Oleh: dwaney | Juni 23, 2010

Materi Kuliah Sosiologi kesehatan

BAB I
PERILAKU KESEHATAN

1. 1. PERILAKU DAN ELEMEN-ELEMEN POKOKNYA
Masalah kesehatan masyarakat, terutama di negara-negara berkembang, pada dasarnya menyangkut dua aspek utama.
1) Aspek fisik, seperti misalnya tersedianya sarana kesehatan dan pengobatan penyakit,
2) Aspek non-flsik yang menyang¬kut perilaku kesehatan.

Faktor perilaku ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap status kesehatan individu maupun masyarakat.

Perilaku Manusia merupakan hasil daripada segala macam pengalaman
serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang
terwujud dalam bentuk pengetahuan sikap dan tindakan.

Dengan kata lain, perilaku merupakan respons/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dart dalam dirinya.

Respons ini dapat bersifat : Pasif (tanpa tindakan : berfikir, berpendapat,bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan).

Perilaku kesehatan dapat dirumuskan sebagai segala bentuk pengalaman dan interaksi Individu dengan lingkungannya, khususnya yang menyangkut pengetahuan dan sikap tentang kesehatan, serta tindakannya yang berhubungan dengan kesehatan.

Perilaku aktif dapatlah dilihat (overt) sedangkan perilaku pasif tidaklah tampak, seperti misalnya pengetahuan masyarakat, terutama di negara-negara berkembang.

Pada dasarnya menyangkut dua aspek utama, yatiu :

Pertama ialah aspek fisik, seperi misalnya tersedianya sarana kesehatan
dan pengobatan penyakit.
Kedua adalah aspek non-fisik yang menyang¬kut perilaku kesehatan.

Faktor perilaku ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap status kesehatan individu maupun masyarakat.
Perilaku aktif dapatlah dilihat (overt) sedangkan perilaku pasif tidaklah tampak, seperti misalnya pengetahuan, persepsi, atau motivasi. Beberapa ahli membedakan bentuk-bentuk perilaku.
Misalnya Bloom membedakan antara :
1. Perilaku kognitif (yang menyangkut kesadaran atau pengetahuan).
2. Afektif (emosi) dan
3. Psikomotor (tindak-an/gerakan).
Ki Hajar Dewantoro menyebutnya sebagal :
1.Cipta (peri akal),
2.Rasa (peri rasa) dan
3.Karsa (peri tindak).

Ahli-ahli lain umumnya menggunakan istilah pengetahuan, sikap dan tindakan, yang acapkali disingkat dengan KAP (knowledge, attitude, practice).

Secara umum sikap dapat dirumuskan sebagai kecenderungan untuk berespons (secara positif atau negatif) terhadap orang, obyek atau situasi tertentu.

Sikap mengandung suatu penilaian emosional/afektif (senang, benci, sedih, dsb), di samping komponen kognitif (pengetahuan tentang obyek itu) serta aspek konatif (kecenderungan bertindak), sedangkan pengetahuan lebih bersifat pengenalan suatu benda/hal secara obyektif.

Selain bersifat positif atau negatif, sikap memiliki tingkat kedalaman yang berbeda-beda (sangat benci, agak benci, dsb). Sikap itu tidaklah sama dengan perilaku dan perilaku tidaklah selalu mencerminkan sikap seseorang, sebab seringkali terjadi bahwa seseorang memperllhatkan tindakan yang bertentangan dengan slkapnya. Slkap sese¬orang dapat berubah dengan diperolehnya tambahan informasi tentang obyek tersebut, melalui persuasi serta tekanan dari kelompok sosialnya.

Proses pembentukan atau perubahan perilaku dapat dlpengaruhi oleh berbagai faktor dari dalam dan luar individu. Di samping sistem susunan syaraf yang mengontrol reaksi indvidu terhadap segala rangsangan, aspek-aspek di dalam diri individu yang juga sangat berpengaruh dalam pembentu¬kan dan perubahan perilaku ialah persepsi, motivasi dan emosi.

Persepsi adalah pengamatan yang merupakan kombiinasi dari pengelihatan, pendengaran, penciuman serta pengalaman masa lalu.

Suatu obyek yang sama dapat dipersepsikan secara berbeda oleh beberapa orang. Motivasi adalah dorongan bertindak untuk memuaskan suatu kebutuhan.

Dorongan ini diwujudkan dalam bentuk tindakan/perilaku. Motivasi yang rendah biasanya menghasilkan tindakan yang juga kurang kuat. Selain itu, perilaku dipengaruhi pula oleh emosi atau perasaan individu. Emosi ini berkaitan dengan kepribadian individu. Bahasan lebh rinci tentang proses perubah¬an perilaku ini dapat ditemukan dalam bab tentang model-model perubahan perilaku dari buku ini.

1.2. INDIVIDU DALAM MASYARAKAT
Manusia sebagai mahluk sosial, tidaklah dapat dipisahkan dari masyarakat. Untuk mempertahankan eksistensinya, manusia perlu berada bersama orang lain dan mengadakan Interaksi sosial di dalam kelompoknya.

Kelompok yang terkecil tetapi yang paling dekat dengan kehidupan individu ialah keluarga, yang berupa keluarga batih (nuclear family) maupun keluarga luas (extended /amity) yang merupakan gabungan dari beberapa keluarga batih.
Dalam kalangan yang lebih luas terdapat berbagai kelompok sosial berdasarkan letak geografi (rukun tetangga), minat (klub olahraga), profesi (kelompok tani, IDI), serta tlngkat sosial ekonomi (golongan buruh).

Yang terluas ialah masyarakat, yaitu sekelompok orang yang memiliki identitas sendiri dan mendiami wilayah atau daerah tertentu.

Di antara anggotanya ada rasa persatuan yang membedakan kelompoknya dari kelompok yang lain; mereka mempunyai norma-norma, ketentuan dan peraturan yang dipatuhi bersama sebagai suatu ikatan dan dijadikan pedoman dalam memenuhi kebutuhan kelompok. Agar kehidupan di kelompok dapat berjalan dengan baik dan lancar maka seringkali individu harus mengubah atau menyesuaikan keinginan pribadinya dengan norma dan tuntutan kelompok.

Seperti disebut di atas, salah satu aspek yang turut menentukan perilaku individu dalam masyarakat ialah motivasi. Motivasi itu timbul karena adanya suatu kebutuhan atau keinginan yang harus dipenuhi. Keinginan itu akan mendorong individu untuk melakukan suatu tindakan, agar tujuannya tercapai. Misalnya, rasa haus mendorong/memotivasi individu mencari minuman, dengan tujuan agar rasa haus itu hilang. Tetapi setelah satu tujuan tercapai, maka biasanya timbul keinginan/kebutuhan lain, yang menimbulkan motivasi baru, sehingga proses ini membentuk suatu lingkaran motivasi.

Seorang ahli psikologi sosial, Maslow, mengembangkan teori hirarki motivasi yang menunjukkan tingkatan kebutuhan/motivasi individu (kebutuhan fiosiologis, keamanan/perlindungan, kasih sayang, harga diri dan pengembangan diri) dan bahwa pemuasan kebutuhan itu terjadi secara bertahap, dimulai dari kebutuhan yang paling dasar (FKMUI, 1984). Artinya, sebelum kebutuhan dasar/fisiologis terpenuhi, individu belum termotivasi untuk memenuhi kebutuhan akan keamanan, dan seterusnya.

Berdasarkan teori ini maka kita dapat mengerti mengapa keluarga petani kecil lebih senang diberi hadiah uang sebagai akseptor teladan, misalnya, daripada diberi piagam yang ditanda-tangani oleh gubemur dan kepala BKKBN. Ahli yang lain, Lewin, menyatakan bahwa ada dua macam kekuatan dalam individu, yaitu kekuatan yang mendorong (driving force) dan yang menghambat (restraining force) terjadinya suatu tindakan. Dengan memperkuat tenaga pendorong dan memperlemah tenaga penghambat, maka motivasi individu untuk melakukan suatu tindakan, dapatlah ditingkatkan (Mico & Ross, 1975).

Dalam interaksi sosialnya, konsep diri seorang individu mempunyai peran penting. Selama masa kanak-kanak, keluarga dan lingkungan sosial menentukan “diri ideal” bagi setiap anak, yaitu menentukan sifat-sifat dan hal-hal yang sebaiknya dicapai oleh individu itu.

Diri-ideal itu dibentuk berdasarkan norma masyarakat yang berlaku dan kondisi keluarga serta keadaan individu itu sendiri. Konsep diri adalah pandangan individu mengenai karakter diri sendiri, dibandingkan dengan diri-idealnya. Makin jauh perbedaan antara diri-ideal itu dengan kenyataan yang dicapai, makin negatiflah konsep diri si individu. Dan berdasarkan konsep diri inilah individu menentukan sikap dan tindakannya dalam berinteraksi dengan individu lain.
Dalam hubungannya dengan orang lain, setiap individu memiliki kedudukan, status dan peran tertentu.

Dalam interaksi antara individu dalam suatu kelompok atau masyarakat tertentu kadang-kadang dapat ditemukan orang-orang yang menunjukkan prasangka terhadap individu atau sekelompok orang tertentu.

Prasangka adalah sikap negatif terhadap sesuatu.

Obyek prasangka dapat berupa individu maupun suatu kelompok atau ras. Prasangka terha¬dap kelompok disebut stereotip. Keduanya dapat mengakibatkan timbulnya diskriminasi, kata Arief Budiman (Widjaja, 1986). Menurut Enoch Markum, prasangka dan diskriminasi merupakan dua istilah yang sangat berkaitan. “Seorang yang mempunyai prasangka rasial biasanya bertindak diskriminatif terhadap ras yang diprasangkainya.

Meskipun demikian, bisa saja seorang bertindak diskriminatif tanpa didasari oleh suatu prasangka. atau sebaliknya, seorang yang berprasangka dapat saja bertindak tidak diskriminatif’ (Widjaja, 1986:202).

Prasangka adalah sikap, sedangkan diskriminasi merupakan tindakan. Prasangka mengandung unsur emosi (suka – tidak suka) dan pengambilan keputusan yang tergesa-gesa, tanpa diawali dengan pertimbangan yang cermat. Biasanya ada unsur ketidakadilan dalam prasangka, oleh karena keputus¬an yang diambil didasarkan atas penilaian yang lebih subyektif atau emosional daripada pertimbangan berdasar-kan fakta obyektif.

1.3. ILMU PERILAKU DAN HUBUNGANNYA DENGAN KESE¬HATAN
Ilmu perilaku adalah cabang dari ilmu-ilmu sosial yang sasaran/ obyeknya adalah perilaku manusia. Jika ilmu sosial mencakup bidang-bidang ilmu politik, ekonomi, sejarah, sosiologi, antropologi dan psikologi, maka ilmu perilaku hanyalah terdiri dari tiga cabang ilmu, yaitu psikologi, sosiologi dan antropologi, mengingat bahwa perilaku manusia sangatlah dipengaruhi oleh aspek-aspek kejiwaan, kemasyarakatan dan kebudayaan.

Psikologi ialah suatu ilmu yang mempelajari tentang aspek-aspek kejiwaan dan kepribadian individu dan kelom¬pok.
Bidang cakupannya adalah proses mental/emosional dan karakteristik perilaku individu maupun kelompok.
Antro¬pologi mempelajari perkembangan evolusi manusia yang mencakup unsur fisik, sosial dan budayanya.

Sesuai dengan bidang orientasinya, antropologi dapat dibedakan dalam antropologi fisik, antropologi sosial dan antropologi budaya, sedangkan

Antropologi medis mengkhususkan diri pada studi tentang pengaruh unsur budaya terhadap penghayatan masya¬rakat tentang penyakit atau kesehatan.

Sosiologi mempela¬jari hubungan dan pengaruh timbal balik antara individu dengan kelompok (mulai dari keluarga sampai dengan kelom¬pok masyarakat yang kompleks), struktur sosial, serta meneropong proses-proses sosial, termasuk perubahan sosial.

Dikatakan oleh Parsudi Suparlan bahwa sosiologi meru¬pakan “ilmu pengetahuan yang secara sistematik mempelajari kelakuan sosial manusia, yaitu yang berkenan dengan pola-pola dan proses-proses interaksi di antara individu dan kelompok, bentuk-bentuk kelompok sosial, hubungan-hu-bungan di antara berbagai kelompok sosial, dan pengaruh kelompok sosial terhadap kelakuan individu.

Karena sosiologi lebih menekankan perhatiannya pada studi kelaku¬an sosial, maka teknik yang telah dikembangkan dalam penelittannya adalah Juga yang bersifat kuantitatif. Dengan demikian data yang dikumpulkan adalah data kuantitatif dan pengolahan data guna memperoleh penjelasan dan pemaha-man pola-pola yang berlaku juga dilakukan secara statistik” (Widjaja, 1986:77-78). Contoh penggunaan teknik kuantitatif dalam sosiologi ialah pengumpulan data melalui survei de¬ngan menggunakan kuesioner dan pengukuran slkap dengan memakai skala sikap. Metode kualitatif yang kerap dipakai dalam sosiologi adalah wawancara, observasi, focus group discussion1 dan sosiometrl2. Terdapat banyak literatur yang membertkan uraian tentang metode penelitian sosial.

1. Dalam focus group discussion dilontarkan sejumlah pertanyaan kepada sekelompok orang yang dimintakan respons/reaksi. Masing-masing orang memberikan tanggapan atas pertanyaan Itu dan mendiskusikannya dengan anggota kelompok. Dari tanggapan dan diskusi tersebut peneliti membuat keslmpulan Jawaban kelompok terhadap pertanyaan yang diajukan Itu. Teknik ini dapat menggali jawaban yang leblh mendalam dan serng dlpakai untuk menelitl aspek-aspek yang menyangkut nilai sosial atau prlbadi, sebab responden tidak merasa dijadikan pusat perhatian penelitian secara individual sehingga dia dapat lebih terbuka dalam memberikan tanggapannya.

2.Sosiometri
adalah teknik yang digunakan untuk memperoleh gambar/ peta hubungan antara Individu-indlvldu dalam satu kelompok, atau adanya daya tarik (atau justru rasa tidak senang) antar Individu-individu tersebut.

Sosiologi telah mencapai perkembangan sedemikian rupa sehingga menurut Harsja Bachtiar dapat diuraikan dalam berbagai bidang keahlian khusus (sub-disiplin), antara lain (Widjaja, 1986:58-60) :
1. Sosiobiologi
2. Sosiologi kesehatan dan sakit (sosiologi kedokteran, sosiologi klinik,
sosiologi perawatan)
3. Demografl/ilmu kependudukan3
4. Sosiologi keluarga dan kekerabatan
5. Sosiologi anak
6. Sosiologi remaja
7. Sosiologi orang tua
8. Sosiologi komuniti dan wilayah (sosiologi pedesaan, sosio¬logi
perkotaan), dan masih banyak sub-disiplln sosiologi lainnya.

Pengetahuan sosiologi ini dapat diterapkan untuk mem¬buat analisa sosial, perencanaan sosial, peramalan, penyu-sunan kebijakan sosial serta pembaharuan sosial. Dalam buku ini yang akan dibahas lebih lanjut ialah sosiologi yang berkaitan dengan kesehatan. Akan ditinjau bagaimana unsur-unsur perilaku manusia, serta faktor-faktor sosial dan budaya mempengaruhi status kesehatan individu dan masyarakat.

BAB II
SOSIOLOGI KESEHATAN

Sejak hampir seabad yang lalu di bidang kedokteran timbul kebutuhan untuk mencoba memahami faktor-faktor sosial yang berhubungan dengan pola penyebaran penyakit (epidemiologi) dalam kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Maka dikembangkanlah sosiologi kedokteran yang mencakup studi tentang faktor-faktor sosial dalam etiologi/penyebab, prevalensi/banyaknya dan interpretasi/penafsiran dari penyakit, tentang profesi kedokteran itu sendiri serta hubungan dokter dengan masyarakat umum. Dalam perkembangan selanjutnya terbukti bahwa upaya penanggulangan penyakit masyarakat tidaklah hanya merupakan tanggungjawab profesi kedok¬teran saja, melainkan tanggungjawab bersama para petugas kesehatan. Selain itu pendekatan terhadap masalah kesehat¬an masyarakat pun diperluas, yaitu dengan mengubah titik pusat perhatiannya, dari penyaktt menjadi kesehatan. Selaian dengan perkembangan tersebut maka timbul pula sosiolo¬gi kesehatan yang lebih luas daripada sosiologi kedokteran. Selain topik-topik dalam sosiologi kedokteran, sosiologi kesehatan membahas pula perilaku kesehatan, pengaruh norma sosial terhadap perilaku kesehatan, serta interaksi antar petugas kesehatan (dokter dengan petugas kesehatan lainnya) dan antara petugas kesehatan dengan masyarakat.

2.1. KONSEP-KONSEP POKOK
Konsep yang paling mendasar dalam ilmu-ilmu sosial dan ilmu perilaku ialah masyarakat.

Masyarakat ialah sekelompok orang yang memiliki identitas sendiri dan mendiami wilayah atau daerah tertentu, serta mengembangkan norma-norma yang harus dipatuhi oleh para anggotanya.

Istilah masyarakat itu seringkali dibedakan dalam kata society dan community. Kata “society” itu menunjuk kepada pengertian masyarakat luas, yang merupakan kumpulan dari individu-individu yang saling berinteraksi, yang mempunyai tujuan bersama dan yang cenderung memiliki kepercayaan, sikap dan perilaku yang sama (Krech et al, 1962).

Selanjutnya, “society” ini dibagi menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil, yang dinama-kan “community”/komunitas.

Menurut Freeman (1963), komunitas merupakan suatu tempat, suatu kumpulan manusia, ataupun suatu sistem sosial.

Dalam upaya memahami suatu gejala sosial dalam masyarakat maka studi-studi dalam sosiologi dilakukan dengan menggunakan dua macam pendekatan, yaitu :
1. Pende¬katan etik yaitu menganalisa perilaku atau gejala sosial dari pandangan orang luar serta membandingkannya dengan budaya lain. Dengan demikian maka pendekatan etik bersifat lebih obyektif, dapat diukur dengan ukuran dan indikator tertentu,
2. Pendekatan emik. Secara singkat dapat dikatakan bahwa pendekatan emik berusaha memahami perilaku individu/ma-syarakat dart sudut pandang si pelaku sendiri (individu tersebut atau anggota masyarakat yang bersangkutan). sedangkan pendekatan emik relatif lebih subyektif dan banyak menggunakan kata-kata/bahasa dalam menggambarkan perasaan individu yang menjadi obyek studi. Studi emik bersifat lebih unik, sukar untuk digeneralisasikan secara luas (Pelto, 1970). Ditambahkan oleh Foster bahwa pen¬dekatan emik mencakup upaya untuk mengkomunikasikan keadaan diri-dalam (“inner psychological states”) dan perasa¬an individu yang berkaitan dengan suatu perilaku. Asumsi dari pendekatan emik ini adalah bahwa pelaku/aktor suatu tindakan itu lebih tahu tentang proses-proses yang terjadi dalam dirinya, daripada orang lain. Dan pengetahuan tentang proses mental ini diperlukan untuk memahami mengapa seseorang melakukan suatu tindakan atau mengapa dia menolak untuk melakukan tindakan tersebut (Foster, 1978).

Masyarakat mempunyai kepercayaan yaitu sikap untuk menerima suatu pernyataan atau pendirian, tanpa menunjukkan sikap pro atau anti.

Artinya, jika orang percaya bahwa merokok dapat menyebabkan kanker paru, maka dianggapnya hal itu benar, terlepas dari apakah dia suka atau tidak suka merokok. Seringkali suatu kepercayaan tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dimana anggota-anggotanya mempunyai kepentingan dan tujuan yang sama. Tidak jarang pula kepercayaan kelompok ini (group belief) ditumbuhkan oleh pihak yang berwenang atau pemimpin masyarakat yang disebar luaskan ke anggota masyarakat yang lain. Contohnya, berdasarkan informasi dokter tentang penggunaan alat kontrasepsi, orang percaya bahwa penggunaan pil oleh wanita di atas 40 tahun bisa mengganggu kesehatan. Selain itu, suatu kepercayaan dapat juga tumbuh jika orang berulang-ulang kali mendapat informasi yang sama (Krech et al: 1962). Itulah yang menjelaskan mengapa sementara penduduk percaya bahwa pemasangan spiral yang tidak baik dapat mengakibatkan menancapnya benda Itu di kepala si bayi. Pengalaman menunjukkan, lebih sulit untuk mengubah kepercayaan kelompok dari pada kepercayaan individu, karena kepercaya¬an individu sifatnya lebih subyektif dan relatif sedangkan kepercayaan kelompok memiliki intensitas yang lebih kuat karena didukung oleh individu-individu lain yang besar Jumlahnya, apalagi jika kepercayaan tersebut didukung oleh tokoh-tokoh masyarakat.

Kepercayaan tentang apa yang dianggap baik/benar dan apa yang tidak baik/salah disebut nilai. Nilai sosial mencerminkan budaya suatu masyarakat dan berlaku bagi sebagian besar anggota masyarakat penganut kebudayaan tersebut.

2.2. TEORI AKSI
Teori aksi yang juga dikenal sebagai teori bertindak ini (action theory) pada mulanya dikembangkan oleh Max Weber seorang ahli sosiologi dan ekonomi yang ternama. Weber berpendapat bahwa individu melakukan suatu tindakan berdasarkan atas pengalaman, persepsi, pemahaman dan penafsirannya atas suatu obyek stimulus atau situasi tertentu. Tindakan individu ini merupakan tindakan sosial yang rasional, yaitu mencapai tujuan atau sasaran dengan sarana-saranayang paling tepat (Ritzer, 1983).

Teori Weber dikembangkan lebih lanjut oleh Talcott Parsons, yang mulai dengan mengkritik Weber, menyatakan bahwa aksi/actfon itu bukanlah perilaku/behautour. Aksi merupakan tanggapan/respons mekanis terhadap suatu sti¬mulus sedangkan perilaku adalah suatu proses mental yang aktif dan kreatif.

Menurut Parsons, yang utama bukanlah tindakan individual, melainkan norma-norma dan nilai-nilai sosial yang menuntun dan mengatur perilaku (Poloma, 1987).

Kondisi obyektif disatukan dengan komitmen kolektif terhadap suatu nilai akan mengembangkan suatu bentuk tindakan sosial tertentu.

Parsons melihat bahwa tindakan individu dan kelompok dipengaruhi oleh tiga sistem, yaitu sistem sosial, sistem budaya dan sistem kepribadian masing-masing individu. Kita dapat mengkaitkan individu dengan sistem sosialnya melalui status dan perannya. Dalam setiap sistem sosial individu menduduki suatu tempat (status) tertentu dan bertindak (berperan) sesuai dengan norma atau aturan yang dibuat oleh sistem tersebut dan perilaku individu ditentukan pula oleh tipe kepribadiannya. Contohnya, keputusan seseorang untuk ikut serta atau menolak program KB tidak hanya tergantung dari kedudukannya dalam komunitas itu (seorang guru atau seorang petani), atau apakah metode kontrasepsi (pencegah kehamilan) itu sesuai atau tidak de¬ngan agama yang dianutnya, melainkan juga dari kepatuh-annya atau keberaniannya untuk menolak KB sekalipun akan menimbulkan rasa tidak enak terhadap tetangga dan tokoh
masyarakat.

Guna mengklasifikasikan tlpe-tipe peranan dalam suatu sistem sosial. Parsons mengembangkan pattern variables sebagai berikut (Poloma, 1987) :
(1) Afektif versus netral. Interaksl sosial dalam suatu komunitas dapa dibedakan dalam derajat keterlibatan emosi Individu. Hubungan yang lebih yang akrab atau Intim ditandai dengan keterlibatan emosi yang lebih mendalam daripada hubungan sifatnya profesional, misalnya hubungan suami isteri dibandingkan dengan hubungan dokter-pasien.

(2) Orientasi diri versus orlentasi kelompok. Hubungan antar Individu juga dapat dibedakan berdasarkan arah orientasi-nya. Dalam hal seorang individu mengutamakan kepentingan diri sendiri maka dia akan menjalin hubungan yang disebut berorlentasi diri. Contohnya, dalam hubungan dokter-pasien, orientasinya lebih kepada orientasi diri, yaitu mengutama¬kan kesembuhan sang pasien. Sedangkan jika kepentingan kelompok mengalahkan kepentingan pribadi, maka hubung¬an antar Individu itu dikatakan berorientasi kelompok. Mi¬salnya, individu yang terpaksa mengalah, mengorbankan hari Minggunya untuk ikut membantu gotong royong membersihkan lingkungan RT-nya.

(3) Umurn/universal versus khusus. Individu saling berinteraksi dengan
menggunakan norma/kriteria yang umum, yang dapat dlterapkan pada semua orang, ataupun kriteria khusus, yang hanya berlaku bagi kelompok tertentu. Kita dapat melihat hal ini, misalnya, dalam interaksi antara individu dalam situasi formal atau antara mereka yang tidak begitu akrab (setiap orang menggunakan julukan Bapak atau Ibu) sedangkan dalam situasi yang lebih akrab/informal Individu-lndividu tersebut menunjukkan interaksi dan perilaku yang lebih bebas dan kadang-kadang menggunakan norma yang oleh orang lain mungkin dianggap tidak sesuai. Misalnya, pada waktu bertemu tidak berjabat tangan, melainkan mencium pipi, padahal antara pria dan wanita.

(4) Kualitas versus prestasi. Kualitas mengacu kepada status seorang
individu yang diperolehnya sejak lahir (ascribed status, seperti gelar bangsawan, kekayaan yang diwarisinya, warna kulit/ras), sedangkan prestasi menunjukkan tingkat yang telah dicapai Individu melalui jerih payahnya sendlri. Kadang-kadang ada Individu yang cenderung memilih teman Interaksinya berdasarkan kualitas tingkat sosial/kelas ter¬tentu, yaitu yang sama-sama kaya atau justru sama-sama tidak berada, sesama usia, sukubangsa, dsb. Namun ada pula individu yang menjalin hubungan bukan berdasarkan kualitas bawaan, melainkan berdasarkan prestasi orang tersebut, terlepas dart perbedaan tingkat sosial, misalnya hubungan dengan teman seprofesi.

(5) Spesifik versus membaur/diffuse. Dalam hubungan yang spesifik, dua
Individu berhubungan dalam situasi yang ter-batas sifatnya, seperti misalnya hubungan antara pedagang dan pembelinya. Sedangkan hubungan keluarga ialah contoh dari hubungan yang membaur/ diffuse, di mana semua orang terlibat dalam proses interaksi.

“Pattern variables” ini dapatlah kita gunakan untuk menganalisa tindakan-tindakan dalam sistem sosial. Misal¬nya hubungan antara dokter dan pasien biasanya bersifat netral, khusus, dan spesifik, sedangkan hubungan antara ibu dan anak merupakan hubungan yang afektif, khusus dan membaur. Sebaiknya dokter menjaga agar hubungan dengan pasiennya tldak menjadi bersifat afektif karena hal inl dapat mengganggu proses penyembuhan dan perawatan si pasien.

2.3. TEORI SISTEM
Dalam perkembangan berbagai disiplin ilmu, seorang ahli Ilmu sosial, Bertalanffy, mengamati bahwa komunikasi antara berbagai disiplin, bahkan juga di dalam satu disiplin, makin bertambah sulit dengan adanya spesialisasi dalam setiap disiplin. Meskipun demikian tampak ada suatu konsep yang dapat ditemukan di dalam semua disiplin ilmu, yaitu konsep sistem, yang merupakan suatu kerangka yang terdiri dari beberapa elemen/sub-sistem yang saling berinteraksi dan berpengaruh. Konsep sistem ini, menurut Bertalanffy, dapat digunakan untuk menganalisa perilaku dan gejala sosial, dimana teori-teori yang dianggap cocok bagi suatu sistem dibahas dalam kaitannya dengan berbagai sistem yang lebih luas maupun dengan sub-sistem yang tercakup didalamnya. Contohnya interaksi antara keluarga (sistem), anak (sub-sistem) dan masyarakat (supra-sistem). Selain kaitan secara vertikal, juga dapat dilihat hubungan horizontal suatu sistem dengan berbagai sistem yang sederajat (DeWalt & Pelto, 1985).
Parsons memandang teori yang diprakarsai oleh Bertalanffy ini sebagai teori yang dapat dikembangkan lebih luas guna diterapkan dalam sosiologi. Parsons melihat suatu analog! antara masyarakat dan suatu organisme yang hidup, yaitu bahwa keduanya merupakan sistem yang terbuka, yang berinteraksi dan saling mempengaruhi dengan lingkungan-nya. Sistem kehidupan ini dapat dianalisa melalui dua dimensi, yaitu melalui inter-relasi antara bagian-bagian/ele-men-elemen yang membentuk sistem tersebut, dan interak-si/pertukaran antara sistem itu dengan lingkungannya.
Dalam teorinya yang dinamakan teori sistem umum (grand theory). Parsons berpendapat bahwa ada empat unsur utama yang tercakup dalam segala sistem kehidupan, yaitu :
1) Latent pattern-maintenance (L) atau cara mempertahankan kesinambungan tindakan didalam suatu sistem yang mengi-kuti norma atau aturan tertentu;
2) Integration (I), ialah mengko-ordinasi dan menyatukan bagian-bagian dari satu sistem menjadi suatu kesatuan fungsi;
3) Goal attainment (G) yang merupakan upaya menentukan prioritas dari beberapa tujuan sistem serta mencapai tujuan tersebut; dan
4) Adaptation (A), yaitu kemampuan sistem untuk menyerap apa-apa yang dibutuhkannya dari lingkungannya serta membagikannya kepada seluruh bagian sistem (Poloma, 1987).

Keempat fungsi atau unsur utama ini harus dipenuhi oleh setiap sistem demi kelestarian kehidupannya dan membentuk interrelasi seper¬ti digambarkan dalam skema berikut ini.

Berdasarkan gagasan yang dikemukakarmya sehubungan dengan faktor-faktor prasyarat dalam teori sistem tersebut di atas, Parsons menambahkan suatu sistem yang penting pengaruhnya bagi tindakan individu (sistem yang keempat setelah sistem sosial, budaya dan kepribadian), yaitu sistem perilaku organisme. Sistem sosial merupakan sumber dari integrasi, sistem kepribadian menentukan pencapaian sasaran, sistem budaya mempertahankan pola tindakan, sedangkan sistem perilaku organisme mengatur adaptasi individu.
Selanjutnya berdasarkan teori sistem ini Parsons menyusun teori yang menjelaskan tentang perkembangan (evolusi) masyarakat primitif menjadi masyarakat modern yang meliwati empat tahap perubahan struktur sosial. Proses evolusi ini dimulai dengan tahap diferensiasi, di mana suatu sistem atau sub-sistem memecah diri menjadi unit-unit yang lebih khusus yang balk struktur maupun fungsinya berbeda-beda. Diferensiasi yang memberikan peluang bagi berkem-bangnya elemen-elemen baru perlu disusul dengan proses penyesuaian dari elemen-elemen baru ini agar dapat menja-lankan fungsinya lebih balk daripada elemen-elemen lama yang digantikannya, yang sifatnya lebih urrmix itu. Tahap ini disebut peningkatan penyesuaian (adaptive upgrading). Balk diferensiasi maupun peningkatan adaptasi, keduanya menimbulkan masalah dalam pengintegrasian elemen-elemen itu ke dalam sistem yang berlaku. Masalah integrasi ini dipecahkan dengan mengikutsertakan elemen-elemen baru itu ke dalam sistem yang ada (tahap pengikut-sertaan/ inclusion) melalui generalisasi nilai-nilai (value generalization} yang mengesah-kan perkembangan baru tersebut. Sebagai contoh, melalui proses evaluasi ini timbullah generalisasi nilai baru, yaitu filsafat individualistis yang mengutamakan hak-hak priba-di/individu, menggantikan nilai kepentingan bersama (“col¬lective rights”).
Kritik utama dari teori Parsons ini ialah bahwa teori ini tidak dapat menjelaskan terjadinya revolusi dalam masyara¬kat karena lain dengan evolusi, revolusi itu terjadi secara cepat dan seringkali dengan kekerasan/paksaan, tidak perlu melalui tahap-tahap perubahan sosial seperti yang diuraikan oleh Parsons. Dalam teorinya Parsons menjelaskan perubah¬an kearah masyarakat modern namun dia tidak menguraikan dengan rinci bagaimana suatu masyarakat bergerak dari satu tahap ke tahap lainnya.

2.4. TEORI PERILAKU PERTUKARAN
Dalam upaya menjelaskan fenomena sosial, seorang ahli lain, George Homans mengembangkan teori pertukaran berdasarkan prinsip-prinsip transaksi ekonomi, yaitu manusia menawarkan jasa/barang tertentu dengan harapan memperoleh imbalan jasa/barang lain. Interaksi sosial pun menggunakan prinsip resiprositas seperti dalam transaksi ekonomi. Artinya, individu melakukan suatu tindakan demi mendapat imbalan atau justru untuk menghindari hukuman. Perlaku individu diarahkan oleh norma sosial dan konfor-mitas terhadap norma kelompok akan diberi imbalan/hadiah, sedangkan penyelewengan apalagi pemberontakan terhadap norma kelompok akan dihukum. Teori Homans ini dinamakan teori perilaku pertukaran (Poloma, 1987).

Bagi Homans tujuan perilaku manusia adalah tujuan ekonomis, yaitu untuk memperbesar keuntungan atau imbalan dan seluruh fenomena sosial dapat dianalisa sebagai bentuk-bentuk pertukaran.
Homans menggunakan teori behaviourism dari ahli psikologi Skinner dalam usahanya menjelaskan proses pertu¬karan dalam perilaku individu dan kelompok. Dia meminjam istilah-istilah yang digunakan oleh Skinner sehubungan dengan perubahan perilaku, yaitu sukses, stimulus, nilai, kekurangan versus kejenuhan, dan persetujuan/opproual ver¬sus agresi, dan dibuatnya proposisi sebagai berikut: Sukses : makin sering suatu tindakan menghasilkan imba-lan/hadiah, makin kuatlah kecenderungan individu untuk melakukan tindakan tersebut. Keberhasilan memperkuat suatu tindakan. Jadi murid/mahasiswa yang mendapat nilai balk dalam ulangan/ujiannya jika dia belajar dengan balk, akan lebih bersemangat belajar sebelum menghadapi ulang-an/ujian berikutnya.
Stimulus : jika di masa lalu tindakan individu sebagai tang-gapan dari suatu stimulus tertentu temyata mendapat imbal¬an positif, maka jika stimulus serupa timbul lagi, individu cenderung untuk mengulangi tindakan yang sama. Pengalaman masa lalu penting bagi penentuan perilaku individu. Anak yang diberi hadiah karena dia mau diperiksa giginya oleh dokter gigi, akan bersedia pergi lagi ke dokter gigi. Nilai : makin tinggi harga/nilai suatu hasil tindakan bagi si individu, makin besar kemungklnannya bahwa individu itu akan melakukan tindakan tersebut. Makin tinggi nilai profesi dokter bagi seorang individu, makin besar pula motivasinya untuk studi dan mencapai gelar dokter.

Kekurangan – kejenuhan : makin sering individu menerima imbalan tertentu, makin kecil makna imbalan tersebut baginya. Hadiah uang menjadi kecil maknanya kalau sering dlberikan. Sebaliknya, makin Jarang Imbalan diperoleh, makin besar makna imbalan itu. Proposisi ini menunjukkan relativitas nilai suatu Imbalan sehubungan dengan kemudahan untuk mencapai imbalan tersebut. Persetujuan – agresi : bilamana seseorang tidak menerima imbalan yang diharapkan, atau jika dia menerima hukuman di luar harapannya, dia cenderung untuk bertindak agresif. Sedangkan Jika tindakan individu diberi imbalan seperti yang diharapkan, atau jika dia tidak dihukum karenanya, maka dia akan setuju untuk melakukan tindakan tersebut. Di sini dikemukakan unsur emosi dalam perilaku individu : marah jika merasa diperlakukan tidak adil dan senang jika harapannya terpenuhi.

Proposisi yang diajukan oleh Homans tersebut di atas saling berkaitan dan merupakan suatu kesatuan. Artinya, setiap individu menentukan tindakannya dengan mempertimbang-kan semua faktor yang dikemukakan dalam proposisi terse¬but.
Hubungan dan kedudukan manusia dalam masyarakat harus terjalin secara adil, kata Homans. Dalam proses interaksi sosial orang mengharapkan untuk memperoleh imbalan yang sesuai dengan pengorbanan atau biaya yang telah dike-luarkannya. Pada umumnya orang cenderung untuk membandingkan dirinya dengan orang lain yang dirasakan mirip dengannya, dan bukan membandingkan dirt dengan orang yang sangat berbeda dengannya. Juga dia membandingkan dirinya dengan orang yang terlibat dalam proses pertukaran dengannya. Perbandingan inilah yang dijadikan landasan untuk menilai keadilan suatu transaksi. Meskipun kepuasan individu dalam transaksi itu bersifat relatif, namun jika dirasakan bahwa imbalan yang diterima tidak sesuai dengan pengorbanan/biayanya, maka akan timbul masalah ketidak adilan dalam distribusi imbalan. Misalnya, kader kesehatan yang sama sekali tidak menerima imbalan uang atas kegiat-annya menyelenggarakan posyandu, akan merasa diperlaku-kan tidak adil jika melihat petugas KB yang dibayar Rp. 2000,-setiap kali pergi mengunjungi rumah akseptor.
Di dalam setiap masyarakat selalu terdapat perbedaan status antar golongan. Mereka yang memiliki sumber-sumber yang dibutuhkan oleh masyarakat (keuangan, ketrampilan, kepemimpinan, pengalaman, dsb) biasanya diberi status lebih tinggi oleh anggota masyarakat umum. Yang berstatus lebih tinggi itu akan lebih banyak menyediakan barang-barang yang langka, namun mereka juga akan menerima lebih banyak barang yang ada/tersedia. Mereka inipun memperoleh kekuasaan dan otoritas yang lebih besar untuk mengatur jalannya interaksi sosial dan proses pertukaran dalam interaksi tersebut. Menurut Homans asal mula kekuasa-an/otoritas dalam masyarakat sebenarnya mengikuti prin¬ciple of the least interest. Artinya, orang yang paling tidak berminat untuk meneruskan suatu hubungan atau situasi tertentu justru mendapat wewenang paling besar untuk menentukan syarat-syarat bag! kelangsungan hubungan/si-tuasi tersebut. Dialah yang justru dibutuhkan karena tanpa keikutsertaannya, hubungan tersebut tidak dapat dilanjutkan. Oleh karenanya orang itu memiliki kekuasaan untuk menentukan berbagai persyaratan yang akan diikuti oleh orang lain sehingga menimbulkan hubungan yang bersifat asimetris. Seringkali hubungan asimetris ini dipaksakan melalui kekerasan sehingga terjadi pertukaran yang tidak seimbang antara anggota kelompok/masyarakat.
Teort Homans ini mendapat kritik dari ahli-ahli lain. Pertama, berbeda dengan binatang, manusia itu tidak hanya tergantung dari masa lalunya, tetapi dapat meramalkan dan menciptakan masa depannya sesuai dengan keinginannya. Oleh karenanya perilaku manusia tidaklah semata-mata tergantung dari pengalamannya di masa lalu. Lalu, apakah teori perilaku pertukaran ini dapat menjelaskan terjadinya perbudakan dan peperangan. Adakah keadilan sosial dalam kasus perbudakan dan perang ? Tampaknya teori Homans ini terlalu sempit dan tidak dapat menjelaskan perilaku yang kompleks serta munculnya kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat.
Di samping teori-teori di atas masih terdapat banyak lagi teori sosiologi yang terus berkembang mengikuti perubah-an zaman. Teori-teori itu dapat ditemukan dalam berbagai kepustakaan tentang sosiologi.

BAB III
PERSEPSI TENTANG SEHAT -SAKIT
dan
PERILAKU SAKIT

3.1. PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG SEHAT – SAKIT
Pandangan orang tentang kriteria tubuh sehat atau sakit, sifatnya tidaklah selalu obyektif. Bahkan lebih banyak unsur subyektivitas dalam menentukan kondisi tubuh seseorang. Persepsi masyarakat tentang sehat/sakit Ini sangatlah dipengaruhi oleh unsur pengalaman masa lalu, di samping unsur sosial budaya. Sebaliknya, petugas kesehatan berusaha sedapat mungkin menerapkan kriteria medis yang obyektif berdasarkan simptom yang tampak guna mendiagnosa kondisi fisik seorang Individu.

Perbedaan persepsi antara masyarakat dan petugas kesehatan inilah yang sering menimbulkan masalah dalam melaksanakan program kese¬hatan. Kadang-kadang orang tidak pergi berobat atau meng-gunakan sarana kesehatan yang tersedia sebab dia tidak merasa mengidap penyakit. Atau jika si individu merasa bahwa penyakitnya itu disebabkan oleh mahluk halus, maka dia akan memilih untuk berobat kepada “orang pandai” yang dianggap mampu mengusir mahluk halus tersebut dart tubuh¬nya sehingga penyakitnya itu akan hilang (Jordaan, 1985; Sudarti, 1988).

Secara ilmiah penyakit (disease) itu diartikan sebagai gangguan fungsi fisiologis dari suatu organisme sebagai akibat dari infeksi atau tekanan dari lingkungan. Jadi penyakit itu bersifat obyektif. Sebaliknya, sakit (illness) adalah penilalan individu terhadap pengalaman menderita suatu penyakit. Fenomena subyektif ini ditandai dengan perasaan tidak enak. Mungkin saja terjadi bahwa secara obyektif individu terserang penyakit dan salah satu organ tubuhnya terganggu fungsinya namun dia tidak merasa sakit dan tetap menjalan-kan tugasnya sehari-hari.

Sebaliknya, seseorang mungkin merasa sakit tetapi dari pemeriksaan medis tidak diperoleh bukti bahwa dia sakit. Di negara-negara maju banyak orang yang sangat tinggi kesadarannya akan kesehatan dan takut terkena penyakit sehingga jika dirasakan sedikit saja kelainan pada tubuhnya, maka dia akan langsung pergi ke dokter, padahal temyata tidak terdapat gangguan fisik yang nyata (hypochondriacal). Keluhan psikosomatis seperti ini lebih banyak ditemukan di negara maju daripada di kalangan masyarakat tradisional. Umumnya masyarakat tradisional memandang seseorang sebagai sakit jika orang itu kehilangan nafsu makannya atau gairah kerjanya, tidak dapat lagi menjalankan tugasnya sehari-hari secara optimal atau kehi¬langan kekuatan sehingga harus tinggal di tempat tidur (Sudarti, 1988).

Selama seseorang masih mampu melaksana¬kan fungsinya seperti biasa maka orang itu masih dikatakan sehat. Batasan “sehat” yang diberikan oleh organisasi kese¬hatan se dunia (WHO) adalah “a state of complete physical, mental and social wellbeing” (WHO, 1981: 38). Dari batasan ini Jelas terlihat bahwa sehat itu tidak hanya menyangkut kondisi fisik, melainkan juga kondisi mental dan social seseorang,

Petugas kesehatan umumnya mendeteksi kebutuhan masyarakat akan upaya kesehatan (health care) pada tahap yang lebih awal. Kebutuhan ini bukan hanya dideteksi pada awal dimulainya suatu penyakit tetapi lebih awal lagi, yaitu ketika orangnya masih sehat tetapi membutuhkan upaya kesehatan guna mencegah timbulnya penyakit-penyakit tertentu. Sebaliknya, masyarakat baru merasa membutuhkan upaya kesehatan jika mereka telah berada dalam tahap sakit yang parah, artinya yang tidak dapat diatasi dengan sekedar beristirahat atau minum jamu. Memang berbagai penelitian di negara-negara berkembang maupun negara maju menunjukkan bahwa tindakan pertama untuk mengatasi penyakit ialah berobat sendiri atau self medication (Patel, 1987; Sudarti, 1988; Schepers & Nievaard, 1990). Di negara-negara seperti Indonesia masih ada satu tahap lagi yang diliwati banyak penderita sebelum mereka datang ke petugas kesehatan, yaitu pergi berobat ke dukun atau ahli-ahli pengobatan tradisional lainnya (Jordaan, 1985; Sarwono, 1992; Slamet-Velsink, 1992). Dengan demikian makin parahlah keadaan penderita jika akhirnya meminta pertolongan seorang dokter. Bahkan di Mesir di kalangan orang yang tradisional dan kurang terpelajar, rumahsakit pernah dikenal sebagai “rumah mati” karena menurut pengamatan mereka, siapa yang masuk ke rumahsakit biasanya akan keluar sebagai mayat. Mereka mengira bahwa kematian itu disebabkan oleh dokter-dokter di rumahsakit, tanpa memahami keadaan yang sebenamya, di mana pasien yang dikirim ke rumahsakit itu kebanyakan adalah yang keadaannya sudah sangat parah sehingga bia¬sanya tidak tertolong lagi. Yang lebih sulit lagi, konsep sehat -sakit ini berbeda-beda antara kelompok masyarakat. Oleh sebab itu petugas kesehatan perlu menyelidiki persepsi masyarakat setempat tentang sehat dan sakit, mencoba me-ngerti mengapa persepsi tersebut sampai berkembang sedemi-kian rupa dan setelah itu mengusahakan mengubah persepsi tersebut agar mendekati konsep yang lebih obyektif. Dengan cara ini maka penggunaan sarana kesehatan diharapkan dapat lebih ditingkatkan.

3.2. PERILAKU SAKIT
Perilaku sakit diartikan sebagai segala bentuk tindakan yang dilakukan oleh Indivldu yang sedang sakit agar memperoleh kesembuhan,

sedangkan perilaku sehat adalah tindakan yang dilakukan individu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya, termasuk pencegahan penyakit, perawatan kebersihan diri (personal hygiene), penjagaan kebugaran melalui olahraga dan makanan bergizi.

Perilaku sehat ini diperlihatkan oleh individu-individu yang merasa dlrinya sehat meskipun secara medis belum tentu mereka betul-betul sehat.

Penilaian tentang kondisi kesehatan individu dapat dibedakan dalam 8 golongan sebagai berikut (Notoatmodjo & Sarwono, 1986:41)

Status kesehatan individu
Dimensi sehat

Tingkat
Psikologis
Medis
Sosial

Normally well Pessimistic
Socially ill Hypochondriacal Medically ill
Martyr
Optimistic
Seriously ill
baik
sakit
baik
sakit
baik
sakit
baik
sakit
baik
baik
baik
baik
sakit
sakit
sakit
saklt
baik
baik
saklt
saklt
baik
baik
sakit
sakit

Penggolongan status kesehatan di atas menunjukkan bahwa penilaian medis bukanlah merupakan satu-satunya kriteria yang menentukan tingkat kesehatan seseorang. Banyak keadaan di mana individu dapat melakukan fungsi sosialnya secara normal padahal secara medis menderita penyakit. Sebaliknya, tidak jarang pula individu merasa terganggu secara sosial psikologis padahal secara medis mereka tergolong sehat. Penilaian individu terhadap status kesehatannya ini merupakan salah satu faktor yang menentukan perilakunya, yaitu perilaku sehat jika dia mengganggap dirinya sehat, dan perilaku sakit jika merasa dirinya sakit. Orang yang berpenyakit, belum tentu orang sakit dan belum tentu mengakibatkan perubahan perannya dalam masyara-kat, sedangkan orang sakit biasanya akan menyebabkan perubahan perannya dalam lingkungan keluarga atau masyarakatnya. Orang yang sakit tidak dapat menjalankan tugas-tugasnya di lingkungan kerja dan keluarganya sehingga fungsinya itu harus digantikan oleh orang lain. Kadang-kadang peranan orang yang sakit itu sedemikian luasnya sehingga peran yang ditinggalkannya itu tidak cukup digantikan oleh satu orang saja melainkan harus digantikan oleh beberapa orang. Hal ini tentu saja akan mengakibatkan perubahan dalam sistem sosial/lingkungan yang langsung berhubungan dengan si sakit. Dalam kehidupan sosial, orang-orang yang tergolong “medically ill” dan “martyr” dapat lebih mudah diterima oleh anggota masyarakat sebab penyakit mereka tidak mengganggu interaksi sosial mereka. Sebalik-nya, orang akan merasa terganggu bila berhubungan dengan “hypochondriacal” atau yang “socially ill”.
Sekelompok ahli sosiologi yang dipimpin oleh Bush membedakan kemampuan fungsional seseorang berdasarkan tiga aspek : kemampuan untuk menggerakkan anggota tubuh, mobilitas dan kemampuan menjalankan kegiatan-kegiatan utamanya. Jika kedua aspek yang pertama merupakan indi-kator fisik, maka aspek yang terakhir mencerminkan definisi sosio-budaya tentang kesehatan dan penyakit karena berhu¬bungan erat dengan interaksi sosial. Setiap aspek diukur menurut derajat dan variasi kemampuan melakukan gerakan atau tindakan, mulai dari kemampuan melakukan gerakan/tindakan yang bervariasi tanpa memerlukan bantuan orang lain, sampai dengan kondisi di mana individu sama sekali menggantungkan diri pada bantuan orang lain untuk menjalankan fungsi fisik atau sosialnya. Berdasarkan penilaian setiap aspek menurut tingkatan fungsionalnya dapatlah ditentukan status kesehatan individu. Teori Bush in hanya memberikan kategorisasi status kesehatan individu namun tidak menjelaskan tentang perilaku sakit/sehat.
Seorang ahli sosiologi dan psikologi sosial yang lain, Mechanic, mengambangkan teori tentang perilaku sakit yang dinamakannya teori respons bertahan (coping response theory) (Notoatmodjo & Sarwono, 1986). Menurut Mechanic perilaku sakit adalah reaksi optimal dari individu jika dia terkena suatu penyakit. Dan reaksi ini sangatlah ditentukan oleh sistem sosialnya. Perilaku sakit erat hubungannya dengan konsep diri, penghayatan situasi yang dihadapi, pengaruh petugas kesehatan, serta pengaruh birokrasi (karya-wan yang mendapat jaminan perawatan kesehatan yang baik akan cenderung lebih cepat merasa sakit daripada mereka yang justru akan kehilangan nafkah hariannya jika tidak masuk kerja karena sakit). Ada dua faktor utama yang menentukan perilaku sakit : persepsi atau definisi individu tentang suatu situasi/penyakit, serta kemampuan individu untuk melawan serangan penyakit tersebut. Dengan demikian dapatlah dimengerti mengapa ada orang yang dapat mengatasi gangguan kesehatan yang cukup berat, sedangkan orang lain yang gangguannya lebih ringan malah memperoleh berbagai masalah, bukan saja fisik, melainkan masalah psikis dan
sosial.

Selanjutnya Mechanic mencoba menjelaskan proses yang terjadi dalam diri individu sebelum dia menentukan untuk mencari upaya pengobatan (etiologi perilaku sakit). Banyak faktor yang menyebabkan orang bereaksi terhadap penyakit, antara lain :
 Dikenalinya atau dirasakannya gejala-gejala/tanda-tanda yang menyimpang dari keadaan biasa
 Banyaknya gejala yang dianggap serius dan diperkirakan menimbulkan bahaya
 Dampak gejala itu terhadap hubungan dengan keluarga, hubungan kerja dan dalam kegiatan sosial lalnnya
 Frekuensi dari gejala dan tanda-tanda yang tampak dan persistensinya
 Nilai ambang dari mereka yang terkena gejala Itu (susceptibility atau kemungkinan individu untuk diserang penyakit itu)
 Informasi, pengetahuan dan asumsi budaya tentang penyakit itu
 Perbedaan interpretasi terhadap gejala yang dlkenalnya
 Adanya kebutuhan untuk bertindak/berperilaku mengatasi gejala sakit itu.
 Tersedianya sarana kesehatan, kemudahan mencapai sarana tersebut, tersedianya biaya dan kemampuan untuk mengatasi stigma dan jarak sosial (rasa malu, takut, dsb).

Dari faktor-faktor di atas dapat dibuat kategorisasi faktor pencetus perilaku sakit, yaitu faktor persepsi yang dipengaruhi oleh orientasi medis dan sosio-budaya; faktor intensitas gejala (menghilang atau terus menetap); faktor motivasi individu untuk mengatasi gejala yang ada; serta faktor sosial psikologis yang mempengaruhi respons sakit.

Dalam menganalisa kondisi tubuhnya, biasanya orang melalui dua tingkat analisa, yaitu :

1. Batasan sakit menurut orang lain : orang-orang di sekitar individu yang sakit mengenali gejala sakit pada diri individu itu dan mengatakan bahwa dia sakit dan perlu mendapat pengobatan. Penilaian orang lain ini sangat besar artinya pada anak-anak dan bag! orang dewasa yang menolak kenya-taan bahwa dirinya sakit.

2. batasan sakit menurut diri sendtri : individu itu sendiri mengenali gejala penyakitnya dan menentukan apakah dia akan mencari pengobatan atau tidak. Analisa orang lain dapat sesuai atau bertentangan dengan analisa individu, na-mun biasanya analisa itu mendorong individu untuk mencari upaya pengobatan.
Kritik dari teori Mechanic ini ialah selain belum diuji validitas pengaruh faktor-faktor yang dikemukakannya itu terhadap tindakan mencari pengobatan, teori ini tidak dapat diterapkan untuk menjelaskan perilaku sehat dan upaya pencegahan penyakit. Lagipula, teori ini hanya menekankan pada segi individu dan mengesampingkan pentingnya hubung-an antara individu dan petugas kesehatan.

Masalah perilaku sakit ini juga diteropong oleh Such-man (Notoatmodjo & Sarwono, 1986) yang memberikan batas¬an perilaku sakit sebagai tindakan untuk menghilangkan rasa tidak enak (discomfort) atau rasa sakit sebagai akibat dari timbulnya gejala tertentu.

Suchman menganalisa pola proses pencarian pengobatan dari segi individu maupun petu¬gas kesehatan. Menurut pendapatnya, terdapat 5 macam reaksi dalam proses mencari pengobatan :

1. Shopping adalah proses mencari alternatif sumber pengobat¬an guna menemukan seseorang yang dapat memberikan diagnosa dan pengobatan sesuai dengan harapan si sakit.
2. Fragmentation adalah proses pengobatan oleh beberapa fasilitas kesehatan pada lokasi yang sama. Contoh : berobat ke dokter, sekaligus ke sinse dan dukun.
3. Procrastination ialah proses penundaan pencarian pengobat¬an meskipun gejala penyakitnya sudah dirasakan.
4. Self medication ialah pengobatan sendiri dengan mengguna¬kan berbagai ramuan atau obat-obatan yang dinilainya tepat baginya.
5. Discontinuity adalah penghentian proses pengobatan.

Dalam menentukan reaksi/tindakannya sehubungan dengan gejala penyakit yang dirasakannya, menurut Suchman Individu berproses melalui tahap-tahap berikut ini :

1) Tahap pengenalan gejala. Pada tahap inl indivldu memu¬tuskan bahwa dirinya dalam keadaan sakit yang ditandai dengan rasa tidak enak dan keadaan itu dianggapnya dapat membahayakan dirinya.
2) Tahap asumsi peranan sakit. Karena merasa sakit dan memerlukan pengobatan, individu mulai mencari pengakuan dari kelompok acuannya (keluarga, tetangga, teman sekerja) tentang sakitnya itu dan kalau perlu meminta pembebasan dari pemenuhan tugas sehari-harinya.
3) Tahap kontak dengan pelayanan kesehatan. Di sinl indi¬vidu mulai menghubungi sarana kesehatan sesuai dengan pengalamannya atau dari informasi yang diperoleh dari orang lain tentang tersedianya jenis-jenis pelayanan kesehatan. Pilihan terhadap sarana pelayanan kesehatan itu dengan sendirinya didasari atas kepercayaan atau keyakinan akan kemanjuran sarana tersebut. Perlu diperhatikan bahwa kecenderungan menggunakan perawatan tradisional tidak hainya terdapat di negara-negara berkembang. Masyarakat negara majupun mengenal sistem kesehatan alternatif (alternative medicine) yang banyak menggunakan ramuan tumbuh-tum-buhan sebagai bahan obat dan menggunakan teknik pengobat¬an yang berbeda, seperti melalui meditasi, akupunktur, home-opathi serta pencapaian keseimbangan fisik dan psikis (Patel, 1987).
4) Tahap ketergantungan si sakit. Individu memutuskan bahwa dirinya, sebagai orang yang sakit dan ingin disembuh-kan, harus menggantungkan diri dan pasrah kepada prosedur pengobatan. Dia harus mematuhi perintah orang yang akan menyembuhkannya agar kesembuhan itu cepat tercapai.
5) Tahap penyembuhan atau rehabilitasi. Pada tahap ini si sakit memutuskan untuk melepaskan diri dari peranan sebagai orang sakit. Hal ini terjadi karena dia sudah sehat kembali dan dapat berfungsi seperti sediakala. Kadang-kadang terjadi bahwa sebagai akibat dari penyakitnya itu individu menjadi cacad. Dalam hal ini dia tetap melepaskan diri dari perannya sebagai orang sakit dan berusaha memulihkan fungsi sosialnya meskipun tidak optimal.

Ada dua hal yang sangat berkaitan dengan peran indivi¬du dalam lingkungan sosialnya, yaitu hak dan kewajiban. Artinya, orang yang berperan sebagai si sakit mempunyai pula hak dan kewajiban tertentu.

Hak yang pertama bagi orang sakit ialah dibebaskannya dari tanggung jawab sosial dan pekerjaan sehari-hari. Pemenuhan hak ini tergantung dari tingkat/persepsi keparahan penyakitnya. Jika penyakit itu dianggap tidak begitu parah, maka si sakit hanya diberikan sedikit kebebasan dari peran dan tanggung jawabnya. Namun jika penyakitnya parah, si sakit berhak menuntut untuk dibebaskan sama sekali dari tanggung jawab sosialnya sebab kalaupun dipaksakan dia akan menghasilkan pekerjaan yang mutunya rendah. Apalagi jika penyakitnya itu menular. Kehadirannya di lingkungannya justru akan mengganggu orang lain karena menularkan penyakitnya.

Hak yang kedua ialah hak untuk menuntut bantuan atau perawatan dari orang lain. Biasanya orang sakit itu berada dalam kondisi lemah sehingga dia membutuhkan bantuan orang lain untuk merawat dirinya agar kesehatannya dapat dipulihkan sehingga dia dapat kembali berfungsi dalam masyarakat. Keluarga atau lingkungannya wajib memberikan bantuan kepada si sakit tetapi jika penyakit itu memerlukan ketrampilan khusus untuk menanganinya maka bantuan ini dapat dimintakan dari individu-individu tertentu, seperti dokter, perawat, petugas kesehatan lainnya, dukun, sinse, dan sebagainya. Pemerintah sebagai institusi tertinggi yang bertanggung jawab atas pemeliharaan kesehatan penduduknya harus pula memenuhi kewajibannya dalam menyediakan sarana pelayanan kesehatan serta menyelenggarakan sistem asuransi kesehatan sehingga penduduk yang sakit dapat disembuhkan dan menjadi produktif kembali.
Di samping mempunyai hak tertentu, orang sakit harus pula menjalankan kewajibannya, terutama kewajiban untuk mencapai kesembuhan.

Kewajiban Itu dapat dipenuhi sendiri maupun dengan pertolongan orang lain (petugas kesehatan). Dalam lingkup yang lebih luas, masyarakat sebagai kumpulan individu, juga mempunyai kewajiban untuk menyembuhkan anggota-anggotanya yang sakit dan wajib memelihara kese¬hatan penduduk secara umum. Dengan kata lain, hidup sehat dapat dipandang sebagai hak yang sekaligus juga kewajiban individu dan masyarakat.
Kewajiban lain bagi si sakit ialah untuk mencari pengakuan dari lingkungannya dan dari petu¬gas kesehatan, agar posisinya selama dia sakit dapat digantikan oleh orang lain.
Pengakuan ini dapat berwujud sebagai izin tidak masuk kerja atau cuti sakit, baik secara tertulis maupun lisan. Dengan demikian jelaslah bahwa peran sakit seorang Individu memiliki dampak timbal balik dengan lingkungannya dan seperti dlsebutkan pada awal bab ini, komunltas yang slstem sosialnya memberikan dukungan terhadap orang sakit akan mendorong anggota masyarakat untuk lebih cepat mengeluh saklt dan memanfaatkan dukung¬an sosial ini bagi kepentingannya sendiri.

BAB IV
HUBUNGAN DOKTER-PASIEN

Tokoh kunci dalam proses pengobatan atau penyembuhan suatu penyakit ialah petugas kesehatan, atau lebih khusus lagi : dokter.
Bagi masyarakat awam seorang dokter danggap mempunyal pengetahuan dan ketrampilan untuk mendiag-nosa dan menyembuhkan penyakit sehingga dia berwewenang melakukan tindakan terhadap diri si sakit demi pencapaian kesembuhannya. Berdasarkan pandangan dan harapan si sakit ini terhadap fungsi dan peran dokter terjadilah interaksi dokter-pasien yang bersifat profesional dan seringkali tidak seimbang, artinya, dokter yang aktif memberikan gagasan tindakan dan mengambil Inisiatif bertindak, sedangkan pasien secara pasif menerima saran dan mematuhi Instruksi dokter.

4.1. PERAN DOKTER
Dalam melakukan perannya sebagai seseorang yang memiliki kompetensi untuk mengobati orang yang sakit, dokter melaksanakan lima fungsi utama dan fungsi-fungsi ini dapat dianalisa dengan patterns variables yang dikembangkan oleh Parsons, yaitu :

1. Menerapkan peraturan umum atau khusus yang harus ditaati oleh pasien (kriteria universal versus khusus)
2. Membina interaksi dengan pasien secara luas dan memba¬ur, atau terbatas pada fungsinya sebagai dokter (membaur ver¬sus spesifik)
3. Melibatkan emosi/perasaannya atau bersikap netral dalam hubungannya dengan sang pasien (afektif versus netral)
4. Mengutamakan kepentingan diri sendiri atau kepentingan bersama (orientasi diri versus orientasi kelompok)
5. Memandang manusia berdasarkan kualitasnya atau prestasinya (kualitas versus prestasi).

Dalam perannya sebagai orang yang menyembuhkan (healer) tugas utama seorang dokter adalah untuk menerapkan pengetahuannya tentang pengobatan penyakit terhadap pa¬sien pada umumnya (kriteria universal). Dokter diharapkan bersikap idealis, artinya mengupayakan mencapai kondisi sebaik mungkin bagi si pasien. Namun dokter seyogyanya mem-batasi diri pada bidang spesialisasi yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya dan kemampuannya. Artinya seo¬rang dokter sebaiknya tidak bersikap sebagai orang yang serba tahu dan dapat memberikan nasihat dalam segala hal (berfungsi spesifik). Interaksi dengan pasien pun hendaknya dijaga sebatas hubungan profesional.

Perasaan simpati, antipati dan emosi lainnya seharusnya dijauhkan dalam merawat seorang pasien. Dokter sebaiknya tidak bersikap pilih-pilih atau membedakan sikapnya antara satu pasien dengan pasien lain karena alasan pribadi ataupun alasan sosial lainnya (netral).

Selanjutnya, dokter harus menguta¬makan kepentingan pasien di atas kepentingan pribadinya. Kesembuhan pasiennya adalah tujuan yang harus dicapai oleh dokter. Berbeda dengan pengusahawan, seorang dokter tidak boleh mereklamekan kemahirannya untuk menarik pasien ataupun membuat persaingan dengan teman sejawat (orientasi kelompok). Justru dengan dimilikinya pengetahuan dan ketrampilan khusus dalam penyembuhan penyakit, seorang dokter mendapat kepercayaan dari pasiennya untuk melakukan tindakan yang dalam situasi biasa tidak dapat diterima oleh norma sosial (misalnya memeriksa bagian tubuh yang paling pribadi). Orientasi terhadap kepentingan bersama melindungi pasien dari penyalahgunaan posisinya yang lemah dan ketidak tahuannya tentang penyakit yang dideritanya. Maka jika dokter memenuhi perannya dengan baik, hu¬bungan dokter-pasien akan terjalin secara terpadu dan harmonis.

Pandangan Parsons tentang peran dokter itu merupakan pandangan yang ideal. Pada kenyataannya tidak semua krite¬ria Parsons dapat dipenuhi oleh dokter dalam menjalankan fungsinya mengobati pasien. Ilmu kedokteran modern cenderung menekankan perlunya para dokter mengetahui dan mengintemalisasi norma-norma praktek kedokteran dalam menjalankan tugas mereka, daripada membina interaksi yang baik dengan pasien. Meskipun dokter tidak boleh menganggap dirinya serba tahu, tetapi kebanyakan pasien, apalagi yang sangat percaya kepada keahliannya, menganggap dokternya sebagai orang yang tahu tentang semuanya dan dapat menjawab segala pertanyaan dan menyembuhkan segala penyakit. Terlebih-lebih di negara-negara berkembang, di mana tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat tentang penyakit sangat terbatas. Pasien yang sangat berterimakasih kepada dokternya akan menganggap dokter Itu sebagai dewa dan hubungannya dengan sang dokter tidak lagi terbatas sebagai hubungan profesional, melainkan menjadi hubungan pribadi yang membaur. Lalu, jika dokter diharuskan bersikap netral dan mementingkan kepentingan pasien dan kelompok profesinya, maka dalam kenyataannya para dokter itu juga individu-individu yang membutuhkan uang untuk menghidupi diri dan keluarganya. Dengan kata lain dokter juga mempunyai kebutuhan untuk mengutamakan kepentingannya sendiri.
Apabila ditinjau dari kenyataan yang ada maka kebanyakan dokter menunjukkan tindakan yang berlainan dengan apa yang disarankan oleh Parsons (Schepers & Nievaard, 1990).

Dalam tugasnya di lapangan seorang dokter tidak saja harus menghadapi masalah yang dipelajarinya di bangku kuliah, melainkan harus pula memecahkan segala masalah sosial dan kemanusiaan. Masyarakat tidak membedakan apakah keluhan yang dideritanya merupakan masalah medis/fisik ataukah karena masalah sosial. Seorang dokter diharapkan dapat menyembuhkan segala “penyakit” masya¬rakat (fungsi yang membaur). Tugas-tugas dokter pun kadang-kadang memaksa mereka memperlakukan pasiennya secara berbeda, tergantung dari tingkat sosial si pasien. Misalnya, dokter mendatangi dan mengobati raja atau menteri yang sedang sakit di istana/kediamannya, sedangkan rakyat kecil diminta datang ke rumahsakit dan mereka harus sabar menunggu gilirannya untuk diperiksa/diobati. Ini menunjuk-kan bahwa dokter tidak lagi bersikap netral melainkan menggunakan afeksinya. Hal seperti ini sering terjadi dalam masyarakat Timur. Sukses dokter dalam menangani keluhan pasien-pasiennya tidak saja terletak pada hasil pendidikan dan kemahirannya dalam bidang kedokteran, melainkan ditentukan oleh unsur-unsur pribadi dokter itu sendiri dan harapan/pandangan pasien atau masyarakat yang dilayaninya.

4.2. MODEL HUBUNGAN DOKTER-PASIEN
Hubungan antara dokter-pasien dapat dikategorikan menurut Intesitas harmoni atau adanya konflik antara kedua pihak.

Menurut Parsons, meskipun keduanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu kesembuhan si pasien, hubungan dokter-pasien bersifat asimetris. Dokter mempunyai kedudukan yang lebih kuat/tinggi karena pengetahuannya di bidang medis, sedangkan si pasien biasanya awam dalam bidang itu serta sangat membutuhkan pertolongan dokternya. Oleh sebab itu kebanyakan pasien bersedia bekerjasama dan tidak menentang kehendak dokter sehingga konsensus dapat dicapai. Hal ini tidaklah berarti bahwa pasien memahami apa yang disarankan oleh dokter, melainkan karena si pasien percaya bahwa dokter tahu apa yang dilakukannya dan saran tersebut adalah demi kebaikan dirt pasien itu sendiri. Parsons menanggap bahwa antara dokter dan pasiennya sukar terjalin komunikasi yang benar sebab biasanya sang pasien berada dalam situasi emosional: sakit, bingung, takut, depresif, atau bahkan pasien itu sudah tidak dapat berkomunikasi lag! kare¬na sudah dalam keadaan tidak sadar. Gangguan emosi ini membuat pasien menjadi sukar befikir secara rasional se¬hingga sikap superior dokter lebih besar dampaknya. Hubung¬an ini sifatnya sebanding dengan hubungan orangtua – anak atau guru – murid.

Berdasarkan jenis penyakit atau kondisi kesehatan pasien. hubungan dokter-pasien secara umum dapat dibedakan menjadi tiga model, yaitu :
1. Aktif-pasif, pemimpin pengikut, atau hubungan setara (Schepers & Nievaard, 1990).hubungan aktif-pasif terjadi bilamana pasien berada dalam kondisi yang tidak mungkin bereaksi atau turut berperan serta dalam relasi itu. Dalam hal ini pasien benar-benar merupakan obyek yang hanya menerima apa saja yang diberikan kepadanya.
2. Hubungan pemimpin-pengikut akan terjadi jika pasien mengalami penyakit yang akut atau infeksi, di mana dokter memberikan instruksi sedangkan pasien mematuhi instruksi tersebut. Model relasi ini sering dianggap sebagai model yang menandai hubungan dokter-pasien pada umumnya. Siregar mensinyalir bahwa hubungan patemalistis semacam ini masih banyak ditemukan dalam praktek dokter di Indonesia (Siregar, 1990).
3. Model yang ketiga (hubungan setara) terjadi jika dokter membantu pasien untuk menolong dirinya sendiri. Dalam hubungan ini dokter memberikan saran/nasihat yang didiskusikan bersa-ma pasien dan pasien diharapkan aktif memutuskan apa yang akan dilakukannya demi kesembuhan dan kebaikan diri sendiri. Biasanya hubungan ini terjadi dalam kasus-kasus penyakit kronis (diabetes, misalnya) atau dalam upaya mengatasi kebiasaan yang merusak kesehatan (merokok atau alkoholisme). Dalam kasus merokok, misalnya, pasien sendiri harus membina disiplin untuk menghentikan kebia¬saan itu, sedangkan dokter hanya dapat memberikan saran tentang altematif cara penghentiannya dan konsekuensi dari tindakan tersebut. Dari uraian ini Jelas terlihat bahwa hubungan dokter-pasien dapat berbeda-beda sifatnya dan untuk setiap model diperlukan teknik komunikasi yang berbeda pula. Jika dokter tidak memperhitungkan hal ini.maka komunikasi dengan pasien tentu tldak akan efektlf dan hasil pengobatan pun menjadi tldak optimal.

Kenyataan sehari-hari menunjukkan bahwa tidak jarang ditemukan situasi dimana sang pasien justru “mendikte” dokternya, artinya pasienlah yang aktif sedangkan dokternya pasif dan menuruti kehendak pasien. Hal ini dapat terjadi jika pasien merasa lebih “tinggi” dari sang dokter (lebih tahu tentang penyakitnya, lebih tinggi tingkat sosialnya, atau lebih tua/berpengalaman). Bila pasien sampai menentukan apa yang harus dilakukan oleh dokternya, maka hubungan dokter-paslen tadi menjadi tidak profesional, tidak terapeutis dan keahlian dokter diremehkan. Keadaan semacam ini sebaiknya dihindari.
Jika Parsons memandang hubungan dokter-pasien dari segi kerjasamanya, maka Freidson memberikan pandangan lain, yaitu bahwa relasi itu justru ditandai oleh adanya konflik : antara pandangan awam dan pandangan ahli, dan antara dua kepentingan yang berbeda (Schepers & Nleuvaard, 1990). Bagi seorang dokter, keluhan penyakit pasien hanyalah merupakan salah satu dari beratus bahkan beribu kasus serupa yang pernah dihadapinya. Berdasarkan pengalamannya dia dapat menentukan diagnosa dan memberikan pengo¬batan seperti yang diberikan kepada pasien-pasien lain yang mempunyai keluhan serupa. Tetapi bagi diri si pasien, penyakitnya adalah sesuatu yang luarbiasa dan memerlukan perhatian khusus. Apa yang oleh pasien dianggap sesuatu yang penting dan pribadi sifatnya, oleh dokter dianggap bagian dari pekerjaan sehari-harinya yang sudah rutin. Di sinilah dapat terjadi perbedaan pendapat. Perbedaan penafsiran arti dan derajat keseriusan gejala-gejala yang ada mencerminkan perbedaan pendapat antara ahli dan orang awam. Apa yang oleh dokter dianggap “remeh” dan “bukan apa-apa”, oleh pasien diartikan sebagai gangguan yang serius karena dia menilainya berdasarkan pengetahuannya yang terbatas tentang penyakit itu, di samping adanya keterlibatan emosi.

Menurut Fredson, model hubungan dokter-pasien, dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu :

1. Tuntutan pekerjaan.
Misalnya, hubungan aktif-pasif sering dilaksanakan oleh dokter anak dan ahli bedah. Dokter umum dan ahli penyakit dalam biasanya mengikuti model pemimpin-pengikut, sedangkan hubungan setara dltemukan dalam psikoterapi, revalidasi serta konseling untuk penyakit-penyakit kronis.
2. Reaksi inidividu/masyarakat terhadap jenis penyakit itu.
Reaksi masyarakat terhadap suatu penyakit juga besar pengaruhnya terhadap hubungan dokter-pasien. Pada kasus-kasus yang “memalukan” atau mengakibatkan stigma (penyakit kelamin, AIDS, ataupun hamil di luar nikah) relasi dokter-paslen cenderung akan berbentuk aktif-pasif, sedangkan untuk penyakit-penyakit yang “normal” atau yang diterima oleh masyarakat, hubungan tersebut lebih bersifat pemimpin-pengikut.
3. Faktor struktur dan budaya.
Perbedaan sosio-budaya antara pasien dengan dokternya juga menentukan sifat relasi mereka. Makin besar perbedaan budaya itu, makin kuat kecenderungan untuk mengikuti model aktif-pasif. Hubungan setara lebih mungkin terjadi jika perbedaan sosio-budaya antara keduanya kecil. Selanjutnya bentuk relasi ini juga dipengaruhi oleh struktur orientasi praktek dokter. “Orientasi pasien” memberikan peluang lebih besar kepada si pasien untuk ikut serta menentukan diagnosa dan terapi penyakitnya. Hal ini dapat dilihat dalam sistem praktek kedokteran di mana pasien bebas menentukan dokter yang akan dldatanginya dan bahkan dapat langsung pergi ke dokter ahli, atas dasar diagnosanya sendiri tanpa konsultasi dengan dokter umum dulu, seperti yang biasa terjadi di Indonesia. Sistem yang lain, yaitu “tergantung kepada kolega”, memberi¬kan kekuasaan yang besar kepada dokter untuk menentukan diagnosa dan terapi yang tepat. Pasien tidak dapat memilih dokternya sendiri, apalagi langsung ke dokter ahli. Semua orang harus pergi ke dokter keluarga, sebelum dirujuk ke dokter ahli bila dianggap perlu. Struktur yang demikian Ini banyak ditemukan di negara-negara Eropa danAmerika.

4.3. KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI
Unsur penting dalam hubungan dokter-pasien ialah komunikasi. Secara umum dikatakan bahwa dalam berkomunikasi orang berusaha menyampaikan pandangan, perasaan dan harapannya kepada orang lain. Komunikasi itu dapat terjadl antara dua individu, antar kelompok atau antara Individu dan kelompok. Dalam hubungan dokter-pasien yang paling penting ialah komunikasi antar Individu (antar pribadi). Dalam relasi Itu seringkali komunikasinya bersifat pribadi (menyangkut hal-hal yang pribadi atau intim) namun asimetris.

Komunikasi merupakan proses timbal balik yang berkesinambungan yang menyangkut dua pihak. Pihak-pihak yang bersangkutan secara bergantian berperan menjadi pemberi informasi (pembicara) dan penerima informasi (pendengar). Pengamatan dan studi-studi menunjukkan bahwa kebanyakan dokter ternyata bukanlah pendengar yang baik. Mereka aktif mengarahkan jalannya komunikasi dengan memberiikan berbagai pertanyaan yang mendukung asumsi tentang penyakit si pasien namun mereka jarang mendengarkan jawaban sepenuhnya dart pasien. Artinya, jarang sekali pasi¬en diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau perasaannya yang berlalnan dart anggapan dokter, ataupun jika hal itu dikemukakan oleh pasien maka seringkali dokter tidak menganggapnya penting untuk diperhatikan. Sebaliknya, banyak juga pasien yang tidak berani/mau mengutarakan pendapat/perasaannya meski telah ditanya oleh dokter.

Hal-hal yang sering menghambat komunikasi antara dokter-pasien ialah :

1. Penggunaan simbol (istilah-lstilah medis atau ilmlah yang diartikan secara berbeda atau sama sekali tidak dimengerti oleh pasien).
2. Pseudo-komunikasi (tetap berkomunikasi dengan lancar padahal sebenarnya pasien tidak sepenuhnya mengerti atau mempunyai persepsi yang berbeda tentang apa yang dibicarakan);
3. Komunikasi non¬verbal (mimik muka, nada suara, gerakan, yang mempengaruhi pemahaman pesan/lnformasi yang diberikan). Sering-kali dokter memberikan terlalu banyak Informasi dan berbicara dengan gaya paternalistik dan merendahkan paslen, terutama jika si pasien berasal dart tingkat sosial/pendidikan yang rendah. Hal-hal ini dapat menimbulkan kerancuan dalam proses komunikasi sehingga pesan yang ingin disampaikan oleh kedua belah pihak tidak dapat mencapai sasaran seperti yang diharapkan.

Ketrampilan berkomunikasi yang harus dimiliki oleh dokter ialah :

1. Mendengarkan (listening) Mendengarkan itu bukan sekedar mendengar suara atau kata-kata, pasien, tetapi juga mencoba membaca pesan paslen melalui gerak-gerik, ekspresi wajahnya serta tanda-tanda non-verbal lainnya. Untuk membuktikan bahwa dokter mendengarkan pasiennya maka sekali-sekali dia perlu mengulang kata-kata pasiennya, terutama yang menyangkut hal yang penting.
2. Mengulang (parroting) Pengulangan itu dapat berbentuk pengulangan persls seperti yang dikatakan oleh pasien, dapat pula berupa ringkasan atau kesimpulan yang merupakan refleksi dari pandangan dan perasaan pasien. Dengan refleksi semacam Ini dokter dapat melihat apakah yang ditangkapnya itu sesuai dengan yang dimaksudkan oleh pasien, di samping itu pasien pun merasa puas bahwa dokternya mendengarkan dan memperhatikan kata-katanya.
3. Menyimpulkan (paraphrasing). Dalam kenyataan sehari-hari sekalipun dokter dikenal bersikap otortter dalam relasi dengan pasiennya, ternyata penelitian menunjukkan bahwa 40 – 50 % pasien tidak sepe¬nuhnya mematuhi Instruksi dokter (Schepers & Nievaard, 1990). Misalnya, tidak meminum obat sesuai dengan dosisnya atau malah menggunakan obat lain di samping obat yang diberikan oleh dokter Itu. Kebanyakan pasien malah melaku-kan pengobatan sendiri dan melanjutkan pengobatan sendiri itu meskipun telah mendapat resep dokter. Perlu diingat bahwa anjuran dokter tidak selamanya dapat langsung dilaksanakan. Kurang uang, obat hanya dibeli separuhnya. Harus menghentikan kontak dengan kucing yang menyebabkan alerginya, di sekltar tempat tinggal orang Itu banyak sekali kucing. Harus berhenti merokok, keluarga, teman-teman dan tetangganya semua perokok. Yang lebih menentu-kan kepatuhan pasien kepada dokternya adalah kepuasan

4.4. HUBUNGAN PETUGAS KESEHATAN-MASYARAKAT
Proses penyembuhan penyakit tidak hanya ditangani oleh dokter. Dengan makin meningkatnya variasi penyakit dan kerumtan teknologi kedokteran, diperlukan bantuan tenaga lain, seperti perawat, bidan, penata rontgen, ahli gizi, ahli sanitasi, dan sebagainya, yang kesemuanya bergabung menjadi “tim petugas kesehatan”. Ruang lingkup pelayanan dan pemeliharaan kesehatan pun meluas. Bukan hanya penyembuhan dan perawatan, melainkan juga promosi kese¬hatan, pencegahan penyakit dan rehabilitasi. Yang dilayani tidak saja individu pasien, melainkan juga keluarga si sakit dan masyarakat luas. Dengan demikian pendekatan petugas kesehatan tidak lagi terbatas pada pendekatan individual saja, melainkan juga pendekatan kelompok. Dalam menggarap keluarga dan masyarakat Inilah diperlukan pengetahuan tentang ilmu perilaku. Maka ahli-ahli ilmu sosial, khususnya ahli ilmu perilaku, memperkuat tim petugas kesehatan yang menangani kelompok masyarakat.

Seperti halnya dokter, petugas kesehatan juga mempunyai karakteristik yang dapat menghambat komunikasinya dengan masyarakat. antara lain :
1. Perbedaan status sosial,
2. Harapan masyarakat terhadap kemampuan petugas
3. Kecenderungan sikap otoriter, terutama dalam rangka mengatasi penyebaran penyakit akut.
4. Selain itu, di Indonesia seringkali petugas kesehatan dltempatkan di daerah yang keadaan sosial budayanya tidak sama dengan latar belakang sosial budaya petugas kesehatan itu.

Dengan demikian maka kesulitan berkomunikasi bertambah, sebab petugas tidak menguasai bahasa setempat dan tidak mengenal budaya di sana. Untuk itu diperlukan kemauan untuk mernpelajari bahasa dan budaya setempat, agar petugas tidak dianggap orang asing oleh penduduk asli, dan supaya komunikasi dengan masyarakat dapat menjadi lebih lancar.

BAB V
PENDIDIKAN KESEHATAN DAN
BEBERAPA MODEL PERUBAHAN
PERILAKU

Mengingat tujuan akhir dari program kesehatan adalah menumbuhkan perilaku sehat dalam masyarakat, dan salah satu fungsi petugas kesehatan adalah memberikan informasi/pendidikan tentang kesehatan, maka sekalipun bukan merupakan bagian khusus dari sosiologi kesehatan, di dalam bab inl dibahas juga peran petugas kesehatan sebagai pendidik kesehatan dan beberapa model perubahan perilaku.

5.1. PERAN PENDIDIK KESEHATAN
Menurut Blum (1974), perilaku Itu lebih besar perannya dalam menentukan pemanfaatan sarana kesehatan, dibandingkan dengan penyediaan sarana kesehatan Itu sendiri. Pengalaman menunjukkan bahwa penyediaan dan penambahan sarana pelayanan tidaklah selalu diikuti oleh peningkatan pemanfaatan sarana-sarana tersebut. Misalnya, bebe¬rapa studi menunjukkan bahwa Puskesmas dan posyandu di daerah-daerah tertentu tidak dimanfaatkan secara optimal (Ministry of Health, 1987; Rasyld, dkk, 1988; Sltohang & Adl,1989). Oleh sebab itu jika kita menginginkan peningkatan derajat kesehatan masyarakat maka kita harus bersedia dan mampu mengubah perilaku masyarakat. Dalam bidang kese¬hatan, tugas ini merupakan tugas utama dari pendidik/penyuluh kesehatan (health educator).

Pendidikan kesehatan itu mencakup kegiatan :
1. Peningkatan kesadaran
2. Kesehatan (health promotion)
3. Pencegahan penyakit, penyembuhan dan rehabilitasi.

Pendidikan kesehatan itu sendiri pada dasarnya ialah suatu proses mendidik individu/masyarakat supaya mereka dapat memecahkan masalah-masalah kesehatan yang dihadapinya.

Seperti halnya proses pendildikan lainnya, pendi¬dikan kesehatan mempunyai unsur masukan/ input (perilaku pemakai sarana kesehatan dan petugas kesehatan) yang setelah diolah dengan teknik-teknik pendidikan tertentu akan menghasilkan keluaran/output (perubahan perilaku kesehatan masyarakat sasaran) yang sesuai dengan harapan atau tujuan kegiatan itu. Dengan demikian pendidikan kesehatan merupakan suatu proses yang dinamis. Dan kita tahu bahwa perilaku kesehatan itu sangatlah dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, budaya, ekonomi dan juga politik, sehingga pendidikan kesehatan bukanlah tugas yang mudah. Diperlukan pengetahuan dan ketrampilan khusus untuk melaksanakan pendidikan kesehatan dengan baik.

Secara umum upaya mengubah perilaku dapat digolongkan menjadi tiga macam cara (Notoatmodjo & Sarwono, 1986).

1) Menggunakan kekuasaan/kekuatan. Orang pun dapat berubah perilakunya jika dipaksa, diancam dengan hukuman atau dijanjikan imbalan/hadiah. Namun pengalaman dan studi di berbagai masyarakat menunjukkan bahwa perubahan perilaku yang terjadi melalui proses paksaan terbukti tidak dapat bertahan lama. Artinya, begitu pengawasan atau paksa¬an itu mengendur, timbullah kecenderungan untuk kembali kepada perilaku yang lama.
2) Memberikan informasi Dengan memberikan informasi tentang kebiasaan hidup sehat dan cara-cara mencegah penyakit diharapkan akan teijadi peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku kesehatan dalam diri individu/kelompok sasaran yang berdasarkan atas kesadaran dan kemauan individu yang bersangkutan. Perubahan perilaku melalui pemberian informasi/pendidikan ini memang memakan waktu yang lama, sebab tidak sekedar melibatkan perubahan gerakan/ak-tivitas motorik, melainkan menyangkut pula perubahan persepsi tentang konsep-konsep kesehatan dan perubahan sikap terhadap tindakan yang dianjurkan. Sekalipun lama, hasil/perubahan yang dicapai ternyata lebih lama mene-tap/lestari dan tidak tergantung dari ketatnya pengawasan, karena individu merasakan sendiri adanya kebutuhan untuk berperilaku sehat.
3) Diskusi dan partisipast Perubahan perilaku melalui diskusi dan partisipasi ini dikembangkan dengan asumsi bahwa masyarakat bukanlah sekedar obyek melainkan juga subyek dari pelayanan kesehatan. Dengan demikian mereka perlu diajak serta mengidentifikasi dan membahas masalah kese¬hatan serta mencari alternatif pemecahan masalah-masalah itu. Artinya, masyarakat tidak hanya pasif menerima infor-masi dari petugas kesehatan, melainkan ikut aktif mencari masalah-masalah kesehatan yang dirasakan oleh penduduk, memikirkan jalan keluamya, mencari sumber daya yang dapat digunakan untuk menanggulangi masalah-masalah tersebut, serta ikut serta dalam pelaksanakan kegiatan kesehatan. Partisipasi aktif ini dapat memperluas dan mem-perdalam pemahaman masyarakat tentang kesehatan dan mereka merasa ikut serta mengusulkan/merencanakan suatu kegiatan kesehatan sehingga dalam pelaksanaan kegiatan tersebut mereka lebih termotivasi untuk berperan serta. Disayangkan bahwa metode diskusi dan partisipasi aktif ini tidaklah selalu dapat diterapkan dalam setiap masyarakat. Metode ini tampaknya akan lebih berhasil di kalangan masyarakat yang berpendidikan menengah ke atas, modern, atau bersikap lebih terbuka terhadap hal-hal baru (innovatil). Selanjutnya, agar kita dapat melakukan pendidikan kesehatan dengan efektif maka berikut ini dijelaskan beberapa model/teori perubahan perilaku.

5.2. MODEL PENGURANGAN RASA TAKUT
Berbagai studi membuktikan bahwa emosi seseorang besar pengaruhnya terhadap penerimaan dan pengolahan informasi yang diterimanya (Korchin, 1964; Sarason, 1972; Mandler 1975). Makin kuat emosi seseorang, makin berku-ranglah kemampuan rasionalnya dalam mengolah suatu informasi (Macs, 1983). Individu yang dalam keadaan emosional (ketakutan, marah, sedih, “excited”, dan sebagainya) biasanya tidak dapat mendengarkan dengan baik apa-apa yang dijelaskan kepadanya. Contohnya, seorang wanita yang baru saja diberitahu oleh doktemya bahwa dia mengidap kanker payudara, biasanya menjadi sangat terkejut, takut dan sedih, sehingga menolak untuk dioperasi. Pada saat itu dia tidak dapat mendengarkan dengan baik penjelasan dokter tentang perlunya operasi pengangkatan payudara itu sebagai upaya penghentian penjalaran penyakit tersebut.

Agar pemberian informasi tentang suatu tindakan pencegahan atau penyembuhan penyakit dapat dipahami dengan baik, maka rasa takut si pasien perlu dikurangi dulu.
Salah satu cara ialah dengan memberikan alternatif penyembuhan penyakit itu, misalnya dengan menyatakan bahwa kanker payudara dapat disembuhkan atau dihentikan penyebarannya melalui operasi, penyinaran atau dengan teknologi canggih lainnya. Setelah rasa takutnya berkurang, pasien diharapkan dapat berpikir lebih baik tentang alternatif-altematif yang diberikan oleh dokter tersebut, untuk kemudian memilih salah satunya.
Namun rasa takut tidak selamanya menimbulkan reaksi penolakan atas tindakan yang dianjurkan. Kadang-kadang rasa takut itu justru memacu individu untuk melakukan tindakan tersebut. Misalnya wanita yang merasa takut terkena kanker payudara, sangatlah mematuhi nasihat dokter untuk memeriksa diri secara rutin. Makin besar rasa takut itu, makin kuat pula keinginan untuk melakukan tindakan yang dianjurkan. Namun Janls (1967) membuktikan bahwa jika melampaui batas ambang tertentu, rasa takut itu justru akan menimbulkan reaksi penolakan, seperti yang dicontohkan di atas. Hubungan antara rasa takut dan penerimaan tindakan itu, menurut Janis, membentuk semacam kurva.
Dari kurva ini dapat disimpulkan bahwa sampai dengan tingkat tertentu dari rasa takut, Individu cenderung menerima tindakan yang dianjurkan. Tetapi jika rasa takut itu sedikit sekali atau justru terlalu kuat, maka Individu akan menolak anjuran tersebut. Jadi ada sltuasi di mana Individu perlu dibuat takut agar mau mengikuti anjuran dokter, namun ada pula situasi di mana individu tidak boleh ditakut-takuti sebab peringkatan rasa takut itu justru akan menyebabkan penolakan. Biasanya strategi menakuti (fear arousal) digunakan dalam upaya pencegahan penyakit (individu belum terserang penyakit itu atau penyakitnya belum parah), sedangkan untuk penyembuhan penyakit yang parah, rasa takut individu hams dikurangi, sebelum nasihat medis diberikan kepadanya.

5.3. TEORI ADOPSI INNOVASI ROGERS
Implisit dalam proses perubahan perilaku adalah ada-nya sesuatu ide/gagasan baru, yang diperkenalkan kepada individu dan yang diharapkan untuk diterima/dipakai oleh individu tersebut. Ahli ilmu sosial Rogers menamakan teorinya sebagai teori innovation decision process yang diartikan sebagai proses kejiwaan yang dialami oleh seorang individu, sejak menerima informasi/pengetahuan tentang suatu hal yang baru, sampai pada saat dia menerima atau menolak ide baru itu.

Mula-mula Rogers dibantu oleh rekannya, Shoema¬ker (1971), menyatakan bahwa proses adopsi innovasi itu melalui lima tahap, yaitu : mengetahul/menyadari tentang adanya ide baru itu (awareness), menaruh perhatian terhadap ide itu (interest), memberikan penilaian (evaluation), mencoba memakainya (trial) dan kalau menyukainya maka setuju untuk menerima ide/hal baru itu (adoption).
Sesuai dengan tahap-tahap perkembangan proses adopsi Innovasi ini maka peran/tugas pendidik kesehatan berubah-ubah, tergantung dari tahap yang sedang dialami oleh indi¬vidu. Mula-mula pendidik kesehatan memberikan informasi tentang suatu ide atau hal baru, agar masyarakat mengenalnya. Misalnya tentang penyakit kurang glzi dan cara pence-gahannya. Informasi ini dilanjutkan dengan kampanye dan penyuluhan lebih lanjut agar masyarakat menjadi tertarik kepada topik itu. Jika sudah timbul minat maka digunakan metode persuasi untuk membujuk para Ibu agar bersedia mengikuti anjuran dalam kampanye perbaikan gizi tersebut, yaitu antara lain dengan memberikan kepada anak-anak bubuk kedele yang tinggi protein, yang bisa diolah dalam berbagai jenis kue dan masakan Itu.

Bujukan atau persuasi itu membuat ibu-ibu berfikir dan mempertimbangkan untung ruginya membuat panganan dari bubuk kedele untuk anak-anak mereka, Dalam fase evaluasi ini faktor-faktor yang turut dipertimbangkan adalah harga, kemudahan mengerjakan, kesesualan dengan norma sosial, manfaat yang nyata, resiko, dan kesempatan untuk mencobanya sebelum memutuskan untuk menerima atau menolak ide yang ditawarkan tersebut. Berdasarkan pertimbangan tersebut dan terutama setelah mencobanya lebih dulu, barulah para ibu itu dapat memutus¬kan apakah akan membeli bubuk kedele Itu demi kesehatan anaknya, atau tidak.
Dari pengalaman di lapangan serta penelitian mengenal penerapan teori ini temyata Rogers dan Shoemaker menyimpulkan bahwa proses adopsi ini tidak berhenti segera setelah suatu Innovasi diterima/ditolak. Situasi ini kelak dapat berubah lagi sebagal akibat dari pengaruh lingkungannya.

Oleh karenanya maka Rogers dan Shoemaker (1978) mengubah teori mereka dengan membagi proses pembuatan keputusan tentang innovasi ini menjadi empat tahap utama. Mula-mula individu menerima informasi dan pengetahuan berkaitan dengan suatu ide baru (tahap knowledge). Pengetahuan ini menimbulkan minatnya untuk mengenal lebih jauh tentang obyek/topik tersebut dan fase ini dipergunakan oleh petugas kesehatan untuk membujuk atau meningkatkan motivasinya guna bersedia menerima obyek/topik yang dianjurkan terse¬but (persuasion). Tergantung kepada hasil persuasi petugas dan pertimbangan pribadi individu, maka dalam tahap decision dibuatlah keputusan untuk menerima atau justru menolak ide baru tersebut. Namun sebaiknya petugas/pendidik kesehatan tidak cepat merasa puas Jika suatu ide telah diterima, sebab kini individu memasuki tahap penguatan (confirmation) di mana dia meminta dukungan dari lingkungannya atas kepu¬tusan yang telah diambilnya itu. Bila lingkungan membe-rikan dukungan positif maka perilaku yang baru itu (adopsi) tetap dipertahankan, sedangkan bila ada keberatan dan kritik dari lingkungan, terutama dari kelompok acuannya, maka biasanya adopsi itu tidak jadi dipertahankan dan individu kembali lag! ke perilakunya yang semula. Sebaliknya, suatu penolakan pun dapat berubah menjadi adopsi apabila ling¬kungannya Justru memberikan dukungan (atau tekanan) agar individu menerima ide baru tersebut. Contohnya ialah kasus-kasus yang menolak ikut program KB. Mereka ini malah menjadi bahan gunjingan dan kritikan tetangga dan tokoh masyarakat karena tidak mau menerima anjuran yang sudah dijadikan salah satu program pemerintah yang utama. Sebagai akibat dari tekanan sosial itu maka akhirnya individu-Individu itu bersedia Juga turut menjadi akseptor. Dl sinl diperlihatkan pentlngnya petugas/pendidik kesehatan untuk memantau hasil kegiatannya setelah suatu program selesai masa pelaksanannya. Dalam tahap penguatan ini petugas kesehatan perlu melanjutkan penyuluhan mereka guna memantapkan praktek perilaku yang baru, sehingga tidak terjadi “drop-out”, dan mencoba untuk tetap mengubah slkap dan keputusan mereka yang menolak perilaku tersebut.
Tidak setiap orang mempunyai kecepatan yang sama dalam hal mengadopsi sesuatu yang baru. Golongan yang paling cepat menerima ide baru/perubahan ialah golongan pelopor (innovator) yang biasanya terdiri dari kelompok yang terpelajar, berfikiran maju. lebih banyak berkomunikasi dan berhubungan dengan kehidupan modem, lebih terbuka atau berani melakukan tindakan yang belum tentu diterima oleh masyarakat (“adventurous”). Jika kelompok pelopor yang jumlahnya sangat kecil Ini telah tampak mulai menerapkan perilaku baru itu maka perubahan ini diikuti oleh kelompok early majority atau kelompok mayoritas awal. Artinya, peru¬bahan perilaku ini telah mulai meluas tetapi belum mencapai mayoritas kelompok sasaran. Secara berangsur-angsur perluasan itu berkembang mencapai sebagian terbesar dari kelom¬pok sasaran (late majority). Namun dalam setiap masyarakat tentu dijumpai kelompok yang sukar sekali menerima Inno¬vasi. Golongan ini disebut laggard yang biasanya terdiri dari orang-orang yang kuat menganut tradisi, tua, atau kurang terpelajar. Karena sukarnya mengubah perilaku golongan terakhir ini maka sebaiknya pendidik kesehatan tidak menghabiskan waktu dan dana mereka untuk tetap menggarap kelompok . Kecepatan penerimaan Innovasi Ini berbeda di samping ciri dan kesiapan masyarakat sasaran. Pada umumnya perubahan yang sekedar menyangkut perubahan motorik (mode pakaian, misalnya) meluas secara lebih cepat daripada perubahan yang menyangkut norma sosial dan kepercayaan (penggunaan alat kontrasepsi) yang mengambil waktu bertahun-tahun lamanya. Oleh sebab itu dalam pro¬gram-program kesehatan yang menyangkut perubahan norma dan kepercayaan, sukar dibuat tolok ukur untuk Jangka waktu singkat.

5.4. TEORI PERTENTANGAN KEKUATAN (LEWIN)
Seorang ahli psikologi sosial, Kurt Lewin, membuat teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan terjadinya suatu perilaku. Teori yang dinamakan/orcefield analysis ini berasumsi bahwa di dalam diri Individu selalu terdapat kekuatan/dorongan yang saling bertentangan. Di satu pihak ada kekuatan yang mendorong individu untuk melakukan suatu tindakan (driving forces) tetapi sebaliknya ada pula kekuatan yang justru melarang/menghambat dilakukannya tindakan tersebut (restraining forces). Pertentangan antara kedua macam kekuatan ini membuat individu merasa gelisah atau tidak tenang dan harus memutuskan untuk memilih salah satu diantara kedua kekuatan itu (bertindak atau tidak bertindak) agar dlcapal keseimbangan/equilibrium dan ketenangan.

Dalam proses perubahan perilaku biasanya yang diinginkan adalah agar Individu memilih/memenangkan driving forces atau kekuatan yang mendorong untuk melaku¬kan tindakan seperti yang dianjurkan dalam innovasi terse¬but. Agar hal ini tercapai maka menurut Lewin dapat ditempuh tiga macam cara (Mlco & Ross, 1975) :

1. Memperkuat driving forces dengan cara menggalakkan upaya persuasi dan pemberian Informasi tentang program kesehatan yang sedang dilaksanakan;
2. Mengurangi restraining forces, yaitu memperkecil hambatan-hambatan yang ada dalam diri individu (fislk, pslkologis, ekonomis) serta di masyarakat (tabu, tradisi, norma sosial);
3. Memperkuat unsur pendorong dan sekaligus mengurangi hambatan-hambatan yang ada. Tidaklah mengherankan jika ternyata cara kombinasi ini merupakan metode yang paling efektif dalam mengubah perilaku. Program anti merokok, misalnya, akan lebih berhasil jika memberikan informasi tentang semua keuntungan yang dapat diperoleh dart penghentian kebiasaan merokok (menghindari penyakit paru-paru, bahkan kanker, menghemat uang), sambil meyakinkan indi¬vidu bahwa menghentikan merokok itu tidak akan mengu¬rangi status sosial atau “gengsi”-nya, dan tidak pula akan membuat-nya menjadi tegang atau ingin terus makan.

Perubahan perilaku itu sendiri tidaklah terjadi secara langsung melainkan melalui lima tahap yang oleh Lewin disebut sebagai tahap-tahap “mencair sampai membeku kembali” (unfreezing to refreeztng). Suatu perilaku atau kebiasaan Itu dapat diibaratkan sebagai air yang membeku. Maka Jika kebiasaan/perilaku itu akan diubah, haruslah dicairkan dulu, diberi bentuk baru, untuk kemudian dibekukan kembali dalam bentuknya yang baru itu. Proses ml dimulai dengan ;

1. Tahap pencairan (unfreezing) di mana Individu mencari berbagai Informasi sehubungan dengan hal/perilaku baru terse¬but, serta menyiapkan diri untuk berubah meninggalkan kebi¬asaan lamanya.
2. Tahap diagnosa masalah (problem diagnosis). Pada tahap ini individu mulai mengidentlfikasi semua kemungkinan yang berkaitan dengan perilaku yang baru itu, keuntungan-nya, hambatannya, dan resikonya jika perilaku itu diterima atau ditolaknya.
3. Tahap penentuan tujuan (goal setting). Berdasarkan pertimbangan tadi maka individu menentukan tujuan dari peru-bahan perilaku tersebut, artinya untuk apa dia berubah dan sampai sejauhmana dia akan berubah.
4. Tahap penerimaan perilaku baru(new behaviour) yang merupakan fase di mana individu mulai mencoba mempraktekkan perilaku yang baru dan mengevaluasi dampak dari perubahan perilaku tersebut.
5. Tahap pembekuan kembali (refreezing). Jika ternyata perilaku itu berdampak positif dan nyata manfaatnya maka perilaku tersebut akan diterima/diinternalisasikan sebagai pola perilaku yang permanen, menggantikan perilaku yang lama.

Meskipun menggunakan analisa dan istilah yang berlainan, tampak adanya kemiripan antara teori Lewin ini dengan teori adopsi innovasi dari Rogers.

5.5. MODEL PERUBAHAN PERILAKU DARI GREEN
Suatu teori lain dikembangkan oleh Lawrence Green yang mengatakan bahwa kesehatan indivdu/masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yaitu faktor perilaku dan faktor-faktor di luar perilaku (non-perilaku). Selanjutnya, faktor perilaku inl ditentukan oleh tiga kelompok faktor : faktor-faktor predisposisi, pendukung, dan pendorong. Faktor predisposisi (predisposing factors) mencakup pengetahuan individu, sikap, kepercayaan, tradisi, norma sosial, dan unsur-unsur lain yang terdapat dalam diri individu dan masyarakat.

Faktor pendukung (enabling factors) ialah tersedianya sarana pelayanan kesehatan dan kemudahan untuk menca-painya,

sedangkan faktor pendorong (reinforcing factors) adalah sikap dan perilaku petugas kesehatan.

Green menyatakan bahwa pendidikan kesehatan mempunyal peranan pen-ting dalam mengubah dan menguatkan ketiga kelompok fak¬tor itu agar searah dengan tujuan kegiatan sehingga menim-bulkan perilaku positif dari masyarakat terhadap program tersebut dan terhadap kesehatan pada umumnya.

Derajat kesehatan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya
(teori Green)
Sebagai contoh model Green ini dapat digunakan untuk menganalisa program imunisasi di Indonesia. Pemertntah menyediakan sarana obat dan petugas Imunlsasi dlisetlap desa (faktor pendukung); para dokter, perawat dan petugas Imuni¬sasi memberikan penyuluhan (pendidikan kesehatan) dan mendekati para Ibu yang anaknya memerlukan Imunisasi (faktor pendorong), sehlngga Ibu-lbu Itu menjadl paham atas pentingnya mencegah penyakit melalui Imunisasi (faktor predisposisi). Ini semua diarahkan untuk mencapai perilaku positif, yaitu membawa anak ke posyandu, Puskesmas atau praktek dokter swasta, untuk Imunisasi. Namun di samping perilaku, ada pula aspek non-perilaku yang dapat mempengaruhi pencapaian kesehatan individu/masyarakat, misalnya sulitnya mencapai sarana pelayanan kesehatan, mahalnya biaya transpor dan pengobatan, dan lain-lainnya.

5.6. MODEL “KEPERCATAAN KESEHATAN” DARI ROSENSTOCK
Berkaitan dengan teori Green, dikembangkan teori lain yang dinamakan health belief model oleh Rosenstock (1982). Dia percaya bahwa perilaku Individu ditentukan oleh motif dan kepercayaannya, tanpa mempedulikan apakah motif dan kepercayaan tersebut sesuai atau tidak dengan realitas atau dengan pandangan orang lain tentang apa yang baik untuk Individu tersebut. Sangatlah penting untuk membedakan antara kebutuhan kesehatan yang obyektif dan yang subyektif. Kebutuhan kesehatan yang obyektif ialah yang diidentifikasi oleh petugas kesehatan berdasarkan penilaiannya secara profesional. yaitu adanya gejala yang dapat meng-ganggu/membahayakan kesehatan Individu. Sebaliknya, In¬dividu menentukan sendlri apakah dirinya mengandung pe¬nyakit, berdasarkan perasaan dan penilaiannya sendiri. Pen-dapat/kepercayaan Ini dapat sesuai dengan realitas, namun dapat pula berbeda dengan kenyataan yang dilihat oleh orang lain. Meskipun berbeda dengan realitas, menurut Rosenstock,pendapat subyektlf Inilah yang justru merupakan kunci dari dllakukannya (atau dihindarinya) suatu tindakan kesehatan. Artinya, Individu Itu baru akan melakukan suatu tindakan untuk menyembuhkan penyakitnya jika dia benar-benar merasa terancam oleh penyakit tersebut. Jika tidak, maka dia tidak akan melakukan tindakan apa-apa.

Model kepercayaan kesehatan ini mencakup lima unsur utama (Rosentock, 1982).

1. Persepsi Individu tentang kemungkinannya terkena suatu penyakit (percei¬ved susceptibility). Mereka yang merasa dapat terkena penya¬kit tersebut akan lebih cepat merasa terancam.
2. Pandangan Individu tentang beratnya penyakit tersebut (perceived seriousness), yaitu risiko dan kesulitan apa saja yang akan dialaminya dari penyakit itu. Makin berat risiko suatu penyakit, dan makin besar kemungkinannya bahwa individu itu terserang penyakit tersebut,
3. Makin dirasakan besar ancamannya (perceived threats). Ancaman ini mendorong Individu untuk melakukan tindakan pencegahan atau penyembuhan penyakit. Namun ancaman yang terlalu besar malah menimbulkan rasa takut dalam diri individu yang justru menghambatnya untuk melakukan tindakan karena Individu itu merasa tidak berdaya melawan ancaman tersebut. Guna mengurangi rasa terancam itu, ditawarkanlah suatu alternatif tindakan oleh petugas kesehatan. Apakah Individu akan menyetujui altematif yang diajukan petugas Itu, tergantung pada pandangannya tentang manfaat dan hambatan dari pelaksanaan antematif tersebut. Individu akan mempertimbangkan, apakah alternatif itu memang dapat mengurangi ancaman penyakit dan akibatnya yang merugikan. Namun sebaliknya, konsekuensi negatif dari tindakan yang dianjurkan itu (biaya yang mahal, rasa malu, takut akan rasa sakit, dsb) seringkali menimbulkan keinginan Individu untuk justru menghindari alternatif yang dianjurkan petugas kesehatan.
4. Menunjukkan perceived benefits and barriers dari tindakan yang dilanjurkan. Untuk akhimya memutuskan menerima atau menolak alternatif tindakan tersebut,
5. Diperlukan satu unsur lag yatu faktor pencetus (cues to action) yang dapat datang dari dalam diri individu (munculnya gejala-gejala penyakit itu) ataupun dari luar (nasihat orang lain, kampanye kesehatan, terserang seorang teman atau anggota keluarga oleh penyakit yang sama, dsb).

Bagi mereka yang memiliki motivasi yang rendah untuk bertindak (misalnya yang tidak percaya bahwa dirinya akan terserang penyakit itu, yang menganggap remeh akibat dart penyakit tersebut atau yang takut menerima pengobatan) diperlukan rangsangan yang lebih intenslf untuk mencetuskan respons yang dilnginkan, sebab bagl kelompok semacam ini penghayatan subyektif terhadap hambatan/resiko negatif dari pengobatan penyakitnya, Jauh lebih kuat daripada gejala obyektif dart penyakit itu atau pun pandangan/saran profesional petugas kesehatan. Tetapi bagi mereka yang sudah termotlvasi untuk bertindak, maka rangsangan sedikit saja sudah cukup untuk menimbulkan respons tersebut.

Berdasarkan teori Rosenstock Ini dapatlah dipahami mengapa perokok segan menghentikan kebiasaannya merokok meskipun dia dapat terkena (diancam) kanker paru-paru. Baginya mungkin ancaman terkena penyakit itu tidak dianggapnya sungguh-sungguh dan kerugian menghentlkan rokok dlrasakannya leblh berat daripada manfaatnya. Apalagi kalau tidak ada faktor pencetusnya (batuk-batuk atau ketika diperiksa, ada bercak di paru-parunya). Lain halnya dengan pasien yang telah didiagnosa menderita kanker. Mengingat keparahan penyakltnya itu dan pertlmbangan keuntungan darl tindakan yang dianjurkan (dalam hal inl operasi, misal¬nya) maka dia akan mentaati nasihat dokter.

5.7. PROSES PERUBAHAN SIKAP (KELMAN)
Menurut Kelman perubahan sikap dan perilaku individu dimulai dengan tahap kepatuhan, identifikasi, kemudian baru menjadl intemalisasi (Kelman, 1958). Mula-mula Individu mematuhi anjuran/instruksi petugas tanpa kerelaan untuk melakukan tindakan tersebut dan seringkali karena ingin menghindari hukuman/sangsi jika dia tidak patuh, atau untuk memperoleh imbalan yang dijanjikan jika dia mema-tuhi anjuran tersebut. Tahap ini disebut tahap kepatuhan (compliance). Biasanya perubahan yang terjadi dalam tahap ini sifatnya sementara, artinya bahwa tlndakan itu dilakukan selama masih ada pengawasan petugas. Tetapi begitu pengawasan itu mengendur/hilang, perilaku itupun ditinggalkan. Menurut Kelman, pengawasan Itu tidaklah perlu berupa kehadiran fisik petugas atau tokoh otoriter, melainkan cukup rasa takut terhadap ancaman sangsi yang berlaku. jika Individu tidak melakukan tindakan tersebut. Dalam tahap ini pengaruh tekanan kelompok sangatlah besar. Individu terpaksa mengalah dan mengikuti perilaku mayoritas kelompok meskipun sebenamya dia tldak menyetujuinya. Namun segera setelah dia keluar dari kelompok tersebut, mungkin sekali perilakunya akan berubah, menjadi perilaku yang diingininya sendiri. Misalnya akseptor KB yang ikut menjadi akseptor hanya karena takut ditegur lurahnya, maka begitu pindah rumah ke daerah lain, mungkln sekali dla tidak lagi meneruskan menjadi akseptor KB.
Kepatuhan Individu yang berdasarkan rasa terpaksa atau ketidak pahaman tentang pentlngnya perilaku yang baru Itu, dapat disusul dengan kepatuhan yang berbeda jenlsnya, yaitu kepatuhan deml menjaga hubungan baik dengan petugas kesehatan atau tokoh yang menganjurkan perubahan tersebut (change agent). Biasanya kepatuhan Inl timbul karena individu merasa tertarik atau mengagumi tokoh tersebut, sehingga ingin menirukan tindakannya tanpa memahami sepenuhnya arti dan manfaat dari tindakan tersebut. Proses Ini disebut identifikasi. Meskipun motivasi untuk mengubah perilaku Individu dalam tahap ini lebih baik daripada dalam com¬pliance, namun motivasi ini belum dapat menjamln kelestarian perilaku itu karena individu belum dapat mengkaitkan perilaku tersebut dengan nilai-nilai lain dalam hidupnya, sehingga Jika dia ditinggalkan oleh tokoh idolanya itu maka dia merasa tidak perlu lagi melanjutkan perilaku tersebut.
Perubahan perilaku Individu baru dapat menjadi opti¬mal jlka perubahan tersebut terjadi melalul proses internalisasi di mana perilaku yang baru tu dianggap bernilai positif bagi diri individu Itu sendiri dan diintegrasikan dengan nilai-nilai lain dari hidupnya. Intemalisasi ini dapat dicapai jika petugas kesehatan merupakan tokoh yang dapat dlpercaya (kredibilitasnya tinggi) yang dapat membuat Individu/masyarakat sasaran memahami makna dan penggunaan perilaku baru Itu serta membuat mereka mengerti akan pentingnya perilaku tersebut bagi kehidupan mereka sendiri. Memang internalisasi Inl tidaklah mudah dicapai sebab diperlukan kesediaan individu/masyarakat sasaran untuk mengubah sistem nilai dan kepercayaan mereka agar menyesuaikan diri dengan nilai yang baru.

5.8. STRATEGI PERUBAHAN PERILAKU DARI KELMAN DAN WARWICK
Berdasarkan teorinya tentang proses perubahan peri¬laku kesehatan, Kelman bersama Warwick mengembangkan tipologi dari strategi untuk melakukan Intervensi sosial. Jenis-jenis strategi dapat disusun membentuk suatu skala kontinuum, mulal dengan strategi yang membatasi kebebasan individu, sampai dengan yang memberikan kebebasan kepada individu untuk menentukan pilihannya berdasarkan kemauan sendiri (Faden, 1982). Strategi paksaan (coercion) yang terletak di awal skala, memaksa individu/kelompok untuk melakukan suatu tindakan dengan ancaman sangsi yang berat, yaltu akan menghilangkan hak individu atas hal/ba-rang yang tinggl nilainya (tidak mendapat makan, dipotong gajinya, atau dicabut haknya untuk memperoleh rumah) jika individu itu tidak bersedia mematuhi paksaan tersebut. Yang Juga masih bersifat paksaan ialah strategi yang disebut manipulasi, yaitu mengubah situasi lingkungan fisik sedemi-kian rupa sehingga individu/kelompok tidak mempunyai pilihan lagi selaln darlpada mematuhi peraturan yang baru (misalnya memagari jalan raya dengan pagar besi tinggi sehlngga penyeberang jalan terpaksa mempergunakan jem-batan penyeberangan) atau, tanpa disadari oleh individu tersebut, menggunakan karakter/sifat-sifat pribadi tertentu untuk mempengaruhi Individu dalam menentukan pilihan¬nya. Contohnya, menugaskan polisi wanita untuk menindak pelanggar lalu-lintas atau menugaskan anak-anak untuk mengubah perilaku orangtua mereka (dokter kecil).
Strategi yang memberikan kebebasan lebih besar kepada Individu/kelompok sasaran ialah yang disebut persuasi. Dalam strategi ini seseorang (petugas kesehatan) berusaha menggunakan pengaruh pribadinya untuk mengubah sikap/perilaku orang lain (paslen) melalui diskusi, argumentasi atau dengan mendengarkan pendapat maslng-masing. Jadi individu sebagai obyek perubahan diberikan hak dan kesem-patan untuk mengemukakan pendapat dan keberatan-keberatannya tentang perilaku yang dianjurkan dan pendapat individu ini dipertimbangkan oleh petugas, sehingga tindakan yang dianjurkan dapat dimodifikasi sesuai dengan perminta-an individu. Oleh karena indivldu merasa bahwa pandangannya didengarkan, maka biasanya dia akan cenderung menerima perubahan yang telah dimodifikasikan sesuai dengan permintaannya tersebut. Yang paling ujung dart skala strategi perubahan sikap ialah fasilitasi (acilitatton). Dalam strategi ini individu/kelompok sasaran diberi kebebasan untuk menentukan sendiri perilaku yang ingin dituju dan petugas kesehatan hanya membantu mereka untuk mencapai tujuan tersebut. Strategi ini baru dapat dilaksanakan jika tujuan yang ditentukan oleh individu itu sesuai dengan tujuan petu¬gas kesehatan. Dengan kata lain, individu/kelompok harus memiliki kesadaran kesehatan yang tinggi sehingga tidak perlu lag! dipengaruhi pendapatnya oleh petugas kesehatan.
Biasanya strategi paksaan dan manipulasi digunakan bagi masyarakat yang tingkat pendidikannya tidak tinggi dan kurang kesadarannya akan kesehatan, serta untuk menanggulangi penyebaran penyakit akut. Dari suatu studi di tiga wilayah di Indonesia ternyata bahwa strategi paksaan melalui kepemimpinan otoriter dan tekanan kelompok dalam me-nlngkatkan peranserta masyarakat dalam Pembinaan Kese¬hatan Masyarakat Desa (PKMD), memberikan hasil yang positif, berupa kesediaan untuk ikut serta dalam program PKMD itu (Koesoebjono-Sarwono, 1992). Hal inl ada hu-bungannya dengan kenyataan bahwa masyarakat Indonesia pada umumnya masih kurang menyadari akan perlunya melakukan upaya kesehatan dan mereka terblasa dibim-bing/diarahkan, sehingga mereka mematuhl saja apa-apa yang disarankan/diperintahkan oleh lurah, dokter atau tokoh masyarakat lainnya. Jika mereka diberi kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang harus dikerjakan, mere¬ka malah menjadi bingung dan minta petunjuk dari tokoh-tokoh yang dianggapnya dapat memberikan saran.
Biasanya bila individu ikut serta merumuskan tujuan kelompok/kegiatan bersama, dia akan merasa lebih bertang-gungjawab untuk melaksanakannya karena dia merasa ikut memiliki atau ikut menjadi bagian dari kelompok/kegiatan tersebut. Dalam hal ini kesediaan individu untuk menyetujui tujuan kelompok itu tergantung dari beberapa faktor (Krech et al., 1962) : relevansi dari tujuan kelompok itu dengan keinginan individu (orang yang ingin beramal melalui suatu kegiatan sosial tidak akan setuju jika kegiatan tersebut menarik banyak laba untuk tujuan komersial); kejelasan tujuan; keeratan interaksi kelompok (solidaritas kelompok memaksa kepatuhan kepada norma kelompok); dan keterlibatan Individu dalam merumuskan tujuan tersebut.
5.9. MODEL PENYESUAIAN PERILAKU (MERTON)
Agak berkaitan dengan teori Kelman, Merton mengembangkan teori penyesuaian perilaku yang terdiri dari lima kategori: kepatuhan/konformitas, innovasi, ritualisme, pe-ngunduran diri, dan memberontak (Merton, 1957). Konformitas dapat terjadi jika sasaran Individu sesuai dengan nilai budaya atau norma sosial kelompoknya. Individu-individu yang bersikap sedemikian rupa ini biasanya sangat sukar diubah sikapnya karena merasa bersatu dengan kelompok soslalnya meskipun tidak selalu berarti bahwa mereka mempunyai kekuasaan di kelompok itu. Sikap golongan konservatf ini setara dengan kategori compliance-nya. Kelman. Jika dalam kelompok itu tidak terdapat nilai budaya dan norma sosial yang kuat maka anggota-anggota kelompok akan bersi¬kap terbuka terhadap innovasi. Mereka mudah menerima hal yang baru yang mungkin merupakan altematif yang lebih baik daripada norma yang lama. Kategori perilaku yang lain ialah ritualisme, yaltu perilaku yang dilaksanakan karena mengikuti aturan yang ketat. Tindakan Itu dilakukan berulang-ulang menurut prosedur yang ada tanpa memberikan banyak peluang untuk inisiatif perubahan. Ritualisme sering ditemukan pada birokrat dan profesional yang mengerjakan tugas-tugas mereka berdasarkan peraturan tanpa menyadari lagi gunanya mengikuti prosedur tersebut. Jika ritualisme suatu kelompok bertemu dengan ritualisme kelompok lain maka biasanya dicapailah jalan buntu, bukan modifikasi dari peraturan masing-maslng kelompok. Misalnya tugas seorang PLKB yang biasa melaporkan kegiatan dengan menggunakan sistem pelaporan dari BKKBN, jika harus membuat laporan gabungan bersama petugas gizi dari Departemen Kesehatan yang juga mempunyai formulir laporan khusus, akan menga-lami kesulitan karena masing-masing harus mengikuti pera¬turan instansi mereka yang berbeda-beda prosedurnya. Selan-jutnya, Jika individu menolak tujuan kelompok serta meka-nlsme untuk mencapal tujuan itu karena menganggapnya tidak sesuai dengan kehendaknya, maka reaksinya itu dinamakan reaksi pengunduran diri (refreattsm). Dia akan mengucilkan diri dari rekan-rekan sekelompok atau sama sekali pergi meninggalkan kelompok tersebut. Namun bila individu menyetujui tujuan kelompok tetapi menganggap mekanisme pencapaian tujuan itu sebagai tidak tepat, maka timbullah reaksi pemberontakan yang dapat merupakan sumber peru-bahan sosio-budaya yang menyeluruh.
Berdasarkan tipologi dari Merton inl petugas kesehatan dapat menilai kecocokan tujuan program kesehatan dan kegi-atannya, dengan tujuan kelompok sasaran dan norma budaya yang berlaku sehingga dapat dlcapai
perubahan perilaku yang seoptimal mungkin. Misalnya saja, penerapan program pela-yanan kesehatan melalui posyandu. Dalam masyarakat pedesaan yang tradisional tidaklah mengherankan jika peranserta para ibu dalam posyandu hanya merupakan reaksi yang ritualistis dan tidaklah realistis jika petugas kesehatan mengharapkan bahwa anggota masyarakat tersebut mengambil inisiatif untuk menciptakan berbagai kegiatan tambahan yang berguna untuk membantu mempercepat peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak balita. Mungkin di kota-kota besarlah masyarakat dapat diharapkan untuk kreatif mem¬buat innovasi kegiatan kesehatan untuk kelompok mereka sendiri.

5.10. PENDEKATAN EDUKATIF (MANTRA)
Di Indonesia sendiri telah dikembangkan suatu strategi perubahan perilaku yang menggunakan metode pendidikan.
Mantra, seorang tokoh utama dalam penyuluhan kesehatan di Indonesia, sejak 1976 telah mengembangkan dan menerapkan strategi yang dikenal sebagai pendekatan edukatif dalam upaya menanamkan pemahaman dan membina kebiasaan hidup sehat. Filsafah dasar dari pendekatan ini ialah bahwa masyarakat memiliki hak dan potensi untuk memilih hal-hal/tindakan yang berkaitan dengan kesehatannya sendiri, dan disertai dengan instink untuk mempertahankan hidupnya, maka hak dan potensi ini mendorong individu/masya-rakat untuk melakukan sesuatu guna menangani masalah kesehatan mereka (Mantra, 1985). Pendekatan edukatif diciptakan untuk merangsang potensi masyarakat tersebut sehing¬ga mereka mampu menangani masalah kesehatan yang mere¬ka hadapi, baik secara sendiri-sendiri maupun secara berkelompok.

Tujuan pokok dari pendekatan edukatif ini ialah untuk :
1. Mengembangkan kemandirian masyarakat di bidang kese¬hatan
2. Memecahkan masalah kesehatan masyarakat setempat.

Jelas bahwa untuk mencapai tujuan ini anggota masyarakat perlu dilatih dan diberi kesempatan untuk me¬ngembangkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan mereka dalam mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan dan memecahkan masalah-masalah tersebut dengan mengguna¬kan secara optimal sumber-sumber yang dapat diperoleh di tempat itu. Pendekatan edukatif ini melibatkan secara aktif masyarakat/konsumen dan juga petugas kesehatan.

Pendekatan edukatif dijalankan melalui dua tahap, yaitu :
1. pengembangan provider (petugas kesehatan dan tokoh masyarakat)
2. pengembangan masyarakat (Mantra, 1985).

Supaya strategi perubahan perilaku ini dapat berhasil dengan baik, maka sebagai langkah pertama perlu dilakukan tindakan untuk mempersiapkan petugas. Bukan hanya kesiapan dalam hal ketrampilan memberikan pelayanan medis, melainkan terutama kesiapan dalam menyelenggarakan program kesehatan bersama-sama dengan anggota masyarakat. Petu¬gas kesehatan dan tokoh masyarakat harus mempunyai kesamaan pemahaman tentang masalah-masalah kesehatan yang ditemukan di lokasi itu serta tentang keinginan masyarakat setempat, dan menunjukkan sikap positif terhadap strategi edukatlf ini sehlngga dapat dicapal keijasama yang baik dengan anggota masyarakat luas. Untuk itu provider diharapkan dapat berkomunikasi dengan baik, terbuka (bersedia mendengarkan pendapat dan membantu orang lain), meng-hargai orang lain, serta mampu membuat perencanaan pro¬gram yang menampung harapan masyarakat dalam hal perbaikan kesehatan dan mampu menjalankan program tersebut dengan baik. Dalam tahap pengembangan provider Ini dilakukan pendekatan terhadap pembuatan keputusan dan tokoh masyarakat sebab peran mereka sangatlah penting dalam setiap proses perubahan sosial. Commitment dari tokoh masyarakat dan pembuat keputusan akan mendorong suksesnya suatu kegiatan / program. Petugas kesehatan dari berbagai tingkat pun perlu didekati dan diberi Informasi tentang kegiatan/program yang akan dilaksanakan inl agar mereka siap dan merasa turut dilibatkan dari awal. Dan sebelum terjun ke masyarakat maka para petugas harus mem-pelajart dan memahaml sltuasl setempat : masalah-masalah kesehatan, kondlsi sosial budaya dan ekonomis, serta potensi masyarakat yang mungkin dapat dimanfaatkan untuk men-dukung program ini.
Dalam tahap pengembangan masyarakat, setelah tokoh masyarakat setempat “dimintal restunya” untuk menjalan¬kan program ini, maka petugas mengajak anggota masyarakat untuk bersama-sama mengadakan identiflkasl masalah. Meskipun dart hasil tahap sebelumnya petugas kesehatan tilah mendapat gambaran tentang masalah kesehatan yang ada di lokasi itu, penting untuk melakukan identifikasi masalah bersama dengan anggota masyarakat guna melihat apakah ada perbedaan persepsi tentang masalah kesehatan, antara petugas dan masyarakat.
Langkah ini disebut community self survey yang akan menghasilakan persamaan persepsi antara petugas dan masyarakat berkaltan dengan masalah kesehatan yang dirasakan, penyebabnya, serta kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah tersebut. Menyusul identifi¬kasi masalah ini, dibuatlah bersama-sama perencanaan ke¬giatan kesehatan (community planning). Supaya masyarakat merasa ikut mempunyai andil dalam kegiatan ini serta berse¬dia aktif membantu maka anggota masyarakat perlu diajak dalam langkah-langkah selanjutnya : implementasi, evaluasi, penguatan dan perluasan kegiatan ini. Meskipun memakan waktu dan menuntut kesabaran/ketekunan, diharapkan stra¬tegi pendekatan edukatlf ini dapat meningkatkan motlvasi masyarakat untuk secara aktif berupaya mengatasi masalah-masalah kesehatannya sendlri sehingga tidak sepenuhnya menggantungkan diri pada bantuan dari luar atau dari pemerintah.

5.11. REAKSI TERHADAP PERUBAHAN
Reaksi masyarakat terhadap innovasi, baik berupa innovasi dalam bidang teknik, kesehatan, maupun kebudayaan, dipengaruhi oleh beberapa faktor (Widjaja, 1986)

1. Keterbukaan masyarakat. Masyakarat yang mempunyai banyak kontak dengan masyarakat lain atau dengan dunia luar yang berbeda budayanya, biasanya lebih mudah mene-rtma ide baru, apalagi jika mereka beranggapan bahwa kemajuan hanya dapat dicapai dengan pembaharuan/peru-bahan. Sertngnya kontak dengan budaya asing membuat anggota masyarakat melihat bahwa budayanya bukanlah yang terbalk dan terkuat, serta modlfikasi dari suatu budaya itu bukanlah hal yang mustahil dan tidak selalu berdampak negatif.
2. Intensttas unsur keagamaan. Jika aspek keagamaan sangat mendominasi kehidupan masyarakat itu beserta semua pra-nata sosialnya maka pertimbangan untuk menerima/menolak hal yang baru amat didasari pada kecocokannya dengan norma-norma agama yang dianut. Hanya hal-hal yang Jelas tidak bertentangan dengan norma agamalah yang dapat diterima (contohnya, masyarakat harus diyakinkan bahwa falsafah kontrasepsi tak bertentangan dengan kaidah agama). Masyarakat serupa ini biasanya bersifat lebih statis daripada masyarakat yang terbuka.
3. Struktur sosial masyarakat. Suatu struktur sosial yang didasarkan atas sistem otoriter pada umumnya sukar mene-rtma perubahan, kecuali jlka unsur yang baru Itu dirasakan perlu dan secara langsung atau tidak langsung besar manfaat-nya bagi para penguasa. Dalam hal yang demiklan maka penguasa kalau perlu akan memaksakan suatu Innovasi mes-klpun bagian terbesar dari masyarakatnya tidak menginginkan innovasi tersebut (contoh: pemaksaan sterilisasi di india beberapa waktu yang lalu).
4. Kemiripan dengan unsur budaya asli Suatu unsur budaya baru akan lebih mudah diterima oleh masyarakat jika sebelumnya sudah ada unsur-unsur kebudayaan yang dapat dijadikan landasan bagi ide baru itu. Misalnya, penyeleng-garaan program kesehatan lingkungan dapat berjalan lancar karena menggunakan mekanisme gotong-royong yang meru-pakan budaya asli orang Indonesia.
5. Bukti kemanfaatan ide baru itu. Anggota masyarakat akan lebih mudah menerima suatu innovasi yang dapat dibuktikan kemanfaatannya secara nyata, daripada sesuatu yang abstrak. Jadi jika ingin menanamkan norma keluarga kecil, bahagia, sejahtera, maka petugas kesehatan/KB harus memberikan buktl nyata bahwa memang dengan membatasi jumlah anak, lebihlah mudah dicapai kesejahteraan (sandang, pang an, papan, pendldikan) dan kebahagiaan.

BAB VI
PEMBINAAN TIM

6.1. KELOMPOK DAN TIM
Suatu masyarakat dapat dipecah dalam unit yang lebih kecil yang disebut sebagai kelompok, yaitu kumpulan individu yang saling berinteraksi dan mempunyai tujuan bersama. Suatu kelompok dapat terbentuk secara spontan (kelompok penunggu bis, kelompok arisan) atau dengan sengaja dibentuk/direncanakan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tertentu (kelompok studi, kelompok sepak bola) atau karena indlvldu-lndividu yang dimasukkan ke dalamnya memiliki ciri yang sama (kelompok balita, kelompok tuna wisma, kelompok penderita kusta).
Tim adalah suatu kelompok yang bersifat lebih khusus, yaitu yang ditandai dengan unsur-unsur berikut: mempunyai tujuan tertentu, mengarahkan kegiatannya terutama untuk mencapai tujuan tersebut, terdiri dart anggota-anggota yang mempunyai keahlian/spesialisasi yang berbeda-beda, dan hubungan antara anggota tim bersifat saling tergantung (inter¬dependent) karena masing-masing saling memerlukan bantuan satu sama lain.
Interaksi antara anggota tim biasanya lebih Intensif daripada Interaksi anggota kelompok biasa. Dan suatu tim itu pada umumnya bersifat temporer/sementara, artinya hanya berlangsung selama tujuan tim belum tercapai, dan dibubarkan setelah mencapai apa yang dituju. Sebaliknya, kelompok dapat berlangsung lama sekali, tergan¬tung dari kebutuhan anggotanya (misalnya kelompok arisan).

Kedudukan seorang Individu dalam kelompok atau timnya dapat dibedakan berdasarkan slfat keanggotaannya (FKM, 1984:69-70) :
 Keanggotaan penuh : orang itu senang menjadi anggota ke¬lompok itu dan diterima baik oleh anggota-anggota yang lain
 Keanggotaan non-pslkologis : secara pribadi orang itu mem¬punyai minat besar untuk berpartisipasi dalam kelompok, namun dia diperlakukan secara dingin oleh kelompok
 Keanggotaan marginal (plngglran) : situasi di mana kelom¬pok menerima balk keanggotaan seseorang, namun orang Itu berslkap menjauh atau tidak ingin terlalu terllbat dalam kelompoknya
 Keanggotaan pemberontak : orang yang telah diterima oleh kelompok berslkap menentang atau tldak bersedla mengikuti norma kelompok.

Pada dasarnya kehidupan suatu kelompok/tim dapat disamakan dengan kehidupan indivldu. Sewaktu masih bayi/kanak-kanak, Individu sangatlah tergantung kepada orang lain yang menolongnya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan memecahkan masalah-masalahnya. Makin dewasa, makin mampulah individu itu memecahkan berbagai persoalan dengan jerih payahnya sendiri. Di dalam kelompok fenomena seperti itu juga terjadi. Kelompok yang baru terbentuk biasanya masih belum menyatu karena antara anggota masih belum saling mengenal watak dan kemampuan masing-masing, sehingga masih memerlukan bantuan orang luar untuk membimbingnya. Jika kelompok ini menjadi dewasa/matang maka akan tercapai kesepakatan kata dan tindakan. sehingga lebih mudah menanganl permasalahan
secara mantap.
Dalam tahap pembentukan, kelompok mengatur diri dan menentukan kedudukan tiap-tiap anggotanya (siapa yang menjadi pemimpin, siapa yang menjadi pengikut). Setelah kelompok mapan, mulailah orang menjadi lebih saling mengenal, akrab dan terbuka. Keakraban ini biasanya malah menimbulkan masalah karena orang menjadi lebih berani mengemukakan pendapatnya secara jujur sehingga menim¬bulkan konflik dengan mereka yang tidak menyetujui pendapat itu. Adanya perbedaan tersebut dapat menyebabkan ter-jadinya perpecahan antara anggota kelompok, namun perpe-cahan ini biasanya bersifat sementara. Makin akrab hubungan antara anggota kelompok, makin mudahlah masing-masing individu itu menyesuaikan diri dengan sifat, kehendak, gaya dan kepribadian anggota yang lain, sehingga terjadinya pertentangan itu dapatlah dibatasi. Tahap ini dinamakan tahap penyesuaian. Biasanya baru pada tahap inilah kelom¬pok dapat berfungsi secara efektif, yaitu para anggotanya mau bekerjasama dan saling membantu demi kepentingan kelom¬pok. Meskipun efektivitas telah tercapai, proses kelompok tidaklah berhenti pada tahap ini. Adalah suatu hal yang lumrah jika dalam kehidupan berkelompok terjadi perubahan/pergantian posisi, penambahan jumlah anggota, ataupun perubahan lingkungan fisik dari aktivitas kelompok (gedung yang diperluas atau pengaturan kamar kerja yang diubah). Setiap perubahan tersebut mempunyai dampak terhadap kehidupan kelompok. Tiap perubahan menimbulkan “keka-cauan” dalam kelompok sehingga perlu dilakukan pengaturan atau pembentukan kembali kelompok itu, misalnya mengatur struktur organisasi, prosedur kerja, interaksi antar anggota, dsb. Dengan demikian selama kelompok itu masih berproses, siklus di atas diulang kembali.

6.2. KEPEMIMPINAN
Di dalam setiap kelompok terdapat satu atau beberapa orang yang memegang pimpinan atau mengarahkan kegiatan para anggota kelompok. Peran pemimpin kelompok ini ma¬kin besar, dengan makin terstrukturnya kelompok tersebut dan makin Jelasnya tujuan kelompok. Jadi peran pemimpin tim penolong korban bencana alam lebih besar daripada peran pemimpin kelompok arisan, misalnya. Pada umumnya seorang pemimpin bertugas untuk mengatur prosedur kerja untuk mencapai tujuan kelompok; menentukan tugas-tugas untuk setiap jabatan/posisi; menjelaskan kepada para anggo¬ta tugas dan fungsi mereka masing-masing; serta membimbing dan memantau kegiatan anggota agar tetap sesuai dengan rencana pencapaian tujuan. Jadi kepemimpinan itu merupa-kan suatu kepandaian/ketrampilan untuk mengatur orang lain. Ketrampilan ini ada kalanya memang sudah merupakan sifat bawaannya (berbakat memimpin) tetapi dapat pula dipelajari melalui berbagai latihan manajemen maupun ber-kat pengalaman bekerjasama dengan orang lain. Selain ketrampilan berorganisasi, keberhasilan seorang pemimpin dipengaruhi pula oleh ketrampilan berkomunikasi dan kelu-wesannya dalam berinteraksi, apalagi jika pemimpin itu memiliki kharisma yang dapat menimbulkan rasa segan atau hormat dari para pengikutnya.
Gaya kepemimpinan seseorang itu secara umum dapat dibedakan menjadi kepemimpinan yang otoriter (berorientasl pada tujuan kelompok atau kepentingan diri sendiri), kepe¬mimpinan demokratis (mengutamakan kepentingan anggota), atau ada pula yang bergaya santai, yaitu yang tidak mementingkan pencapalan tujuan kelompok dan membiarkan ke-lompok berproses sendlri sesual dengan kehendak masing-masing anggota. Gaya kepemimpinan yang terakhir ini sering kita lihat dalam kelompok yang tidak ketat struktumya dan tidak terlalu menekankan tercapainya tujuan kelompok dengan cepat. Contoh : kelompok orang bertamsya bersama. Pemimpin yang otoriter biasanya mengatur para anggotanya dengan menggunakan kekuasaannya dan kekuasaan itu diper-oleh karena : kemahirannya dalam bidang tertentu, senioritas, dimilikinya sumber-sumber/fasilitas penting yang diperlukan oleh orang lain, keprtbadian yang kuat, ataupun kekuatan fisik yang menonjol.
Hubungan pemimpin dengan anggotanya pun tidak sama. Ada pemimpin yang membuat anggotanya menjadi sangat tergantung kepadanya (dependent); ada kelompok yang antara pemimpin dan anggotanya saling membutuhkan dan sebaliknya masing-masing sama-sama memiliki kemampuan untuk mengambil insiatif bertindak sehingga tidak perlu selalu menunggu instruksi pemimpin (inter-dependent); tetapi ada pula pemimpin yang sangat tergantung kepada salah seorang atau beberapa orang anggota tertentu (counter-depen¬dent). Tentunya didalam suatu tim (bukan sekedar kelompok spontan) yang anggotanya memiliki kemahiran/spesialisasi sendiri-sendiri, yang paling baik ialah untuk membina hubungan Inter-dependent.
Seorang ahli psikologi, McGregor, membuat teori kepemimpinan yang menggolongkan pemimpin menurut anggapan/asumsi tentang sifat dan pribadi bawahannya.

1. Pemimpin bertipe X,
Yang bertipe X biasanya menganggap bawahannya itu orang-orang yang malas, tidak berinisiatif, tidak kreatif, perlu selalu diawasi dan diancam dengan sangsi/hukuman, agar mau bekerja dengan baik. Dengan anggapan demikian maka pemimpin bertipe X menggunakan gaya yang otoriter dan menyertai instruksinya dengan sangsi hukuman jika terjadi pelanggaran. Sebaliknya, ada pula pemimpin yang menganggap bahwa semua orang itu pada hakikatnya tidak mau menganggur, selalu ingin melakukan suatu kegiatan sehingga kalau perlu
mengambil inisiatif untuk mengkreasi suatu kegiatan, dan mempunyai motivasi untuk menyelesalkan tugas-tugas yang diberikan kepadanya biarpun tidak diancam dengan hukum¬an, sehingga tidak perlu selalu diawasi.

2. Pemimpin bertipe Y.

Pemimpin bertipe Y semacam ini akan memberikan kebebasan kepada bawahan¬nya untuk menentukan sendiri apa yang akan dikerjakannya guna mencapai tujuan kelompok/organisesi serta mendelegasikan wewenang kepada bawahannya dan mempercayai mere-ka bahwa mereka akan melaksanakan tugas-tugas mereka dengan bak.

Kepemimpinan bagaimana yang paling efektif ? Dampak dari gaya
kepemimpinan dan hubungan pemimpin dan anggo¬tanya, tidaklah sama,
tergantung dari beberapa faktor :

1. Fungsi kelompok. Jika kelompok mempunyai fungsi untuk secepat mungkin menyelesaikan tugasnya, maka kepemimpinan otoriterlah yang lebih efektif dan dalam kelompok tersebut anggota cenderung menjadi dependent terhadap pemimpinnya. Contohnya : dalam tim gawat darurat, ahli bedah yang menjadi ketua tim akan menggunakan otoritasnya untuk mengatur asistennya serta para perawat. Sedangkan dalam tim penelitian multi disiplin, yang tugasnya tidak terlalu terdesak waktu, maka kepemimpinan demokratis, yang memberikan kesempatan kepada anggota untuk turut urun pendapat, serta dengan interaksi yang interdependent, akan lebih berhasil daripada gaya otoriter.
2. Kematangan kelompok. Kelompok yang bam terbentuk, yang masih kacau struktumya dan belum mapan, memerlu-kan pemimpin yang otoriter dan para anggota bersikap pasif menyerahkan keputusan-keputusan di tangan pemimpin mereka. Tetapi kelompok yang sudah mapan dan dapat berfungsi dengan lancar, tidak lagi memerlukan bimbingan dan pengawasan ketat dari pemimpinnya. Bahkan penga-wasan ketat Justru akan dipersepsikan sebagai ketidakpercayaan dan menghambat proses kerja. Dalam kelompok yang mapan diperlukan pemimpin yang mendelegasikan wewenangnya kepada bawahannya sehingga setlap bawahan merasa diberi kekuasaan dan kepercayaan untuk melaksanakan tugasnya.
3. Kepribadian individu. Yang ikut mempengaruhi efektivitas kepemlmpinan ialah tipe kepribadian Individu, baik pemlmpin maupun para anggotanya. Bila kebanyakan anggota itu berkepribadian pasif dan kurang kreatif, maka yang tepat adalah memllih pemlmpln yang otoriter (tlpe X), sedangkan mereka yang banyak inisiatif, terbuka, dan berambisi untuk maju, memerlukan pemimpin yang demokratis. Sebaliknya, pemimpin yang berkepribadian otoriter, suka memerintah, dan tidak suka dibantah, sebaiknya memilih anggota-anggota yang pasif dan patuh, agar tidak selalu terjadi konflik dalam kelompok.

6.3. KONFLIK
Di dalam interaksi antara dua individu atau lebih, selalu terdapat kemungkinan untuk terjadinya perbedaan pendapat atau konflik. Pertentangan pendapat ini dapat pula terjadi di dalam diri seorang individu, yaitu apabila dia dihadapkan kepada dua alternatif yang berlainan dan harus memilih salah satu dari padanya (konflik internal). Adanya konflik antar pribadi tidak perlu harus berdampak negatif. Bahkan konflik itu merupakan bagian dari proses kelompok dan yang membuat kehidupan kelompok menjadi dinamis. Yang penting adalah untuk mengetahui bagaimana mengatasi konflik secara positif.
Konflik itu biasanya timbul karena ada perbedaan antara individu : perbedaan pendapat, perbedaan pemilikan sumber, perbedaan kekuasaan, perbedaan minat, dan lain-lain. Dalam situasi konflik maka Individu merasa tidak tenang, gelisah, dan merasa perlu untuk melakukan sesuatu supaya suasana resah ini kemball dltenangkan (mencapai equilibrium). Reaksl individu terhadap suatu konflik dapat mengambil tiga macam bentuk. Individu dapat menghindari atau tidak mau menghadapi sumber konflik (tidak mau bertemu dengan orang yang “dimusuhinya”, tidak mau mellhat kenyataan bahwa gejala-gejala penyakitnya mulai jelas terlihat). Biasanya reaksl ini terjadi Jika konflik itu dianggap terlalu berat bagi si individu sehingga dia tidak berani menghadapinya. Kadang-kadang terdapat pula situasi di mana individu tetap berinteraksi dengan orang yang sedang konflik dengannya itu, seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Reaksl demikian ini disebut membaur (diffuse).
Kedua macam reaksi tersebut tidaklah positif sebab tidak memecahkan masalah yang ada di antara individu-individu tersebut. Dan selama masalah tersebut belum ter-atasi, interaksi antara keduanya tidaklah dapat berlangsung secara optimal dan tentunya hal ini akan mengganggu kelancaran kerja atau keakraban hubungan mereka. Yang sebaik¬nya ialah menghadapi konflik ini secara terbuka yaitu mela¬kukan konfrontasi. Dalam berkonfrontasi ini dapat terjadi bahwa salah satu pihak menggunakan kekuasaannya sehing¬ga pihak lain terpaksa mengalah. Hasil konfrontasi yang demikian ini kurang balk sebab pihak yang dikalahkan akan merasa tidak puas dan bahkan dapat mendendam dan ingin membalas dendam pada kesempatan lain. Yang paling baik adalah untuk mencapai situasi “menang-menang”, yaitu kedua belah pihak merasa puas, yang dapat dicapai melalui konfron¬tasi dengan negosiasi (tawar menawar). Kedua pihak bertemu, saling mendengarkan keluhan dan tuntutan masing-masing, mengusulkan alternatif jalan keluarnya, mempertimbangkan untung-rugi masing-masing alternatif, dan memilih alternatif yang paling dapat diterima oleh kedua belah pihak. Proses konfrontasi negosiasi semacam ini baru dapat berhasil dengan balk jika kedua pihak yang terlibat mempunyai niat baik untuk memecahkan masalah ini bersama-sama, bersedia membuka diri (berterus terang dan Juga mau mendengarkan pendapat pihak lawan), bersikap obyektif (tidak banyak melibatkan emosi dalam berdiskusi dan dalam menilai hal-hal yang diperbincangkan), tidak menyimpang ke masalah-masalah dl luar topik yang dibahas, dan tidak bernlat menja-tuhkan/mengalahkan lawan. Negosiasi ini harus dilakukan secara langsung (bertatap muka) dan tidak melalui pihak-pihak lain. Kalau perlu maka negosiasi ini dapat dihadiri oleh pihak ketiga yang fungsinya sebagai penengah/wasit yang netral dan yang mengembalikan arah pembicaraan jika mereka “ke luar dari rel”.

6.4. KERJASAMA
Inti pokok dari suatu tim ialah kekompakan yang hanya dapat dicapai melalui kerjasama yang baik antara anggota tim. Seseorang yang sangat mahir dalam suatu bidang atau yang trampil dalam berbagai bidang, belum tentu dapat bekerjasama dengan orang lain. Kerjasama Itu mengandung unsur membagi tugas untuk dikerjakan oleh beberapa orang, yang bersama-sama akan menghasilkan produk yang utuh. Agar kerjasama itu dapat berhasil dengan baik diperlukan beberapa hal :
1) persesualan pemahaman tentang tujuan tim dan pembagian tugas masing-masing anggotanya
2) kesediaan untuk mendelegasikan wewenangnya dan mempercayai anggota-anggota lain bahwa mereka mampu melaksanakan tugas mereka
3) kesediaan untuk mengalah, menerima umpan balik dart sesama anggota tim tentang pelaksanaan tugasnya, serta memberikan pandangannya tentang orang lain secara terus terang (keterbukaan)
4) kemampuan untuk menyampaikan pandangan dan kritiknya secara baik (obyektif, tidak emosional) sehlngga dapat ditertma dengan baik oleh orang lain
5) kesediaan untuk mengubah/memperbaiki diri berdasarkan kritik atau umpan balik itu
6) rasa solidaritas kelompok, yaitu mengutamakan kepentingan kelompok dan kesediaan membantu rekan-rekan sekelompok demi suksesnya tujuan tim
7) tanggungjawab kelompok, yaitu bersedia bekerja seoptimal mungkin demi timnya dan mau menanggung risiko jika terjadi kesalahan dalam pekerjaannya, serta tidak saling menyalahkan atas kegagalan tersebut.
8) pemantauan proses kerjasama tnl secara berkala, membandingkan apa yang telah dicapai dengan apa yang direncanakan.

Meskipun solidaritas kelompok itu diperlukan dalam membina suatu tim, kadang-kadang hal itu juga dapat menimbulkan masalah dalam kerjasama tim. Misalnya, demi solidaritas kelompok, para anggota tim akan melindungi salah seorang rekan yang melakukan kesalahan. Sikap memberikan perlindungan sedemikian itu seringkali membuat orang tersebut tidak menjadi dewasa, tidak mau melihat kesalahannya dan tidak mau belajar dart kesalahan itu. juga kelompok yang terlalu kuat solidaritasnya, biasanya tidak mudah mene¬rima perubahan, apalagi intervensi dari luar, sehingga kelom¬pok tersebut kurang fleksibel dalam menghadapi kenyataan. Kekakuan ini dapat menyebabkan tujuan kelompok mudah terbentur hambatan dan anggota kelompok kehilangan patokan untuk bertindak sehingga akhirnya kelompok itu bubar. Hal ini terlihat misalnya dalam gerakan protes dart kelompok-kelompok eksklusif (mahasiswa, partai politik) yang sangat menekankan solidaritas kelompok dan bersikeras untuk mempertahankan tujuan dan norma kelompoknya dan menolak usul perubahan dari pihak-pihak lain. Tuntutan/tujuan kelompok semacam ini seringkali mudah terbentur pada berbagai hambatan dalam struktur sosial dan jika anggota kelompok masih tetap bersikeras mempertahankan tuntutan-tuntutannya maka tidak Jarang timbullah reaksi kekerasan yang akhirnya menghasilkan kehancuran kelompok tersebut.

6.5. TIM KESEHATAN
Seperti telah disebut dalam bab sebelumnya, dalam upaya perluasaan jangkauannya, fungsi pelayanan dan pemeliharaan kesehatan tidak dapat lagi seluruhnya ditangani oleh para dokter saja. Apalagi jika kegiatan itu mencakup kelom¬pok masyarakat luas. Para dokter memerlukan bantuan tenaga paramedis, sanitasi, gizi, ahli ilmu sosial dan Juga anggota masyarakat (tokoh masyarakat, kader) untuk melaksanakan
program kesehatan. Tugas tim kesehatan ini dapat dibedakan menurut tahap/jenis program kesehatan yang dijalankan, yaitu promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan dan rehabilitasi. Peran anggota masyarakat (kader), misalnya, terutama sebagal motivator atau penyuluh kesehatan yang membantu para petugas kesehatan untuk menlngkatkan kesadaran masyarakat tentang perlunya hidup sehat dan memotivasi mereka untuk melakukan tindakan pencegahan penyakit dengan menggunakan sarana kesehatan yang ada. Di samping kader kesehatan, masyarakat memiliki pula kelompok yang berpotensi untuk membantu menyehatkan penduduk, yaitu para pengobat tradisional (traditional healers). Peran mereka tidaklah dapat diremehkan karena sebagian besar anggota masyarakat masih menggunakan jasa mereka (Sudarti, 1984; Jordaan, 1985; Koesoebjono-Sarwono, 1992). Jadi para dukun, tabib, sinshe dan tukang jamu ini perlu diajak serta untuk membantu meningkatkan kesehatan ma¬syarakat, dan justru tidak boleh dianggap sebagai musuh atau saingan petugas kesehatan.
Mengingat keragaman latar belakang pendidikan, sosio-budaya dan pengetahuan medis individu-individu yang terlibat dalam kelompok petugas kesehatan, perlu diberikan perhatian khusus terhadap interaksi atau komunikasi antara pe¬tugas medis dan non-medis. Meskipun seringkali seorang dokter itu dianggap berderajat lebih tinggi dari petugas lain atau dari anggota masyarakat biasa, namun sebaiknya dokter berusaha menjembatani jarak antara dirinya dengan petugas kesehatan dan kader, serta dengan tokoh masyarakat yang ikut membantu program kesehatan, agar mereka merasa dibe-ri penghargaan/respek dan diberi kesempatan untuk turut urun saran, dan merasa ikut mempunyai andil dalam program tersebut. Jarak sosial antara dua individu/kelompok biasanya lebih mudah diperkecil jika individu/kelompok yang lebih tinggi bersedia merendahkan tingkatnya dan mendekati mereka yang lebih rendah. Dengan demikian inisiatif dari pihak dokterlah yang lebih utama guna mendekati anggota tim petugas kesehatan lainnya. Dengan interaksi yang baik antara para anggotanya, diharapkan kerjasama tim dapat berjalan dengan baik dan memberikan hasil kerja yang optimal.

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
(STIKES) ”BAHRUL ULUM” JOMBANG
………………………………………………………………………………
UJIAN AKHIR SEMESTER
MATA KULIAH : Sosiologi kesehatan
W A K T U : 60 (Enampuluh) menit
S I F A T : Open Book
DOSEN PENGAJAR : Drs.H.Abdullah,MBA,MM
Soal – soal
1. Suchman menganalisa pola proses pencarian pengobatan dari segi individu maupun petu¬gas kesehatan. Sebut dan jelaskan lima macam reaksi dalam proses mencari pengobatan. Dan dalam menentukan reaksi/tindakannya sehubungan dengan gejala penyakit yang dirasakannya, menurut Suchman Individu berproses melalui beberapa tahapan jelaskan tahapan-tahapan yang dimaksud ?.
2. Ada dua hal yang sangat berkaitan dengan peran indivi¬du dalam lingkungan sosialnya, yaitu hak dan kewajiban. Artinya, orang yang berperan sebagai si sakit mempunyai pula hak dan kewajiban tertentu. Jelaskan menurut pendapat saudara tentang kedua hal tersebut ?.
3. Dalam melakukan perannya sebagai seseorang yang memiliki kompetensi untuk mengobati orang yang sakit, dokter melaksanakan lima fungsi utama dan fungsi-fungsi ini dapat dianalisa dengan patterns variables yang dikembangkan oleh Parsons, sebut dan jelaskan kelima fungsi yang dimaksud ?.
4. Unsur penting dalam hubungan dokter-pasien ialah komunikasi. Secara umum dikatakan bahwa dalam berkomunikasi orang berusaha menyampaikan pandangan, perasaan dan harapannya kepada orang lain. Bagaigaimana sebaiknya seorang dokter harus berkomunkasi dengan pasiennya dan hal-hal apa yang mengakibatkan komunikasi tidak berjalan dengan lancar. Ketrampilan berkomunikasi apa yang harus dimiliki oleh dokter , jelaskan pendapat saudara ?.
5. Seperti halnya dokter, petugas kesehatan juga mempunyai karakteristik yang dapat menghambat komunikasinya dengan masyarakat. Jelaskan karakteristik apa yang dapat menghambat komunikasi seorang perawat dengan masyarakat.
6. Ada beberapa hal yang diperlukan agar kerjasama tim itu dapat berhasil dengan baik , sebut dan jelaskan beberapa hal yang dimaksud ?

========== SELAMAT MENGERJAKAN =========

SOSIOLOGI KESEHATAN

Oleh
Drs.H.Abdullah,MBA,MM

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Bahrul Ulum
Jombang – Jawa Timur
Kelas Laboratorium II Rumah Sakit Haji Batu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: