18 tahun)

Tahap akhir masa perkembangan menurut Freudadalah tahap genital ketika anak mulai masuk fase pubertas, yaitu dengan proses kematangan organ reproduksi dan produksi hormon seks.

  1. Teori Psikososial (Erikson)

Eric Erikson mengungkapkan bahwa anak akanmenghadapi krisis yang memerlukan integrasi antara kebutuhan dan keterampilan pribadi dengan tuntutan budaya dan sosial. Tiap tahap mempunyai dua kemungkinan komponen, yang disukai dan tidak disukai. Perkembangan terjadi dalam stadium yang berurutan dan tegas batasnya, dan tiap – tiap tahap harus diselesaikan secara memuaskan guna kelanjutan perkembangan secara lancar, jika resolusi tahap tertentu tidak berhasil, pd50ahap selanjutnya dapat mencerminkan kegagalan tersebut baik secara samar – samar sampai keadaan yang nyata dalam bentuk ketidakmampuan menyesuaikan diri (mal adjustment) secara fisik, kognitif, sosial, atau emosional. Berikut ini penjelasannya :

  1. Percaya diri vs Tidak percaya (0 – 1 tahun)

Terbentuknya kepercayaan diperoleh dari hubungan dengan orang lain dan orang yang pertama berhubungan adalah orang tuanya. Anak akaf mengembangkan rasa tidak percayapada orang lain apabila pemenuhaf kebutuhannya th `i e2penuhi.

  1. Otonomi vs Rasa malu dan ragu (1 – 3 tahun)

Anak ingin melaktkan hal – hal yang ingin dilakukannya sendiri dengan kemampua. yang dimiliki, seperti berjalan, berjinjit, memilih mainan yang diinginkannya. Sebaliknya, perasaan malu dan ragu akan timbul saat mereka dipaksa oleh orang dewasa untuk lemilih atau berbuat sesuatu yang dikehendaki mereka.

  1. Inisiatif vs Rasa bersalah (3 – 6 tahun)

Perkembangan inisiatif diperoleh dengan cara mengkaji lingkungan melalui kemampuan indranya untuk mengharilk`fQ`R1atu sebagai prestasinya. Perasaan bersalah akan timbul bila anak tidak mampu berprestasi.

  1. Industry vs Inferiority (6 – 12 tahun)

Kemampuan anak untuk berinteraksi sosial lebih luas dengan tem!n dilingkungannya dapat memfasilitasi perkembangan perasaan sukses (sense of industry). Perasaan tidak adekuat dan rasa inferior atau rendah diri akan berkembang apabila anak terlalu mend!pat tuntutan dari lingkungannya.

  1. Identitas vs Kerancu`n peran (12 – 18 tahun)

Anak remaja akan berusaha menyesuaikan peranny q


“!d!i anak yang berada pada fasetransisi dari kanak – kanak menuju dewas!. Ketidakmampuan dalam mengatasi konflik akan menimbulkan keranauan peran yang harus dijalankannya.

 

2.2.3        Tahapan Pertumbuhan dan Pepkembangan

  1. Periode pranatal dari masa kolsepsh sampai kelahiran
  2. Periode bayi
    1. Neonatus, dari lahir sampai 28 hariInfant, dari 1 bulan – 12 bulan
  3. Periode kanak – kanak awal
    1. Toddler, dari 1 tahun – 3 tahun
    2. Preschool, dari 3 tahun – 6 tahun
  4. Periode kanak – kanak pertengahan (schoolage), dari 6 tahun – 12 tahun
  5. Periode  kanak – kanak akhir (adolescene), dari 12 tahun – 19 tahun

 

 

2.2.4        Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Dan Perkembangan

  1. Herediter

Jenis kelamin laki – laki cenderung lebih tinggidan berat dari pada jenis kelalin perempuan. Beberapa suku bangsa menunjukkan karakteristik yang khas, misalnya suku Asmat secara turun – temurun berkulit hitam.

  1. Lingkungan
    1. BudayaBudaya keluarga dan masyarakat dapat mempengaruhi dalam mempersepsikan dan memahami cesehatan serta berperilaku hidup sehat. Pola perilaku ibu hamil dipenc`r h’leh budaya yang dianutnya, misalnya adanya beberapa larangan nuntuk makanan tertentu padahal zat bergizi tersebut diperlukan pertumbu`an janin.
    2. Status sosial dan ekonomi keluarga

2.Keluarga dengan latar belakang pendidikan rendah sering kali tidak dapat, tidak tahu, atau tidak meyakini pentingnya penggunaan fasilitas kesehatan yang dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan anaknya.

  1. Nutrisi

3.Anak dapat mengalami hambatan pertumbuhan dan perkembangan hanya karena kurang adekuatnya asupan gizinya.

  1. Ikli) ` D c1aca

4.Musim penghujan dapat menimbulkan banjir sehingga timbul berbagai penyakit menular, jika anak sakit pertumbuhan dan perkembangan akan terganggu.

  1. Olahraga / latihan fisik

5.Olah raga akan meningkatkan aktivitas fisik dan menstimulasi perkembangan otot dan pertumbuhan sel.

  1. Posisi anak dalam keluarga

6.Misalnya, anak pertama biasanya mendapat perhatian lebih karena belum ada saudaranya, sehingga seringkali anak tumbuh menjadi anak yang perfeksionis dan cenderung pencemas.

  1. Internal
    1. Kecerdasan

1.Anak yang  i`hirkan dengan tingkat kecerdasan rendah tidak akan mencapai prestasi yang cemerlang walaupun stimulus yang diberikan lingkungan demikian tinggi.

  1. Hormonal

2.Ada tiga hormon utama yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu :

  1. Hormon pertumbuhan (Growth Hormon)

a.Hormon yang mempengaruhi tinggi badan

  1. Hormon Tiroid

b.Menstimulasi metabolisme tubuh

  1. Hormon Gonadotropin

c.Menghasilkan hormon testoteron pada laki – laki dan hormon estrogen pada perempuan yang akan menstimulasi perkembangan karakteristik seks sekunder

  1. Emosi

3.Anak belajar mengekspresikan perasaan dan emosinya dengan meniru perilaku orang tuanya, apabila orang tua sering membentak, anak akan belajar untuk berbicara kasar pada orang lain.

 

2.3      Konsep Perkembangan Bahasa

2.3.1.      Tahap perkembangan bahasa berbicara anak secara umum

Perkembangan bahasa terbagi atas dua periode besar, yaitu: periode Prelinguistik (0-1 tahun) dan Linguistik (1-5 tahun). Mulai periode linguistik inilah mulai hasrat anak mengucapkan kata kata yang pertama, yang merupakan saat paling menakjubkan bagi orang tua. Periode linguistik terbagi dalam tiga fase besar, yaitu:

a. Fase satu kata atau Holofrase

Pada fase ini anak mempergunakan satu kata untuk menyatakan pikiran yang kornpleks, baik yang bcrupa keinginan, perasaan atau temuannya tanpa pcrbedaan yang jelas. Misalnya kata duduk, bag: anak dapat berarti “saya mau duduk”, atau kursi tempat duduk, dapat juga berarti “mama sedang duduk”. Orang tua baru dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksudkan oleh anak tersebut, apabila kiia tahu dalam konteks apa kata tersrbut diucapkan, sambil mcngamati mimik (ruut muka) gerak serta bahasa tubuh lainnya. Pada umumnya kata pertama yang diurapkan oleh anak adalah kata benda, setelah beberapa waktu barulah disusul dengan kata kerja.

 

 

  1. Fase lebih dari satu kata

Fase dua kata muncul pada anak berusia sekkar 18 bulan. Pada fase ini anak sudah dapat membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Kalimat tersebut kadang-kadang terdiri dari pokok kalimat dan predikat, kadang-kadang pokok kalimat dengan obyek dengan tata bahasa yang tidak benar. Setelah dua kata, muncullah kalimat dengan tiga kata, diikuti oleh empat kata dan seterusnya. Pada periode ini bahasa yang digunakan oleh anak tidak lagi egosentris, dari dan uniuk dirinya sendiri. Mulailah mcngadakan komunikasi dengan orang lain secara lancar. Orang tua mulai melakukan tanya jawab dengan anak secara sederhana. Anak pun mulai dapat bercerita dengan kalimat-kalimatnya sendiri yang sederhana.

  1. c.    Fase ketiga adalah fase diferensiasi

Periode terakhir dari masa balita yang bcrlangsung antara usia dua setengah sampai lima tahun. Keterampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat. Dalam berbicara anak bukan saja menambah kosakatanya yang mengagumkan akan tetapi anak mulai mampu mengucapkan kata demi kata sesuai dengan jenisnya, terutama dalam pemakaian kata benda dan kata kerja. Anak telah mampu mempergunakan kata ganti orang “saya” untuk menyebut dirinya, mampu mempergunakan kata dalam bentuk jamak, awalan, akhiran dan berkomunikasi lebih lancar lagi dengan lingkungan. Anak mulai dapat mengkritik, bertanya, menjawab, memerintah, memberitahu dan bentuk-bentuk kalimat lain yang umum untuk satu pembicaraan “gaya” dewasa.

Menurut Vygostky menjelaskan ada 3 tahap perkembangan bicara pada anak yang berhubungan erat dengan perkembangan berpikir anak yaitu :

a. Tahap eksternal. Yaitu terjadi ketika anak berbicara secara eksternal dimana sumber berpikir berasal dari luar diri anak yang memberikan pengarahan, informasi dan melakukan suatu tanggung jawab dengan anak.

  1. Tahap egosentris. Yaitu dimana anak berbicara sesuai dengan jalan pikirannya dan dari pola bicara orang dewasa.
  2. c.    Tahap Internal.Yaitu dimana dalam proses berpikir anak telah memiliki suatu penghayatan kemampuan berbicara sepenuhnya.

2.3.2        Fungsi Perkembangan Bahasa

bicara merupakan salah satu alat komunikasi yang paling efektif. Semenjak anak masih bayi string kali menyadari bahwa dengan mempergunakan bahasa tubuh dapat terpenuhi kebutuhannya. Namun hal tersebut kurang mengerti apa yang dimaksud oleh anak. Oleh karena itu baik bayi maupun anak kecil stlalu berusaha agar orang lain mengcrti maksudnya. Hal ini yang mendorong orang untuk belajar berbicara dan membuktikan bahwa berbicara merupakan alat komunikasi yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk-bcntuk komunikasi yang lain yang dipakai anak sebelum pandai berbicara. Oleh karena bagi anak bicara tidak sekedar merupakan prestasi akan tctapi juga birfungsi nntuk mcncapni tujuannya, misalnya:

  1. Sebagai pemuas kebutuhan dan keinginan.Dengan berbicara anak mudah untuk mcnjclaskan kebutuhan dan keinginannya tanpa harus menunggu orang lain mengerti tangisan, gerak tubuh atau ekspresi wajahnya. Dengan demikian kemampuan berbicara dapat mengurangi frustasi anak yang disebabkan oleh orang tua atau lingkungannya tidak mengerti apa saja yang dimaksudkan oleh anak.
  2. Sebagai alat untuk menarik perhatian orang lain. Pada umumnya setiap anak merasa senang menjadi pusat perhatian orang lain. Dengan melalui keterampilan berbicara anak berpendapat bahwa perhatian Orang lain terhadapnya mudah diperoleh melalui berbagai pertanyaan yang diajukan kepada orang tua misalnya apabila anak dilarang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Di samping itu berbicara juga dapat untuk menyatakan berbagai ide, sekalipun sering kali tidak masuk akal-bagi orang tua, dan bahkan dengan mempergunakan keterampilan berbicara anak dapat mendominasi situasi “.ehingga terdapat komunikasi yang baik antara anak dengan teman bicaranya.
  3. Sebagai alat untuk membina hubungan sosial. Kemampuan anak berkomunikasi dengan orang lain merupakan syarat penting untuk dapat menjadi bagian dari kelompok di lingkungannya. Dengan keterampilan berkomunikasi anak-anak Icbih mudah diterima oleh kelompok sebayanya dan dapat mempcroleh kescmpatan Icbih banyak untuk mendapat peran sebagai pcmimpin dari suatu kelompok, jika dibandingkan dengan anak yang kurang terampil atau tidak memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik.
  4. Sebagai alat untuk mengevaluasi diri sendiri. Dari pernyataan orang lain anak dapat mengetahui bagaimana perasaan dan pendapat orang tersebut terhadap sesuatu yang telah dikatakannya. Di samping anak juga mendapat kesan bagaimana lingkungan menilai dirinya. Dengan kata lain anak dapat mengevaluasi diri melalui orang lain.
  5. Untuk dapat mcmpengaruhi pikiran dan peiasaan orang lain. Anak yang suka berkomentar, menyakiti atau mengucapkan sesuatu yang tidak menyenangkan tentang orang lain dapat menyebabkan anak tidak populer atau tidak disenangi lingkungannya. Sebaliknya bagi anak yang suka mcngucapkan kata-kata yang menyenangkan dapat merupakan medal utama .bagi anak agar diterima dan mendapat simpati dari lingkungannya.
  6. Untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Dengan kemampuan berbicara dengan baik dan penuh rasa percaya diri anak dapat mempengaruhi orang lain atau teman sebaya yang berperilaku kurang baik menjadi teman yang bersopan santun. Kemampuan dan keterampilan berbicara dengan baik juga dapat merupakan modal utama bagi anak untuk menjadi pemimpin di lingkungan karena teman sebryanya menaruh kepercayaan dan simpatik kepadanya.

2.3.3        Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa

Pengenalan bahasa yang lebih dini dibutuhkan untuk memperoleh ketrampilan bahasa yang baik Dalam bukunya “Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja” Syamsu Yusuf mengatakan bahwa perkembangan bahasa dipengaruhi oleh 5 faktor, yaitu: faktor kesehatan, intelegensi, statsus sosial ekonomi, jenis kelamin, dan hubungan keluarga.

Secara rinci dapat diidentifikasi sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu:

  1. Kognisi (Proses Memperoleh Pengetahuan)

Tinggi rendahnya kemampuan kognisi individu akan mempengaruhi cepat lambatnya perkembangan bahasa individu. Ini relevan dengan pembahasan sebelumnya bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara pikiran dengan bahasa seseorang.

  1. Pola Komunikasi Dalam Keluarga.

Dalam suatu keluarga yang pola komunikasinya banyak arah akan mempercepat perkembangan bahasa keluarganya.

  1. Jumlah Anak Atau Jumlah Keluarga.

Suatu keluarga yang memiliki banyak anggota keluarga, perkembangan bahasa anak lebih cepat, karena terjadi komunikasi yang bervariasi dibandingkan dengan yang hanya memiliki anak tunggal dan tidak ada anggota lain selain keluarga inti.

  1. Posisi Urutan Kelahiran.

Perkembangan bahasa anak yang posisi kelahirannya di tengah akan lebih cepat ketimbang anak sulung atau anak bungsu. Hal ini disebabkan anak sulung memiliki arah komunikasi ke bawah saja dan anak bungsu hanya memiliki arah komunikasi ke atas saja.

  1. Kedwibahasaan(Pemakaian dua bahasa)

Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menggunakan bahasa lebih dari satu atau lebih bagus dan lebih cepat perkembangan bahasanya ketimbang yang hanya menggunakan satu bahasa saja karena anak terbiasa menggunakan bahasa secara bervariasi. Misalnya, di dalam rumah dia menggunakan bahasa sunda dan di luar rumah dia menggunakan bahasa Indonesia.

2.3.4        Komponen Perkembangan Bahasa

2.3.4.1   Perkembangan Prabahasa

Perkembangan ini dimulai dari bayi baru lahir. Jika dilihat dari masa ini maka antara bayi norma dan bayi Down syndrome hampir memiliki perkembangan yang sama (Gauri, 2007). Hanya saja bayi normal lebih aktif dan menunjukkan perilaku tangisan yang lebih keras/lepas. Bellugi (Gauri, 2007) meneliti perkembangan pra bahasa pada populasi tunagrahita dari kelompok syndrome yang lain, misalnya frgile X, mereka sangat miskin kontak mata sehingga mereka ini sulit memperoleh pengalaman berbahasa lewat imitasi visual. Sedangkan, itu anak-anak Williams syndrome lebih banyak tertarik mengamati wajah dan sepanjang hari lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengamati wajah seseorang.

2.3.4.2  Perkembangan Vokal

Hasil penelitian Oller dkk (Gauri, 2007) terhadap anak-anak Down syndrome usia 0 – 2 tahun menunjukkan bahwa perkembangan vocal (babbling) anak-anak ini tertinggal 2 bulan dibandingkan dengan anak normal. Anak Down syndrome usia ini juga tidak stabil dalam perkembangan babbling/merabannya atau cenderung kurang aktif melakukannya dibanding anak- anak normal. Lynch (Gauri, 2007) menyebutkan pula, “… selain persoalan tersebut mereka menunjukkan keterlambatan perkembangan motoriknya serta memiliki hipotonus”.

2.3.4.3  Perkembangan Sosial dan Komunikasi

Pada usia satu tahun lebih mereka mulai lebih dominan menggunakan penglihatannya dibandingkan menggunakan anggota tubuh lainnya untuk mengeksplorasi lingkungan. Bayi Down syndrome (18 bulan) juga menunjukkan ketertarikan dengan ibunya atau orang lain dengan kontak mata, namun mereka kesulitan berinteraksi dengan ibunya dan mainannya dalam waktu bersamaan. Komuniksi yang terjalin dengan ibu lebih banyak menggunakan kontak mata disbanding vokalisasi ucapannya. Perbedaan perkembangan pola interaksi semakin terlihat jelas ketika bayi Down syndrome memasuki usia dua tahun lebih. Perbedaan tersebut direfleksikan dalam bentuk bermain dan komunikasi.

2.3.4.4  Perkembangan Semantik

Semantik adalah bagian dari struktur bahasa yang lebih menekan pada perkembangan pemahaman makna kata dan makna kata dalam satu kelompok/kalimat. Perkembangan bahasa anak-anak normal mulai menunjukkan perkembangan yang sangat pesat ketika mereka mulai berusia satu tahun. Perkembangan bahasanya terlihat pada perbendaharaaan kata yang dimilikinya. Semakin berkembang ketika usia 36 bulan, mereka menguasai lebih dari 500 kata dan mereka memahami kata-kata tersebut (Fenson, 1994 dalam Gauri, 2007).

Perkembangan perbendaharaan kata pada anak Down syndrome ternyata sebanding dengan usia mentalnya, bahkan ada yang benar-benar tertinggal dikarenakan adanya hambatan ganda, yaitu gangguan bicara (Miller et al., 1994 dalam Gauri, 2007).

2.3.4.5  Perkembangan Fonologis (Bunyi Bahasa)

Sejalan dengan peroleh makna kata , mereka juga belajar bagaimana mengartikulasikannya (mengucapkannya) sesuai dengan aturan bahasa yang berlaku. Hampir semua perkembangan fonologis semakin sempurna ketika anak-anak mulai masuk sekolah. Namun, mereka terkadang harus berhadapan dengan kesalahan-kesalahan pengucapan.

2.3.4.6  Perkembangan Tata Bahasa Awal

Setelah kemampuan melabel/member nama suatu objek dikuasai, kemudian anak-anak biasanya mencoba mengkombinasikan kata-kata yang sudah dipahami dirangkai menjadi dua-tiga kata sehingga membentuk ucapan/perkataan sederhana yang juga disebut ucapan telegrafik. Secara beratahap kemampuan anak-anak dalam membuat kalimat semakin bertambah panjang, seiirng dengan bertambahnya pemahaman makna kata dan elemen-elemen gramatikal. pertumbuhan seperti itu dapat diukur dengan Mean Length Utterances (MLU) (Brown, 1973 dalam Gauri, 2007).

2.3.4.7  Perkembangan Pragmatik

Selain, fonologi, kosa kata dan tata bahasa, anak-anak juga harus belajar menggunakan bahasa secara efektif sesuai dengan konteks sosialnya. Dalam percakapan normal partisipan harus saling berbagi giliran, berada ada dalam topic pembicaraan yang sama, pernyataan dari pesan yang disampaikan harus jelas dan sesuai aturan budayanya sehingga mendukung setiap individu dalam percakapan tersebut. Dalam penelitian terhadap perkembangan pada anak-anak normal yang menyelidiki beberapa aspek perkembangan pragmatic, di dalam tersusun atas perkembangan perilaku bicara, kompetensi percakapan, dan sensitifitas terhadap kebutuhan pendengar. Perkembangan perilaku bicara tersusun atas perilaku ketika meminta, perintah, mengeluh, menolak, interaksi, dll; kompetensi percakapan terdiri dari mampu mengelola topic percakapan dalam waktu yang lama, saling bergiliran bicara, dan mampu menambahkan informasi baru sesuai dengan topik yang sedang berlangsung; sensitive terhadap kebutuhan pendengar/lawan bicara dengan cara merespon dengan tepat terhadap apa yang diminta.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: