PENGARUH PERMAINAN SIMBOLIK TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA PRASEKOLAH (3-4 Tahun) DI PAUD GRIYA

ANANDA DUSUN GONDANG DESA TULUNGREJO

KECAMATAN BUMIAJI

KOTA BATU

 

 

 

 

PROPOSAL

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

DANI WIJAYANTO

NPM: 2009.1440.1018

 

 

 

 

 

 

AKADEMI KEPERAWATAN BAHRUL ‘ULUM

TAMBAK BERAS JOMBANG

2012

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1         Latar Belakang

Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam  struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak.  Keterlambatan bicara adalah keluhan utama yang sering dicemaskan dan dikeluhkan orang tua kepada dokter. Gangguan ini semakin hari tampak semakin meningkat pesat. Beberapa laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5 – 10% pada anak sekolah. 

Gangguan bicara pada usia prasekolah, diperkirakankan 5% dari populasi normal dan 70% dari kasus tersebut ditangani oleh terapis. Hal penting yang menjadi perhatian para klinisi adalah mengenai faktor resiko yang mempengaruhi perkembangan bicara dan bahasa. Berdasarkan pengamatan sesaat dengan menggunakan lembar DDST pada 30 anak usia prasekolah di PAUD Griya Ananda dusun Gondang Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu didapatkan 6 anak dengan hasil meragukan, 1 anak dengan hasil abnormal, dan 23 anak yang hasil DDSTnya normal terutama dalam hal pencapaian perkembangan bahasanya.

Melihat sedemikian besar dampak yang timbul akibat keterlambatan bahasa pada anak usia pra sekolah maka sangatlah penting untuk mengoptimalkan proses perkembangan bahasa pada periode ini. Deteksi dini keterlambatan dan gangguan bicara usia prasekolah adalah tindakan yang terpenting untuk menilai tingkat perkembangan bahasa anak, sehingga dapat meminimalkan kesulitan dalam proses belajar anak tersebut saat memasuki usia sekolah. Beberapa ahli menyimpulkan perkembangan bicara dan bahasa dapat dipakai sebagai indikator perkembangan anak secara keseluruhan, termasuk kemampuan kognisi dan kesuksesan dalam proses belajar di sekolah.

Permainan simbolik atau pura-pura (dramatic play role) Permainan anak ini yang memainkan peran orang lain melalui permainannya. Anak berceloteh sambil berpakaian meniru orang dewasa. Permainan Simbolik merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia 3-4 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura. Dengan permasalahan diatas, maka perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh permainan simbolik terhadap perkembangan bahasa pada anak usia prasekolah di PAUD Griya Ananda dusun Gondang Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu


1.2     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian apakah ada pengaruh Permainan Simbolik Terhadap Perkembangan bahasa Anak prasekolah di PAUD Griya Ananda dusun Gondang Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu”.

 

1.3     Tujuan Penelitian

1.3.1        Tujuan Umum

Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh antara bermain simbolik dengan Perkembangan bahasa Anak Usia prasekolah di PAUD Griya Ananda dusun Gondang Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu

 

1.3.2       Tujuan Khusus

  1. Mengidentifikasi tingkat Perkembangan bahasa Anak Usia prasekolah di PAUD Griya Ananda dusun Gondang Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu
  2. Mengamati permainan simbolik anak usia prasekolah di PAUD Griya Ananda dusun Gondang Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu
  3. Mengamati pengaruh permainan simbolik terhadap Perkembangan bahasa Anak Usia prasekolah di PAUD Griya Ananda dusun Gondang Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu.

 

1.4  Manfaat Penelitian

1.4.1        Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi untuk peneliti sendiri dan untuk peneliti selanjutnya.

1.4.2        Bagi Anak

Anak akan lebih mendapatkan hak-hak perkembangan anak. Selain itu anak akan lebih pintar dan kreatif.

1.4.3        Bagi PAUD

PAD akan lebih memperhatikan tingkat perkembangan dan permainan yang sesuai dengan umur anak.

1.4.4        Bagi Institusi dan Profesi Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat sebagai tambahan ilmu bagi profesi keperawatan terutama keperawatan anak tentang Perkembangan bahasa Anak Usia Pra Sekolah.

1.4.5        Bagi Pengembangan Penelitian Keperawatan

Memberi masukan bagi peningkatan dan pengembangan asuhan keperawatan khususnya bidang kerperawatan anak, dalam hal membantu anak mengatasi stres psikologi maupun gangguan perilaku saat anak sakit.

 

 

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

                                                                                    

2.1  Konsep Pemainan Simbolik

2.1.1        Pengertian

  1. Bermain adalah cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial dan bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain, anak akan berkata-kata, belajar memnyesuaikan diri dgn lingkungan, melakukan apa yang dapat dilakukan, dan mengenal waktu, jarak, serta suara . (Wong, 2003)
  2. Supartini (2004) menyebutkan bahwa bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain anak-anak akan berkata-kata (berkomunikasi), belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan apa yang dapat dilakukannya, mengenal waktu, jarak serta suara.
  3. Bermain menurut Mulyadi (2004), secara umum sering dikaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan secara spontan. Terdapat lima pengertian bermain :
    1. Sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai intrinsik pada anak
    2. Tidak memiliki tujuan ekstrinsik, motivasinya lebih bersifat intrinsik
    3. Bersifat spontan dan sukarela, tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas dipilih oleh anak
      1. Melibatkan peran aktif keikutsertaan anak
      2. Memilikii hubungan sistematik yang khusus dengan seuatu yang bukan bermain, seperti kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial dan sebagainya

2.1.2        Fungsi Bermain

  1. Perkembangan sensori motorik

Aktivitas sensori motorik merupakan komponen utama bermain pada semua tingkat usia anak. Bermain aktif menjadi hal yang penting dalam perkembangan sistem otot dan saraf yang bermanfaat dalam melepaskan kelebihan energi.

  1. Perkembangan kognitif/intelektual

Anak dapat mengeksplorasi dan memanipulasi ukuran, bentuk, tekstur dan warna. Mengenali angka, hubungan yang renggang dan konsep yang abstrak. Bermain memberi kesempatan untuk menghilangkan pengalaman masa lalu untuk memasukkan kedalam persepsi dan persahabatan yang baru. Bermain membantu anak untuk mengintegrasikan dunia dimana mereka tinggal, untuk membedakan antara realitas dan fantasi

  1. Perkembangan moral dan sosial anak

Dalam bermain anak belajar memberi dan menerima. Anak belajar membedakan gender, pola perilaku dan tindakan yang disetujui dan diharapkan masyarakat darinya. Perkembangan nilai moral dan etik sangat berkaitan dengan sosialisasi. Anak belajar membedakan yang benar dari yang salah, norma masyarakat dan memahami tanggung jawab dari tindakannya.

 

  1. Meningkatkan kreativitas

Bermain memberi kesempatan pada anak untuk mengeluarkan ide dan minat kreasi, mengijinkan mereka untuk berfantasi dan berimajinasi serta memberi kesempatan untuk mengembangkan bakat dan minat. Sekali anak merasa puas ketika berhasil melakukan sesuatu hal yang baru maka anak akan memindahkan rasa ketertarikan ini kedalam situasi di luar dunia bermainnya.

  1. Perkembangan kesadaran diri

Bermain memberikan kemampuan untuk membandingkan kemampuan sendiri dengan kemampuan anak lain dan belajar bagaimana pengaruh tingkah laku pribadi terhadap orang lain.

  1. Nilai terapeutik

Dalam bermain anak mampu mencoba dan menguji situasi yang menakutkan dan bisa memahami dan berpura-pura menguasai peran dan posisi yang mereka tidak mampu melakukannya dalam dunia nyata. Anak mengungkapkan banyak tentang dirinya ketika bermain.

2.1.3   Jenis Permainan

Wholey & Wong (2003) menyebutkan bahwa klasifikasi bermain pada anak dapat dilihat dari klasifikasi bermain menurut isinya dan karakter sosial. Klasifikasi bermain menurut isinya dibagi menjadi:

  1. Social affective play/bermain afektif sosial

Inti permainan ini adalah adanya hubungan interpersonal yang menyenangkan antara anak dan orang lain. Misalnya, bayi akan mendapatkan kesenangan dan kepuasan dari hubungan yang menyenangkan dengan orang tuanya dan/atau orang lain. Permainan yang biasa dilakukan adalah “cilukba”, berbicara sambil tersenyum/tertawa, atau sekedar memberikan tangan pada bayi untuk menggenggamnya, tetapi dengan diiringi berbicara sambil tersenyum dan tertawa.

  1. Sense of pleasure play/ bermain untuk senang-senang

Permainan ini menggunakan alat yang bisa menimbulkan rasa senang pada anak dan biasanya mengasyikkan. Misalnya, dengan menggunakan pasir, anak akan membuat gunung-gunungan atau benda-benda apa saja yang dapat dibentuknya dengan pasir. Bisa juga dengan menggunakan air anak akan melakukan bermacam-macam permainan, misalnya memindah-mindahkan air ke botol, bak atau tempat lain.

  1.  Skill play/bermain keterampilan

Sesuai sebutannya, permainan ini akan meningkatkan keterampilan anak, khususnya motorik kasar dan halus. Misalnya, bayi akan terampil memegang benda-benda kecil, memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lain, dan anak akan terampil naik sepeda. Jadi keterampilan tersebut diperoleh melalui pengulangan kegiatan permainan yang dilakukan.

  1. Dramatic play role play/permainan simbolik atau pura-pura

Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura. Pada masa ini anak lebih banyak bertanya dan menjawab pertanyaan, mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka, ruang, kuantitas dan sebagainya . Seringkali anak hanya sekedar bertanya, tidak terlalu memperdulikan jawaban yang diberikan dan walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus. Anak sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi benda lain. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan, sobekan kertas sebagai uang dan lain-lain. Bermain simbolik juga berfungsi untuk mengasimilasikan dan mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak. Setiap hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam kegiatan bermainnya.

Selain keempat jenis permainan di atas Supartini (2004) menyebutkan dua jenis permainan lain yang juga berdasarkan pada isi permainannya yaitu:

  1. Games atau permainan

Games atau permainan adalah jenis permainan dengan alat tertentu yang menggunakan perhitungan dan/atau skor. Permainan ini bisa dilakukan oleh anak sendiri dan/atau dengan temannya. Banyak sekali jenis permainan ini mulai dari yang sifatnya tradisional maupun yang modern. Misalnya, ular tangga, congklak, puzzle, dan lain-lain.

  1. Unoccupied behaviour/ perilaku bermalas-malasan

Pada saat tertentu, anak sering terlihat mondar-mandir, tersenyum, tertawa, jinjit-jinjit, bungkuk-bungkuk, memainkan kursi, meja, atau apa saja yang ada di sekelilingnya. Anak melamun, sibuk dengan bajunya atau benda lain. Jadi sebenarnya anak tidak memainkan alat permainan tertentu, dan situasi atau obyek yang ada di sekelilingnya yang digunakannya sebagai alat permainan. Anak memusatkan perhatian pada segala sesuatu yang menarik perhatiannya. Peran ini berbeda dibandingkan dengan onlooker, dimana anak aktif mengamati aktifitas anak lain.

Adapun bentuk permainan yang sesuai dengan usia awal masa kanak-kanak (todler dan prasekolah)  antara lain:

  1. a.    Anak usia 2-3 tahun

Bermain balok, mainan bersusun, bola, alat permainan yang lembut, mendorong dan menarik alat mainan, mendengarkan cerita, musik, dan puzzle yang sederhana.

  1. Anak usia 3-4 tahun

Bermain puzzle, balon, musik, bercerita, bermain game sederhana, belajar bermain kelompok dengan pengawasan orang dewasa, permainan pura-pura memasak, bermain pura-pura menjadi dokter, perawat, dan lain-lain.

c. Anak usia 4-5 tahun

Bermain game, menyobek kertas, memotong dengan gunting, mewarnai buku-buku bergambar, menggunakan kertas dibuat boneka, topeng dan perahu, mainan alat musik, bermain games dengan bantuan orang dewasa dalam mengikuti aturan permainan.

 

2.2  Konsep Tumbuh Kembang

2.2.1        Pengertian

Dalam kehidupan anak ada dua proses yang berjalan secara kontinyu yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Kedua proses ini berlangsung secara interdependent / saling bergantung satu sama lain.

Pertumbuhan adalah suatu peningkatan ukuran tubuh yang dapat diukur dengan meteratau sentimeter untuk tinggi badan dan kilogram atau gram untuk berat badan, sedang perkembangan adalah suatu peningkatan keterampilan dan kapasitas anak untuk berfungsi secara bertahap dan terus menerus.

Pertumbuhan sebagai suatu peningkatan jumlah dan ukuran, sedangkan perkembangan menitik beratkan pada perubahan yang terjadisecara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi dan kompleks melalui proses maturasi dan pembelajaran. (Whaley & Wong, 2003)

2.2.2   Teori Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak

  1. Teori Psikoseksual (Freud)

Sigmund Freud menganggap penting naluri seksual dalam perkembangan kepribadian. Padasetiap tahapan, bagian – bagian tubuh dianggap sebagai sumber kepuasan psikologis yang signifikan, masing – masing tahapan dianggap membangun dan menggolongkan pencapaian tahapan sebelumnya. Kegagalan untuk mencapai suatu tahapan akan menyebabkan berbagai bentuk patologi, seperti pemuasan / kekurangan oral yang berlebihan dapat menyebabkan fiksasi libidinalyang berperan dalam sifat patologis. Sifat tersebut dapat termasuk optimisme yang berlebihan, narcisisme, pesimisme (sering terlihat pada keadaan depresif) dan sifat menuntut. Karakter oral adalah sering tergantung berlebihan pada benda untuk mempertahankan harga diri mereka. Cemburu dan iri sering berhubungan dengan sifat oral. Berikut ini dijelaskan satu persatu :

  1. Fase Oral (0 – 11 bulan)

1.Selama masa bayi, sumber kesenangan anak terbesar berpusat pada kepuasan oral, sepertimengisap, menggigit, mengunyah, dan mengucap.

  1. Fase Anal (1 – 3 tahun)

Pada fase ini kehidupan anak berpusat pada kesenangan anak, yaitu selama perkembangan otot spingter. Anak senang menahan feses, bahkan bermain – main dengan fesesnya sesuaidengan keinginannya.

  1. Fase Falik (3 – 6 tahun)

Selama fase ini, genetalia menjadi area yang menarik dan area tubuh yang sensitif. Anak mulai mempelajari adanya perbedaan jenis kelamin perempuan dan laki – laki dengan mengetahui adanya perbedaan alat kelamin.

  1. Fase Laten (6 – 12 tahun)

Selama periode laten, anak menggunakan energi fisik dan psikologis yang merupakan media untuk mengeksplorasi pengetahuan dan pengalamannya melalui aktivitas fisik maupun sosial. Anak perempuan lebih menyukai teman yang sejenis, begitupula sebaliknya.

  1. Fase Genital (12 – 18 tahun)

Tahap akhir masa perkembangan menurut Freudadalah tahap genital ketika anak mulai masuk fase pubertas, yaitu dengan proses kematangan organ reproduksi dan produksi hormon seks.

  1. Teori Psikososial (Erikson)

Eric Erikson mengungkapkan bahwa anak akanmenghadapi krisis yang memerlukan integrasi antara kebutuhan dan keterampilan pribadi dengan tuntutan budaya dan sosial. Tiap tahap mempunyai dua kemungkinan komponen, yang disukai dan tidak disukai. Perkembangan terjadi dalam stadium yang berurutan dan tegas batasnya, dan tiap – tiap tahap harus diselesaikan secara memuaskan guna kelanjutan perkembangan secara lancar, jika resolusi tahap tertentu tidak berhasil, pd50ahap selanjutnya dapat mencerminkan kegagalan tersebut baik secara samar – samar sampai keadaan yang nyata dalam bentuk ketidakmampuan menyesuaikan diri (mal adjustment) secara fisik, kognitif, sosial, atau emosional. Berikut ini penjelasannya :

  1. Percaya diri vs Tidak percaya (0 – 1 tahun)

Terbentuknya kepercayaan diperoleh dari hubungan dengan orang lain dan orang yang pertama berhubungan adalah orang tuanya. Anak akaf mengembangkan rasa tidak percayapada orang lain apabila pemenuhaf kebutuhannya th `i e2penuhi.

  1. Otonomi vs Rasa malu dan ragu (1 – 3 tahun)

Anak ingin melaktkan hal – hal yang ingin dilakukannya sendiri dengan kemampua. yang dimiliki, seperti berjalan, berjinjit, memilih mainan yang diinginkannya. Sebaliknya, perasaan malu dan ragu akan timbul saat mereka dipaksa oleh orang dewasa untuk lemilih atau berbuat sesuatu yang dikehendaki mereka.

  1. Inisiatif vs Rasa bersalah (3 – 6 tahun)

Perkembangan inisiatif diperoleh dengan cara mengkaji lingkungan melalui kemampuan indranya untuk mengharilk`fQ`R1atu sebagai prestasinya. Perasaan bersalah akan timbul bila anak tidak mampu berprestasi.

  1. Industry vs Inferiority (6 – 12 tahun)

Kemampuan anak untuk berinteraksi sosial lebih luas dengan tem!n dilingkungannya dapat memfasilitasi perkembangan perasaan sukses (sense of industry). Perasaan tidak adekuat dan rasa inferior atau rendah diri akan berkembang apabila anak terlalu mend!pat tuntutan dari lingkungannya.

  1. Identitas vs Kerancu`n peran (12 – 18 tahun)

Anak remaja akan berusaha menyesuaikan peranny q


“!d!i anak yang berada pada fasetransisi dari kanak – kanak menuju dewas!. Ketidakmampuan dalam mengatasi konflik akan menimbulkan keranauan peran yang harus dijalankannya.

 

2.2.3        Tahapan Pertumbuhan dan Pepkembangan

  1. Periode pranatal dari masa kolsepsh sampai kelahiran
  2. Periode bayi
    1. Neonatus, dari lahir sampai 28 hariInfant, dari 1 bulan – 12 bulan
  3. Periode kanak – kanak awal
    1. Toddler, dari 1 tahun – 3 tahun
    2. Preschool, dari 3 tahun – 6 tahun
  4. Periode kanak – kanak pertengahan (schoolage), dari 6 tahun – 12 tahun
  5. Periode  kanak – kanak akhir (adolescene), dari 12 tahun – 19 tahun

 

 

2.2.4        Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Dan Perkembangan

  1. Herediter

Jenis kelamin laki – laki cenderung lebih tinggidan berat dari pada jenis kelalin perempuan. Beberapa suku bangsa menunjukkan karakteristik yang khas, misalnya suku Asmat secara turun – temurun berkulit hitam.

  1. Lingkungan
    1. BudayaBudaya keluarga dan masyarakat dapat mempengaruhi dalam mempersepsikan dan memahami cesehatan serta berperilaku hidup sehat. Pola perilaku ibu hamil dipenc`r h’leh budaya yang dianutnya, misalnya adanya beberapa larangan nuntuk makanan tertentu padahal zat bergizi tersebut diperlukan pertumbu`an janin.
    2. Status sosial dan ekonomi keluarga

2.Keluarga dengan latar belakang pendidikan rendah sering kali tidak dapat, tidak tahu, atau tidak meyakini pentingnya penggunaan fasilitas kesehatan yang dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan anaknya.

  1. Nutrisi

3.Anak dapat mengalami hambatan pertumbuhan dan perkembangan hanya karena kurang adekuatnya asupan gizinya.

  1. Ikli) ` D c1aca

4.Musim penghujan dapat menimbulkan banjir sehingga timbul berbagai penyakit menular, jika anak sakit pertumbuhan dan perkembangan akan terganggu.

  1. Olahraga / latihan fisik

5.Olah raga akan meningkatkan aktivitas fisik dan menstimulasi perkembangan otot dan pertumbuhan sel.

  1. Posisi anak dalam keluarga

6.Misalnya, anak pertama biasanya mendapat perhatian lebih karena belum ada saudaranya, sehingga seringkali anak tumbuh menjadi anak yang perfeksionis dan cenderung pencemas.

  1. Internal
    1. Kecerdasan

1.Anak yang  i`hirkan dengan tingkat kecerdasan rendah tidak akan mencapai prestasi yang cemerlang walaupun stimulus yang diberikan lingkungan demikian tinggi.

  1. Hormonal

2.Ada tiga hormon utama yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu :

  1. Hormon pertumbuhan (Growth Hormon)

a.Hormon yang mempengaruhi tinggi badan

  1. Hormon Tiroid

b.Menstimulasi metabolisme tubuh

  1. Hormon Gonadotropin

c.Menghasilkan hormon testoteron pada laki – laki dan hormon estrogen pada perempuan yang akan menstimulasi perkembangan karakteristik seks sekunder

  1. Emosi

3.Anak belajar mengekspresikan perasaan dan emosinya dengan meniru perilaku orang tuanya, apabila orang tua sering membentak, anak akan belajar untuk berbicara kasar pada orang lain.

 

2.3      Konsep Perkembangan Bahasa

2.3.1.      Tahap perkembangan bahasa berbicara anak secara umum

Perkembangan bahasa terbagi atas dua periode besar, yaitu: periode Prelinguistik (0-1 tahun) dan Linguistik (1-5 tahun). Mulai periode linguistik inilah mulai hasrat anak mengucapkan kata kata yang pertama, yang merupakan saat paling menakjubkan bagi orang tua. Periode linguistik terbagi dalam tiga fase besar, yaitu:

a. Fase satu kata atau Holofrase

Pada fase ini anak mempergunakan satu kata untuk menyatakan pikiran yang kornpleks, baik yang bcrupa keinginan, perasaan atau temuannya tanpa pcrbedaan yang jelas. Misalnya kata duduk, bag: anak dapat berarti “saya mau duduk”, atau kursi tempat duduk, dapat juga berarti “mama sedang duduk”. Orang tua baru dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksudkan oleh anak tersebut, apabila kiia tahu dalam konteks apa kata tersrbut diucapkan, sambil mcngamati mimik (ruut muka) gerak serta bahasa tubuh lainnya. Pada umumnya kata pertama yang diurapkan oleh anak adalah kata benda, setelah beberapa waktu barulah disusul dengan kata kerja.

 

 

  1. Fase lebih dari satu kata

Fase dua kata muncul pada anak berusia sekkar 18 bulan. Pada fase ini anak sudah dapat membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Kalimat tersebut kadang-kadang terdiri dari pokok kalimat dan predikat, kadang-kadang pokok kalimat dengan obyek dengan tata bahasa yang tidak benar. Setelah dua kata, muncullah kalimat dengan tiga kata, diikuti oleh empat kata dan seterusnya. Pada periode ini bahasa yang digunakan oleh anak tidak lagi egosentris, dari dan uniuk dirinya sendiri. Mulailah mcngadakan komunikasi dengan orang lain secara lancar. Orang tua mulai melakukan tanya jawab dengan anak secara sederhana. Anak pun mulai dapat bercerita dengan kalimat-kalimatnya sendiri yang sederhana.

  1. c.    Fase ketiga adalah fase diferensiasi

Periode terakhir dari masa balita yang bcrlangsung antara usia dua setengah sampai lima tahun. Keterampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat. Dalam berbicara anak bukan saja menambah kosakatanya yang mengagumkan akan tetapi anak mulai mampu mengucapkan kata demi kata sesuai dengan jenisnya, terutama dalam pemakaian kata benda dan kata kerja. Anak telah mampu mempergunakan kata ganti orang “saya” untuk menyebut dirinya, mampu mempergunakan kata dalam bentuk jamak, awalan, akhiran dan berkomunikasi lebih lancar lagi dengan lingkungan. Anak mulai dapat mengkritik, bertanya, menjawab, memerintah, memberitahu dan bentuk-bentuk kalimat lain yang umum untuk satu pembicaraan “gaya” dewasa.

Menurut Vygostky menjelaskan ada 3 tahap perkembangan bicara pada anak yang berhubungan erat dengan perkembangan berpikir anak yaitu :

a. Tahap eksternal. Yaitu terjadi ketika anak berbicara secara eksternal dimana sumber berpikir berasal dari luar diri anak yang memberikan pengarahan, informasi dan melakukan suatu tanggung jawab dengan anak.

  1. Tahap egosentris. Yaitu dimana anak berbicara sesuai dengan jalan pikirannya dan dari pola bicara orang dewasa.
  2. c.    Tahap Internal.Yaitu dimana dalam proses berpikir anak telah memiliki suatu penghayatan kemampuan berbicara sepenuhnya.

2.3.2        Fungsi Perkembangan Bahasa

bicara merupakan salah satu alat komunikasi yang paling efektif. Semenjak anak masih bayi string kali menyadari bahwa dengan mempergunakan bahasa tubuh dapat terpenuhi kebutuhannya. Namun hal tersebut kurang mengerti apa yang dimaksud oleh anak. Oleh karena itu baik bayi maupun anak kecil stlalu berusaha agar orang lain mengcrti maksudnya. Hal ini yang mendorong orang untuk belajar berbicara dan membuktikan bahwa berbicara merupakan alat komunikasi yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk-bcntuk komunikasi yang lain yang dipakai anak sebelum pandai berbicara. Oleh karena bagi anak bicara tidak sekedar merupakan prestasi akan tctapi juga birfungsi nntuk mcncapni tujuannya, misalnya:

  1. Sebagai pemuas kebutuhan dan keinginan.Dengan berbicara anak mudah untuk mcnjclaskan kebutuhan dan keinginannya tanpa harus menunggu orang lain mengerti tangisan, gerak tubuh atau ekspresi wajahnya. Dengan demikian kemampuan berbicara dapat mengurangi frustasi anak yang disebabkan oleh orang tua atau lingkungannya tidak mengerti apa saja yang dimaksudkan oleh anak.
  2. Sebagai alat untuk menarik perhatian orang lain. Pada umumnya setiap anak merasa senang menjadi pusat perhatian orang lain. Dengan melalui keterampilan berbicara anak berpendapat bahwa perhatian Orang lain terhadapnya mudah diperoleh melalui berbagai pertanyaan yang diajukan kepada orang tua misalnya apabila anak dilarang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Di samping itu berbicara juga dapat untuk menyatakan berbagai ide, sekalipun sering kali tidak masuk akal-bagi orang tua, dan bahkan dengan mempergunakan keterampilan berbicara anak dapat mendominasi situasi “.ehingga terdapat komunikasi yang baik antara anak dengan teman bicaranya.
  3. Sebagai alat untuk membina hubungan sosial. Kemampuan anak berkomunikasi dengan orang lain merupakan syarat penting untuk dapat menjadi bagian dari kelompok di lingkungannya. Dengan keterampilan berkomunikasi anak-anak Icbih mudah diterima oleh kelompok sebayanya dan dapat mempcroleh kescmpatan Icbih banyak untuk mendapat peran sebagai pcmimpin dari suatu kelompok, jika dibandingkan dengan anak yang kurang terampil atau tidak memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik.
  4. Sebagai alat untuk mengevaluasi diri sendiri. Dari pernyataan orang lain anak dapat mengetahui bagaimana perasaan dan pendapat orang tersebut terhadap sesuatu yang telah dikatakannya. Di samping anak juga mendapat kesan bagaimana lingkungan menilai dirinya. Dengan kata lain anak dapat mengevaluasi diri melalui orang lain.
  5. Untuk dapat mcmpengaruhi pikiran dan peiasaan orang lain. Anak yang suka berkomentar, menyakiti atau mengucapkan sesuatu yang tidak menyenangkan tentang orang lain dapat menyebabkan anak tidak populer atau tidak disenangi lingkungannya. Sebaliknya bagi anak yang suka mcngucapkan kata-kata yang menyenangkan dapat merupakan medal utama .bagi anak agar diterima dan mendapat simpati dari lingkungannya.
  6. Untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Dengan kemampuan berbicara dengan baik dan penuh rasa percaya diri anak dapat mempengaruhi orang lain atau teman sebaya yang berperilaku kurang baik menjadi teman yang bersopan santun. Kemampuan dan keterampilan berbicara dengan baik juga dapat merupakan modal utama bagi anak untuk menjadi pemimpin di lingkungan karena teman sebryanya menaruh kepercayaan dan simpatik kepadanya.

2.3.3        Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa

Pengenalan bahasa yang lebih dini dibutuhkan untuk memperoleh ketrampilan bahasa yang baik Dalam bukunya “Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja” Syamsu Yusuf mengatakan bahwa perkembangan bahasa dipengaruhi oleh 5 faktor, yaitu: faktor kesehatan, intelegensi, statsus sosial ekonomi, jenis kelamin, dan hubungan keluarga.

Secara rinci dapat diidentifikasi sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu:

  1. Kognisi (Proses Memperoleh Pengetahuan)

Tinggi rendahnya kemampuan kognisi individu akan mempengaruhi cepat lambatnya perkembangan bahasa individu. Ini relevan dengan pembahasan sebelumnya bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara pikiran dengan bahasa seseorang.

  1. Pola Komunikasi Dalam Keluarga.

Dalam suatu keluarga yang pola komunikasinya banyak arah akan mempercepat perkembangan bahasa keluarganya.

  1. Jumlah Anak Atau Jumlah Keluarga.

Suatu keluarga yang memiliki banyak anggota keluarga, perkembangan bahasa anak lebih cepat, karena terjadi komunikasi yang bervariasi dibandingkan dengan yang hanya memiliki anak tunggal dan tidak ada anggota lain selain keluarga inti.

  1. Posisi Urutan Kelahiran.

Perkembangan bahasa anak yang posisi kelahirannya di tengah akan lebih cepat ketimbang anak sulung atau anak bungsu. Hal ini disebabkan anak sulung memiliki arah komunikasi ke bawah saja dan anak bungsu hanya memiliki arah komunikasi ke atas saja.

  1. Kedwibahasaan(Pemakaian dua bahasa)

Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menggunakan bahasa lebih dari satu atau lebih bagus dan lebih cepat perkembangan bahasanya ketimbang yang hanya menggunakan satu bahasa saja karena anak terbiasa menggunakan bahasa secara bervariasi. Misalnya, di dalam rumah dia menggunakan bahasa sunda dan di luar rumah dia menggunakan bahasa Indonesia.

2.3.4        Komponen Perkembangan Bahasa

2.3.4.1   Perkembangan Prabahasa

Perkembangan ini dimulai dari bayi baru lahir. Jika dilihat dari masa ini maka antara bayi norma dan bayi Down syndrome hampir memiliki perkembangan yang sama (Gauri, 2007). Hanya saja bayi normal lebih aktif dan menunjukkan perilaku tangisan yang lebih keras/lepas. Bellugi (Gauri, 2007) meneliti perkembangan pra bahasa pada populasi tunagrahita dari kelompok syndrome yang lain, misalnya frgile X, mereka sangat miskin kontak mata sehingga mereka ini sulit memperoleh pengalaman berbahasa lewat imitasi visual. Sedangkan, itu anak-anak Williams syndrome lebih banyak tertarik mengamati wajah dan sepanjang hari lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengamati wajah seseorang.

2.3.4.2  Perkembangan Vokal

Hasil penelitian Oller dkk (Gauri, 2007) terhadap anak-anak Down syndrome usia 0 – 2 tahun menunjukkan bahwa perkembangan vocal (babbling) anak-anak ini tertinggal 2 bulan dibandingkan dengan anak normal. Anak Down syndrome usia ini juga tidak stabil dalam perkembangan babbling/merabannya atau cenderung kurang aktif melakukannya dibanding anak- anak normal. Lynch (Gauri, 2007) menyebutkan pula, “… selain persoalan tersebut mereka menunjukkan keterlambatan perkembangan motoriknya serta memiliki hipotonus”.

2.3.4.3  Perkembangan Sosial dan Komunikasi

Pada usia satu tahun lebih mereka mulai lebih dominan menggunakan penglihatannya dibandingkan menggunakan anggota tubuh lainnya untuk mengeksplorasi lingkungan. Bayi Down syndrome (18 bulan) juga menunjukkan ketertarikan dengan ibunya atau orang lain dengan kontak mata, namun mereka kesulitan berinteraksi dengan ibunya dan mainannya dalam waktu bersamaan. Komuniksi yang terjalin dengan ibu lebih banyak menggunakan kontak mata disbanding vokalisasi ucapannya. Perbedaan perkembangan pola interaksi semakin terlihat jelas ketika bayi Down syndrome memasuki usia dua tahun lebih. Perbedaan tersebut direfleksikan dalam bentuk bermain dan komunikasi.

2.3.4.4  Perkembangan Semantik

Semantik adalah bagian dari struktur bahasa yang lebih menekan pada perkembangan pemahaman makna kata dan makna kata dalam satu kelompok/kalimat. Perkembangan bahasa anak-anak normal mulai menunjukkan perkembangan yang sangat pesat ketika mereka mulai berusia satu tahun. Perkembangan bahasanya terlihat pada perbendaharaaan kata yang dimilikinya. Semakin berkembang ketika usia 36 bulan, mereka menguasai lebih dari 500 kata dan mereka memahami kata-kata tersebut (Fenson, 1994 dalam Gauri, 2007).

Perkembangan perbendaharaan kata pada anak Down syndrome ternyata sebanding dengan usia mentalnya, bahkan ada yang benar-benar tertinggal dikarenakan adanya hambatan ganda, yaitu gangguan bicara (Miller et al., 1994 dalam Gauri, 2007).

2.3.4.5  Perkembangan Fonologis (Bunyi Bahasa)

Sejalan dengan peroleh makna kata , mereka juga belajar bagaimana mengartikulasikannya (mengucapkannya) sesuai dengan aturan bahasa yang berlaku. Hampir semua perkembangan fonologis semakin sempurna ketika anak-anak mulai masuk sekolah. Namun, mereka terkadang harus berhadapan dengan kesalahan-kesalahan pengucapan.

2.3.4.6  Perkembangan Tata Bahasa Awal

Setelah kemampuan melabel/member nama suatu objek dikuasai, kemudian anak-anak biasanya mencoba mengkombinasikan kata-kata yang sudah dipahami dirangkai menjadi dua-tiga kata sehingga membentuk ucapan/perkataan sederhana yang juga disebut ucapan telegrafik. Secara beratahap kemampuan anak-anak dalam membuat kalimat semakin bertambah panjang, seiirng dengan bertambahnya pemahaman makna kata dan elemen-elemen gramatikal. pertumbuhan seperti itu dapat diukur dengan Mean Length Utterances (MLU) (Brown, 1973 dalam Gauri, 2007).

2.3.4.7  Perkembangan Pragmatik

Selain, fonologi, kosa kata dan tata bahasa, anak-anak juga harus belajar menggunakan bahasa secara efektif sesuai dengan konteks sosialnya. Dalam percakapan normal partisipan harus saling berbagi giliran, berada ada dalam topic pembicaraan yang sama, pernyataan dari pesan yang disampaikan harus jelas dan sesuai aturan budayanya sehingga mendukung setiap individu dalam percakapan tersebut. Dalam penelitian terhadap perkembangan pada anak-anak normal yang menyelidiki beberapa aspek perkembangan pragmatic, di dalam tersusun atas perkembangan perilaku bicara, kompetensi percakapan, dan sensitifitas terhadap kebutuhan pendengar. Perkembangan perilaku bicara tersusun atas perilaku ketika meminta, perintah, mengeluh, menolak, interaksi, dll; kompetensi percakapan terdiri dari mampu mengelola topic percakapan dalam waktu yang lama, saling bergiliran bicara, dan mampu menambahkan informasi baru sesuai dengan topik yang sedang berlangsung; sensitive terhadap kebutuhan pendengar/lawan bicara dengan cara merespon dengan tepat terhadap apa yang diminta.

Oleh: dwaney | Oktober 9, 2011

TAK Lansia

seminar TAK Lansia 

MAKALAH
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK LANSIA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami sehinga dapat menyusun Makalah dengan judul “Terapi Aktivitas Kelompok bagi Lansia Di Balai Perlindungan Sosial (BPS) Provinsi Banten Tahun 2009” tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas praktek profesi ners keperawatan gerontik yang dilakukan selama 3 minggu dari tanggal 13 April 2009 sampai dengan 01 Mei 2009.
Dalam menyusun makalah ini kami menemui beberapa kendala, tetapi berkat bimbingan, arahan dan dukungan dari berbagai pihak akhirnya kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih semua pihak yang telah memberikan bantuan moril maupun materil sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Terima kasih ini kelompok sampaikan kepada :
1. Ibu Dra. Neltri Suharti, Apt. MM sebagai Kepala Balai Perlindungan Sosial Provinsi Banten.
2. Bapak Bambang Kuntarto, S.Kp, M.Kes. sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Faletehan Serang.
3. Bapak Agus Triyanto, S.Pd. M.Si sebagai Kepala Sub. Bagian Tata Usaha Balai Perlindungan Sosial Provinsi Banten
4. Ibu Watty Rosmawaty ,SE sebagai Seksi Pelayanan dan Perawatan Balai Perlindungan Sosial Provinsi Banten
5. Bapak H. Sukaemi, S.Pd sebagai pelaksana Balai Perlindungan Sosial Provinsi Banten
6. Bapak Dedih Nuryatna,S.Kp selaku Koordinator Praktek profesi Ners sekaligus Pembimbing praktek profesi keperawatan gerontik.
7. Bapak Deni Suwardiman, S.Kp. Selaku Pembimbing Praktek profesi keperawatan gerontik.
8. Ibu Leny Stia Pusporini, S.Kp. Selaku Pembimbing Praktek profesi keperawatan gerontik
9. Ibu Endang Am. Kep selaku Perawat Poliklinik Balai Perlindungan Sosial Provinsi Banten
10. Seluruh perawat dan pegawai di Balai Perlindungan Sosial Provinsi Banten
11. Seluruh dosen STIKes Faletehan Serang yang telah membimbing kami.
12. Rekan-rekan mahasiswa yang telah membantu baik ide, moril dan materil.
Kelompok menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena kami masih mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun bagi kelompok khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Gerontology is concerned primarily with problem of healthy aging rather than the prevention of aging”, sehingga tindakan preventif pada masalah kesehatan akibat penuaan menjadi lebih penting, daripada preventif penuaan. Pentingnya menjaga kualitas hidup lansia, mendorong Kalache untuk memperkenalkan konsep “active ageing”.kemudian Untuk itu diperlukan upaya guna menekan limitasi aktifitas fisik dasar ataupun memperbaiki keadaan limitasi aktifitas fisik dasar menjadi abilitas. Sejak tahun 1980 Amerika telah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan angka limitasi aktifitas fisik dasar dan berhasil meningkatkan persen lansia yang bebas dari limitasi aktifitas fisik dasar atau mampu beraktifitas fisik dasar. Laporan Departement Health and Human Services Amerika (2003) menunjukkan, angka peningkatan aktifitas fisik dasar pada lansia kelompok usia 65 tahun keatas naik dari 71% di tahun 1984 menjadi 74,7% di tahun 1999 dan 82% di tahun 2002, sedangkan angka limitasi aktifitas fisik dasar kronis turun dari 22,1% di tahun 1984 menjadi 19,7% di tahun 1999, dan tahun 2002 menjadi 16%. Aktifitas fisik dasar pada laporan tersebut diukur berdasarkan kemampuan aktivitas fisik keseharian atau yang dikenal dengan ADL/ Activities of Daily Living dengan menggunakan indeks KATZ.
Manusia adalah makhluk sosial untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan, mereka harus membina hubungan interpersonal yang telah terjadi jika individu terlihat personal, jika individu yang terlihat saling merasakan kedekatan, sementara identitas pribadi masih dipertahankan (Stuart and Sundeen 1998).
Balai Perlindungan Sosial Propinsi Banten merupakan unit pelaksanaan teknis daerah (UPTD) pada dinas sosial dan tenaga kerja provinsi banten yang melaksanakan pelayanan kesejahteraan sosial kepada lanjut usia, anak balita terlantar, wanita korban tindak kekerasan, dan penyandang cacat grahita atau retradasi. Jumlah lansia di Balai Perlindungan Sosial adalah sebanyak 33 orang, jumlah lansia laki-laki sebanyak 16 orang dan jumlah lansia perempuan sebanyak 17 orang. Jumlah lansia dari tiap wisma yaitu pada wisma mawar terdapat 4 orang lansia, wisma baru 5 lansia, wisma isolasi terdapat 7 orang lansia, wisma kenanga sebanyak 8 orang lansia, wisma bougenville sebanyak 4 orang lansia, wisma edelweis sebanyak 5 orang lansia. Berdasarkan latar belakang tersebut maka kami tertarik untuk menyusun makalah mengenai Terapi Aktivitas Kelompok Lansia di Balai Perlindungan Sosial Provinsi Banten Tahun 2009.

1.2. Tujuan Penulisan
Tujuan umum yaitu merangsang kemampuan kognitif dan psikomotor klien sehingga klien mampu mempertahankan orientasi realitasnya (bersosialisasi, mengenali orang, tempat, dan waktu sesuai dengan kenyataan).
Tujuan khususnya adalah:
1.2.1. Klien mampu meningkatkan rasa percaya diri
1.2.2. Klien mampu mengenal tempat ia berada dan pernah berada
1.2.3. Klien mengenal waktu dengan tepat.
1.2.4. Klien dapat mengenal diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya dengan tepat.

1.3. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat penyusunan makalah terapi aktivitas kelompok pada lansia adalah sebagai masukan dan bahan perbandingan bagi Balai Perlindungan Sosial Provinsi Banten dalam memberikan Pelayanan kepada kepada Lansia penghuni wisma.

1.4. Metode Penulisan

Metode penulisan yang kami gunakan dalam penyusunan makalah terapi aktivitas kelompok bagi lansia adalah Library Research (Studi Kepustakaan) dan Networking Reseacrh ( Internet ) agar mempermudah kami dalam mengumpulkan sumber-sumber yang berkaitan dengan lansia dan terapi aktivitas kelompok lansia.

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1. Konsep Lansia

Menurut oraganisasi kesehatan dunia (WHO), lanjut usia meliputi:
Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
2) Lanjut usia (elderly) antara 60 – 74 tahun
3) Lanjut usia tua (old) antara 75 – 90 tahun
4) Usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun
Proses Menua
Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua (Nugroho, 1992). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemuduran secara fisik maupun psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut memutih, penurunan pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital, sensitivitas emosional meningkat dan kurang gairah.
Meskipun secara alamiah terjadi penurunan fungsi berbagai organ, tetapi tidak harus menimbulkan penyakit oleh karenanya usia lanjut harus sehat. Sehat dalam hal ini diartikan:
1) Bebas dari penyakit fisik, mental dan sosial,
2) Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari,
3) Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat (Rahardjo, 1996)
Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan – perubahan yang menuntut dirinya untuk menyesuakan diri secara terus – menerus. Apabila proses penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbullah berbagai masalah. Hurlock (1979) seperti dikutip oleh MunandarAshar Sunyoto (1994) menyebutkan masalah – masalah yang menyertai lansia yaitu: Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang lain, 2Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam pola hidupnya, Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah meninggal atau pindah,
Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang bertambah banyak dan Belajar memperlakukan anak – anak yang telah tumbuh dewasa. Berkaitan dengan perubahan fisk, Hurlock mengemukakan bahwa perubahan fisik yang mendasar adalah perubahan gerak.
Lanjut usia juga mengalami perubahan dalam minat. Pertama minat terhadap diri makin bertambah. Kedua minat terhadap penampilan semakin berkurang. Ketiga minat terhadap uang semakin meningkat, terakhir minta terhadap kegiatan-kegiatan rekreasi tak berubah hanya cenderung menyempit. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi pada diri usia lanjut untuk selalu menjaga kebugaran fisiknya agar tetap sehat secara fisik. Motivasi tersebut diperlukan untuk melakukan latihan fisik secara benar dan teratur untuk meningkatkan kebugaran fisiknya.
Berkaitan dengan perubahan, kemudian Hurlock (1990) mengatakan bahwa perubahan yang dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya terhadap perubahan tersebut dan akhirnya mempengaruhi pola hidupnya. Bagaimana sikap yang ditunjukkan apakah memuaskan atau tidak memuaskan, hal ini tergantung dari pengaruh perubahan terhadap peran dan pengalaman pribadinya. Perubahan ynag diminati oleh para lanjut usia adalah perubahan yang berkaitan dengan masalah peningkatan kesehatan, ekonomi/pendapatan dan peran sosial (Goldstein, 1992)
Dalam menghadapi perubahan tersebut diperlukan penyesuaian. Ciri- ciri penyesuaian yang tidak baik dari lansia (Hurlock, 1979, Munandar, 1994) adalah: Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya. Penarikan diri ke dalam dunia fantasi Selalu mengingat kembali masa lalu Selalu khawatir karena pengangguran, Kurang ada motivasi, Rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik, dan Tempat tinggal yang tidak diinginkan.
Di lain pihak ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain adalah: minat yang kuat, ketidaktergantungan secara ekonomi, kontak sosial luas, menikmati kerja dan hasil kerja, menikmati kegiatan yang dilkukan saat ini dan memiliki kekhawatiran minimla trehadap diri dan orang lain.

2.2. Pengertian Terapi Aktivitas Kelompok
Kelompok merupakan individu yang mempunyai hubungan satu dengan yang lain saling ketergantungan dan mempunyai norma yang sama (Stuart & Sundeen, 1998)
Aktivitas kelompok adalah kumpulan individu yang mempunyai relasi atau hubungan satu dengan yang lain saling terkait dan dapat bersama-sama mengikuti norma yang sama.
Therapy Aktivitas Kelompok (TAK) merupakan kegiatan yang diberikan kelompok klien dengan maksud memberi therapy bagi anggotanya. Dimana berkesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup dan meningkatkan respon social. Therapy Aktivitas Kelompok Sosialisasi adalah upaya memfasilitasi sejumlah klien dalam membina hubungan sosial yang bertujuan untuk menolong klien dalam berhubungan dengan orang lain seperti kegiatan mengajukan pertanyaan, berdiskusi, bercerita tentang diri sendiri pada kelompok, menyapa teman dalam kelompok.
Terapi Aktivitas Kelompok Oientasi Realita (TAK): orientasi realita adalah upaya untuk mengorientasikan keadaan nyata kepada klien, yaitu diri sendiri, orang lain, lingkungan/ tempat, dan waktu.

2.3. Tujuan Terapi Aktivitas Kelompok
Tujuan dari terapi aktivitas kelompok :
1) Mengembangkan stimulasi persepsi
2) Mengembangkan stimulasi sensoris
3) Mengembangkan orientasi realitas
4) Mengembangkan sosialisasi

2.4. Prinsip-prinsip memilih peserta terapi aktivitas kelompok
Prinsip memilih pasien untuk terapi aktifitas kelompok adalah homogenitas, yang dijabarkan antara lain;
1. Gejala sama
Misal terapi aktifitas kelompok khusus untuk pasien depresi, khusus untuk pasien halusinasi dan lain sebagainya. Setiap terapi aktifitas kelompok memiliki tujuan spesifik bagi anggotanya, bisa untuk sosialisasi, kerjasama ataupun mengungkapkan isi halusinasi. Setiap tujuan spesifik tersebut akan dapat dicapai bila pasien memiliki masalah atau gejala yang sama, sehingga mereka dapat bekerjasama atau berbagi dalam proses terapi.

2. Kategori sama
Dalam artian pasien memiliki nilai skor hampir sama dari hasil kategorisasi. Pasien yang dapat diikutkan dalam terapi aktifitas kelompok adalah pasien akut skor rendah sampai pasien tahap promotion. Bila dalam satu terapi pasien memiliki skor yang hampir sama maka tujuan terapi akan lebih mudah tercapai.

3. Jenis kelamin sama
Pengalaman terapi aktifitas kelompok yang dilakukan pada pasien dengan gejala sama, biasanya laki-laki akan lebih mendominasi dari pada perempuan. Maka lebih baik dibedakan.

4. Kelompok umur hampir sama
Tingkat perkembangan yang sama akan memudahkan interaksi antar pasien.

5. Jumlah efektif 7-10 orang per-kelompok terapi
Terlalu banyak peserta maka tujuan terapi akan sulit tercapai karena akan terlalu ramai dan kurang perhatian terapis pada pasien. Bila terlalu sedikitpun, terapi akan terasa sepi interaksi dan tujuanya sulit tercapai.

2.5. Manfaat Terapi Aktivitas Kelompok Bagi Lansia

• Agar anggota kelompok merasa dimiliki, diakui, dan di hargai eksistensinya oleh anggota kelompok yang lain
• Membantu anggota kelompok berhubungan dengan yang lain serta merubah perilaku yang destrkutif dan maladaptif
• Sebagai tempat untuk berbagi pengalaman dan saling mambantu satu sama lain unutk menemukan cara menyelesaikan masalah

2.6. Jenis-jenis Terapi Aktivitas Kelompok pada Lansia

2.6.1. Stimulasi Sensori (Musik)

Musik dapat berfungsi sebagai ungkapan perhatian, baik bagi para pendengar yang mendengarkan maupun bagi pemusik yang menggubahnya. Kualitas dari musik yang memiliki andil terhadap fungsi-fungsi dalam pengungkapan perhatian terletak pada struktur dan urutan matematis yang dimiliki, yang mampu menuju pada ketidakberesan dalam kehidupan seseorang. Peran sertanya nampak dalam suatu pengalaman musikal, seperti menyanyi, dapat menghasilkan integrasi pribadi yang mempersatukan tubuh, pikiran, dan roh. Bagi penyanyi dalam sebuah kelompok, musik memberikan suatu komunikasi yang intim dan emosional antara pemimpin dan anggota kelompok secara individu, juga antara anggota itu sendiri, dan masih terjadi ketika hubungan antarpribadi itu menjadi terbatas dan pecah. Musik dapat mempersatukan suatu kelompok yang beraneka ragam menjadi suatu unit yang fungsional. Fungsi musik sebagai ungkapan perhatian dapat dilihat ketika musik dialami sebagai suatu pemberian dari orang-orang yang kelihatannya tidak memiliki apa-apa.
1. Musik sebagai Terapi dan Ungkapan Perhatian
Penggunaan musik sebagai ungkapan perhatian dan suatu terapi tambahan bagi konseling pastoral melibatkan integrasi dari beberapa disiplin sejarah: pendidikan musik, pelayanan musik, dan terapi musik. Terapi musik merupakan yang paling muda dari ketiga bidang ini dan yang langsung berhubungan dengan aplikasi klinis musik.
Kata “terapi” dalam konteks ini berarti lebih daripada sekadar “penyembuhan suatu penyakit”. Di zaman stres, penuh keraguan, penuh perpecahan, putus asa, dan kekalahan ini, musik dapat disebut sebagai terapi untuk menstimulasi, memulihkan, menghidupkan, mempersatukan, membuat seseorang peka, menjadi saluran, dan memerdekakan. Terapi musik memiliki suatu kapasitas yang unik dan mapan sehingga memungkinkan terjadinya perubahan hidup.
Musik merupakan bagian dari musik temporal, yaitu bahwa musik hadir dalam tari dan drama. Musik mengandung kumpulan yang sistematis dan teratur dari berbagai komponen suara irama, melodi, dan keselarasan untuk dapat dilihat dan dinikmati. Musik, seperti bentuk seni lainnya, merupakan ekspresi yang penuh gaya. Musik melibatkan pengelolaan serta keterampilan dari materi artistik sehingga dapat menyajikan atau mengomunikasikan suatu hal tertentu, gagasan, atau keadaan perasaan.
Musik dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang: sejarah, teori, filsafat, estetika, atau fungsional. Musik yang fungsi utamanya lebih bersifat sosiologis atau psikologis daripada estetika murni disebut musik fungsional. Dengan perkataan lain, ketika musik digunakan dengan tujuan utama lebih menitikberatkan pada musiknya, maka saat itu berarti musik telah digunakan secara fungsional. Penggunaan musik secara estetika, di pihak lain, merupakan “musik demi musik belaka” atau “musik demi kepuasan artistik”. Sebenarnya, pada batas tertentu kebanyakan musik memiliki kedua fungsi tersebut sehingga suatu klasifikasi yang eksak kadang-kadang sulit diperoleh.
Suatu pembedaan seharusnya dibuat antara penggunaan musik secara terapis yang dibawakan dalam wujud informal dan tanpa bentuk dengan penggunaan terapi musik sebagai suatu dimensi khusus dari suatu cara terapi yang terintegrasi. Mula-mula pengalaman musikal dapat dipilih sendiri oleh pasien atau diusulkan oleh terapis, mungkin dapat juga dilakukan dengan memasukkan aktivitas-aktivitas seperti berperan serta dalam paduan suara gereja atau koor umum, menghadiri pagelaran musik, ikut pelajaran musik, dan lain-lain. Ini mengingat terapi musik formal sering menggunakan irama sederhana dan instrumen perkusi yang dapat dimainkan oleh hampir setiap orang.
Dalam sebuah klinik, seseorang dapat juga memperoleh pengalaman musikal dengan “nilai terapetis” yang tidak berupa terapi musik formal. Misalnya, mereka dapat berpartisipasi dengan nyanyi bersama dalam acara rekreasi, mendengarkan rekaman musik yang inspiratif, atau menyanyikan lagu pujian di sisi tempat tidur pasien.
Di pihak lain, terapi musik sebagai disiplin saintifik, menyangkut pemanfaatan secara hati-hati dan sengaja dari semua dinamika mendalam dan potensial yang berhubungan dengan pengalaman musikal, termasuk memilih, memasang, dan memainkan musik itu sendiri, selain hubungannya dengan interaksi antara terapis dan pasien.
Dalam arti yang lebih formal, terapi musik dapat dijabarkan sebagai suatu aktivitas kelompok secara umum dari lingkungan pergaulan terapetik dalam bentuk kelompok nyanyi, koor atau ensambel musik, dan kelas apresiasi musik atau secara perseorangan dapat ditujukan kepada pasien tertentu berdasarkan kebutuhan terapi mereka yang unik dan kecakapan dalam bentuk vokal atau latihan instrumen dan teori musik dan pelajaran komposisi.
Pilihan materi musik, medium musik, tingkat kompleksitas, dan sasaran terapetik merupakan keputusan dan kesepakatan antar terapis, dan antara terapis musik dan pasien. Seperti dalam semua cara terapi, terapi musik menyangkut penilaian terhadap pasien, aktivitas yang akan dilakukan (termasuk sasaran), pengalaman terapetik, dan evaluasi.
Kadang-kadang terapi musik dapat digabungkan secara efektif dengan aktivitas seni lain yang kreatif, misalnya menari, psikodrama, puisi dan tulisan kreatif, melukis dan membuat patung, dan bermacam bentuk terapi pertukangan (kerajinan tangan, perkayuan, dan hortikultura). Selanjutnya, setiap terapi tambahan dapat menjadi kapasitas yang unik untuk menstimulasi dan mengaktualisasikan potensi kreatif yang dimiliki individu. Secara psikologis, semua bentuk ekspresi artistik memiliki kapasitas untuk memberi kepuasan kebutuhan akan ego dasar dari individu, terutama untuk merasa memiliki, mencapai, mengungguli, memuja, memimpikan, mengasihi dan dikasihi, dan mengembangkan suatu citra diri yang positif.
Terapi musik menempati posisinya yang kuat di antara terapi- terapi seni kreatif karena beberapa alasan. Pertama, musik secara tradisional dan secara benar disebut sebagai “bahasa universal”. Setiap kultur memiliki tradisi musikal yang mencakup seluruh bidang kehidupan agama, sosial, estetika, dan komersial. Kedua, musik merupakan seni yang serba guna dan dapat diperoleh. Hampir setiap orang dapat terlibat dalam aktivitas musik dengan kadar kemampuan yang sama. Akhirnya yang ketiga, musik, terutama musik vokal dengan campuran musik dan puisi, mampu mengekspresikan dan membangkitkan seluruh tangga nada emosi, nilai-nilai, aspirasi, serta pengalaman manusia.
2. Musik sebagai Terapi Tingkah Laku
Terapi musik lebih dari sekadar penghiburan; lebih daripada sekadar pengalaman yang mendidik atau suatu aktivitas sosial, walaupun pada batas tertentu berfungsi sebagai penghiburan, bersifat mendidik, dan maksud-maksud sosial. Secara teknis, terapi musik telah didefinisikan sebagai “suatu sistem yang telah dikembangkan secara maksimal untuk menstimulasi dan mengarahkan tingkah laku untuk mencapai sasaran terapi yang benar-benar jelas”. Salah satu penyajian yang terbaik dan paling singkat dari kerangka konseptual ini adalah yang diberikan oleh William Sears dalam makalahnya yang berjudul “Proces in Music Therapy”.

a. Musik memberikan pengalaman di dalam struktur
Sasarannya ialah untuk memperpanjang komitmen kepada aktivitas, untuk membuat aneka ragam komitmen, dan menumbuhkan kesadaran akan manfaat yang diperoleh. Dengan cara yang tidak memaksa, musik menuntut tingkah laku yang sesuai dengan urutan waktu, realitas yang teratur, kecakapan yang teratur, dan pengaruh yang teratur. Musik menimbulkan gagasan dan asosiasi ekstramusikal.
b. Musik memberikan pengalaman dalam mengorganisasi diri
Pengalaman memengaruhi sikap, perhatian, nilai-nilai, dan pengertian seseorang. Sasaran harus memberikan kepuasan sehingga seseorang akan berusaha untuk memperoleh lebih banyak pengalaman serupa yang aman, baik, dan nikmat. Musik menyediakan kesempatan untuk ekspresi diri dan untuk memperoleh kecakapan baru yang memperkaya citra diri (terutama bagi yang memiliki keterbatasan tubuh/cacat).
c. Musik memberikan pengalaman dalam hubungan antar pribadi
Musik merupakan kesempatan untuk pertemuan kelompok di mana individu telah mengesampingkan kepentingannya demi kepentingan kelompok. Sasarannya ialah untuk memperbanyak jumlah anggota dalam kelompok, menambah jangkauan dan variasi interaksi, dan menyediakan pengalaman yang akan memudahkan melakukan adaptasi terhadap kehidupan di luar lembaga. Pengalaman kelompok memungkinkan seseorang berbagi rasa secara intens dalam cara- cara yang secara sosial dapat diterima; musik memberikan penghiburan dan rekreasi yang diperlukan bagi lingkungan terapi secara umum. Juga bantuan pengalaman dalam pengembangan kecakapan sosial secara realitis dan pola tingkah laku pribadi yang dapat diterima secara lembaga dan kelompok sebaya dalam masyarakat.

2.6.2. Stimulasi Persepsi
Klien dilatih mempersepsikan stimulus yang disediakan atau stimulus yang pernah dialami. Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan ditingkatkan pada tiap sesi. Dengan proses ini maka diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi adaptif.
Aktifitas berupa stimulus dan persepsi. Stimulus yang disediakan : seperti baca majalah, menonton acara televisi ; stimulus dari pengalaman masa lalu yang menghasilkan proses persepsi klien yang mal adaptif atau destruktif, misalnya kemarahan dan kebencian .

2.6.3. Orientasi Realitas
Klien diorientasikan pada kenyataan yang ada disekitar klien, yaitu diri sendiri, orang lain yang ada disekeliling klien atau orang yang dekat dengan klien, dan lingkungan yang pernah mempunyai hubungan dengan klien. Demikian pula dengan orientasi waktu saat ini, waktu yang lalu, dan rencana ke depan. Aktifitas dapat berupa : orientasi orang, waktu, tempat, benda yang ada disekitar dan semua kondisi nyata.

2.6.4. Sosialisasi
Klien dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan individu yang ada disekitar klien. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara bertahap dari interpersonal (satu dan satu), kelompok, dan massa. Aktifitas dapat berupa latihan sosialisasi dalam kelompok.

2.7. Nilai Terapeutik Dari Terapi Aktivitas Kelompok
• Pembinaan harapan
• Universalitas
• Altruism
• Penyebaran informasi
• Kelompok sebagai keluarga
• Sosialisasi
• Belajar berhubungan dengan pribadi lain
• Kohesivitas
• Katarsis dan Peniruan perilaku

2.8. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Terapi Aktivitas Kelompok
Memperkenalkan diriv
Tujuan kegiatanv
Jenis kegiatanv
Contoh kegiatanv
Kontrakv
Aturan main disepakativ
Evaluasiv
Reward jangan berlebihanv

2.9. Fokus Terapi Aktivitas Kelompok
Orientasi realitasv
Sosialisasiv
Stimulasi persepsiv
Stimulasi sensoriv
Pengeluran energiv

2.10. Model Dalam Terapi Aktivitas Kelompok
Fokal konflik modelv
• Mengatasi konflik yang tidak disadari
• Terapis membantu kelompok memahami terapi
• Digunakan bila ada perbedaan pendapat antar anggota kelompok
Communication modelv
• Mengembangkan komunikasi: verbal, non verbal, terbuka
• Pesan yang disampaikan dipahami orang lain
Model interpersonalv
• Terapis ekerja dengan individu dan kelompok
• Anggota kelompok belajar dari interaksi antara anggota dan terapis
• Melalui proses interaksi: tingkah laku dapat dikoreksi

Model psikodramav
• Aplikasi dari bermain peran dalam kehidupan

2.11. Tahapan Dalam Terapi Aktivitas Kelompok
Fase pre-kelompok: membuat tujuanv
Fase awal:v
• Tahap orientasi: penentu sistem konflik sosial
• Tahap konflik: penentu siapa yang menguasai komunikasi
• Tahap kohesif: kebersamaan dalam pemecahan masalah
Fase kerja:v
• Fase yang menyenangkan bagi anggota dan pimpinan
• Kelompok menjadi stabil dan realistis
Fase terminasiv
• Muncul cemas, regresi
• Evaluasi dan feedback sangat penting
• Follow up

BAB III
PEMBAHASAN DAN HASIL TAK
Pada bab ini akan dibahas tentang kegiatan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) yang dilakukan dari TAK kecil (tiap wisma) dan TAK besar (di ikuti oleh seluruh wisma) dan hambatan yang ditemukan selama kegiatan TAK pada klien dan pemecahan masalah yang telah dilakukan.
Wisma Baru mengadakan TAK tentang Diskusi Kasus yang bertujuan agar klien mampu meningkatkan hubungan interpersonal, yang di ikuti oleh 3 orang. Hasil yang di peroleh sekitar 80% peserta dapat mengikuti kegiatan TAK diskusi kasus dan dapat memberikan pendapatnya tentang kasus yang diberikan.
Wisma mawar mengadakan TAK tentang peningkatan rasa percaya diri lansia yang bertujuan agar klien mampu mengekspresikan kemampuan yang dimiliki (bernyanyi, ceramah, dan bermain musik), yang di ikuti oleh 4 orang. Hasil yang di peroleh sekitar 75% peserta dapat mengikuti kegiatan TAK dan 25% peserta tidak dapat mengikuti kegiatan TAK.
Wisma Isolasi mengadakan TAK tentang menggambar yang bertujuan dapat mengekspresikan melalui gambar, yang di ikuti oleh 5 orang. Hasil yang diperoleh sekitar 80% peserta dapat mengikuti kegiatan TAK dan dapat mengekspresikan melalui gambar, sedangkan 20% tidak dapat mengikuti dan mengekspresikan melalui gambar.
Wisma kenanga mengadakan TAK tentang recall memori dan stimulasi warna yang bertujuan mampu mengenal orientasi realita dan mampu membedakan warna sebagai stimulus sensori, yang di ikuti oleh 8 orang. Hasil yang diperoleh sekitar 75% peserta dapat mengikuti kegiatan TAK dan dapat mengingat kembali, sedangkan 87,5% dapat memilih dan membedakan warna.
Wisma Bougenville mengadakan TAK tentang tanya jawab dan komunikata yang bertujuan dapat bersosialisasi dan meningkatkan kerja sama serta saling mendukung, mengasah memori terutama memori jangka pendek klien dan mengasah indera pengdengaran, yang di ikuti oleh 3 orang. Hasil yang diperoleh sekitar 100% peserta dapat mengikuti kegiatan TAK dan menjawab semua pertanyaan dengan benar.
Wisma edelweis mengadakan TAK tentang aspek kognitif (orientasi dan perhatian kalkulasi), yang bertujuan dapat mempertahankan fungsi kognitif yang dimiliki yaitu aspek kognitif (orentasi dan perhatian kalkulasi), yang di ikuti oleh 3 orang. Hasil yang diperoleh sekitar 75% peserta dapat menjawab pertanyaan yang di berikan.dan 25 % peserta tidak dapat menjawab pertanyaan yang diberikan.
Hasil TAK besar 100% peserta dapat memperagakan busana yang dipakai, 90% peserta dapat menjawab pertanyaan yang diberikan tim terapis, 100% peserta TAK dapat merasakan kebahagiaan dan kesenangan dengan adanyan TAK. Adapun dibawah ini adalah peserta yang mengikuti kegiatan TAK besar adalah :
Ny S.v
Klien kooperatif dalam kegiatan TAK, klien juga tampak senang dan klien dapat mengikuti TAK dari awl sampai akhir. Dari penampilannya klien cukup baik, klien tampak berbusana rapi, dan gaya berjalan klien juga tampak baik, klien berjalan tegap tidak membungkuk ataupun memerlukan bantuan dan klien dapat menjawab semua pertanyaan dari tiga pertanyaan yang diberikan oleh tim terapis.
Ny T.v
Klien kooperatif dalam kegiatan TAK, klien juga tampak senang dan klien dapat mengikuti TAK dari awal sampai akhir. Dari penampilannya klien baik, klien tampak berbusana rapi, dan gaya berjalan klien sedang, klien berjalan dengan kaki diseret dan klien dapat menjawab satu pertanyaan dari tiga pertanyaan yang diberikan oleh tim terapis.
Tn R.v
Klien kooperatif dalam kegiatan TAK, klien juga tampak senang dan klien dapat mengikuti TAK dari awal sampai akhir. Dari penampilannya klien baik, klien tampak berbusana rapi, dan gaya berjalan klien sedang, klien berjalan dengan menyeret kaki dan klien dapat menjawab semua pertanyaan dari tiga pertanyaan yang diberikan oleh tim terapis.
Tn. H.v
Klien kooperatif dalam kegiatan TAK, klien juga tampak senang dan klien dapat mengikuti TAK dari awal sampai akhir. Dari penampilannya klien sedang, klien tampak berbusana biasa, dan gaya berjalan klien kurang, klien berjalan agak membungkuk dan klien dapat menjawab satu pertanyaan dari tiga pertanyaan yang diberikan oleh tim terapis.
Tn. M.v
Klien kooperatif dalam kegiatan TAK, klien juga tampak senang dan klien dapat mengikuti TAK dari awal sampai akhir. Dari penampilannya klien sedang, klien tampak berbusana biasa, dan gaya berjalan klien baik, klien berjalan tegap dan klien dapat menjawab semua pertanyaan dari tiga pertanyaan yang diberikan oleh tim terapis.
Ny. I.v
Klien kooperatif dalam kegiatan TAK, klien juga tampak senang dan klien dapat mengikuti TAK dari awal sampai akhir. Dari penampilannya klien baik, klien tampak berbusana rapi, dan gaya berjalan klien baik, klien berjalan tegap dan klien dapat menjawab semua pertanyaan dari tiga pertanyaan yang diberikan oleh tim terapis.
Tn. M.v
Klien kooperatif dalam kegiatan TAK, klien juga tampak senang dan klien dapat mengikuti TAK dari awal sampai akhir. Dari penampilannya klien baik, klien tampak berbusana rapi, dan gaya berjalan klien sedang, klien berjalan agak membungkuk dan klien dapat menjawab semua pertanyaan dari tiga pertanyaan yang diberikan oleh tim terapis.
Ny. S.v
Klien kooperatif dalam kegiatan TAK, klien juga tampak senang dan klien dapat mengikuti TAK dari awal sampai akhir. Dari penampilannya klien kurang, klien tampak berbusana tidak rapi, dan gaya berjalan klien kurang, klien berjalan dengan tongkat dan klien dapat menjawab semua pertanyaan dari tiga pertanyaan yang diberikan oleh tim terapis.

Ny. L.v
Klien kooperatif dalam kegiatan TAK, klien juga tampak senang dan klien dapat mengikuti TAK dari awal sampai akhir. Dari penampilannya klien baik klien tampak berbusana rapi, dan gaya berjalan klien baik, klien berjalan dengan tegap dan klien dapat menjawab semua pertanyaan dari tiga pertanyaan yang diberikan oleh tim terapis.
Tn. R.v
Klien kooperatif dalam kegiatan TAK, klien juga tampak senang dan klien dapat mengikuti TAK dari awal sampai akhir. Dari penampilannya klien baik, klien tampak berbusana rapi, dan gaya berjalan klien sedang, klien berjalan dengan tegap dan klien dapat menjawab semua pertanyaan dari tiga pertanyaan yang diberikan oleh tim terapis.
Ny. K.v
Klien kooperatif dalam kegiatan TAK, klien juga tampak senang dan klien dapat mengikuti TAK dari awal sampai akhir. Dari penampilannya klien baik, klien tampak berbusana rapi, dan gaya berjalan klien sedang, klien berjalan dengan menyeret dan klien dapat menjawab satu pertanyaan dari tiga pertanyaan yang diberikan oleh tim terapis.
Tn. S2.v
Klien kooperatif dalam kegiatan TAK, klien juga tampak senang dan klien dapat mengikuti TAK dari awal sampai akhir. Dari penampilannya klien baik klien tampak berbusana rapi, dan gaya berjalan klien baik, klien berjalan dengan tegap dan klien dapat menjawab semua pertanyaan dari tiga pertanyaan yang diberikan oleh tim terapis.

BAB IV
KESIMPULAN
4.1. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas disimpulkan bahwa, Terapi Aktifitas Kelompok sangat dibutuhkan bagi lansia karena dapat mempertahankan kemampuan stimulasi persepsi lansia, mempertahankan kemampuan stimulasi sensori lansia, mempertahankan kemampuan orientasi realitas lansia dan mempertahankan kemampuan sosialisasi lansia.
Manfaat Terapi Aktivitas Kelompok bagi lansia yaitu agar anggota kelompok merasa dimiliki, diakui, dan dihargai eksistensinya oleh anggota kelompok yang lain, membantu anggota kelompok berhubungan dengan yang lain, serta merubah perilaku yang destruktif dan mal adaptif dan Sebagai tempat untuk berbagi pengalaman dan saling mambantu satu sama lain untuk menemukan cara menyelesaikan masalah.
Hasil Terapi Aktivitas Kelompok semua wisma yang ada di BPS 75.% berpenampilan baik, sekitar 42% memiliki gaya berjalan cukup baik karena klien berjalan masih tegap dan 83,3% klien mampu menjawab pertanyaan yang diberikan terapis, klien tampak memiliki memori cukup baik.

4.2. Saran
4.2.1 Balai Perlindungan Sosial (BPS)
• Diharapkan Terapi Alktivitas Kelompok Lansia (TAK) dimasukan kedalam jadwal kegiatan Rutinitas mingguan ataupun bulanan seperti kegiatan-kegiatan lainnya.
• Disarankan Kegiatan Terapi Aktivitas perwisma diadakan setiap satu kali dalam satu minggu, sedangkan untuk TAK besar ( yang diikuti oleh seluruh wisma disarankan untuk diadakan satu kali dalam satu bulan, dengan tujuan untuk bersosialisasi dan merangsang fungsi kognitif bagi para lansia.

4.2.2 Institusi Pendidikan
Diharapkan Institusi pendidikan dapat meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran dibidang keperawatan gerontik, agar mahasiswa profesi lebih terarah dalam melaksanakan asuhan keperawatan gerontik

4.2.3 Bagi Mahasiswa
• Diharapkan kepada mahasiswa yang akan melaksanakan praktek keperawatan gerontik telah mempersiapkan diri secara kognitif dengan penguasaan konsep asuhan keperawatan gerontik yang lebih matang sehingga tidak banyak mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan asuhan keperawatan dilapangan /lahan praktek.
• Harus dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya pada saat tidak berinteraksi dengan klien, untuk melengkapi dokumentasi asuhan keperawatan serta datang dan pulang tepat waktu.

 

Oleh: dwaney | Agustus 6, 2011

DASAR TEORI ORCHITIS

A.DEFINISI ORCHITIS
Orchitis adalah inflamasi akut pada testis (Black, 1997). Orchitis adalah reaksi inflamasi akut pada testis akibat sekunder dari infeksi(Emedicine, 2010). Orchitis adalah inflamasi pada satu atau kedua testis, biasanya diakibatkan olehvirus yang menyebabkan gondok (Mayo Clinic, 2009)B
.

B. PENYEBAB ORCHITIS
Virus gondok (mumps)
Virus-virus lain seperticoxsackievirus,infectious mononucleosis,varicella, dan echovirus. Bakteri yang menyebabkan epididimitis pada pria yang aktif berhubungan seksualdan pria dengan Beniga
Prostat Hyperplasia (B
PH), sepertiNeisseria gonorrhoeae,Chlamydia trachomatis,Escherichia coli,Klebsiella pneumoniae. Pseudomonasaeruginosa, andStaphylococcusand
Streptococcus species Bakteri tersebut dapatmengakibatkan
Penyakit Menular Seksual (
PMS), seperti gonore, klamidia, dan sifilis. Pasien yang mengalami penurunan imunitas akibat
My cobacterium aviumcomplex,
Crptococcus neoformans. Toxoplasma gondii . Haemophilus parainfluenzae, danCandida albicans
.
C. FAKTOR RISIKO ORCHITIS
Pria dengan Infeksi Saluran Kemih (ISK)
Pria yang secara frekuentif terpasang kateter urine
Pria yang belum mendapat imunisasi vaksin mumps, measles, rubella (MMR) secaratepat
Usia lebih dari 45 tahun
Pernah menjalani tindakan operasi pada daerah genitalia atau saluran kemih
Lahir dengan abnormalitas pada saluran urinaria
Perilaku seksual yang berisiko tinggi menyebabkan
PMS, yaitu :
Berganti-ganti pasangan seks
Melakukan hubungan seks dengan penderitaPMS
Melakukan seks tanpa kondom
Memiliki riwayatPMS

D.GEJALA ORCHITIS
Pengkajian fisik : testis tampak bengkak pada salah satu atau keduanya, tampakmembesar,
induration
testis, kulit skrotum meregang, kulit skrotum tampak eritema,kulit skrotum tampak edema, epididimis membesar (jika menderita epdidymo-orchitis), prostat terasa lunak dan lembek (prostatitis). Nyeri mulai dari ringan sampai parah
 feeling heav
pada skrotum
MualDemam
Perubahan pada bentuk penis

Keluar darah saat ejakulasi
Keluar darah saat kencing
Lemah
Malas
Nyeri otot (myalgia)
Meriang (panas dingin)
Sakit kepala
Muncul parotitis selama 4 sampai dengan 7 hari
Memilih waktu yang tepat untuk coitus
Pada epididymo-orchitis, gejala muncul secara bertahap :
Rasa nyeri dan bengkak pada area lokal testis selama 1 sampai dengan beberapa hari
Kemudian, infeksi meningkat pada seluruh testis
Mungkin terasa nyeri atau rasa terbakar sebelum dan sesudah kencing, serta adanya
penile discharge.

E. KOMPLIKASI ORCHITIS

Atrofi testis pada kurang lebih 60% kasus; orchitis dapat menyebabkan testismengecil
Abses pada skrotum; jaringan yang terinfeksi dapat berisi pus
Epididimitis berulang; orchitis dapat menyebabkan terjadinya epididimitis berulang
Kemandulan pada 7-13% kasus; pada beberapa kasus, orchitis dapat mengurangitingkat kesuburan, tapi hal ini jarang terjadi pada orchitis unilateral
.
F.PEMERIKSAANPENUNJANG
Orchitis gondok dapat dikaji berdasarkan riwayat penyakit dan pengkajian fisik, laludikonfirmasi dengan pemeriksaan serum antibodi
imunofluoroscence
Epididimo-orchitis ditegakkan melalui pemeriksaan urinalisis (abnormalitaskonsistensi, konsentrasi, dan warna) dan kultur uretra untuk mengetahui adanyagonore atau klamidia
USG
Doppler Warna dapat menunjukkan adanya edema akut Scan inti testis digunakan untuk mengetahui adanyatesticular torsion, ataukelebihan suplai darah pada area testis

G. PENANGANAN ORCHITIS
Bed rest
Pemberian analgetik
Elevasi skrotum
Medikasi
Tidak ada medikasi yang diindikasikan untuk penanganan orchitis virus
Penanganannya bertujuan untuk mengatasi gejala yang munculmenggunakan analgetik, nonsteroid anti-inflammatory drugs (NSAID) sepertiibuprofen (
Advil, Motrin, dll), naproxen (Aleve, dll), atauAsam Mefenamat
. Orchitis bakteri pada pasien yang berusia kurang dari 35 tahun dan masihmemiliki aktivitas seks aktif diobati dengan antibiotik seperti Ceftriaxone(Rocephin), Doxycycline (
Vibramycin, Doryx), Ciprofloxacin (Cipro), atauAzythromycin (Zithromax) .Sedangkan pasien yang berusia lebih dari 35tahun dengan orchitis bakteri diobati dengan Fluoroquinolone ataukombinasi Trimethoprim and sulfamethoxazole (TMP-SMX) Terapi lainseperti antiemetik juga dapat diberikan

Perawatan di rumah :
Pengobatan analgetik sesuai dengan resep dokter.
Elevasi skrotum menggunakansnug-fitting briefs atau athletic supporter akan meningkatkan rasa nyaman
.

PRIORITAS DIAGNOSA
Nyeri berhubungan dengan adanya inflamsi pada skrotum2
Gangguan integritas jaringan dan kulit berhubungan dengan adanya inflamasipada skrotum3
Risiko tinggi perluasan infeksi berhubungan dengan adanya inflamasi padaskrotum4
Risiko tinggi kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan demam

INTERVENSI KEPERAWATAN
1Nyeri berhubungan dengan adanya inflamsi pada skrotumKriteria evaluasi :
Pasien melaporkan nyeri berkurang atau menghilang (terkontrol).
Pasien menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi atau metodelain untuk meningkatkan kenyamanan
Intervensi :
Catat laporan lokasi, lamanya, intensitas (skala 1-10) dan karakteristiknyeri (dalam, tajam, konstan)
Elevasikan skrotum
Berikan kompres dingin/es pada skrotum
Ajarkan penggunaan teknik relaksasi
Berikan kondisi lingkungan yang menyenangkan
Berikan obat sesuai indikasi (analgetik, antiemetik, antipiretik)
.
2Gangguan integritas jaringan dan kulit berhubungan dengan adanya inflamasipada skrotumKriteria evaluasi :
Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan luka tidakmengalami perluasan infeksi.
Intervensi :
Observasi adanya luka, lalu catat karakteristik luka
Lakukan perawatan luka sesuai kebutuhan
Gunakan teknik aseptik padasaat perawatan luka
Irigasi luka sesuai indikasi menggunakan cairan garam faal (NaCl 0,9%),larutan hidrogen peroksida, atau larutan antibiotik

3Risiko tinggi perluasan infeksi berhubungan dengan adanya inflamasi padaskrotumKriteria evaluasi Meningkatnya proses penyembuhan pada waktunya, bebas purulenatau eritema, dan pasien tidak mengalami demam
Pasien menyatakan penyebab faktor risiko atau masalahnya.
Intervensi :
Catat faktor risiko individu
Kaji tanda-tanda vital dan catat adanya abnormalitas
Catat warna kulit, suhu, dan kelembaban
Awasi pengeluaran urine
Pertahankan teknik aseptik pada saat perawatan luka.
Aplikasikan teknik steril jika pasien dipasang kateter dan berikanperawatan kateter /kebersihan perineal urine
Observasi hasil pemeriksaan laboratorium seri darah, urine, dan kulturluka
Berikan antimikrobal, misalnya Gentamycin (Garamycin) ,Amikasin(Amikin), Klindamicin (Cleocin)
Siapkan untuk intervensi bedah, jika diindikasikan

4. Risiko tinggi kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan demamKriteria evaluasi :
Menunjukkan perbaikan keseimbangan cairan dibuktikan olehpengeluaran urine adekuat dengan berat jenis normal, tanda-tandavital stabil, membran mukosa lembab, turgor kulit baik, pengisiankapiler meningkat, dan berat badan dalam rentang normal
.
Intervensi :
Pantau tanda-tanda vital, catat adanya hipotensi (termasuk perubahanpostural), takikardia, takipnea, dan demam
Pertahankan intake dan output yang adekuat serta hubungkan denganberat badan harian
Ukur berat jenis urine
Observasi kulit/membran mukosa untuk mengetahui tingkatkelembaban dan turgor
Catat adanya edema perfer atau sakral
Awasi pemeriksaan laboratorium, misalnya Hb, Ht, elektrolit, protein,albumin, BUN, ureum dan kreatininBerikan plasma/darah, cairan, elektrolit, diuretik sesuai indikasi

Oleh: dwaney | Juni 10, 2011

Keperawatan Anak Dengan Autisme

MAKALAH
KEPERAWATAN ANAK
Dr. Triyanto Saudin
Tentang
Autisme

OLEH :
Dani Wijayanto
2009 1440 1018

STIKES BAHRUL ULUM LAB II BATU
KOTA WISATA BATU
2011

KATA PENGANTAR
Atas rahmat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua sahingga penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah “Keperawatan Anak dengan autisme”.
Terima kasih kami ucapkan kepada Dr. Triyanto Saudin selaku koordinator Pendidikan dan dosen yang telah membimbing penyusun dalam penyelesaian makalah.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, maka saran dan kritik sangat kami nantikan dari para mahasiswa dan pengajar sehingga akan semakin memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami selaku penulis mengucapkan mohon maaf apabila ada kesalahan dan kami nerharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi para mahasiswa Akademik Perawat dan pembaca.

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang 1
1.2Tujuan ………………………………………………………………………2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi 3
2.2 Etiologi 4
2.3 Patofisiologi 3
2.4 Manifestasi klinis 5
2.5 Penatalaksanaan 6
BAB III PNUTUP
3.1 Kesimpulan 14
3.2 Saran dan Kritik 14
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Di Indonesia sering kali cukup sulit mendapatkan data penderita auitis, ini karena orangtua anak yang dicurigai mengidap autisme seringkali tidak menyadari gejala-gejala autisme pada anak. Akibatnya, mereka merujuknya ke pintu lain di RS. Misalnya ke bagian THT karena menduga anaknya mengalami gangguan pendengaran dan ke Poli Tumbuh Kembang Anak karena mengira anaknya mengalami masalah dengan perkembangan fisik. “Tapi kita memang merasakan makin banyak kasus autisme ini di Indonesia dari tahun ke tahun,” papar dia. SASANTI dalam bagian lain tidak bisa menjelaskan apa penyebab makin banyaknya kasus autisme di Indonesia. Yang bisa dilacak adalah faktor yang terkait dengan autisme, misalnya genetis dan biologis. Secara biologis, ada kemungkinan autisme berkaitan dengan gangguan pencernaan, alergi, gangguan n kandungan, maupun polusi.(edy).( suarasurabaya.net. 13 desember 2008)

1.2Tujuan
Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Keperawatan anak dari dr. Triyanto Saudin.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1Definisi
Autisme masa kanak-kanak dini adalah penarikan diri dan kehilangan kontak dengan realitas atau orang lain. Pada bayi tidak terlihat tanda dan gejala.
(Sacharin, R, M, 1996 : 305) 
Autisme Infantil adalah Gangguan kualitatif pada komunikasi verbal dan non verbal, aktifitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik yang terjadi sebelum usia 30 bulan.(Behrman, 1999: 120) 
Autisme menurut Rutter 1970 adalah Gangguan yang melibatkan kegagalan untuk mengembangkan hubungan antar pribadi (umur 30 bulan), hambatan dalam pembicaraan, perkembangan bahasa, fenomena ritualistik dan konvulsif.(Sacharin, R, M, 1996: 305) 
Autisme pada anak merupakan gangguan perkembangan pervasif (DSM IV, sadock dan sadock 2000) 

2.2Etiologi
Sepuluh tahun yang lalu penyebab autisme belum banyak diketahui dan hanya terbatas pada faktor psikologis saja. Tetapi sekarang ini penelitian mengenai autisme semakin maju dan menunjukkan bahwa autisme mempunyai penyebab neurobiologist yang sangat kompleks. Gangguan neurobiologist ini dapat disebabkan oleh interaksi faktor genetik dan lingkungan seperti pengaruh negatif selama masa perkembangan otak. Banyak faktor yang menyebabkan pengaruh negatif selama masa perkembangan otak, antara lain; penyakit infeksi yang mengenai susunan saraf pusat, trauma, keracunan logam berat dan zat kimia lain baik selama masa dalam kandungan maupun setelah dilahirkan, gangguan imunologis, gangguan absorpsi protein tertentu akibat kelainan di usus (Suriviana, 2005). Menurut Dewo (2006) gangguan perkembangan pervasive autisme dapat disebabkan karena beberapa hal antara lain:
1.Genetis, abnormalitas genetik dapat menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel – sel saraf dan sel otak
2.Keracunan logam berat seperti mercury yang banyak terdapat dalam vaksin imunisasi atau pada makanan yang dikonsumsi ibu yang sedang hamil, misalnya ikan dengan kandungan logam berat yang tinggi. Pada penelitian diketahui dalam tubuh anak-anak penderita autis terkandung timah hitam dan merkuri dalam kadar yang relatif tinggi.
3.Terjadi kegagalan pertumbuhan otak karena nutrisi yang diperlukan dalam pertumbuhan otak tidak dapat diserap oleh tubuh, ini terjadi karena adanya jamur dalam lambungnya, atau nutrisi tidak trpenuhi karena faktor ekonomi
4.Terjadi autoimun pada tubuh penderita yang merugikan perkembangan tubuhnya sendiri karena zat – zat yang bermanfaat justru dihancurkan oleh tubuhnya sendiri. Imun adalah kekebalan tubuh terhadap virus/bakteri pembawa penyakit. Sedangkan autoimun adalah kekebalan yang dikembangkan oleh tubuh penderita sendiri yang justru kebal terhadap zat – zat penting dalam tubuh dan menghancurkannya.

2.3Patofisiologi
Sel saraf otak (neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk mengalirkan impuls listrik (akson) serta serabut untuk menerima impuls listrik (dendrit). Sel saraf terdapat di lapisan luar otak yang berwarna kelabu (korteks). Akson dibungkus selaput bernama mielin, terletak di bagian otak berwarna putih. Sel saraf berhubungan satu sama lain lewat sinaps.
Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan. Pada trimester ketiga, pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai pembentukan akson, dendrit, dan sinaps yang berlanjut sampai anak berusia sekitar dua tahun.
Setelah anak lahir, terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa bertambah dan berkurangnya struktur akson, dendrit, dan sinaps. Proses ini dipengaruhi secara genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brain growth factors dan proses belajar anak.
Makin banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan akson, dendrit, dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari lingkungan. Bagian otak yang digunakan dalam belajar menunjukkan pertambahan akson, dendrit, dan sinaps. Sedangkan bagian otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel, berkurangnya akson, dendrit, dan sinaps.
Kelainan genetis, keracunan logam berat, dan nutrisi yang tidak adekuat dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada proses – proses tersebut. Sehingga akan menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel saraf. Pada pemeriksaan darah bayi-bayi yang baru lahir, diketahui pertumbuhan abnormal pada penderita autis dipicu oleh berlebihnya neurotropin dan neuropeptida otak (brain-derived neurotrophic factor, neurotrophin-4, vasoactive intestinal peptide, calcitonin-related gene peptide) yang merupakan zat kimia otak yang bertanggung jawab untuk mengatur penambahan sel saraf, migrasi, diferensiasi, pertumbuhan, dan perkembangan jalinan sel saraf. Brain growth factors ini penting bagi pertumbuhan otak. Peningkatan neurokimia otak secara abnormal menyebabkan pertumbuhan abnormal pada daerah tertentu. Pada gangguan autistik terjadi kondisi growth without guidance, di mana bagian-bagian otak tumbuh dan mati secara tak beraturan.
Pertumbuhan abnormal bagian otak tertentu menekan pertumbuhan sel saraf lain. Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel Purkinye (sel saraf tempat keluar hasil pemrosesan indera dan impuls saraf) di otak kecil pada autisme. Berkurangnya sel Purkinye diduga merangsang pertumbuhan akson, glia (jaringan penunjang pada sistem saraf pusat), dan mielin sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atau sebaliknya, pertumbuhan akson secara abnormal mematikan sel Purkinye. Yang jelas, peningkatan brain derived neurotrophic factor dan neurotrophin-4 menyebabkan kematian sel Purkinye. Gangguan pada sel Purkinye dapat terjadi secara primer atau sekunder. Bila autisme disebabkan faktor genetik, gangguan sel Purkinye merupakan gangguan primer yang terjadi sejak awal masa kehamilan. Degenerasi sekunder terjadi bila sel Purkinye sudah berkembang, kemudian terjadi gangguan yang menyebabkan kerusakan sel Purkinye. Kerusakan terjadi jika dalam masa kehamilan ibu minum alkohol berlebihan atau obat seperti thalidomide. Penelitian dengan MRI menunjukkan, otak kecil anak normal mengalami aktivasi selama melakukan gerakan motorik, belajar sensori-motor, atensi, proses mengingat, serta kegiatan bahasa. Gangguan pada otak kecil menyebabkan reaksi atensi lebih lambat, kesulitan memproses persepsi atau membedakan target, overselektivitas, dan kegagalan mengeksplorasi lingkungan. Pembesaran otak secara abnormal juga terjadi pada otak besar bagian depan yang dikenal sebagai lobus frontalis. Kemper dan Bauman menemukan berkurangnya ukuran sel neuron di hipokampus (bagian depan otak besar yang berperan dalam fungsi luhur dan proses memori) dan amigdala (bagian samping depan otak besar yang berperan dalam proses memori). Penelitian pada monyet dengan merusak hipokampus dan amigdala mengakibatkan bayi monyet berusia dua bulan menunjukkan perilaku pasif-agresif. Mereka tidak memulai kontak sosial, tetapi tidak menolaknya. Namun, pada usia enam bulan perilaku berubah. Mereka menolak pendekatan sosial monyet lain, menarik diri, mulai menunjukkan gerakan stereotipik dan hiperaktivitas mirip penyandang autisme. Selain itu, mereka memperlihatkan gangguan kognitif. Faktor lingkungan yang menentukan perkembangan otak antara lain kecukupan oksigen, protein, energi, serta zat gizi mikro seperti zat besi, seng, yodium, hormon tiroid, asam lemak esensial, serta asam folat. Adapun hal yang merusak atau mengganggu perkembangan otak antara lain alkohol, keracunan timah hitam, aluminium serta metilmerkuri, infeksi yang diderita ibu pada masa kehamilan, radiasi, serta ko kain.

2.4Manifestasi Klinis
Keterlambatan atau fungsi abnormal pada ketrampilan berikut, muncul sebelum umur 3 tahun.
1.Interaksi sosial.
2.Bahasa yang digunakan sebagai komunikasi sosial.
3.Bermain simbolik atau imajinatif.
Diagnosis harus memenuhi kriteria DSM IV (Diagnostic And Statistical Of Manual Disorders 1992 Fourth Edition). Diagnosis autisme bisa ditegakkan apabila terdapat enam atau lebih gejala dari (1), (2) dan (3) dengan paling sedikit 2 dari (1) dan 1 dari masing-masing (2) dan (3).
1.Gangguan kualitatif interaksi sosial, muncul paling sedikit 2 dari gejala berikut :
1.Gangguan yang jelas dalam perilaku non – verbal (perilaku yang dilakukan tanpa bicara) misalnya kontak mata, ekspresi wajah, posisi tubuh dan mimik untuk mengatur interaksi sosial.
2.Tidak bermain dengan teman seumurnya, dengan cara yang sesuai.
3.Tidak berbagi kesenangan, minat atau kemampuan mencapai sesuatu hal dengan orang lain.
4.Kurangnya interaksi sosial timbal balik.
2.Gangguan kualitatif komunikasi, paling sedikit satu dari gejala berikut :
1.Keterlambatan atau belum dapat mengucapkan kata-kata berbicara, tanpa disertai usaha kompensasi dengan cara lain.
2.Bila dapat berbicara, terlihat gangguan kesanggupan memulai atau mempertahankan komunikasi dengan orang lain.
3.Penggunaan bahasa yang stereotipik dan berulang, atau bahasa yang tidak dapat dimengerti.
4.Tidak adanya cara bermain yang bervariasi dan spontan, atau bermain menirukan secara sosial yang sesuai dengan umur perkembangannya.
3.Pola perilaku, minat dan aktivitas yang terbatas, berulang dan tidak berubah (stereotipik), yang ditunjukkan dengan adanya 2 dari gejala berikut :
1.Minat yang terbatas, stereotipik dan meneetap dan abnormal dalam intensitas dan fokus.
2.Keterikatan pada ritual yang spesifik tetapi tidak fungsional secara kaku dan tidak fleksibel.
3.Gerakan motorik yang stereotipik dan berulang, misalnya flapping tangan dan jari, gerakan tubuh yang kompleks.
4.Preokupasi terhadap bagian dari benda.

2.5Penatalaksanaan
Kimia otak yang kadarnya abnormal pada penyandang autis adalah serotonin 5-hydroxytryptamine (5-HT), yaitu neurotransmiter atau penghantar sinyal di sel-sel saraf. Sekitar 30-50 persen penyandang autis mempunyai kadar serotonin tinggi dalam darah. Kadar norepinefrin, dopamin, dan serotonin 5-HT pada anak normal dalam keadaan stabil dan saling berhubungan. Akan tetapi, tidak demikian pada penyandang autis.
Terapi psikofarmakologi tidak mengubah riwayat keadaan atau perjalanan gangguan autistik, tetapi efektif mengurangi perilaku autistik seperti hiperaktivitas, penarikan diri, stereotipik, menyakiti diri sendiri, agresivitas dan gangguan tidur. Sejumlah observasi menyatakan, manipulasi terhadap sistem dopamin dan serotonin dapat bermanfaat bagi pasien autis. Antipsikotik generasi baru, yaitu antipsikotik atipikal, merupakan antagonis kuat terhadap reseptor serotonin 5-HT dan dopamin tipe 2 (D2).
Risperidone bisa digunakan sebagai antagonis reseptor dopamin D2 dan serotonin 5-HT untuk mengurangi agresivitas, hiperaktivitas, dan tingkah laku menyakiti diri sendiri.
Olanzapine, digunakan karena mampu menghambat secara luas pelbagai reseptor, olanzapine bisa mengurangi hiperaktivitas, gangguan bersosialisasi, gangguan reaksi afektual (alam perasaan), gangguan respons sensori, gangguan penggunaan bahasa, perilaku menyakiti diri sendiri, agresi, iritabilitas emosi atau kemarahan, serta keadaan cemas dan depresi.
Untuk meningkatkan keterampilan sosial serta kegiatan sehari-hari, penyandang autis perlu diterapi secara nonmedikamentosa yang melibatkan pelbagai disiplin ilmu. Menurut dr Ika Widyawati SpKJ dari Bagian Ilmu Penyakit Jiwa FKUI, antara lain terapi edukasi untuk meningkatkan interaksi sosial dan komunikasi, terapi perilaku untuk mengendalikan perilaku yang mengganggu/membahayakan, terapi wicara, terapi okupasi/fisik, sensori-integrasi yaitu pengorganisasian informasi lewat semua indera, latihan integrasi pendengaran (AIT) untuk mengurangi hipersensitivitas terhadap suara, intervensi keluarga, dan sebagainya.
Untuk memperbaiki gangguan saluran pencernaan yang bisa memperburuk kondisi dan gejala autis, dilakukan terapi biomedis. Terapi itu meliputi pengaturan diet dengan menghindari zat-zat yang menimbulkan alergi (kasein dan gluten), pemberian suplemen vitamin dan mineral, serta pengobatan terhadap jamur dan bakteri yang berada di dinding usus.
Dengan pelbagai terapi itu, diharapkan penyandang autis bisa menjalani hidup sebagaimana anak-anak lain dan tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri dan berprestasi.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa autisme adalah gangguan perkembangan pervasif, atau kualitatif pada komunikasi verbal dan non verbal, aktivitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik berupa kegagalan mengembangkan hubungan antar pribadi (umur 30 bulan),hambatan dalam pembicaraan, perkembangan bahasa, fenomena ritualistik dan konvulsif serta penarikan diri dan kehilangan kontak dengan realitas. 
3.2 Saran
Semoga Makalah ni dapat berguna bagi penyusun dan pembaca. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk pengerjaan berikutnya yang lebih baik

DAFTAR PUSTAKA
1..

Oleh: dwaney | Juni 10, 2011

Keperawatan Anak Retardasi Mental

MAKALAH
KEPERAWATAN ANAK
Dr. Triyanto Saudin
Tentang
Retardasi Mental

OLEH :
Dani Wijayanto
2009 1440 1018

STIKES BAHRUL ULUM LAB II BATU
KOTA WISATA BATU
2011

KATA PENGANTAR
Atas rahmat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua sahingga penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah “Keperawatan Anak dengan retardasi mental”.
Terima kasih kami ucapkan kepada Dr. Triyanto Saudin selaku koordinator Pendidikan dan dosen yang telah membimbing penyusun dalam penyelesaian makalah.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, maka saran dan kritik sangat kami nantikan dari para mahasiswa dan pengajar sehingga akan semakin memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami selaku penulis mengucapkan mohon maaf apabila ada kesalahan dan kami nerharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi para mahasiswa Akademik Perawat dan pembaca.

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang 1
1.2Tujuan ………………………………………………………………………2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi 3
2.2 Etiologi 4
2.4 Manifestasi klinis 5
BAB III PNUTUP
3.1 Kesimpulan 14
3.2 Saran dan Kritik 14
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Retardasi mental merupakan masalah dunia dengan implikasi yang besar terutama bagi Negara berkembang. Diperkirakan angka kejadian retardasi mental berat sekitar 0,3% dari seluruh populasi dan hampir 3% mempunyai IQ dibawah 70.Sebagai sumber daya manusia tentunya mereka tidak bias dimanfaatkan karena 0,1% dari anak-anak ini memerlukan perawatan, bimbingan serta pengawasan sepanjang hidupnya.(Swaiman KF, 1989). Prevalensi retardasi mental sekitar 1 % dalam satu populasi. Di indonesia 1-3 persen penduduknya menderita kelainan ini. Insidennya sulit di ketahui karena retardasi metal kadang-kadang tidak dikenali sampai anak-anak usia pertengahan dimana retardasinya masih dalam taraf ringan. Insiden tertinggi pada masa anak sekolah dengan puncak umur 10 sampai 14 tahun. Retardasi mental mengenai 1,5 kali lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Sehingga retardasi mental masih merupakan dilema, sumber kecemasan bagi keluarga dan masyarakat. Demikian pula dengan diagnosis, pengobatan dan pencegahannya masih merupakan masalah yang tidak kecil.

1.2Tujuan
Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Keperawatan anak dari dr. Triyanto Saudin.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1Definisi
Retardasi mental ialah keadaan dengan intelegensia yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama pada retardasi mental ialah intelegensi yang terbelakang atau keterbelakangan mental. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit dan fren = jiwa) atau tuna mental.
Retardasi mental dapat didefinisikan sebagai keterbatasan dalam kecerdasan yang mengganggu adaptasi normal terhadap lingkungan. Retardasi mental adalah kemampuan mental yang tidak mencukupi (WHO). Retardasi mental adalah suatu keadaan yang ditandai dengan fs. Intelektual berada dibawah normal, timbul pada masa perkembangan/dibawah usia 18 tahun, berakibat lemahnya proses belajar dan adaptasi sosial (D.S.M/Budiman M, 1991).

2.2Etiologi
Penyebab kelainan mental ini adalah faktor keturunan (genetik) atau tak jelas sebabnya (simpleks). Keduanya disebut retardasi mental primer. Sedangkan faktor sekunder disebabkan oleh faktor luar yang berpengaruh terhadap otak bayi dalam kandungan atau anak-anak.
Retardasi mental menurut penyebabnya, yaitu :
• Akibat infeksi atau intoksikasi. Dalam Kelompok ini termasuk keadaan retardasi mental karena kerusakan jaringan otak akibat infeksi intrakranial, karena serum, obat atau zat toksik lainnya.
• Akibat rudapaksa atau disebabkan fisik lain. Rudapaksa sebelum lahir serta juga trauma lain, seperti sinar x, bahan kontrasepsi dan usaha melakukan abortus dapat mengakibatkan kelainan dengan retardasi mental. Rudapaksa sesudah lahir tidak begitu sering mengakibatkan retardasi mental.
• Akibat gangguan metabolisme, pertumbuhan atau gizi. Semua retardasi mental yang langsung disebabkan oleh gangguan metabolisme (misalnya gangguan metabolime lemak, karbohidrat dan protein), pertumbuhan atau gizi termasuk dalam kelompok ini.
• Ternyata gangguan gizi yang berat dan yang berlangsung lama sebelum umur 4 tahun sangat memepngaruhi perkembangan otak dan dapat mengakibatkan retardasi mental. Keadaan dapat diperbaiki dengan memperbaiki gizi sebelum umur 6 tahun, sesudah ini biarpun anak itu diberikan makanan bergizi, intelegensi yang rendah itu sudah sukar ditingkatkan.
• Akibat penyakit otak yang nyata (postnatal). Dalam kelompok ini termasuk retardasi mental akibat neoplasma (tidak termasuk pertumbuhan sekunder karena rudapaksa atau peradangan) dan beberapa reaksi sel-sel otak yang nyata, tetapi yang belum diketahui betul etiologinya (diduga herediter). Reaksi sel-sel otak ini dapat bersifat degeneratif, infiltratif, radang, proliferatif, sklerotik atau reparatif.
• Akibat penyakit/pengaruh pranatal yang tidak jelas. Keadaan ini diketahui sudah ada sejak sebelum lahir, tetapi tidak diketahui etiologinya, termasuk anomali kranial primer dan defek kogenital yang tidak diketahui sebabnya.
• Akibat kelainan kromosom. Kelainan kromosom mungkin terdapat dalam jumlah atau dalam bentuknya. Hal ini mencakup jumlah terbesar dari penyebab genetic dan paling sering adalah trisomi yang melibatkan kromosom tambahan, misalnya 47 dibandingkan keadaan normal sebesar 46. Kelainan kromosom seks, seperti sindroma Klinefeker (XXY), sindroma Turner dan berbagai mosaic, dapat juga berkaitan dengan retardasi mental.
• Akibat prematuritas. Kelompok ini termasuk retardasi mental yang berhubungan dengan keadaan bayi pada waktu lahir berat badannya kurang dari 2500 gram atau dengan masa hamil kurang dari 38 minggu serta tidak terdapat sebab-sebab lain seperti dalam sub kategori sebelum ini.
• Akibat gangguan jiwa yang berat. Untuk membuat diagnosa ini harus jelas telah terjadi gangguan jiwa yang berat itu dan tidak terdapat tanda-tanda patologi otak.
• Akibat deprivasi psikososial. Retardasi mental dapat disebabkan oleh fakor – faktor biomedik maupun sosiobudaya.

2.3Manifestasi Klinis
Retardasi mental bukanlah suatu penyakit walaupun retardasi mental merupakan hasil dari proses patologik di dalam otak yang memberikan gambaran keterbatasan terhadap intelektual dan fungsi adaptif. Retardasi mental dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa atau gangguan fisik lainnya. Hasil bagi intelegensi (IQ = “Intelligence Quotient”) bukanlah merupakan satusatunya patokan yang dapat dipakai untuk menentukan berat ringannya retardasi mental. Sebagai kriteria dapat dipakai juga kemampuan untuk dididik atau dilatih dan kemampuan sosial atau kerja. Tingkatannya mulai dari taraf ringan, sedang sampai berat, dan sangat berat.
Klasifikasi retardasi mental menurut DSM-IV-TR yaitu :
1. Retardasi mental berat sekali IQ dibawah 20 atau 25. Sekitar 1 sampai 2 % dari orang yang terkena retardasi mental. 
2. Retardasi mental berat IQ sekitar 20-25 sampai 35-40. Sebanyak 4 % dari orang yang terkena retardasi mental.
3. Retardasi mental sedang IQ sekitar 35-40 sampai 50-55. Sekitar 10 % dari orang yang terkena retardasi mental.
4. Retardasi mental ringan IQ sekitar 50-55 sampai 70. Sekitar 85 % dari orang yang terkena retardasi mental. Pada umunya anak-anak dengan retardasi mental ringan tidak dikenali sampai anak tersebut menginjak tingkat pertama atau kedua disekolah.
Tingkat Kisaran IQ Kemampuan Usia Prasekolah (sejak lahir-5 tahun) Kemampuan Usia Sekolah (6-20 tahun) Kemampuan Masa Dewasa (21 tahun keatas)Ringan 52-68
• Bisa membangun kemampuan sosial & komunikasi 
• Koordinasi otot sedikit terganggu 
• Seringkali tidak terdiagnosis • Bisa mempelajari pelajaran kelas 6 pada akhir usia belasan tahun 
• Bisa dibimbing ke arah pergaulan sosial 
• Bisa dididik Biasanya bisa mencapai kemampuan kerja & bersosialisasi yg cukup, tetapi ketika mengalami stres sosial ataupun ekonomi, memerlukan bantuan Moderat 36-51 • Bisa berbicara & belajar berkomunikasi 
• Kesadaran sosial kurang 
• Koordinasi otot cukup
• Bisa mempelajari beberapa kemampuan sosial & pekerjaan 
• Bisa belajar bepergian sendiri di tempat-tempat yg dikenalnya dengan baik • Bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dengan melakukan pekerjaan yg tidak terlatih atau semi terlatih dibawah pengawasan 
• Memerlukan pengawasan & bimbingan ketika mengalami stres sosial maupun ekonomi yg ringan
Berat 20-35 • Bisa mengucapkan beberapa kata 
• Mampu mempelajari kemampuan untuk menolong diri sendiri 
• Tidak memiliki kemampuan ekspresif atau hanya sedikit 
• Koordinasi otot jelek • Bisa berbicara atau belajar berkomunikasi 
• Bisa mempelajari kebiasaan hidup sehat yg sederhana • Bisa memelihara diri sendiri dibawah pengawasan 
• Dapat melakukan beberapa kemampuan perlindungan diri dalam lingkungan yg terkendali Sangat berat 19 atau kurang • Sangat terbelakang 
• Koordinasi ototnya sedikit sekali 
• Mungkin memerlukan perawatan khusus • Memiliki beberapa koordinasi otot 
• Kemungkinan tidak dapat berjalan atau berbicara • Memiliki beberapa koordinasi otot & berbicara 
• Bisa merawat diri tetapi sangat terbatas 
• Memerlukan perawatan khusus
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Retardasi mental dapat didefinisikan sebagai keterbatasan dalam kecerdasan yang mengganggu adaptasi normal terhadap lingkungan. Retardasi mental menurut penyebabnya, yaitu akibat infeksi, ruda paksa, gangguan metabolisme, penyakit otak post natal, gangguan gizi yang berat dan berlangsung lama sebelum umur 4 tahun, pengaruh penyakit pra natal yang tidak jelas, kelainan kromosom, prematuritas, gangguan jiwa berat, deprifasi psikososial.

3.2 Saran
Semoga Makalah ni dapat berguna bagi penyusun dan pembaca. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk pengerjaan berikutnya yang lebih baik

DAFTAR PUSTAKA
1.Arif, mansjoer (2000). Kapita selekta kedokteran. Jakarta: EGC.    
2.Behrman (2000). Nelson ilmu kesehatan anak. Jakarta: EGC.          
3.Bobak (2005). Buku ajar keperawatn maternitas. Jakarta: EGC.      
4.Doenges (2000). Rencana asuhan keperawatan; pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: EGC.

Oleh: dwaney | Juni 10, 2011

Ibu Hamil Dengan HIV AIDS

MAKALAH
KEPERAWATAN ANAK
Dr. Triyanto Saudin
Tentang
Ibu Hamil Dengan HIVAIDS

OLEH :
Dani Wijayanto
2009 1440 1018

STIKES BAHRUL ULUM LAB II BATU
KOTA WISATA BATU
2011

KATA PENGANTAR
Atas rahmat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua sahingga penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah “Keperawatan Anak tentang ibu hamil denga HIV AIDS”.
Terima kasih kami ucapkan kepada Dr. Triyanto Saudin selaku koordinator Pendidikan dan dosen yang telah membimbing penyusun dalam penyelesaian makalah.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, maka saran dan kritik sangat kami nantikan dari para mahasiswa dan pengajar sehingga akan semakin memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami selaku penulis mengucapkan mohon maaf apabila ada kesalahan dan kami nerharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi para mahasiswa Akademik Perawat dan pembaca.

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang 1
1.2Tujuan ………………………………………………………………………2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi 3
2.2 Etiologi 4
2.3 Patofisiologi 3
2.4 Manifestasi klinis 5
2.5 Diagnosis 6
2.6 Penatalaksanaan 6
2.7Pencegahan 8
BAB III PNUTUP
3.1 Kesimpulan 14
3.2 Saran dan Kritik 14
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Saat ini, mendengar kata HIV/AIDS seperti momok yang mengerikan. AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang merupakan dampak atau efek dari perkembangbiakan virus HIV dalam tubuh makhluk hidup. Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya.
Pada tahun 2007 terdapat 24 ibu hamil yang dinyatakan positif mengidap virus HIV/AIDS. Bila jumlah ibu hamil yang positif HIV bertambah, ada kemungkinan peningkatan balita yang terinfeksi penyakit yang sama. Sebagian besar data dan fakta lapangan bahwa kota Surabaya menduduki peringkat 1 dalam kasus HIV/AIDS di Jawa Timur, terdapat 449 (75,59%) kasus berada di Surabaya dari jumlah total 594 kasus HIV/AIDS di Jawa Timur. Angka kematian akibat HIV/AIDS masih tinggi, 80 persen sudah mengidap AIDS. Di Jatim jumlah akumulasi penderita HIV/AIDS yang meninggal sejak tahun 1989 sampai Agustus 2007 mencapai 339 orang dari 1.445 penderita AIDS.
Penyakit AIDS disebabkan karena melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang karena sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh virus HIV. HIV dapat menular dari ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya. Tanpa upaya pencegahan, kurang-lebih 30 persen bayi dari ibu yang terinfeksi HIV menjadi tertular juga. Ibu dengan viral load tinggi lebih mungkin menularkan HIV kepada bayinya. Namun tidak ada jumlah viral load yang cukup rendah untuk dianggap “aman”. Infeksi dapat terjadi kapan saja selama kehamilan, namun biasanya terjadi beberapa saat sebelum atau selama persalinan. Bayi lebih mungkin terinfeksi bila proses persalinan berlangsung lama. Selama persalinan, bayi yang baru lahir terpajan darahibunya. Meminum air susu dari ibu yang terinfeksi dapat juga mengakibatkan infeksi pada si bayi.
Penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dicegah melalui tiga cara, dan bisa dilakukan mulai saat masa kehamilan, saat persalinan, dan setelah persalinan. Dalam makalah ini akan dibahas tentang bagaimana memberikan asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan HIV/AIDS sehingga kita sebagai mahasiswa keperawatan diharapkan nantinya bisa memberikan asuhan keperawatan dengan baik.

1.2Tujuan
Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Keperawatan anak dari dr. Triyanto Saudin.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1Definisi
AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV. Dalam bahasa Indonesia dapat dialihkatakan sebagai Sindrome Cacat Kekebalan Tubuh Dapatan.
Acquired : didapat, bukan penyakit keturunan
Immune : sistem kekebalan tubuh
Deficiency : kekurangan
Syndrome : kumpulan gejala-gejala penyakit.
AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus (HIV). (Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare).
Sedangkan di dalam kamus kedokteran Dorlan (2002), menyebutkan bahwa AIDS adalah suatu penyakit retrovirus epidemik menular, yang disebabkan oleh infeksi HIV, yang pada kasus berat bermanifestasi sebagai depresi berat imunitas seluler, dan mengenai kelompok risiko tertentu, termasuk pria homoseksual atau biseksual, penyalahgunaan obat intravena, penderita hemofilia, dan penerima transfusi darah lainnya, hubungan seksual dari individu yang terinfeksi virus tersebut.

2.2Etiologi
Penularan virus HIV/AIDS terjadi karena beberapa hal, di antaranya ;
1. Penularan melalui darah, penularan melalui hubungan seks (pelecehan seksual). (WHO, 2003)
2. Hubungan seksual yang berganti-ganti pasangan
3. Perempuan yang menggunakan obat bius injeksi dan bergantian memakai alat suntik.
4. Individu yang terpajan ke semen atau cairan vagina sewaktu berhubungan kelamin dengan orang yang terinfeksi HIV.
5. Orang yang melakukuan transfusi darah dengan orang yang terinfeksi HIV, berarti setiap orang yang terpajan darah yang tercemar melalui transfusi atau jarum suntik yang terkontaminasi.

2.3Cara Peuularan HIV AIDS dari Ibu Ke Anak
Penularan HIV dari ibu ke anak terjadi karena wanita yang menderita HIV/AIDS sebagian besar masih berusia subur, sehingga terdapat resiko penularan infeksi yang terjadi pada saat kehamilan (Richard, et al., 1997). Selain itu juga karena terinfeksi dari suami atau pasangan yang sudah terinfeksi HIV/AIDS karena sering berganti-ganti pasangan dan gaya hidup. Berdasarkan CDC Amerika, prevalensi penularan HIV dari ibu ke bayi adalah 0,01% sampai 0,7%. Apabila ibu baru terinfeksi HIV dan belum ada gejala AIDS, kemungkinan bayi terinfeksi sebanyak 20% sampai 35%, sedangkan jika gejala AIDS sudah tampak jelas maka kemungkinannya akan meningkat mencapai 50% (PELKESI, 1995). Penularan ini dapat terjadi dalam 3 periode:
1. Periode kehamilan
Selama kehamilan, kemungkinan bayi tertular HIV sangat kecil. Hal ini disebabkan karena terdapatnya plasenta yang tidak dapat ditembus oleh virus itu sendiri. Oksigen, makanan, antibodi dan obat-obatan memang dapat menembus plasenta, tetapi tidak oleh HIV. Plasenta justru melindungi janin dari infeksi HIV. Perlindungan menjadi tidak efektif apabila ibu:
a. Mengalami infeksi viral, bakterial, dan parasit (terutama malaria) pada plasenta selama kehamilan.
b. Terinfeksi HIV selama kehamilan, membuat meningkatnya muatan virus pada saat itu
c. Mempunyai daya tahan tubuh yang menurun
d. Mengalami malnutrisi selama kehamilan yang secara tidak langsung berkontribusi untuk terjadinya penularan dari ibu ke anak.
2. Periode persalinan
Pada periode ini, resiko terjadinya penularan HIV lebih besar jika dibandingkan periode kehamilan. Penularan terjadi melalui transfusi fetomaternal atau kontak antara kulit atau membrane mukosa bayi dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan. Semakin lama proses persalinan, maka semakin besar pula resiko penularan terjadi. Oleh karena itu, lamanya persalinan dapat dipersingkat dengan section caesaria.
Faktor yang mempengaruhi tingginya risiko penularan dari ibu ke anak selama proses persalinan adalah:Lama robeknya membran
a. Chorioamnionitis akut (disebabkan tidak diterapinya IMS atau infeksi lainnya)
b. Teknik invasif saat melahirkan yang meningkatkan kontak bayi dengan darah ibu misalnya, episiotomi.
c. Anak pertama dalam kelahiran kembar
3. Periode Post Partum
Cara penularan yang dimaksud disini yaitu penularan melalui ASI. Berdasarkan data penelitian De Cock, dkk (2000), diketahui bahwa ibu yang menyusui bayinya mempunyai resiko menularkan HIV sebesar 10- 15% dibandingkan ibu yang tidak menyusui bayinya. Risiko penularan melalui ASI tergantung dari:
a. Pola pemberian ASI, bayi yang mendapatkan ASI secara eksklusif akan kurang berisiko dibanding dengan pemberian campuran
b. Patologi payudara: mastitis, robekan puting susu, perdarahan putting susu dan infeksi payudara lainnya
c. Lamanya pemberian ASI, makin lama makin besar kemungkinan infeksi
d. Status gizi ibu yang buruk

2.4Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis yang tampak dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Manifestasi Klinis Mayor
a. Demam berkepanjangan lebih dari 3 bulan
b. Diare kronis lebih dari satu bulan berulang maupun terus-menerus
c. Penurunan berat badan lebih dari 10% dalam 3 tiga bulan
d. TBC
2. Manifestasi Klinis Minor
a. Batuk kronis selama lebih dari satu bulan
b. Infeksi pada mulut dan jamur disebabkan karena jamur Candida Albicans
c. Pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap di seluruh tubuh
d. Munculnya Herpes zoster berulang dan bercak-bercak gatal di seluruh tubuh

2.5Diagnosis
1. VCT (Voluntary Counseling Testing)
Definisi VCT
VCT adalah suatu pembinaan dua arah atau dialog yang berlangsung tak terputus antara konselor dan kliennya untuk mencegah penularan HIV, memberikan dukungan moral, informasi, serta dukungan lainnya kepada ODHA, keluarga , dan lingkungannya. Tujuan VCT
1. Upaya pencegahan HIV/AIDS
2. Upaya untuk mengurangi kegelisahan, meningkatkan persepsi/pengetahuan mereka tentang faktor-faktor resiko penyebab seseorang terinfeksi HIV
3. Upaya pengembangan perubahan perilaku, sehingga secara dini mengarahkan mereka menuju ke program pelayanan dan dukungan termasuk akses terapi antiretroviral, serta membantu mengurangi stigma dalam masyarakat

2. Pemerikasaan Laboratorium
a. Tes serologis: tes antibodi serum terdiri dari skrining HIV dan ELISA;
tes blot western untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap beberapa protein spesifik HIV ; penurunan sel T limfosit; jumlah sel T4 helper; jumlah sel T8 dengan perbandingan 2:1 dengan sel T4; peningkatan nilai kuantitatif P24 (protein pembungkus HIV); peningkatan kadar IgG, Ig M dan Ig A; reaksi rantai polymerase untuk mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler; serta tes PHS (pembungkus hepatitis B dan antibodi,sifilis, CMV mungkin positif).
b. Pemeriksaan histologis, sitologis urin ,darah, feces, cairan spina, luka, sputum, dan sekresi.
c. Tes neurologis: EEG, MRI, CT Scan otak, EMG.
d. Tes lainnya: sinar X dada menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCV tahap lanjut atau adanya komplikasi lain; tes fungsi pulmonal untuk deteksi awal pneumonia interstisial; Scan gallium; biopsy; branskokopi.

3. Tes Antibodi
a. Tes ELISA, untuk menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi HIV.
b. Western blot asay/ Indirect Fluorescent Antibody (IFA), untuk mengenali antibodi HIV dan memastikan seropositifitas HIV.
c. Indirect immunoflouresence, sebagai pengganti pemerikasaan western blot untuk memastikan seropositifitas.
d. Radio immuno precipitation assay, mendeteksi protein pada antibodi.

4. Pendeteksian HIV
Dilakukan dengan pemeriksaan P24 antigen capture assay dengan kadar yang sangat rendah. Bisa juga dengan pemerikasaan kultur HIV atau kultur plasma kuantitatif untuk mengevaluasi efek anti virus, dan pemeriksaan viremia plasma untuk mengukur beban virus (viral burden).

2.6 Penatalaksanaan
HIV menyebabkan terjadinya penurunan kekebalan tubuh sehingga pasien rentan terhadap serangan infeksi oportunistik. ARV bisa diberikan pada pasien untuk menghentikan aktivitas virus, memulihkan sistem imun dan mengurangi terjadinya infeksi oportunistik, memperbaiki kualitas hidup dan memperpanjang usia harapan hidup penderita HIV/AIDS. Obat ARV terdiri atas beberapa golongan seperti nucleoside reversetranscriptase inhibitor, nucleotide reverse transcriptase inhibitor, non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor, dan inhibitor protease.

2.6 Pencegahan
Pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dicegah melalui tiga cara, dan bisa dilakukan mulai saat masa kehamilan, saat persalinan, dan setelah persalinan. Cara tersebut yaitu:
1. Penggunaan obat Antiretroviral selama kehamilan, saat persalinan dan untuk bayi yang baru dilahirkan.
Pemberian antiretroviral bertujuan agar viral load menjadi lebih rendah sehingga jumlah virus yang ada dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif untuk menularkan HIV. Resiko penularan akan sangat rendah (1-2%) apabila terapi ARV ini dipakai. Namun jika ibu tidak memakai ARV sebelum dia mulai sakit melahirkan, ada dua cara yang dapat mengurangi separuh penularan ini. AZT dan 3TC dipakai selama waktu persalinan, dan untuk ibu dan bayi selama satu minggu setelah lahir. Satu tablet nevirapine pada waktu mulai sakit melahirkan, kemudian satu tablet lagi diberi pada bayi 2–3 hari setelah lahir. Menggabungkan nevirapine dan AZT selama persalinan mengurangi penularan menjadi hanya 2 persen. Namun, resistansi terhadap nevirapine dapat muncul pada hingga 20 persen perempuan yang memakai satu tablet waktu hamil. Hal ini mengurangi keberhasilan ART yang dipakai kemudian oleh ibu. Resistansi ini juga dapat disebarkan pada bayi waktu menyusui. Walaupun begitu, terapi jangka pendek ini lebih terjangkau di negara berkembang.
2. Penanganan obstetrik selama persalinan
Persalinan sebaiknya dipilih dengan menggunakan metode Sectio caesaria karena metode ini terbukti mengurangi resiko penularan HIV dari ibu ke bayi sampai 80%. Apabila pembedahan ini disertai dengan penggunaan terapi antiretroviral, maka resiko dapat diturunkan sampai 87%. Walaupun demikian, pembedahan ini juga mempunyai resiko karena kondisi imunitas ibu yang rendah yang bisa memperlambat penyembuhan luka. Oleh karena itu, persalinan per vagina atau sectio caesaria harus dipertimbangkan sesuai kondisi gizi, keuangan, dan faktor lain.
3. Penatalaksanaan selama menyusui
Pemberian susu formula sebagai pengganti ASI sangat dianjurkan untuk bayi dengan ibu yang positif HIV. Karena sesuai dengan hasil penelitian, didapatkan bahwa ± 14 % bayi terinfeksi HIV melalui ASI yang terinfeksi.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
AIDS adalah suatu penyakit retrovirus epidemik menular, yang disebabkan oleh infeksi HIV, yang pada kasus berat bermanifestasi sebagai depresi berat imunitas seluler, dan mengenai kelompok risiko tertentu, termasuk pria homoseksual atau biseksual, penyalahgunaan obat intravena, penderita hemofilia, dan penerima transfusi darah lainnya, hubungan seksual dari individu yang terinfeksi virus tersebut.

3.2 Saran
Semoga Makalah ni dapat berguna bagi penyusun dan pembaca. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk pengerjaan berikutnya yang lebih baik

DAFTAR PUSTAKA
Fakultas Kedokteran Universitas Pedjajaran Bandung. 1984. Obstetri Patologi. Bandung : Elstar Offset.
Mochtar, Rustam. Prof. DR. 1989. Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. Edisi I. Jakarta : EGC
Prawiroharjo, Sarwono. 1976. Ilmu Kebidanan. Jakarta : yayasan Bina Pustaka.

Oleh: dwaney | Juni 10, 2011

Ibu Hamil dengan Diabetes Militus

MAKALAH
KEPERAWATAN ANAK
Dr. Triyanto Saudin
Tentang
Ibu Hamil Dengan Diabetes Militus

OLEH :
Dani Wijayanto
2009 1440 1018

STIKES BAHRUL ULUM LAB II BATU
KOTA WISATA BATU
2011

KATA PENGANTAR
Atas rahmat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua sahingga penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah “Keperawatan Anak tentang ibu hamil dengan diabetes militus”.
Terima kasih kami ucapkan kepada Dr. Triyanto Saudin selaku koordinator Pendidikan dan dosen yang telah membimbing penyusun dalam penyelesaian makalah.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, maka saran dan kritik sangat kami nantikan dari para mahasiswa dan pengajar sehingga akan semakin memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami selaku penulis mengucapkan mohon maaf apabila ada kesalahan dan kami nerharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi para mahasiswa Akademik Perawat dan pembaca.

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang 1
1.2Tujuan ………………………………………………………………………2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi 3
2.2 Etiologi 4
2.3 Patofisiologi 3
2.4 Manifestasi klinis 5
2.5 Diagnosis 6
2.6 Penatalaksanaan 6
2.7Pencegahan 8
BAB III PNUTUP
3.1 Kesimpulan 14
3.2 Saran dan Kritik 14
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Pengertian diabetes mellitus menurut Kapita Selekta, jilid II, 2006 dan catatan kuliah pemenuhan kebutuhan gizi reproduksi, 2006 yaitu sebagai berikut : diabetes melittus merupakan kelainan metabolisme yang kronis terjadi defisiensi insulin atau retensi insulin, di tandai dengan tingginya keadaan glukosa darah (hiperglikemia) dan glukosa dalam urine (glukosuria) atau merupakan sindroma klinis yang ditandai dengan hiperglikemia kronik dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein sehubungan dengan kurangnya sekresi insulin secara absolut / relatif dan atau adanya gangguan fungsi insulin.
Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang menunjang pemasukan makanan bagi janin serta persiapan menyusui.Glukosa dapat difusi secara secara tetap melalui plasenta pada janin sehingga kadarnya dalam darah janin hampir menyerupai kadar dalam darah ibu.Insulin ibu tidak dapat mencapai janin sehingga kadar gula ibu yang mempengaruhi kadar dalam janin. Pengendalian yang utama dipengaruhi oleh insulin, disamping beberapa hormon lain yaitu estrogen, steroid, plasenta laktogen.Akibat lambatnya resorpsi makanan maka terjadi hiperglikemia yang relatif lama dan menuntut kebutuhan insulin. Menjelang aterm kebutuhan insulin meningkat mencapai 3 kali dari keadaan normal yang disebut: tekanan diabetogenik dalam kehamilan. Secara fisiologis telah terjadi retensi insulin yaitu bila ditambah dengan estrogen eksogen ia tidak mudah menjadi hipoglikemia. Yang menjadi masalah bila seorang ibu tidak mampu meningkatkan produksi insulin sehingga relatif hipoinsulin yang mengakibatkan hiperglikemia / diabetes kehamilan. Retensi insulin juga disebabkan oleh adanya hormon estrogen, progesteron, kortisol, prolaktin dan plasenta laktogen yang mempengaruhi reseptor insulin pada sel sehingga mengurangi afinitas insulin.

1.2Tujuan
Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Keperawatan anak dari dr. Triyanto Saudin.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1Definisi
Diabetes melittus merupakan kelainan metabolisme yang kronis terjadi defisiensi insulin atau retensi insulin, di tandai dengan tingginya keadaan glukosa darah (hiperglikemia) dan glukosa dalam urine (glukosuria) atau merupakan sindroma klinis yang ditandai dengan hiperglikemia kronik dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein sehubungan dengan kurangnya sekresi insulin secara absolut / relatif dan atau adanya gangguan fungsi insulin.

2.2Etiologi
Etiologi Diabetes Melitus menurut Kapita Selekta Jilid III, 2006, Yaitu :
a. Genetik
b. Faktor autoimun setelah infeksi mumps, rubella dan coxsakie B4.
c. Meningkatnya hormon antiinsulin seperti GH, glukogen, ACTH, kortisol, dan epineprin.
d. Obat-obatan.

2.3Klasifikasi
Menurut Kapita Selekta, Jilid II, 2006 Diabetes mellitus dapat dibedakan menjadi:
1. DM Tipe 1 (IDDM) Insulin dependent diabetes mellitus atau tergantung insulin (T1) yaitu kasus yang memerlukan insulin dalam pengendalian kadar gula darah.
2. DM Tipe 11 (NIDDM) Non insulin dependent diabetes mellitus atau tidak tergantung insulin (TT1) yaitu kasus yang tidak memerlukan insulin dalam pengendalian kadar gula darah.
3. Diabetes tipe lain.
4. Diabetes mellitus gestasional (DMG) yaitu diabetes yang hanya timbul dalam kehamilan.

2.4Patofisiologi
Patogenesis Diabetes Melitus menurut Kapita Selekta Jilid III, 2006, Yaitu :
a. ketosis dan ketoasidosis. tubuh menggunakan lemak dan protein sebagai sumber energi. Metabolisme tidak sempurna  penggunaan glukosa sebagai energi terganggu Pada penyakit DM 1 didapat kerusakan (dekstruksi) sel beta pankreas dengan akibat menurunnya produksi insulin
b. fungsi insulin menurun. Resistensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel beta tidak mampu mengimbangi resistensi ini sepenuhnya sehingga terjadi defisiensi relatif insulin.Pada penyakit DM 11 didapat retensi insulin Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrindan karbohidrat sehingga terjadi inadekuatnya pembentukan dan penggunaan insulin yang berfungsi memudahkan glukosa berpindah ke dalam sel-sel jaringan. Tanpa insulin yang adekuat, glukosa tidak dapat memasuki sel-sel untuk digunakan sebagai sumber energi dan tetap berada dalam daerah sehingga kadar glukosa darah meningkat di atas batas normal yang menyebabkan air tertarik dari sel-sel ke dalam jaringan/darah sehingga terjadi dehidrasi seluler. Tingginya kadar glukosa darah menyebabkan ginjal harus mengsekresikannya melalui urine dan bekerja keras sehingga ginjal tidak dapat menanggulanginya sebab peningkatan laju filter glonurulus dan penurunan kemampuan tubulus renalif profesional/renalis untuk mereabsorbsi glukosa. Hal ini meningkatkan tekanan osmotik dan mencegah reabsorbsi air oleh tubulus ginjal yang menyebabkan dehidrasi ekstreaoseluler. Karena glukosa dan energi dikeluarkan dari tubuh bersama urine, tubuh mulai menggunakan lemak dan protein untuk sumber energi yang dalam prosesnya menghasilkan keton dalam darah. Pemecahan lemak dan protein juga menyebabkan lelah, lemah, gelisah yang dilanjutkan dengan penurunan berat badan mendadak ditambah terbentuknya keton akan cepat berkembang keadaan koma dan kematian.

2.5Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala klinis patogenesis Diabetes Melitus menurut Kapita Selekta
Jilid III, 2006, Yaitu sebagai berikut :
1. Polifagia.
2. Poliuria..
3. Polidipsi..
4. Lemas.
5. BB menurun.
6. Kesemutan. 7. Gatal.
8. Mata kabur
9. Pruritus vulva .
10. Ketonemia
11. Glikosuria.
12. Gula darah 2 jam pp > 200 mg/dl.
14. Gula darah puasa > 126 mg/dl.
13. Gula darah sewaktu > 200 mg/dl.

2.6Diagnosis
Cara pemeriksaan tes toleransi glukosa oral (TTGO)
1. Tiga hari sebelum pemeriksaan pasien makan seperti biasa.
2. Kegiatan jasmani sementara cukup, tidak terlalu banyak.
3. Pasien puasa semalam selama 10-12 jam.
4. Periksa glukosa darah puasa.
5. Berikan glukosa 75 gram yang dilarutkan dalam air 250 ml, lalu minum dalam 5 menit.
6. Pariksa glukosa darah 1 jam dan 2 jam sesudah beban glukosa.
7. Selama pemeriksaan, pasien yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok.

2.7Pengaruh terhadap Kehamiolan
1. Pengaruh kehamilan, persalinan dan nifas terhadap DM
a. Kehamilan dapat menyebabkan status pre diabetik menjadi manifes ( diabetik )
b. DM akan menjadi lebih berat karena kehamilan
2. Pengaruh penyakit gula terhadap kehamilan di antaranya adalah :
a. Abortus dan partus prematurus
b. Hidronion
c. Pre-eklamasi
d. Kesalahan letak jantung
e. Insufisiensi plasenta
3. Pengaruh penyakit terhadap persalinan
a. Gangguan kontraksi otot rahim partus lama / terlantar.
b. Janin besar sehingga harus dilakukan tindakan operasi.
c. Gangguan pembuluh darah plasenta sehingga terjadi asfiksia sampai dengan lahir
mati
d. Perdarahan post partum karena gangguan kontraksi otot rahim.
e. Post partum mudah terjadi infeksi.
f. Bayi mengalami hypoglicemi post partum sehingga dapat menimbulkan kematian
4. Pengaruh DM terhadap kala nifas
a. Mudah terjadi infeksi post partum
b. Kesembuhan luka terlambat dan cenderung infeksi mudah menyebar
5. Pengaruh DM terhadap bayi
a. Abortus, prematur, > usia kandungan 36 minggu
b. Janin besar ( makrosomia )
c. Dapat terjadi cacat bawaan, potensial penyakit saraf dan jiwa

2.8Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Diabetes Melitus menurut Pemenuhan Kebutuhan Gizi Reproduksi, 2006, yaitu :
1. Mangatur diet.
Diet yang dianjurkan pada bumil DMG adalah 30-35 kal/kg BB, 150-200 gr karbohidrat, 125 gr protein, 60-80 gr lemak dan pembatasan konsumsi natrium. Penambahan berat badan bumil DMG tidak lebih 1,3-1,6 kg/bln. Dan konsumsi kalsium dan vitamin D secara adekuat.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam diit diabetes mellitus sebagai berikut ;
a. Diit DM harus mengarahkan BB ke berat normal, mempertahankan glukosa darah sekitar normal, dapat memberikan modifikasi diit sesuai keadaan penderita misalnya penderita DMG, makanan disajikan menarik dan mudah diterima.
b. Diit diberikan dengan cara tiga kali makan utama dan tiga kali makanan antara (snack) dengan interval tiga jam.
c. Buah yang dianjurkan adalah buah yang kurang manis, misalnya pepaya, pisang, apel, tomat, semangka, dan kedondong.
d. Dalam melaksanakan diit sehari-hari hendaknya mengikuti pedoman 3J
yaitu ;
J1 ; Jumlah kalori yang diberikan harus habis.
J2 ; Jadwal diit harus diikuti sesuai dengan interval.
J3 ; Jenis makanan yang manis harus dihindari.
e. Penentuan jumlah kalori
Untuk menentukan jumlah kalori penderita DM yang hamil/menyusui secara empirik dapat digunakan umus sebagai berikut ;
( TB – 100 ) x 30 T1 + 100 T3 + 300
T2 + 200 L + 400
Ket : TB : Tinggi badan. T3 : Trimester III
T1 : Trimester I L : Laktasi/menyusui
T2 : Trimester II
2. Penatalaksanan Diabetes Melitus terhadap ibu hamil menurut Kapita Selekta, Jilid II, 2006. yaitu sebagai berikut :
Daya tahan terhadap insulin meningkat dengan makin tuanya kehamilan,
yang dibebaskan oleh kegiatan antiinsulin plasenta.Penderita yang sebelum kehamilan sudah memerlukan insulin diberi insulin dosis yang sama dengan dosis diluar kehamilan sampai ada tanda-tanda bahwa dosis perlu ditambah atau dikurangi. Perubahan-perubahan dalam kehamilan memudahkan terjadinya hiperglikemia dan asidosis tapi juga manimbulkan reaksi hipoglikemik. Maka dosis insulin perlu ditambah/dirubah menurut keperluan secara hati-hati dengan pedoman pada 140 mg/dl. Pemeriksaan darah yaitu kadar post pandrial < 140 mg/dl. Terutama pada trimester I mudah terjadi hipoglikemia apabila dosis insulin tidak dikurangi karena wanita kurang makan akibat emisis dan hiperemisis gravidarum. Sebaliknya dosis insulin perlu ditambah dalam trimester II apabila sudah mulai suka makan , lebih-lebih dalam trimester III.
Selama berlangsungnya persalinan dan dalam hari-hari berikutnya cadangan hidrat arang berkurang dan kebutuhan terhadap insulin barkurang yang mengakibatkan mudah mengalami hipoglikemia bila diet tidak disesuaikan atau dosis insulin tidak dikurangi. Pemberian insulin yang kurang hati-hati dapat menjadi bahaya besar karena reaksi hipoglikemik dapat disalah tafsirkan sebagai koma diabetikum. Dosis insulin perlu dikurangi selama wanita dalam persalinan dan nifas dini. Dianjurkan pula supaya dalam masa persalinan diberi infus glukosa dan insulin pada hiperglikemia berat dan keto asidosis diberi insulin secara infus intravena dengan kecepatan 2-4 satuan/jam untuk mengatasi komplikasi yang berbahaya.
3. Penanggulangan Obstetri
Pada penderita yang penyakitnya tidak berat dan cukup dikuasi dengan diit saja dan tidak mempunyai riwayat obstetri yang buruk, dapat diharapkan partus spontan sampai kehamilan 40 minggu. lebih dari itu sebaiknya dilakukan induksi persalinan karena prognosis menjadi lebih buruk. Apabia diabetesnya lebih berat dan memerlukan pengobatan insulin, sebaiknya kehamilan diakhiri lebih dini sebaiknya kehamilan 36-37 minggu. Lebih-lebih bila kehamilan disertai komplikasi, maka dipertimbangkan untuk menghindari kehamilan lebih dini lagi baik dengan induksi atau seksio sesarea dengan terlebih dahulu melakukan amniosentesis. Dalam pelaksanaan partus pervaginam, baik yang tanpa dengan induksi, keadaan janin harus lebih diawasi jika mungkin dengan pencatatan denyut jantung janin terus – menerus.

2.9 Pencegahan
1. Primer : untuk mengurangi obesitas dan BB.
2. Sekunder : deteksi dini, kontrol penyakit hipertensi, anto rokok, perawatan.
3. Tersier :
 Pendidikan tentang perawatan kaki, cegah ulserasi, gangren dan amputasi.
 Pemeriksaan optalmologist
 Albuminuria monitor penyakit ginjal
 Kontrol hipertensi, status metabolic dan diet rendah protein
 Pendidikan pasien tentang penggunaan medikasi untuk mengontrol medikasi

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Diabetes melittus merupakan kelainan metabolisme yang kronis terjadi defisiensi insulin atau retensi insulin, di tandai dengan tingginya keadaan glukosa darah (hiperglikemia) dan glukosa dalam urine (glukosuria) atau merupakan sindroma klinis yang ditandai dengan hiperglikemia kronik dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein sehubungan dengan kurangnya sekresi insulin secara absolut / relatif dan atau adanya gangguan fungsi insulin.

3.2 Saran
Semoga Makalah ni dapat berguna bagi penyusun dan pembaca. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk pengerjaan berikutnya yang lebih baik

DAFTAR PUSTAKA
Fakultas Kedokteran Universitas Pedjajaran Bandung. 1984. Obstetri Patologi. Bandung : Elstar Offset.
Mochtar, Rustam. Prof. DR. 1989. Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. Edisi I. Jakarta : EGC
Prawiroharjo, Sarwono. 1976. Ilmu Kebidanan. Jakarta : yayasan Bina Pustaka.

Oleh: dwaney | Juni 7, 2011

KEPERAWATAN ANAK DOWN SYNDROME

MAKALAH
KEPERAWATAN ANAK
Dr. Triyanto Saudin
Tentang
DOWN SYNDROME

OLEH :
Dani Wijayanto
2009 1440 1018

STIKES BAHRUL ULUM LAB II BATU
KOTA WISATA BATU
2011

KATA PENGANTAR
Atas rahmat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua sahingga penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah “Keperawatan Anak dengan Down Syndrome”.
Terima kasih kami ucapkan kepada Dr. Triyanto Saudin selaku koordinator Pendidikan dan dosen yang telah membimbing penyusun dalam penyelesaian makalah.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, maka saran dan kritik sangat kami nantikan dari para mahasiswa dan pengajar sehingga akan semakin memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami selaku penulis mengucapkan mohon maaf apabila ada kesalahan dan kami nerharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi para mahasiswa Akademik Perawat dan pembaca.

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan ………………………………………………………………………2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi 3
2.2 Etiologi 4
2.3 Patofisiologi 3
2.4 Manifestasi klinis 5
2.5 Diagnosis 6
2.6 Penatalaksanaan 6
2.7Pencegahan 8
BAB III PNUTUP
3.1 Kesimpulan 14
3.2 Saran dan Kritik 14
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Down syndrome merupakan kelainan yang dapat dikenal dengan melihat manifestasi klinis yang cukup khas. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental. Syndrome Down adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan (Wikipedia indonesia).
Sindroma Down (Trisomi 21, Mongolisme) adalah suatu kelainan kromosom yang menyebabkan keterbelakangan mental (retardasi mental) dan kelainan fisik (medicastore). Sindrom Down adalah kecacatan kromosom bercirikan kehadiran bahan genetik salinan tambahan kromosom pada keseluruhan trisomi 21 atau sebahagian, disebabkan translokasi kromosom (wikipedia melayu). Anak dengan sindrom down adalah individu yang dapat dikenalai dari fenotipnya dan mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang terjadi akibat adanya kromosom 21 yang berlebihan (Soetjiningsih).

1.2 Tujuan
Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Keperawatan anak dari dr. Triyanto Saudin.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Down syndrome merupakan kelainan yang dapat dikenal dengan melihat manifestasi klinis yang cukup khas. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental. Syndrome Down adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan (Wikipedia indonesia).
Sindroma Down (Trisomi 21, Mongolisme) adalah suatu kelainan kromosom yang menyebabkan keterbelakangan mental (retardasi mental) dan kelainan fisik (medicastore). Sindrom Down adalah kecacatan kromosom bercirikan kehadiran bahan genetik salinan tambahan kromosom pada keseluruhan trisomi 21 atau sebahagian, disebabkan translokasi kromosom (wikipedia melayu). Anak dengan sindrom down adalah individu yang dapat dikenalai dari fenotipnya dan mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang terjadi akibat adanya kromosom 21 yang berlebihan (Soetjiningsih).

2.2 Etiologi
Pada tahun 1959 Leujene dkk (dikutip dari sony HS, dalam buku tumbuh kembang anak karangan Soetjiningsih) melaporkan temuan mereka bahwa pada semua penderita sindrom down mempunyai 3 kromosom 21 dalam tubuhnya yang kemudian disebut dengan trisomi 21. tetapi pada tahun – tahun berikutnya, kelainan kromosom lain juga mulai tampak, sehingga disimpulkan bahwa selain trisomi 21 ada penyebab lain dari timbulnya penyakit sindrom down ini. Meskipun begitu penyebab tersering dari sindrom down ini adalah trisomi 21 yaitu sekitar 92-95%, sedangkan penyebab yang lain yaitu 4,8-6,3% adalah karena kketurunan. Kebanyakan adalah translokasi Robertisonian yaitu adanya perlekatan antara kromosom 14, 21 dan 22.
Penyebab yang telah diketahui adalah kerena adanya kelainan kromosom yang terletak pada kromosom yang ke 21, yaitu trisomi. Dan penyebab dari kelainan kromosom ini mungkin disebabkan oleh beberapa hal di bawah ini, antara lain :
1) Non disjungtion (pembentukan gametosit)
a. Genetik
Bersifat menurun. Hal ini dibuktikan dengan penelitian epidemiologi pada kelurga yang memiliki riwayat sindrom down akan terjadi peningkatan resiko pada keturunannya
b. Radiasi
Menurut Uchida (dikutip dari Puechel dkk, dalam buku tumbuh kkembang anak karangan Soetjiningsih) menyatakan bahwa sekitar 30% ibu yang melahirkan anak dengan sindrom down adal ibu yang pernah mengalami radiasi pada daerah perut. Sehingga dapat terjadi mutasi gen.
c. Infeksi
Infeksi juga dikaitkan dengan sindrom down, tetapi sampai saat ini belum ada ahli yang mampu menemukan virus yang menyebabkan sindrom down ini.
d. Autoimun
Penelitian Fial kow (dikutip dari Puechel dkk, dalam buku tumbuh kembang anak karangan Soetjiningsih) secara konsisten mendapatkan adanya perbedaan antibodi ibu yang melahirkan anak dengan sindrom down dengan anak yang normal
e. Usia ibu
Usia ibu diatas 35 tahun juga mengakibatkan sindrom down. Hal ini disebabkan karena penurunan beberapa hormon yang berperan dalam pembentukan janin, termasuk hormon LH dan FSH.
f. Ayah
Penelitian sitogenetik mendapatkan bahwa 20 – 30% kasus penambahan kromosom 21 bersumber dari ayah, tetapi korelasi tidak setinggi dengan faktor dari ibu.
2) Gangguan intragametik yaitu gangguan pada gamet, kemungkinan terjadi
Translokasi kromosom 21 dan 15.
3) Organisasi nukleus yaitu sintesis protein yang abnormal sehingga menyebabkan kesalahan DNA menuju ke RNA.
4) Bahan kimia juga dapat menyebabkan mutasi gen janin pada saat dalam kandungan
5) Frekwensi coitus akan merangsang kontraksi coitus, sehingga dapat berdampak pada janin.

2.3 Patofisiologi
Penyebab yang spesifik belum diketahiui, tapi kehamilan oleh ibu yang berusia diatas 35 tahun beresiko tinggi memiliki anak syndrom down. Karena diperjirakan terdapat perubahan hormonal yang dapat menyebabkan “non-disjunction” pada kromosom yaitu terjadi translokasi kromosom 21 dan 15. Hal ini dapat mempengaruhi pada proses menua.

2.4 Pertumbuhan Anak Down Syndrome
Anak-anak penderita syndrome mongoloid atau down’s syndrome memiliki keterlambatan pada hubungan sosial, motorik, serta kognitifnya, sehingga dapat dikatakan bahwa anak ini mengalami keterlambatan pada semua aspek kehidupannya. Tetapi anak yang menderita penyakit sindrom down memiliki tingkatan yang berbeda – beda, yaitu dari tingkatan yang tinggi hingga yang paling rendah. Pada segi intelektualnya anak sindrom down dapat menderita retardasi mental tetapi juga ada anak dengan itelejensi normal, tetapi kebanyakan anak dengan sindrom down memiliki retardasi dengan tingkat rindgan hingga sedang. Pada perkembangan tubuhnya, anak sindrom down bisa sangat pendek tetapi bisa sangat tinggi. Serta anak sindrom down bisa menjadi sangat aktif dan juga bisa menjadi sangat pasif.
Sekalipun demikian kecepatan pertumbuhan anak dengan sindrom down lebih lambat dibandingkan dengan anak yang normal, sehingga perlu dilakukan pemantauan terhadap pertumbuhannya secara berkelanjutan. Kita perlu memantau kadar hormon tiroid bila pertumbuhan anak tidak sesuai dengan usia. Selain itu kita juga dapat memantau perkembangan organ – organ pencernaan, nungkin terdapat kelainan di dalamnya. Atau mungkin terdapat kelainan pada organ jantung yaitu penyakit jantung bawaan.

2.5 Manifestasi Klinis
Berat pada bayi yang baru lahir dengan penyakit sindrom down pada umumnya kurang dari normal, diperkirakan 20% kasus dengan sindrom down ini lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. Anak-anak yang menderita sindroma Down memiliki penampilan yang khas:
a. Bentuk tulang tengkoraknya asimetris atau ganjil dengan bagian belakang kepalanya mendatar (sutura sagitalis terpisah).
b. Lesi pada iris mata (bintik Brushfield), matanya sipit ke atas dan kelopak
mata berlipat-lipat (lipatan epikantus) serta jarak pupil yang lebar.
c. Kepalanya lebih kecil daripada normal. (mikrosefalus) dan bentuknya abnormal serta Leher pendek dan besar
d. Pada bayi baru lahir kelainan dapat berupa Congenital Heart Disease (kelainan jantung bawaan). kelainan ini yang biasanya berakibat fatal di mana bayi dapat meninggal dengan cepat.
e. Hidungnya datar (Hidung kemek/Hipoplastik) lidahnya menonjol, tebal dan kerap terjulur serta mulut yang selalu terbuka.
f. Tangannya pendek dan lebar dengan jari-jari tangan yang pendek dan seringkali hanya memiliki satu garis tangan pada telapak tangannya. Tapak tangan ada hanya satu lipatan
g. Jarak ibu jari kaki dengan jari kedua lebar
h. Jari kelingking hanya terdiri dari dua buku dan melengkung ke dalam (Plantar Crease).
i. Telinganya kecil dan terletak lebih rendah
j. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan (hampir semua penderita sindroma Down tidak pernah mencapai tinggi badan rata-rata orang dewasa)
k. Keterbelakangan mental.
l. Hiper fleksibilitas.
m. Bentuk palatum yang tidak normal
n. Kelemahan otot
Namun tidak semua ciri – ciri di atas akan terpenuhi pada penderita penyakit sindrom down, berdasarkan penelitian terakhir orang dengan penyakit sindrom down juga dapat mengukir prestasi seperti kebanyakan orang yang normal.

2.6 Diagnosis
Pemeriksaan diagnostik digunakan ntuk mendeteksi adanya kelainan sindrom down, ada beberapa pemeriksaan yang dapat membantu menegakkan diagnosa ini, antara lain:
1. Pemeriksaan fisik penderita
2. Pemeriksaan kromosom (Kariotip manusia biasa hadir sebagai 46 autosom+XX atau 46 autosom+XY, menunjukkan 46 kromosom dengan aturan XX bagi betina dan 46 kromosom dengan aturan XY bagi jantan, tetapi pada sindrom down terjadi kelainan pada kromosom ke 21 dengan bentuk trisomi atau translokasi kromosom 14 dan 22). Kemungkinan terulang pada kasus (trisomi adalah sekitar 1%, sedangkan translokasi kromosom 5-15%)
3. Ultrasonograpgy (didapatkan brachycephalic, sutura dan fontela terlambat menutup, tulang ileum dan sayapnya melebar)
4. ECG (terdapat kelainan jantung)
5. Echocardiogram untuk mengetahui ada tidaknya kelainan jantung bawaan mungkin terdapat ASD atau VSD.
6. Pemeriksaan darah (percutaneus umbilical blood sampling) salah satunya adalah Dengan adanya Leukemia akut menyebabkan penderita semakin rentan terkena infeksi, sehingga penderita ini memerlukan monitoring serta pemberian terapi pencegah infeksi yang adekuat.
7. Penentuan aspek keturunan
8. Dapat ditegakkan melalui pemeriksaan cairan amnion atau korion pada kehamilan minimal 3 bulan, terutama kehamilan di usia diatas 35 tahun keatas
9. Pemeriksaan dermatoglifik yaitu lapisan kulit biasanya tampak keriput.

2.7 Komplikasi
1. Penyakit Alzheimer’s (penyakit kemunduran susunan syaraf pusat)
2. Leukimia (penyakit dimana sel darah putih melipat ganda tanpa terkendalikan).

2.8 Penatalaksanaan
1. Penanganan Secara Medis
a. Pendengarannya : sekitar 70-80 % anak syndrom down terdapat gangguan pendengaran dilakukan tes pendengaran oleh THT sejak dini.
b. Penyakit jantung bawaan
c. Penglihatan : perlu evaluasi sejak dini.
d. Nutrisi : akan terjadi gangguan pertumbuhan pada masa bayi / prasekolah.
e. Kelainan tulang : dislokasi patela, subluksasio pangkal paha / ketidakstabilan atlantoaksial. Bila keadaan terakhir ini sampai menimbulkan medula spinalis atau bila anak memegang kepalanya dalam posisi seperti tortikolit, maka perlu pemeriksaan radiologis untuk memeriksa spina servikalis dan diperlukan konsultasi neurolugis.
2. Pendidikan
a. Intervensi Dini
Program ini dapat dipakai sebagai pedoman bagi orang tua untuk memberi lingkunga yang memeadai bagi anak dengan syndrom down, bertujuan untuk latihan motorik kasar dan halus serta petunjuk agar anak mampu berbahasa. Selain itu agar ankak mampu mandiri sperti berpakaian, makan, belajar, BAB/BAK, mandi,yang akan memberi anak kesempatan.
b. Taman Bermain
Misal dengan peningkatan ketrampilan motorik kasar dan halus melalui bermain dengan temannya, karena anak dapat melakukan interaksi sosial dengan temannya.
c. Pendidikan Khusus (SLB-C)
Anak akan mendapat perasaan tentang identitas personal, harga diri dan kesenangan. Selain itu mengasah perkembangan fisik, akademis dan dan kemampuan sosial, bekerja dengan baik dan menjali hubungan baik.
3. Penyuluhan Pada Orang Tua
Diharapkan penjelasan pertama kepada orang tua singkat, karena kita memandang bahwa perasaan orang tua sangat beragam dan kerena kebanyakan orang tua tidak menerima diagnosa itu sementara waktu, hal ini perlu disadari bahwa orang tua sedang mengalami kekecewaan. Setelah orang tua merasa bahwa dirinya siap menerima keadaan anaknya, maka penyuluhan yang diberikan selanjutnya adalah bahwa anak dengan sindrom down itu juga memiliki hak yang sama dengan anak normal lainnya yaitu kasih sayang dan pengasuhan. Pada pertemuan selanjutnya penyuluhan yang diberikan antra lain : Apa itu sindrom down, karakteristik fisik dan antisipasi masalah tumbuh kembang anak. Orang tua juga harus diberi tahu tentang fungsi motorik, perkembangan mental dan bahasa. Demikian juga penjelasan tentang kromosom dengan istilah yang sederhana, informasi tentang resiko kehamilan berikutnya.

2.9 Pencegahan
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk penyakit sindrom down antara lain :
1. Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan (lebih dari 3 bulan). Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan Down syndrome atau mereka yang hamil di atas usia 35 tahun harus dengan hati-hati dalam memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki resiko melahirkan anak dengan Down syndrome lebih tinggi. Down Syndrome tidak bisa dicegah, karena Down Syndrome merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah kromosom. Jumlsh kromosm 21 yang harusnya cuma 2 menjadi 3.
2. Konseling genetik juga menjadi alternatif yang sangat baik, karena dapat menurunkan angka kejadian sindrom down. Dengan Gene targeting atau Homologous recombination gene dapat dinon-aktifkan. Sehingga suatu saat gen 21 yang bertanggung jawab terhadap munculnya fenotip sindrom down dapat di non aktifkan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Down Syndrom merupakan kelainan kromosom autosomal yang paling banyak terjadi pada manusia. Diperkirakan 20 % anak dengan down syndrom dilahirkan oleh ibu yang berusia diatas 35 tahun. Synrom down merupakan cacat bawaan yang disebabkan oleh adanya kelebiha kromosom x. Syndrom ini juga disebut Trisomy 21, karena 3 dari 21 kromosom menggantikan yang normal.95 % kasus syndrom down disebabkan oleh kelebihan kromosom.

3.2 Saran
Semoga Makalah ni dapat berguna bagi penyusun dan pembaca. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk pengerjaan berikutnya yang lebih baik

DAFTAR PUSTAKA
1. Arif, mansjoer (2000). Kapita selekta kedokteran. Jakarta: EGC.
2. Behrman (2000). Nelson ilmu kesehatan anak. Jakarta: EGC.
3. Bobak (2005). Buku ajar keperawatn maternitas. Jakarta: EGC.
4. Doenges (2000). Rencana asuhan keperawatan; pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: EGC.

MAKALAH
KEPERAWATAN ANAK
Dr. Triyanto Saudin
Tentang
Ibu Hamil Dengan Addiksi Obat

OLEH :
Dani Wijayanto
2009 1440 1018

STIKES BAHRUL ULUM LAB II BATU
KOTA WISATA BATU
2011

KATA PENGANTAR
Atas rahmat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua sahingga penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah “Keperawatan Anak tentang ibu hamil dengan addiksi obat”.
Terima kasih kami ucapkan kepada Dr. Triyanto Saudin selaku koordinator Pendidikan dan dosen yang telah membimbing penyusun dalam penyelesaian makalah.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, maka saran dan kritik sangat kami nantikan dari para mahasiswa dan pengajar sehingga akan semakin memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami selaku penulis mengucapkan mohon maaf apabila ada kesalahan dan kami nerharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi para mahasiswa Akademik Perawat dan pembaca.

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan ………………………………………………………………………2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi 3
2.2 Jenis Jenis zat adiktif 4
2.3 Analisis dan efek samping pada ibu dan janin 7
BAB III PNUTUP
3.1 Kesimpulan 12
3.2 Saran dan Kritik 12
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kehamilan merupakan suatu proses luar biasa yang akan dialami oleh setiap wanita normal. Dimana si Ibu bertanggung jawab untuk melindungi si calon bayi dari segala bentuk ancaman baik ancaman dari dalam maupun dari luar. Misalnya pada Ibu yang ketergantungan obat, alkohol maupun nikotin.
Penyalahgunaan dan ketergantungan zat yang termasuk dalam katagori NAPZA pada akhir-akhir ini makin marak dapat disaksikan dari media cetak koran dan majalah serta media elektrolit seperti TV dan radio. Kecenderungannya semakin makin banyak masyarakat yang memakai zat tergolong kelompok NAPZA tersebut, tidak terkecuali pada ibu hamil
Penyebab banyaknya pemakaian zat tersebut antara lain karena kurangnya pengetahuan masyarakat akan dampak pemakaian zat tersebut serta kemudahan untuk mendapatkannya. Kurangnya pengetahuan masyarakat khususnya ibu hamil, dalam penggunaan NAPZA tersebut juga berakibat fatal terhadap si janin (calon bayi). Hal ini terlihat jelas dengan semakin meningkatnya angka kematian bayi baru lahir dan BBLR, dengan riwayat si Ibu ketergantungan obat.
Peran penting tenaga kesehatan dalam upaya menanggulangi penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA di rumah sakit khususnya upaya terapi dan rehabilitasi sering tidak disadari, kecuali mereka yang berminat pada penanggulangan NAPZA (DepKes, 2001).
Berdasarkan permasalahan yang terjadi di atas, maka perlunya peran serta tenaga kesehatan khususnya tenaga keperawatan dalam membantu masyarakat yang di rawat di rumah sakit untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat. Untuk itu dirasakan perlu perawat meningkatkan kemampuan merawat klien dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yaitu asuhan keperawatan klien penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA (sindrom putus zat).

1.2 Tujuan
Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Keperawatan anak dari dr. Triyanto Saudin.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Ketergantungan obat adalah kebutuhan secara psikologis terhadap suatu obat dalam jumlah yang makin lama makin bertambah besar untuk menghasilkan efek yang diharapkan
Menurut WHO merupakan gabungan berbagai bentuk penyalahgunaan obat dan didefenisiskan sebagai suatu keadaan psikis maupun fisik yang terjadi karena interaksi suatu obat dengan organisme hidup. Hal ini termasuk reaksi perilaku dan selalu terpaksa menggunakan obat secara periodik untuk mengalami efekpsikis dan mencegah efek yang tidak enak karena kehilangan obat tersebut.

2.2 Jenis-jenis zat adiktif
a. Sedativa
Golongan yang paling sering digunakan adalah benzodiazepin dan barbiturat serta metabolitnya dapat melalui plasenta. Kadarnya sama dengan kadar dalam darah ibu selama 5-10 menit setelah pemberian intravena. Kadar pada neonatus lebih besar 1-3 kali dibandingkan dalam serum ibu. Pemakaian dengan dosis 30-40 mg perhari dalam waktu lama akan menyebabkan komplikasi pada bayi baru lahir.
Terdapat 2 sindroma mayor komplikasi janin akibat penggunaan diazepam:
-floopy infant syndrome: terdiri atas hipotonia, letargi, kesulitan mengisap.
-withdrawal syndrome: terdiri atas pertumbuhan janin terhambat, tremor, iritabilitas, hipertonus, diare, muntah, menghisap dengan kuat.
b. Heroin
Mempunyai kemampuan menstimulasi sejumlah reseptor spesifik pada susunan saraf pusat. Reseptor mu (bertanggung jawab pada tingkat supraspinal yang menyebabkan analgesia, euforia,depresi pernafasan, dan ketergantungan fisik), reseptor kappa (bekerja pada spinaldan menyebabkan miosis dan sedasi) dan reseptor sigma (efek perangsangan jantung, disforia, dan halusinogenik).
c. Kokain
Kokain adalh obat vasoaktif dan dapt menyebabkan masalah pada bayi secara sekunder karena kerusakan plasenta atau melalui efek langsung pada pembeuluh darah janin. Ada 2 jenis kokain: murni berupa serbuk putih dan yang telah dicampur dengan soda kue/ sodium karbonat kemudian direbus sampai airnya menguap dan tinggal kerak cokelat jenis in lebih adiktif dan berbahaya. Kokain dengan cepat diabsorpsi dan masuk dalam darah serta menghasilkan efek dalam 6-8 menit. Adiksi kokain mengganggu psikologik, dan sulit diobati. Kokain diabsorbsi dengan cepat pada semua membran mukosa dan menghambat reuptake presinaps dari katekolaminpada neuron terminal. Akumulasi ini menyebabkan peningkatan tonus simpatis dan vasokontriksi serta menimbulkan euforia, peningkatan denyut jantung, hiperglikemia, hiperpireksia, dan midridiasis. Vasokontriksi koroner akan mengakibatkan spasme, angina pektoris, infark miokard akut, aritmia jantung , dan bahkan kematian mendadak. Dapat pula terjadi perdarahan subarakhnoid bila sebelumnya ada stroke hemoragik, dan nekrosis usus.
Komplikasi maternal dapat berupa hipertensi maligna , iskemia janutng, infark miokard bahkan kematian. Bayi pemakaian kokain dengan berat badan lahir rendah beresiko mengalami perdarahan intraventrikuler dan keterlambatan penanganan. Ibu hamil pengguna kokain beresiko terjadi terjadi ketuban pecah dini 20%, pertumbuhan janin terhambat 25-30%, persalinan kurang bulan 25%, perawatan mekonium dalam air ketuban 20% dan solusio plasenta 6-10%.
d. Alkohol
Fetal alcohol syndrome = FAS untuk menggambarkan gejala yang berhubungan dengan pemekaian alkohol yang berat berupa: defisiensi pertumbuhan pre dan postnatal, gangguan sistem saraf pusat yangberpengaruh terhadap kecerdasan dan perilak, muka yang khas ditandai dengan posisi telinga yang rendah dan tidak paralel, philtrum yang khas yang ditandai pendek dan datar, muka yang panjang, kepala kecil, hidung pendek, malformasi organ terutama pada jantung berupa defek septum, dapat pula terjadi hipoplasia ginjal, divertikulum buli-buli, dan gangguan traktus urogenitalis yang lain, serta deformitas anggota gerak.
Jenis Dan Kadar Minuman Beralkohol:
• Bir
Merupakan hasil fermentasi karbohidrat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Mengandung alkohol sebesar 3-6%
• Wine
Dihasilkan dari fermentasi sari buah anggur. Sari buah lain yang juga bisa digunakan adalah buah pir, apel, beri dan bunga dandelions. Mengandung alkohol sebesar 10-14%
• Liquor
Minuman beralkohol yang dibuat dengan proses penyulingan lalu digabungkan dengan aroma dan cita rasa lain seperti jeruk. Biasanya mengandung gula dan alkohol 30-35%
• Vodka
Dikenal sebagai minuman tradisional Rusia. Biasanya merupakan hasil penyulingan dari fermentasi bubur gandum. Mengandung 40% alkohol.
• Rum
Dihasilkan dari penyulingan berbagai produk fermentasi gula tebu. Umumnya yang dicampur untuk pembuatan rum adalah sirup gula dan air. Kadar alkoholnya 40-75%.
• Gin
Merupakan hasil penyulingan dari fermentasi biji-bijian. Biasanya cita rasa didapat dengan mencampurkan juniper berries (sejenis buah beri). Memiliki kadar alkohol 40-45%
• Brandy
Minuman beralkohol ini dihasilkan dari penyulingan wine dari anggur. Kandungan alkoholnya adalah 40-50%
• Wiski
Sejenis liquor yang merupakan hasil penyulingan dari bubur biji-bijian. Kadar alkoholnya 40-50%.

e. Metamfetamin
Metabolit aktif metamfetamin ialah: amfetamin, suatu stimulan SSP bentuk bubuk metamfetamin dikenal sebagai “ SPEED” dan “METH”. Angka melahirkan bayi prematur dan memiliki neonatus yang mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin dal lingkar kepala yang kecil , lebih tinggi dibandingkan kelompok wanita yang tidak menggunakan obat (oro,dikson 1987) pola perilaku neonatus berubah ditandai dengan perilaku tidur yang abnormal, perilaku minum yang buruk, tremor dan hipertonia. Gejala putus obat dapat diatasi dengan fenobarbital atau tingtur alkohol opium (paregoric)
f. Mariyuana
Mariyuana merupakan obat terlarang yangpaling umum digunakan selama masa hamil, dapat dihisap dalam rokok, pipa, pipa air, atau dicampur kedalam makanan.obat ini menimbulkan keracunan (intosikasi) dan sensori “tinggi (melayang). Mariyuana dengan mudah dapat menembus plasenta dan dapat meningkatkan kadar monoksida dalam darah ibu, yang dapat menurunkan oksigen dalam darah janin.
g. Fenisiklidin
Fenisiklidin adalah obat sintesis yang dikenal dengan berbagai nama (peace pil, angle dust, hog). Beberapa efeknya menyerupai skizofrenia, para penggunanya dapat dimasukan keunit psikiatri. PCP cenderung digunakan dalam berbagai kombinasi alkohol, kokain dan mariyuana, efek khusus pada kehamilan, janin dan neonatus belum di identifikasi.
h. Tembakau
Hampir semua komplikasi pada plasenta dapat ditimbulkan oleh rokok meliputi abortus, solusio plasenta, insufisiensi plasenta, berat badan lahir rendah, dan plasenta previa. Hal ini akan meningkatkan kematian neonatus dan sindroma kematian kematian bayi mendadak. Perempuan yang merokok kehamilan trisemester keua dan tiga mempunyai resiko yang sama bila merokok selama kehamilan. Bayi yang lahir dari seorang perokok bukan hanya mempunyai BBLR, tetapi juga ukuran panjang tubuh, kepala dan dada yang lebih kecil, pH tali pusat yang rendah dan menunjukan lebih banyak kelainan pada pemeriksaan neurologik.

2.3 Analisis dan Efek Samping Pada Ibu dan Janin
a. Sedativa-Hipnotika
Dalam dunia kedokteran, zat adiktif sedative-hipnotika digunakan sebagai zat penenang yang dikenal juga dengan sebutan pil BK dan magadon.
Pemakaian sedative-hipkotiva dalam dosis kecil menenangkan. Sedangkan dalam dosis besar menidurkan. Tanda-tanda gejala pemakaiannya yaitu mula-mula gelisah, mengamuk lalu mengantuk, malasi daya pikir, menurun, bicara dan tindakan lambat.
Tanda-tanda gejala putus obat, yaitu gelisah, sukar tidur, gemetar, muntah, berkeringat, denyut nadi cepat, tekanan darah naik dan kejang-kejang.
b. Heroin
Segera setelah penyuntikan (atau inhalasi), heroin melintasi penghalang darah-otak. Dalam otak, heroin dikonversi menjadi morfin dan cepat mengikat pada reseptor opioid. Pelaku biasanya mengalami perasaan gelombang dan sensasi menyenangkan, serta tergesa-gesa. Intensitas terburu-buru adalah fungsi dari berapa banyak obat yang diambil dan seberapa cepat obat tersebut memasuki otak dan mengikat ke reseptor opioid alami.
Efek jangka pendek heroin :
 Tergesa-gesa “rush”
 Respirasi Tertekan
 Mendung fungsi mental
 Mual dan muntah
 Penindasan sakit
 Aborsi spontan
Heroin sangat adiktif karena memasuki otak begitu cepat. Dengan heroin, terburu-buru biasanya disertai dengan pembilasan hangat dari kulit, mulut kering, dan terasa berat di kaki, yang mungkin disertai mual, muntah, dan gatal-gatal parah. Setelah efek awal, pelaku biasanya akan mengantuk selama beberapa jam. Mental fungsi mendung oleh efek heroin pada sistem saraf pusat fungsi jantung lambat. Pernapasan juga sangat lambat, kadang-kadang hampir mati. Overdosis heroin merupakan risiko khusus di jalan, di mana jumlah dan kemurnian obat tidak dapat diketahui secara akurat.
Efek jangka panjang heroin :
 Addiction (Kecanduan)
 Penyakit infeksi, seperti HIV/AIDS – hepatitis B & C
 Infeksi bakteri
 Abses
 Infeksi pada lapisan jantung dan katup.
 Arthritis dan masalah rematik lainnya
Penyalahgunaan heroin pada ibu hamil dapat menyebabkan komplikasi serius selama kehamilan, termasuk pengiriman keguguran dan premature Anak-anak yang lahir dari ibu kecanduan beresiko besar SIDS (sindrom kematian bayi mendadak). Wanita hamil tidak boleh didetoksifikasi dari opiat karena peningkatan risiko abortus spontan atau kelahiran prematur, melainkan, pengobatan dengan metadon sangat disarankan. Meskipun bayi yang lahir dari ibu yg ketergantungan metadon dapat menunjukkan tanda-tanda ketergantungan fisik, mereka dapat diobati dengan mudah. Penelitian juga menunjukkan bahwa efek dalam paparan rahim untuk metadon relatif jinak.
c. Kokain
Efek kokain, sama dengan amfetamin disertai stimulasi SSP jangka pendek. Ada hambatan dalam ambilan ulang katekolamin, yang mengakibatkan kadar norepinefrin, serotonin, dan domain tinggi. Hal ini mengakibatkan penyalahguna kokain terjaga berlebihan. Kokain meningkatkan kadar norepinefrin dan serotonin dengan cepat dan menurunkan kadar kedua zat tersebut dengan tiba-tiba. Sistem biokimia norepinefrin, serotonin, dan dopamin memainkan peran utama mengatur mood dan kesehatan mental.
d. Alkohol
Alkohol atau etanol bersifat larut dalam air sehingga akan benar-benar mencapai setiap sel setelah dikonsumsi. Alkohol yang dikonsumsi akan diserap masuk melalui saluran pernafasan. Penyerapan terjadi setelah alkohol masuk kedalam lambung dan diserap oleh usus kecil. Hanya 5-15% yang diekskresikan secara langsung melalui paru-paru, keringat dan urin. Pernah dibuktikan bagaimana cepat dan mudahnya alkohol diserap oleh tubuh manusia.
Alkohol sangat mudah terdistribusi masuk ke dalam saluran darah janin melalui darah ibunya dan dapat merusak sel-sel pada janin. Sel-sel utama yang menjadi target kerusakan adalah pada otak dan medula spinalis. Fetal alcohol syndrome (FAS) menggambarkan rentang efek alkohol terhadap janin hingga bayi yang dilahirkan mengalami kelainan fisik dan mental. Efeknya bervariasi dari ringan sampai sedang. Beberapa efek alkohol terhadap janin antara lain adalah :
• Bentuk wajah yang ganjil. Bayi mungkin akan memiliki kepala kecil, dengan muka datar, dan mata yang hanya bisa membuka sedikit. Dan keadaan ini makin kelihatan nyata ketika anak berusia 2-3 tahun.
• Gangguan pertumbuhan. Anak yang terpapar alkohol saat masih dalam kandungan akan tumbuh lebih lambat daripada anak yang normal.
• Masalah belajar dan perilaku. Hal ini karena alcohol juga akan mempengaruhi fungsi otak anak.
• Cacat lahir. Selain dengan bentuk wajah ganjil, bayi mungkin akan mengalami kecacatan pada berbagai bagian tubuh.
Biasanya, bayi akan lahir dengan bentuk otot tubuh dan kepala yang terlalu kecil. Selain itu, bayi yang dikandung kemungkinan besar juga akan mengalami gangguan pada pendengaran, penglihatan, dan juga masalah kecanduan alkohol serta gangguan pada pelakunya.
e. Marijuana
Komponen aktifnya adalah delta-9-tetrahidrokannabinol, dimetabolisme di hepar, 2 minggu setelah pemakaian masih dapat dideteksi dalam urin. Bila dihisap kurang dari 2jam, sedang penggunaan oral efeknya mencapai 30-120 menit dan berakhir 5-7 jam.
Risiko maternal : mempunyai efek karsinogenik lebih kuat, menimbulkan inflamasi paru yang luas, menghambat produksi makrofag paru.
Risiko perinatal : lipatan epiknatal lebih berat,hipertelorisme, pertumbuhan janin terhambat,partus prematurus,partus presipitatus, risiko menunjang waktu persalinan serta partus macet, komplikasi dalam air ketuban.
f. Fenisiklidin (PCP)
Setelah digunakan, PCP mengendap di otak dan lemak tubuh selama waktu yang lama. Obat ini dapat menembus plasenta dan cenderung ditemukan dalam konsentrasi yang tinggi dalam jaringan janin dari pada dalam jaringan maternal.
g. Tembakau
Nikotin menyebabkan pembuluh darah plasenta vasokontriksi dan karbonmonoksida menonaktifkan Hb maternal dan janin, yang penting untuk mentranspor oksigen ke janin.
Paparan asap tembakau pada ibu hamil dapat mengakibatkan terganggunya perkembangan janin dan pertumbuhan bayi serta katian pada bayi baru lahir. Namun, yang paling menonjol adalah kelahiran bayi premature dan BBLR. Masalah pernafasan dan sindrom kematian mendadak bayi juga umum terjadi.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Penyalahgunaan dan ketergantungan zat yang termasuk dalam katagori NAPZA pada akhir-akhir ini makin marak dapat disaksikan dari media cetak koran dan majalah serta media elektrolit seperti TV dan radio. Kecenderungannya semakin makin banyak masyarakat yang memakai zat tergolong kelompok NAPZA tersebut, tidak terkecuali pada ibu hamil.

3.2 Saran
Semoga Makalah ni dapat berguna bagi penyusun dan pembaca. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk pengerjaan berikutnya yang lebih baik

DAFTAR PUSTAKA

MAKALAH
KEPERAWATAN ANAK
Dr. Triyanto Saudin
Tentang Bayi Dengan Hiperbilirubinemia

OLEH :
Dani Wijayanto
2009 1440 1018

STIKES BAHRUL ULUM LAB II BATU
KOTA WISATA BATU
2011

KATA PENGANTAR
Atas rahmat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua sahingga penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah “Keperawatan Anak tentang bayi dengan hiperbilirubinemia”.
Terima kasih kami ucapkan kepada Dr. Triyanto Saudin selaku koordinator Pendidikan dan dosen yang telah membimbing penyusun dalam penyelesaian makalah.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, maka saran dan kritik sangat kami nantikan dari para mahasiswa dan pengajar sehingga akan semakin memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami selaku penulis mengucapkan mohon maaf apabila ada kesalahan dan kami nerharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi para mahasiswa Akademik Perawat dan pembaca.

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan ………………………………………………………………………2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi 3
2.2 Etiologi 4
2.3 Patofisiologi 3
2.4 Manifestasi klinis 5
2.5 Klasifikasi 6
2.6 Diagnosis 6
2.7 Penatalaksanaan 6
2.8 Pencegahan 8
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan 14
3.2 Saran dan Kritik 14
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah. Pada sebagian neonatus, ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. Dikemukakan bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan pada 80% bayi kurang bulan. Di Jakarta dilaporkan 32,19% menderita ikterus. Ikterus ini pada sebagian lagi mungkin bersifat patologik yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan kematian, karenanya setiap bayi dengan ikterus harus mendapat perhatian terutama apabila ikterus ditemukan dalam 24 jam pertama kehidupan bayi atau kadar bilirubin meningkat lebih dari 5 mg/dl dalam 24 jam. Proses hemolisis darah, infeksi berat, ikterus yang berlangsung lebih dari 1 minggu serta bilirubin direk lebih dari 1 mg/dl juga merupakan keadaan yang menunjukkan kemungkinan adanya ikterus patologik. Dalam keadaan tersebut penatalaksanaan ikterus harus dilakukan sebaik-baiknya agar akibat buruk ikterus dapat dihindarkan.

1.2 Tujuan
Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Keperawatan Anak dari dr. Triyanto Saudin.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah melebihi batas atas nilai normal bilirubin serum.
Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin dalam darah berlebihan sehingga menimbulkan joundice pada neonatus (Dorothy R. Marlon, 1998)
Hiperbilirubin adalah kondisi dimana terjadi akumulasi bilirubin dalam darah yang mencapai kadar tertentu dan dapat menimbulkan efek patologis pada neonatus ditandai joudince pada sclera mata, kulit, membrane mukosa dan cairan tubuh (Adi Smith, G, 1988).
Hiperbilirubin adalah peningkatan kadar bilirubin serum (hiperbilirubinemia) yang disebabkan oleh kelainan bawaan, juga dapat menimbulkan ikterus. (Suzanne C. Smeltzer, 2002)
Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek pathologis. (Markum, 1991:314)

2.2 Etiologi
Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri ataupun dapat disebabkan oleh beberapa faktor:
1. Produksi yang berlebihan
Hal ini melebihi kemampuannya bayi untuk mengeluarkannya, misal pada hemolisis yang meningkat pada inkompabilitas darah Rh, ABO, golongan darah lain, defisiensi enzim G-6-PADA, piruvat kinase, perdarahan tertutup dan sepsis.
2. Gangguan proses “uptake” dan konjugasi hepar
Gangguan ini dapat disebabkan oleh immturitas hepar, kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin, gangguan fungsi hepar, akibat asidosis, hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim glukoronil transferase (sindrom Criggler-Najjar) penyebab lain atau defisiensi protein Y dalam hepar yang berperan penting dalam “uptake” bilirubin ke sel hepar.
3. Gangguan transportasi
Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkat ke hepar. Ikatan bilirubin dengan albumin dapat dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat, dan sulfaforazole. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapat bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel otak.
4. Gangguan dalam ekskresi
Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar hepar. Kelainan di luar hepar biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi/kerusakan hepar oleh penyebab lain.

2.3 Patofisiologi
Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan bebab bilirubin pada streptucocus hepar yang terlalu berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia, memendeknya umur eritrosit janin/bayi, meningkatnya bilirubin dari sumber lain, atau terdapatnya peningkatan sirkulasi enterohepatik. Gangguan ambilan bilirubin plasma terjadi apabila kadar protein-Z dan protein-Y terikat oleh anion lain, misalnya pada bayi dengan asidosis atau dengan anoksia/hipoksia, ditentukan gangguan konjugasi hepar (defisiensi enzim glukuronii transferase) atau bayi menderita gangguan ekskresi, misalnya penderita hepatitis neonatal atau sumbatan saluran empedu intra/ekstra hepatika.
Pada derajat tertentu, bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusakan jaringan otak. Toksisitas ini terutama ditemukan pada bilirubin indirek. Sifat indirek ini yang memungkinkan efek patologik pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak ini disebut kernikterus atau ensefalopati biliaris. Mudah tidaknya bilirubin melalui sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung dari tingginya kadar bilirubin tetapi tergantung pula pada keadaan neonatus sendiri. Bilirubin indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila pada bayi terdapat keadaan imaturitas. Berat lahir rendah, hipoksia, hiperkarbia, hipoglikemia dan kelainan susunan saraf pusat yang karena trauma atau infeksi.

2.4 Manifestasi Klinis
1. Kulit tampak berwarna kuning terang sampai jingga (pada bayi dengan bilirubin indirek)
2. Anemia
3. Petekie
4. Perbesaran lien dan hepar
5. Perdarahan tertutup
6. Gangguan nafas
7. Gangguan sirkulasi
8. Gangguan saraf
9. Kadar bilirubin total mencapai 29 mg/dl.
10. Terdapat ikterus pada sklera, kuku/kulit dan membran mukosa.
11. Jaundice yang tampak 24 jam pertama disebabkan penyakit hemolitik pada bayi baru lahir, sepsis atau ibu dengan diabetk atau infeksi.
12. Jaundice yang tampak pada hari ke 2 atau 3 dan mencapai puncak pada hari ke 3-4 dan menurun hari ke 5-7 yang biasanya merupakan jaundice fisiologi.

2.5 Diagnosis
1. Pemeriksaan bilirubin serum
Pada bayi cukup bulan, bilirubin mencapai kurang lebih 6mg/dl antara 2-4 hari setelah lahir. Apabila nilainya lebih dari 10mg/dl tidak fisiologis.
Pada bayi premature, kadar bilirubin mencapai puncak 10-12 mg/dl antara 5-7 hari setelah lahir. Kadar bilirubin yang lebih dari 14mg/dl tidak fisiologis.
2. Pemeriksaan radiology
Diperlukan untuk melihat adanya metastasis di paru atau peningkatan diafragma kanan pada pembesaran hati, seperti abses hati atau hepatoma
3. Ultrasonografi
Digunakan untuk membedakan antara kolestatis intra hepatic dengan ekstra hepatic.
4. Biopsy hati
Digunakan untuk memastikan diagnosa terutama pada kasus yang sukar seperti untuk membedakan obstruksi ekstra hepatic dengan intra hepatic selain itu juga untuk memastikan keadaan seperti hepatitis, serosis hati, hepatoma.
5. Peritoneoskopi
Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini.
6. Laparatomi
Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini.

2.6 Komplikasi
1. Retardasi mental
2. Kerusakan neurologis
3. Gangguan pendengaran dan penglihatan
4. Kematian.
5. Kernikterus.

2.7 Penatalaksanaan
Tindakan umum
1. Memeriksa golongan darah ibu (Rh, ABO) pada waktu hamil
2. Mencegah truma lahir, pemberian obat pada ibu hamil atau bayi baru lahir yang dapat menimbulkan ikhterus, infeksi dan dehidrasi.
3. Pemberian makanan dini dengan jumlah cairan dan kalori yang sesuai dengan kebutuhan bayi baru lahir.
4. Imunisasi yang cukup baik di tempat bayi dirawat.
Tindakan khusus
1. Fototerapi
2. Dilakukan apabila telah ditegakkan hiperbilirubin patologis dan berfungsi untuk menurunkan bilirubin dalam kulit melalui tinja dan urine dengan oksidasi foto.
3. Pemberian fenobarbital. Mempercepat konjugasi dan mempermudah ekskresi. Namun pemberian ini tidak efektif karena dapat menyebabkan gangguan metabolic dan pernafasan baik pada ibu dan bayi.
4. Memberi substrat yang kurang untuk transportasi/ konjugasi
misalnya pemberian albumin karena akan mempercepat keluarnya bilirubin dari ekstravaskuler ke vaskuler sehingga bilirubin lebih mudah dikeluarkan dengan transfuse tukar.
5. Melakukan dekomposisi bilirubin dengan fototerapi
6. untuk mencegah efek cahaya berlebihan dari sinar yang ditimbulkan dan dikhawatirkan akan merusak retina. Terapi ini juga digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin serum pada neonatus dengan hiperbilirubin jinak hingga moderat.
7. Terapi transfuse digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin yang tinggi.
8. Terapi obat-obatan, misalnya obat phenorbarbital/luminal untuk meningkatkan bilirubin di sel hati yang menyebabkan sifat indirect menjadi direct, selain itu juga berguna untuk mengurangi timbulnya bilirubin dan mengangkut bilirubin bebas ke organ hari.

9. Menyusui bayi dengan ASI
10. Terapi sinar matahari
Tindak lanjut
Tindak lanjut terhadap semua bayi yang menderita hiperbilirubin dengan evaluasi berkala terhadap pertumbuhan, perkembangan dan pendengaran serta fisioterapi dengan rehabilitasi terhadap gejala sisa.

2.8 Pencegahan
Ikterus dapat dicegah dan dihentikan peningkatannya dengan :
• Pengawasan antenatal yang baik
• Menghindari obat yang dapat meningkatkan ikterus pada bayi dan masa kehamilan dan kelahiran, contoh :sulfaforazol, novobiosin, oksitosin.
• Pencegahan dan mengobati hipoksia pada janin dan neonatus.
• Penggunaan fenobarbital pada ibu 1-2 hari sebelum partus.
• Imunisasi yang baik pada bayi baru lahir
• Pemberian makanan yang dini.
• Pencegahan infeksi.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ikterus fisiologik adalah ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga yang tidak mempunyai dasar patologis, kadarnya tidak melewati kadar yang membahayakan atau mempunyai potensi menjadi “kernicterus” dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi. Ikterus patologik adalah ikterus yang mempunyai dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubin.
3.2 Saran
Semoga Makalah ni dapat berguna bagi penyusun dan pembaca. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk pengerjaan berikutnya yang lebih baik

DAFTAR PUSTAKA
1. Mc Closkey, Joanner. 1996 . Iowa Intervention Project Nursing Intervention Classification (NIC) Edisi 2. Westline Industrial Drive, St. Louis :Mosby
2. Santosa,Budi . 2005-2006. Diagnosa Keperawatan NANDA . Jakarta : Prima Medika.
3. Jhonson,Marion,dkk. 1997. Iowa Outcomes Project Nursing Classification (NOC) Edisi 2. St. Louis ,Missouri ; Mosby.
4. Markum, H. 1991. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FKUI.

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.